Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 09


__ADS_3

Pernikahan? Hahaha. Segampang itukah Karin menikah lagi, padahal belum tenggat satu tahun kami bercerai?


Seno melaju dengan kencang membelah kota yang ramai siang ini. Laki-laki itu tidak memperdulikan teriakan orang-orang akibat kendaraan nya yang lemaju ugal-ugalan.


Fikiran-nya terlalu kalut, memikirkan itu semua.


Klub, satu tempat yang akan laki-laki itu kunjungi saat ini. Tenang, ia bukan tipe laki-laki yang akan menebar benih pada wanita-wanita penggoda itu. Seno hanya ingin minum sedikit, agar hatinya kembali tenang. Walau hanya sejenak.


...~§~...


Ting... Tong....


Sandra keluar dengan Sean digendongan nya. Tampak seorang pria berseragam memapah Seno yang sedang tertawa tidak jelas.


Mabuk? Siang hari? Tuannya memang sangat tidak jelas.


Sepertinya dampak yang diberikan Karin sangat berpengaruh pada Seno. Setelah mengucapkan terima kasih, Sania memapah laki-laki itu untuk istirahat dikamarnya.


"Karin? Kau wanita jahat itu? Jahat, kamu jahat. Dasar perempuan tidak punya hati. Hahaha"


Sania sedikit kesusahan memapah Seno. Sepertinya laki-laki itu lebih mabuk daripada terakhir kali ia dimuntahi karena Seno mabuk juga.


BRUK...


"argh, tuan berat banget"


Seno sudah berada dikasur. Tatapannya seketika berubah, dari yang awal menatap Sania manja kini laki-laki itu menatap tajam Sania. Tidak ada senyuman diwajahnya. Ada! Tapi hanya senyum smirk.


"tuannn" Sania dikejutkan dengan Seno yang menindih dirinya

__ADS_1


Fikirannya sudah berada di dua pintas. Antara Sean yang ia tinggalkan diruang tamu dan Seno yang terus menindihnya.


"tuannn, saya Sania bukan nyonya Karin"


Sania memberontak, tenaga Sania tentu saja akan kalah dengan tenaga laki-laki yang sedang diliputi amarah.


Dengan beringas, Seno mencium paksa seraya menarik paksa kemeja Sania. Menghamburkan kancing-kancing yang memang sudah tidak kencang lagi.


"Karin.... Kenapa kau selalu menolak disentuh denganku!!! Sementara dirimu sering diombral sana sini dengan laki-laki lain"


Seno mengerang saat Sania memberotak dan tak sengaja menyentuh miliknya. Tubuhnya semakin menginginkan kepuasan. Sementara netranya terus berganti melihat perempuan dibawahnya antara Karin dan Sania.


Ah, Seno tidak peduli. Dirinya menginginkan kepuasan.


"entah siapapun kamu, saya tidak peduli!"


Seno menarik paksa tubuh Sania. Perempuan itu sudah pasrah, tangisannya sudah terhenti. Tubuhnya mengikuti kemauan Seno.


Kehormatan yang selama ini perempuan itu jaga. Lenyap begitu saja. Sania sudah tidak bisa menangis, air matanya serasa sudah kering. Tubuhnya hanya bisa mengikuti alur hentakan Seno.


Sania merasa jijik dengan desahan yang dikeluarkan laki-laki yang berada diatas tubuhnya. Tubuhnya terus mengikuti alur yang diberikan Seno.


Alih-alih enak Sania hanya mendapat jijik. Mendengar decapan, desahan, ah rasanya ia ingin menggali lubung dan mengubur tubuhnya hidup-hidup.


Ya tuhan, maafkan hambamu ini.


...~§~...


Perempuan itu menekuk kedua kakinya dibawah pancuran air kran. Sania merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Tubuhnya sudah memerah akibat ia terus menggosok untuk menghilangkan jejak Seno.

__ADS_1


Aku harus pergi!


Dengan cepat Sania membilas tubuhnya. Kemudian, memasuki kamar dan memasukkan semua pakaian yang ia bawa pertama kali kedalam tas lusuhnya.


Sandra ingin cepat-cepat pergi, membiarkan selangkangannya yang sangat ngilu karena diterobos paksa.


Sania menggengam pintu keluar rumah dengan sangat erat, ia berbalik saat merasa ada yang menarik bajunya. Tampak Sean yang berdiri sembari memegang kursi untuk menahan tubuhnya.


"miii, ngan pegiii"


(mi, jangan pergi)


Tangis Sania luruh kembali. Rasanya tidak rela meninggalkan anak selucu Sean. Sean terlihat habis menangis dengan kedua mata berlinang air mata. Tampaknya anak itu mendengar teriakan Yang Sania buat saat berada dikamar Seno.


"maafkan mba ya, mba harus pergi. Mba janji nanti akan datang lagi"


Datang untuk menemuimu bukan menemui ayahmu, lanjut Sania dalam hati


Sean menggeleng lekat-lekat, seakan paham orang yang telah merawatnya akan pergi untuk selama-lamanya.


"maafin mba ya"


Sania berulang kali menghunjam ciuman pada Sean. Lengan mungil Sean menghapus air mata Sania. Perempuan itu tersentuh dan semakin sulit rasanya untuk meninggalkan anak selucu Sean.


Sania menggeleng. Aku harus pergi!


"Sean jangan kemana-mana ya. Jangan nakal, tunggu ayah kamu sampai bangun. Jangan keluar rumah"


Sean menggeleng. Lengan mungilnya menahan-nahan kepergian Sania. Sania tersenyum dan mensejajarkan diri dengan Sean lalu mencium kening dan pipi anak itu.

__ADS_1


"maafin mba ya. Jangan ikutin jejak ayah kamu yang suka nyakitin perempuan"


Sania beranjak keluar rumah, tidak lupa menutup pintu agar Sean tidak keluar rumah. Sania kembali menangis, bukan menangis karena perlakuan Seno tapi ia sedih akan meninggalkan sosok anak laki-laki yang sudah menyita hidupnya satu tahun terakhir ini.


__ADS_2