Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 63


__ADS_3

Reyka semakin merapatkan lilitan selimut tebal ditubuhnya. Sesekali giginya saling bertautan menciptakan bunyi yang sedikit ngilu untuk didengar. Nafasnya semakin memburu menciptakan uap yang tak kasat mata.


Berbagai hal anak itu lakukan agar menghindari dingin yang menyergap sore ini. Hujan diluar semakin deras, belum lagi suara petir yang terus semakin menyahut. Seakan sedang berlomba menciptakan suara yang terkencang.


Tubuhnya semakin ditenggelamkan kebawa bantal. Berharap suara petir segera meredam. Anak itu benar-benar takut. Takut akan kegelapan dan kesepian yang ada.


Tadi siang, Sania, Seno beserta Sean turut datang menghadiri sebuah acara penting. Tentu saja dengan mengajak Reyka. Tapi, karena Reyka menganggap ia bukan bagian dari keluarga Seno. Ia memilih untuk tidak ikut.


Sempat ada paksaan yang dilontarkan Sania. Ditambah 3 pelayan yang bekerja didalam rumah sedang meliburkan diri secara bersama karena mereka masih ada hubungan sanak keluarga yang membuat mereka selalu memilih liburan bersama. Jadi, Reyka hanya bertiga dengan dua penjaga didepan rumah.


"aku gak mau ikut ya kalau Reyka gak ikut" omel Sania kala itu


Seno berdecak. Jas yang dikenakannya sudah terpasang rapih. Berkali-kali ia melirik Jam yang dikenakannya.


"kalau Reyka gak mau ikut, jangan dipaksa!"


Reyka mengangguk lirih. Angan-anganya yang menganggap Sania akan terus membujuknya lenyap begitu saja. Dengan sedikit paksaan dia tersenyum.


"aku gak papa ko mih, tinggal dirumah ini. Lagian kakak sedikit gak enak badan. Dari pada malah semakin merepotkan disana. Jadi kan lebih baik aku disini sekalian istirahat" alibi Reyka


"bener nih?" Tanya Sania berulang kali seraya menggendong Sean yang sudah tertidur sejak tadi


"iya mih, kakak akan jaga diri!" seru Reyka saat itu


Seruan yang kini dianggap sial oleh Reyka. Karena paksaan anak berumur lima tahun itu mereka akhirnya menyetujui untuk pergi dengan dalih akan pulang secepatnya. Ditambah omongan asalnya, yang sekarang membuat Reyka terbaring lemah.


Dengan alibi sedang tidak enak badan, ternyata Reyka benar-benar langsung dikabulkan. Saat ini bukan lagi tidak enak badan, Reyka sudah menyerempet pada sakit demam.


Uhh... Dinginnya...

__ADS_1


Jedar..... Kembali suara petir mengiringi kesendirian Reyka dirumah yang sangat besar ini


"cepat pulang dong. Reyka takut" isak Reyka ditengah-tengah tangisan


Bunyi letupan air matang menyegerakan Reyka langsung berlari kearah dapur. Beberapa menit yang lalu, Reyka memutuskan untuk membuat teh hangat agar dapat menghangatkan tubuhnya.


Biasanya ada termos yang selalu menyediakan air panas. Tapi, entah kenapa persediaan itu saat ini sedang habis. Membuat Reyka dengan terpaksa memasak air panas setelah pertimbangan selama beberapa menit.


Reyka mendorong kursi untuk tempat menopang tubuhnya. Dimatikan kompor itu. Kemudian dipegang-nya ujung panci.


Shh.... Panas


Tanpa sadar Reyka malah menyenggol panci itu dan membuatnya tumpah dilengan kirinya.


"AW panas..." karena tidak bisa diam ia kembali jatuh dari atas kursi. Istilah sudah jatuh terima tangga kini mendatangi Reyka. Tidak hanya lengannya saja yang panas, tapi seluruh badannya rasanya sakit.


Reyka kembali berlarian memasuki kamar mandi. Diaturnya kran menjadi air dingin. Reyka sudah menangis tidak beraturan. Dilihatnya lengan yang memerah dan sudah melepuh. Tentu saja, air yang sudah bergolak dan artinya benar-benar panas. Tumpah begitu saja dipengannya. Untung saja, Reyka sigap bergeser jadi hanya lengan kirinya saja yang kena. Walaupun rela harus menjatuhkan tubuhnya dari atas kursi.


Air dingin yang mengalir tidak membuat lengannya menjadi mendingan. Reyka masih tetap merasakan sakit yang berkepanjangan.


Ia menyerah.


Reyka memilih beranjak kembali ke dalam kamar. Pusing yang dideritanya memaksa anak laki-laki itu untuk membaringkan diri.


"ughhh... Mamih aku tidak kuat" seketika semuanya gelap


...~§~...


Bunyi ventilator terdengar diseluruh penjuru ruangan. Didalam ruangan yang terdapat satu kasur, sofa dan televisi itu menampilkan sesosok anak kecil yang masih asyik memejamkan mata sejak tadi. Menyisakan Sania yang terus menyalahkan diri sejak tadi.

__ADS_1


"bukan salah kamu" Ucap Seno berulang kali


Sean yang melihat Sania terisak sejak tadi, sedikit menjauhkan diri. Entah kenapa perasaan anak umur tiga tahun itu sedikit tidak rela saat melihat perempuan yang sejak dulu merawatnya kini mengkhawatirkan orang lain.


"mamih gak sayang aku lagi!" lirih anak itu, yang terdengar hanya desisan saja membuat Sania menoleh


"kenapa nak?"


Sean menggeleng, "eyan khawatil liat kakak kayak gitu" alibi Sean lalu menarik nafas dalam-dalam kembali


Seno menoleh heran. Ia merasa anaknya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Seno membawa Sean kepangkuan-nya, lalu dielus punggung anak itu secara lembut.


"Sean kenapa?" heran Sania yang menoleh pada anak itu karena dari tadi pandangan nya terus tertuju pada Reyka yang masih memejamkan mata


"gara-gara kamu, sepertinya" Ucap Seno penuh penekanan


Sania kembali menoleh. Terkejut dengan ucapan Seno yang terdengar ketus. Pertama kali ia mendengar Seno seperti marah padanya. Biasanya, jika ada masalah mereka memilih membicarakan nya empat mata daripada harus saling sindir atau marah.


"kamu marah denganku?"


"tidak--, hanya saja" Seno meraup wajahnya frustasi, "sudahlah bukan hal yang besar ini"


"tapi Sania kira ini masalah besar deh. Melihat kamu dan Sean yang sepertinya berbeda sikap padaku"


Sania berusaha membawa Sean dari pangkuan Seno. Tetapi, tidak seperti biasanya. Sean lebih memilih mengeretkan pelukan pada Seno.


"tidak. Tidak ada yang berbeda. Oh iya, mas sama Sean mau cari angin keluar dulu ya"


Dengan enggan Sania mengangguk. "hati-hati mas. Aku tunggu disini saja ya, jaga-jaga kalau tiba-tiba Reyka bangun"

__ADS_1


Seno membuka kenop pintu, "mas harap kamu tahu batasan dalam menyayangi Reyka. Bagaimanapun dia hanyalah orang asing dikeluarga kita. Dan anakmu semata-mata hanyalah Sean" Ucap Seno lalu berlalu meninggalkan Sania yang terpaku


__ADS_2