Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 59


__ADS_3

"mba!"


Karin tidak bereaksi tetap melakukan hal yang dapat menyakiti dirinya itu. Nyatanya kekuatan John kalah saat Karin histeris seperti itu.


"kamu orang baik mba. Sania tidak mengenal mba Karin yang seperti ini. Sania cuma tahu mba Karin yang kuat dan selalu bisa menghadapi semua masalahnya. Jangan sampai karena emosi, mba melakukan hal diluar nalar dan malah menyakiti orang disekitar mba"


Karin semakin terisak dan menangis kencang. Tidak lupa ia terus memberontak dipeganan John.


"Aku tidak sebaik ya kalian kira. Hahahaha" tangisan histeris berubah menjadi tawa kencang membuat semua orang merinding dibuatnya


"Mba?" Sania mendekat dengan dipapah Seno


Karin terdiam lalu menoleh dengan tampang sangat datar. Tidak sampai dua detik, Karin terus mengubah raut wajahnya. Terkadang menangis histeris, tertawa kencang bahkan seperti orang yang lempeng alias datar sama sekali.


Seno mengernyit. Mengingat perkataan Alex beberapa jam yang lalu.


"Ck, bukan kepribadian ganda ini mah. Udah masuk ketingkat gila" seru Seno tiba-tiba


"Mas!" Senggol Sania, "oh iya! Sean mana?!"


"Sean?"


Sania menarik nafas panjang, "iya mas, Sean. Dimana anak aku! Gimana keadaan nya. Haduhhh... Aku gak tahu keberadaan Sean sekarang. Aku takut dia kenapa-napa"


Seno tersenyum melihat kepanikan Sania. Bisa dilihat bahwa Sania benar-benar terlihat panik. Berarti, sesayang itu Sania pada anak yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.


"mas... Jangan diem aja. Ayu cari Sean sekarang juga!"


Sania terus jalan terseok meninggalkan Seno yang masih tersenyum.


"bawa Karin kekantor polisi" titah Seno. John mengangguk, "eh lebih baik bawa saja perempuan itu kerumah sakit jiwa"


Kemudian, Seno jalan keluar mengikuti Sania yang jalan seraya memegang benda disekitar. Layaknya anak yang baru belajar berjalan.


"tenang Sean dan Reyka sudah aman" Ucap Seno lalu memeluk Sania erat-erat


Sania menangis dipelukan Seno dan memukul pelan suaminya. Ia sangat panik dan Seno memilih diam dulu?


"kenapa kamu diam aja? Huhuhu. Gak tahu apa bayangan ketakutan Sania saat terus memikirkan Sean. Sania takut anak itu kenapa-napa"


"maaf San, maafin mas. Tapi, ngapain kamu masih memikirkan Sean padahal mas yakin sekujur tubuh kamu pasti lagi nahan sakit"

__ADS_1


Sania ingin membalas tapi langsung berhenti saat ia dikejutkan dengan keberadaan laki-laki yang memaksa Sania beberapa waktu lalu sudah tergeletak bersimpah darah didepan pintu.


"mas.. Ka... Kamu apakan orang ini!"


Sania terkejut bukan main. Prinsipnya, biarkan orang menyakiti dirinya tapi jangan sampai ia juga membalas menyakiti perbuatan orang itu atau melampiaskan nya kelain hal yang buruk. Tapi kalau suaminya seperti ini?


"mas?"


Seno terkekeh dan mengacak jas yang melilit kepala Sania, "mas gak sejahat itu untuk ngebunuh orang San. Itu perbuatan-nya John"


Walaupun disuruh mas sih. Batin Seno lalu diam-diam tertawa tanpa sepengetahuan Sania


Sania hanya mengangguk. Walaupun dalam hati sedikit getir mengingat sekretaris suami-nya sampai berani menyakiti bahkan membunuh? ~Entah Sania tidak tahu keadaan pria itu saat ini dan perempuan itu juga tidak mau tahu~ laki-laki itu, demi menyelamatkan ia. Berarti, dengan kata lain dia termasuk kedalam perbuatan jahat itu kan.


Dug... "shhh... Mas kalau berhenti bilang-bilang dong" gerutu Sania


"makanya kalau jalan lihat-lihat" Seno berjongkok didepan Sania dan mengisyaratkan agar Sania cepat naik


"aku berat loh mas"


Ternyata memang benar ya istilah 'kalau hidup senang pasti berat badan akan naik'. Hal itu terbukti pada Sania. Badannya jauh lebih berat dibandingkan saat dulu ia masih dikampung. Kini badannya lebih terkesan ideal dengan tinggi nya yang lumayan untuk seorang perempuan.


