
Maaf baru sempet update :( :( :(
Author benar-benar disibukkan dengan kehidupan real life. Janji deh, untuk selanjutnya bakal update satu hari sekali.
Ini juga nyempatin update, walaupun sedikit
Jangan timpuk author *peace* hehe
--------------------------------------------------------------------------
Dua minggu sudah terlewat, yang Sania tahu selama dua minggu terakhir perceraian antara Seno dan Karin sudah rampung terlaksana. Kini mereka sudah benar-benar bercerai dengan hak asuh berada pada Seno.
Sania sendiri tidak peduli, ia hanya memikirkan nasib kekasihnya yang selama dua minggu terakhir tidak bisa dihubungi. Persetan sama semua itu, bahkan keluarga dirumahnya tidak ada yang bisa dihubungi. Sania hanya akan ditelepon jika awal bulan sudah dekat, waktunya untuk ia mengirimi uang.
"den Sean mau kemana?" perhatian Sania teralihkan saat Sean mulai berjalan tertatih-tatih keluar kamar
Sania mengikutinya dari belakang. Jujur saja, setelah Ajeng memilih cuti hingga berbulan-bulan dikarenakan anaknya tak kunjung sembuh Sania menjadi mengambil alih semua pekerjaan. Bukannya ia tidak bersyukur, hanya saja bayaran yang didapatnya tidak berubah masih sama dengan awal ia bekerja hanya sebagai pengasuh Sean.
Katakanlah ia matre, tapi perempuan mana sih yang tidak butuh uang untuk menopang hidupnya. Walaupun ia dari kampung, Sania mengerti dunia orang kota.
Dengan gaji bermodalkan empat juta rupiah, ia harus memberi orang tuanya sebesar tiga juta dan menyisakan satu juta untuk ia tabung demi impiannya yaitu kuliah.
Sepertinya, ia harus protes kepada majikannya.
"makanan saya mana?" wangi maskulin memenuhi indra penciuman Sania. Seno duduk disofa dengan membawa Sean kepangkuannya
__ADS_1
"persediaan makanan didapur sudah habis tuan, hanya menyisakan makanan den Sean saja"
"memangnya kamu tidak beli? Saya sudah kasih kamu uang loh"
"bukankah tuan sendiri yang memberi tahu saya jika keluar harus bersama tuan" jawab Sania geregetan
"ah itu mah alasan kamu saja. Intinya kamu mau bepergian dengan saya kan. Ngakuuuu"
"terserah tuan saja lah" Ucap Sania jengah, ia merapatkan cardigan yang terpasang ditubuhnya
Tinggal berdua dengan laki-laki yang tidak ada hubungan dengannya membuat Sania lebih waspada. Tidak, ia tidak meragukan kesopanan Seno. Walaupun Seno sering mengajak bercanda dengannya, ia masih tahu batas wajar. Sania hanya jaga diri, dengan menggunakan pakaian yang lebih tertutup jika hanya berdua diatap yang sama.
"cepat ganti baju, biar sekalian belanja bulanan. Saya yang akan urus Sean"
"baik tuan!"
Menolak, Sudah sejak awal Sania menolak dan meminta pakaiannya disumbangkan saja. Tetapi dengan tegas Seno menolak dan memaksa Sania sehingga perempuan itu tidak bisa berkutik lagi.
"kamu ingin menghilangkan jejak terakhir mantan istriku?! Kamu tidak berhak untuk memerintah saya. Saya hanya meminta kamu untuk mengenakan pakaian Karin saat keluar dengan saya. Apa sulit?!" Ucap Seno sedikit membentak
Sania hanya mengangguk. Dirinya tidak lebih hanya seorang pelayan, orang yang berada jauh dibawah dari tuannya. Ia hanya bisa menurut. Intinya yang Sania tangkap, Seno hanya belum bisa menyingkirkan semua hal yang berbau tentang Karin, mantan istrinya.
Setelah mendengar curahan hati Seno, saat malam ketika laki-laki itu mabuk. Sania menyimpulkan Seno sangat mencintai Karin. Hanya saja Karin yang tidak bisa mencintai seorang Seno. Bahkan Sania pernah mendapati ruangan khusus, berisi segala hal tentang Karin. Kalau mengingat itu Sania menjadi bergidik sendiri.
Tuan Seno tidak terobsesi kan?
__ADS_1
"sudah siap?" Sania mengangguk
Sania mengambil alih Sean. Dengan kemeja putih lalu lengan digulung sampai siku, membuat mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Tidak lupa Sean yang mengenakan kaus putih dibalut kemeja biru membuat mereka nyaris sempurna untuk dilihat.
Sesampainya mereka dipusat perbelanjaan. Tampak semua orang mengalihkan pandangan pada keluarga yang baru turun dari fortuner, ralat bukan keluarga. Disini peran Sania hanyalah seorang pengasuh.
Seno memang bukanlah pengusaha yang begitu terkenal. Ataupun pengusaha yang memiliki kekayaan tertinggi disatu negara. Tetapi dengan tampang yang sangat tampan, cukup membuat orang terkesima dengan kedatangan Seno. Ditambah dengan Seno yang menggendong sosok mungil dan tampan seperti Sean, menambah sisi plus bagi orang yang melihatnya.
Walaupun, Sania mendengar orang yang menghina dirinya.
"jadi istri, malah suruh suami yang menggendong anaknya"
"ibunya tega banget sih sama suaminya"
"istrinya sombong banget, mending cantik"
"suaminya tampan, anaknya lucu sekaligus tampan, tapi istrinya kok tidak cocok ya dengan mereka berdua"
"sok cantik"
Sania menghela nafas, jengah. Mencoba membiarkan perkataan yang terdengar olehnya.
woy! Lagian aku bukan istri tuan Seno.
Seno menakutkan pinggang Sania kedekapannya. Wajahnya tersenyum kesenangan, saat Sania tidak bisa melepaskan diri. Ia mendekatkan diri kearah Sania.
__ADS_1
"gimana sudah seperti keluarga bahagia kan?"