Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 96


__ADS_3

H-6 jam sebelum acara dimulai.


Perempuan yang sudah mengenakan gaun dan memperlihatkan aura kecantikan-nya tampak gugup luar biasa. Tangan-nya saling tertaut dibawah meja make up.


Kalau bisa Sania ingin rasanya menelungkup wajah. Tapi mengingat kerja keras perias, membuat ia tidak tega menghancurkan riasan yang sidang rampung hampir 90 persen.


Rania meringis saat perias mempouch disekitar matanya. Matanya tidak bisa diam,


"nona maaf, matanya lihat keatas sebentar. Nanti hasil makeup-nya takut kurang bagus kalau mata nona terus gak bisa diem"


Sania hanya bisa mengerucut kan bibirnya tanpa mau membantah ucapan sang perias. Jika perias itu udah berbicara, lebih baik Sania menuruti daripada hasilnya sedikit berantakan.


"Sukses" perempuan didepannya menjetikkan diri didepan wajah, Sania menatap kaca lalu tersenyum bahagia


"terima kasih" ucapnya sopan


"Sama-sama cantik, oh iya saya pamit undur diri mau dandan-in adik kamu" ucap perias tersebut


Ruangan yang harusnya berisi Santy dan Sania kini hanya meninggalkan Sania saja. Santy memilih berbaur bersama Sumi dan Andi yang sejak tadi sudah direpotkan banyak hal.


Ternyata teguran Sania sangat ber-efek pada Santy. Santy lebih memilih menyibukkan diri saat berada satu ruangan dengan Sania atau memilih pura-pura keluar. Sania tidak mempermasalahkan-nya bahkan Sania tidak merasa bersalah.


Dengan istilah kasar, Santy harus dibentak terlebih dahulu baru perempuan itu nurut. Jika Sania terus membiarkan bisa saja Santy malah semakin berulah.


Sania tidak ingin hal itu terjadi!


Sania kembali menatap cermin, rona bahagia sekaligus gugup terpampang dicermin. Semenjak pernikahan mereka berlangsung, Sania dan Seno tidak pernah mengadakan suatu acara.


Jadi ini acara pertama yang Sania rasakan dan Sania berperan sebagai pemeran utama-nya. Sania meremas tisu, gelisah.


Bagaimana jika ia melakukan kesalahan dam membuat mas Seno malu dihadapan seluruh kolega-nya?


"anak ibu cantik sekali" Sumi datang dengan pakaian yang didesain khusus untuk keluarga


Sumi tersenyum lembut dan membelai hijab sang anak, "rasanya baru kemaren ibu ngelahirin kamu. Sekarang udah mau nikah aja" gurau Sumi


Sania merengut lalu memeluk Sumi dengan hati-hati, "aku bukan nikah loh" kesal-nya


"iya ibu tahu. Anggap saja ini pernikahan kamu, karena acara waktu itu hanya sebatas pernikahan biasa. Maafin ibu waktu itu ya" Sumi mengingat-ingat kala itu


"maafin Sania juga"


Ibu dan anak yang tidak pernah menyalurkan kasih sayang. Kini saling memeluk, menahan sesak begitu dalam dihati masing-masing.


"sudah ah, gak boleh sedih-sedih. Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia kamu" peringat Sumi


Sania mengangguk, "siap bu!"


Pinti terbuka lebar, Reyka, Sena dan Sean masuk lalu memeluk kaki Sania. "mamih kita cariin juga!" ketus Sean


"heh!" Reyka menepuk pipi Sean pelan, "yang sopan kalau ngomong sama mamih" Sean cengengesan lalu menyatukan kedua tangan meminta maaf


"mamih cantik kaya Sena" puji Sena lalu memutar tubuhnya sehingga gaun yang dikenakannya mengembang, "cantik kan!"


"cucu nenek memang yang paling cantik" Sena mengacungkan jempol lalu tertawa bahagia


"oh iya ibu cari bapak kamu dulu ya. Takut kesasar" gurau-nya lagi

__ADS_1


Sania mengangguk, "hati-hati bu"


"mih" panggil Reyka, "mamih gak akan lupain Reyka kan?" tiba-tiba Reyka mengembungkan pipinya, sedih


Alis Sania saling bertautan, "kenapa kamu ngomong kayak gitu?"


"kan mamih udah ketemu sama kebahagiaan mamih. Mamih udah punya papih Seno, adik Sean sama Sena. Jadi mamih gak perlu Reyka lagi" ujarnya sambil menunjuk tubuhnya


Sania merengkuh Reyka, "siapa yang ngomong kayak gitu? Kamu adalah salah satu hal yang membuat mamih bahagia. Kalau gak ada kamu mamih nanti sedih terus"


"bener?" tanya Reyka sedikit ragu


Sania mengangguk, "selamanya kamu akan menjadi anak mamih"


Sean dan Sena ikut memeluk, "Sean juga akan jadi adek kakak terus. Selamanya" sahut Sean seolah mengerti keadaan


"adek juga!" ujar Sena ikut-ikutan


...~§~...


Jika diibaratkan seperti berada dibalik panggung layar lebar, kini Sania sedang berada di belakang layar menunggu MC memanggil untuk mengetahui kapan dirinya masuk.


Sena dan Sean sudah berada disamping kanan dan kiri Sania sembari membawa bunga gyshopilla atau yang lebih dikenal sebagai bunga Baby breath.