"seberat apapun kamu, menurut mas kamu masih seringan bulu"


"mas Sean dimana?" tanya Sania digendongan Seno, "Sean baik-baik aja kan?"


"baik ko baik. Kamu gak usah urusin Sean dulu. Pokoknya kamu harus urus diri sendiri dulu. Gak lihat apa sebadan kamu lebam-lebam semua"


"tapi aku pengen tahu keadaan Sean, dan oh iya Reyka! Dimana anak itu. Kasihan deh mas, dia harus melihat dengan matanya sendiri saat bundanya hampir bunuh diri dan bertingkah tidak seperti biasanya"


Seno sedikit terdiam, "Reyka bersama Sean aman di rumah ibu Ajeng. Oh iya, kondisi Reyka juga cukup memprihatinkan. Sejak mas temui Reyka hanya diam menatap satu arah. Tanpa senyuman sama sekali"


"tuh kan! Dari awal Sania udh fikir kayak gitu. Ngelihat Reyka yang tampak gemetaran sejak dirumah tadi. Duh, Sania jadi khawatir sama Reyka"


Seno menyentil kening Sania dengan pelan setelah memakaikan seat belt pada Sania, "mas bilang juga jangan mikirin orang lain dulu. Fokus sama penyembuhan dulu aja"


"ck, iya-iyaa"


...~§~...


Kini Sania sedang sendirian ditengah ruangan VIP dirumah sakit. Luka yang ia sepelekan dan dianggap nya tidak terlalu parah, ternyata membuat perempuan itu harus diopname hampir dua hari lamanya.

__ADS_1


Terdapat pembengkakan ditelapak kakinya, dan itu cukup parah. Jika dibiarkan, luka itu akan merembet kedaerah lainnya. Dan bisa-bisa ia tidak dapat berjalan lagi, akibat membusuk.


Ceklek... Sania mengalihkan pandangan menuju pintu. Hatinya seketika membuncah saat Sean berlarian masuk.


"mamihhhhh, eyan kangennn"


Sean berlari kearah kasur lalu memeluk Sania dengan erat.


"mamih juga kangen sama Sean. Sean baik-baik aja kan? Gak ada yang sakit kan? Gak ada luka kan" Sania meraba-raba tubuh Sean


"gak ada mih! Eyan sehat. Kan udah dicembuhin sama nenek Ajeng"


Sania tersenyum lalu mengacak-acak rambut anaknya. Dirinya jadi rindu ibu Ajeng. Orang yang sudah ia anggap sebagai ibu sendiri. Orang yang sudah menjadi jembatan pertemuan antara Sania dan keluarga Seno.


Kalau saja saat itu, Ajeng tidak menawarkan kerjaan padanya. Sudah dipastikan hidupnya masih jauh dari kata bahagia seperti saat ini.


Pintu ruangan terbuka kembali, kini menampakkan Reyka dan Seno masuk kedalam ruangan. Reyka terlihat canggung, ia memilih duduk disofa paling jauh seakan tidak mau mengganggu kebahagiaan keluarga itu.


Sania tersenyum lembut dan meminta ia menghampiri mereka.


"gak usah tante, Reyka disini aja"


"sini dulu sama tante" pinta Sania


Reyka menoleh pada Seno, lalu setelah mendapat persetujuan Seno anak itu langsung menghampiri Sania dan memeluknya erat. Tidak lupa tangisan kencang terdengar dari mulut kecil anak itu.


"tante, maafin bunda ya. Pasti bunda yang udah sakiti tante kayak gini" ucapnya ditengah-tengah isakan seraya menyentuh per an dilengan Sania, "maafin bunda Reyka"


"iya sayang. Jangan nangis lagi dong, nanti kamunya jadi jelek"


"bunda jahat ya tante" Ucap Reyka tiba-tiba


Hmm... Sania berdeham. Reyka menunggu penuh harap dan menatap lekat Sania, "gak usah mikirin bunda kamu lagi ya" jawabnya lembut


Reyka mengangguk. Dirinya masih shock ketika mengingat kejadian saat itu. Dirinya memang masih kecil. Tapi ia sudah tahu, bahwa perkataan Karin seakan-akan tidak menganggap ada dirinya.


"mas" panggil Sania menghentikan Seno yang sedang mengupas apel


"kenapa sayang"


"kondisi mba Karin sekarang kayak gimana? Masih terus nyakitin diri?" tanya Sania sedikit berbisik tidak ingin Reyka mendengar nya

__ADS_1


Seno mengendikkan bahu, "kabar terbaru dari John, perempuan itu benar-benar dinyatakan gila" jawabnya acuh


"hah! Apa!!"


__ADS_2