Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 06


__ADS_3

Sania masih kesal dengan kejadian tadi malam, oh tidak jam dua sudah termasuk pagi berarti kejadian tadi pagi.


Semuanya masih terekam jelas dalam fikirannya. Kesempatannya untuk beres-beres barang harus tertunda karena kejadian itu.


Ditambah setelah itu,


Dengan santainya Seno tidur setelah menyelesaikan memuntahi semua disekujur tubuh Sania. Sania yang menjadi repot membersihkan ulah tuannya itu. Walaupun Seno melakukan hal tersebut dengan tidak sengaja. Tapi kan?


Sudahlah, Sania jadi kesal mengingatnya kembali. Ditambah aroma muntahan yang tak kunjung hilang, padahal Sania sudah membilas tubuhnya berulang kali.


Tetap saja terkadang aroma tersebut masih tercium hingga saat ini. Sania semakin kesal dibuatnya, padahal perempuan itu sudah membilas tubuh berulang kali hingga dirinya menggigil sendiri.


Sania semakin menggerutu saat Seno terbangun dengan santainya tanpa meminta maaf hanya mengedikkan bahu dan melewatinya begitu saja. Entah antara lupa, karena efek mabok atau memang sengaja.


Tapi kan, tetap saja melihat Seno yang santai membuat perempuan itu gedek sendiri.


Sania terus memasuki pakaian dalam tas sembari menggerutu. Keputusannya untuk meninggalkan Kediaman Seno sudah sangat tepat rupanya. Sebenarnya, keputusan itu menjadi alasan tersendiri bagi Sania, nyatanya dia dipecat secara tidak hormat oleh ibunya Sean.


Walaupun semenjak Seno marah besar pada Karin, perempuan itu tidak pernah terlihat lagi. Tetap saja kata pemecatan sudah Sania dengar masak-masak. Sania hanya berharap sebelum keluar dari rumah ini, ia mendapat gaji untuk menyambung hidup kehedapannya.


"mau kemana kamu? Sean sudah menangis sejak tadi, apa kamu tidak dengar!" Seno mengintip dari balik pintu kamarnya dengan wajah bantal, "ngapain kamu bawa tas besar seperti itu"


"kalau tuan tidak ingat, kemarin saya dipecat oleh nyonya Karin. Bukankah tuan sendiri mendengarnya" ingat Sania


"loh, siapa dia berhak memecat kamu. Kamu kerja dibawah perlindungan saya, jadi yang berhak mecat hanya saya! Sudah taruh kembali pakaianmu dan pergi tenangkan Sean. Saya mau istirahat"

__ADS_1


"terima kasih banyak tuan! Terima kasih banyak" seru Sania kegirangan


Sania mengangguk. Fikiran tentang ia hidup dijalan hangus begitu saja. Dengan riang ia mendatangi kamar Sean.


"ululu, anak tampan. Mbak gak jadi pergi dong ninggalin kamu" riang Sania, ia terus menjawil pipi tembam anak laki-laki yang masih menahan kantuk itu


"mi... mi.... mi... Dong"


(mi... mi.... mi.... Gendong)


Sania mengangkat Sean dan mencium ya bertubi-tubi, "bau acemmm, den Sean belum mandi nihhh"


Sean merengut. Ia menepis-nepis wajah Sania yang terus mengendus tubuhnya. "eyan ndak bau"


(Sean, gak bau)


Ah, Sania jadi tidak sabar melihat tumbuh kembang Sean.


"Biar saya yang urus Sean, kamu siapkan pakaian yang bagus. Saya akan membawa Sean jalan-jalan, dan kamu akan ikut"


Rupanya Seno menjadi terjaga setelah tangisan Sean memenuhi penjuru rumah. Walaupun menahan kantuk, laki-laki itu berjanji mulai hari ini ia akan memprioritaskan anak laki-lakinya.


"baik tuan"


"oh iya, jangan lupa kamu juga pakai baju yang cantik" Seno mengerlingkan mata membuat Sania bergidik ngeri

__ADS_1


Laki-laki yang dia kenal tidak pernah seagresif Sean. Agresif dengan maksud yang lain. Sania hanya mengenal Kamal, laki-laki yang telah membuat ia jatuh cinta dikampung. Laki-laki yang santun dan tidak banyak bicara.


Ah, rasanya Sania jadi rindu dengan Kamal sang kekasih. Ia akan menelpon kekasihnya sebentar. Ia membuka ponsel jadulnya dan mengetik nomor yang sudah ia hafal diluar kepala.


"halo Sania, ada apa?" Sania memekik senang


"Akhirnya, kamu bisa dihubungi. Setelah dua minggu yang lalu kamu tidak pernah menghubungi aku lagi"


"eh maaf sayang, aku kan sibuk cari uang untuk pernikahan kita"


"ah, kamu bisa saja. Oh iya, kamu sedang ada dimana?"


"oh... Eh... I.. Itu aku sedang bersama adik kamu. Adik kamu minta diajarkan pelajaran matematika. Bentar lagi dia kan lulus"


Tumben sekali, Kamal mau sabar mengajari orang. Dulu saja, dia tidak mau saat aku pinta untuk mengajariku. Ya sudahlah


"aku mau ngomong sama Santy (adik Sania) dong"


"jangan dulu! Santynya lagi kelelahan, jangan diganggu. Dia sedang tidur disampingku"


"maksudmu?" tanya Sania, "Santy baik-baik saja kan? Kalian benar-benar sedang belajar? Kenapa Santy bisa sampai kelelahan? Kamu tidak berbuat yang macam-macam kan dengan adikku?"


"maksudku, adikmu kelelahan karena aku memberi dia tugas yang banyak. Sampai-sampai dia tertidur disamping ku. Lagi pula kamu sedang ada diruang tamu ku, jadi tidak ada yang aneh-aneh"


"benar?"

__ADS_1


"kamu tidak percaya padaku? Sudahlah aku tutup saja! Berbicara denganmu selalu membuatku emosi"


Sania menatap heran ponsel jadulnya. Aneh?


__ADS_2