Bunga yang sering dilihat saat pernikahan berlangsung karena bunga baby breath ini dipercaya memiliki simbol yang melambangkan kesucian, ketulusan, dan kebahagiaan. Seperti yang diharapkan oleh pasangan yang terlihat seperti akan menikah padahal mereka hanya akan mengadakan acara memperingati kembalinya Sania dan acara ulang tahun pernikahan.


Sementara Reyka dengan jas-nya berada didepan Sania berperan sebagai menabukan bunga kelopak mawar disepanjang jalan sampai menghantarkan-nya pada Seno yang sudah menunggu.


Benar-benar seperti upacara pernikahan!


"kita sambut pemeran utama kita hari ini" suara sorakan terdengar dibalik tirai putih


Sania menggengam erat lengan mungil Sena dan Sean saat berjalan. Wajahnya terus menunduk, merasa malu. Seumur hidupnya ia tidak pernah menjadi pusat perhatian seperti ini.


Sorak sorai terdengar hingga Sania sampai dihadapan Seno. Seno menggengam lengan Sania dan memasangkan cincin yang sudah ia simpan sejak dulu.


"mas!" bisik Sania, perempuan itu rasa bertukar cincin tidak ada dijadwal


Seno hanya tersenyum, setelah selesai ia mengecup mesra kening Sania. Hingga Reyka, Sean dan Sena kesenangan dan berputar-putar disekitar mereka, tertawa bahagia.


Seno meraih mic hingga suara sahutan 'cie' sunyi hilang bagai ditelan bumi, "tidak usah terlalu formal. Saya bikin acara untuk kesenangan saya semata. Jadi selamat bersenang-senang"


"terima kasih tuan"


"semoga langgeng"


"kami berdoa untuk kebaikan tuan"


Sahutan demi sahutan terdengar hingga semua terbenam oleh suara musik yang menyejukkan pendengaran.


"mas" panggil Sania setelah mereka duduk, "ini buat aku?" Sania merentangkan tangan memperlihatkan cincin mewah tersemat dilengannya


"mas desain khusus untuk kamu" jawab Seno


"makasih banyak mas" Sania berucap syukur lalu tersenyum bahagia


"ngadain acara tapi lagaknya udah kayak lagi married aja" Alex tiba-tiba datang setelah meng-izinkan Reyka untuk bermain disekitar bersama Sena dan Sean

__ADS_1


"definisi ngabisin duit ya kayak gini" Alex mengangguk menyetujui ucapan John


Seno mengangkat bahu acuh, "ya seperti itu"


Alex dan John sama-sama berdecih. Berniat menyindir malah mendapat kesombongan dari Seno.


"by the why, adik ipar lu kemana? Gue gak lihat dari tadi" tanya Alex hingga Sania memicing heran


Untuk apa mereka membicarakan Santy?


Seno mengangkat bahu acuh, "gak mau tahu dan gak peduli juga dia ada dimana"


"eh tapi, kalau gak salah. Kemaren gue ngeliat dia nangis didepan kaca kamar tamu. Mellow banget sih! Eh tapi gue sampai ngerasa terharu kalau gak inget gaya-nya yang selangit" Ucap John sembari mengingat-ingat kejadian kemarin


"eh masa?" heran Sania


John mengangguk, "memangnya dia kenapa? Gak kalian apa-apain kan?"


"hanya menggertak sedikit" jawab Seno


Sania merenung sebentar. Memang benar Santy terlihat berbeda sejak tadi pagi. Walaupun ia hanya menghiraukan karena menganggap Santy merasa malu kalau harus berpapasan dengan dirinya.


Tapi kalau sampai menangis? Santy bukan tipe manusia menye-menye yang akan menangis hanya karena hal sepele. Ia hanya akan menangis jika hal tersebut pantas untuk ditangisi.


"mas aku ke toilet dulu ya" izin sania


"aku antar?"


Refleks Sania menggeleng. Izin ketoilet hanya alibi Sania, nyatanya ia ingin mencari keberadaan Santy ditengah kerumunan banyak orang.


"ya udah, hati-hati"


Sania mengangkat ujung gaun agar mempermudah ia jalan. Berbelok kearah lorong yang lumayan sepi berharap menemukan Santy.


"hai" perempuan yang tidak ingin Sania lihat malah muncul dan menyeringai


Cheris


"hai juga" balas Sania lalu tersenyum


"gak nyangka orang yang bicara dengan saya waktu itu sama dengan orang yang memiliki hubungan sah dengan orang yang saya cintai"


"maksud anda?"


"daaar perebut! Anda kan yang sudah merebut Seno hingga dia berpaling dari saya" pekik Cheris


Gula nih orang! Sania tidak habis fikir. Daripada memakan waktu lebih lama, ia berpaling ingin meninggalkan Cheris. Tapi tarikan Cheris membuat Sania terpelanting kearah tembok.


"anda ini kenapa!"


Cheris masih menahan Sania yang terbentur dengan tembok. Cheris yang menampilkan seringai mematikan-nya.


Kuku tajam sudah menancap dileher Sania menembus hijab. Sania tidak bisa apa-apa, entah kekuatannya serasa hilang lenyap begitu saja. Ditambah ia sedang mengenakan gaun yang menambah Sania sulit untuk bergerak.


Serangan Cheris sama sekali tidak bisa ia tahan, perempuan itu benar-benar brutal menghabisi Sania.


Cheris terus mengerahkan tenaga untuk mencekik Sania. Ada kebahagiaan sendiri melihat Sania yang tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


"mas tolong aku" Ucap Sania benar-benar lirih


__ADS_2