Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 37


__ADS_3

Seno memboyong Sania dan Sean kepusat perbelanjaan yang terdekat dari rumahnya. Pusat perbelanjaan ini tampak sangat ramai siang ini, mungkin saja karena sudah memasuki waktu makan siang. Jadi, orang-orang lebih memilih mencari tempat makan didalam pusat perbelanjaan.


"Mas mau beli apa?" Bisik Sania


Perempuan itu sedikit risih dengan tatapan orang yang melihat pada keluarga mereka. Memang tidak secara langsung, tetapi tetap saja sesekali Sania mendapati orang yang melihat padanya lalu berbisik pada orang disebelahnya.


Sania jadi ingat beberapa bulan lalu, hal serupa juga pernah terjadi seperti saat ini. Bedanya waktu itu ia masih menjadi pengasuh Sean.


Dan malam setelah itu, Seno mengambil secara paksa kehormatan Sania karena mengetahui berita pernikahan Karin. Sania jadi mengenang kembali, dan ia baru ingat. Ternyata mall ini sama seperti mall saat itu.


"Kenapa jadi kamu yang bengong!" Seno merengkuh posesif pinggang Sania dan lengan lainnya menggandeng Sean


"Yahh, Eyan mau beyi mainan banakkkk. Eyan mau main tama temen!" Sean mengetuk ujung jarinya dikepalanya, "tapi Eyan gak punya temen!"


Memang Seno tidak pernah mengizinkan Sania untuk mengajak Sean sedikit berkeliling disekitar komplek perumahan. Walaupun Sania sedikit paham, jika pun Sania tetap memaksa keluar tidak akan ada siapapun yang ia kenal. Jangankan ia kenal, ada kerumunan orang disekitar komplek saja itu kemungkinan yang sangat kecil.


Maklum mereka tinggal dilingkungan orang kaya. Yang lebih memilih refreshing ditempat yang bergengsi daripada hanya keliling disekitar komplek.


Bukan itu masalahnya, Sania hanya ingin Seno paham bahwa umur Sean sangat butuh memiliki teman sebaya untuk menyalurkan kepandaian-nya dan untuk menumbuhkan pola ke-ingin tahuan pada anak.


Jangankan membawa Sean keliling komplek, Sania meminta Seno untuk membawa Sean kepanti asuhan saja tidak boleh.


Padahal kan dipanti asuhan pasti banyak anak sebaya Sean. Selain dapat menambah teman, dipanti asuhan juga Sean dapat belajar apa itu bersyukur? Atau tidak Sean dapat mempelajari cara menghargai orang lain tanpa memandang status.


Ya, walaupun Sean masih kecil sih. Tapi belajar sejak dini sangat bagus untuk pertumbuhan otak anak bukan?


"pokoknya Eyan mau punya temen!" pekikan Sean menghamburkan lamunan Sania


Dan perempuan itu baru sadar, mereka sedang duduk disuatu tempat makan dengan makanan khas sunda sudah terpampang dimeja.


"HAH ko kita disini sih?!" histeris Sania


"kamu bengong-nya kebangetan. Gak lagi deh ngelamun-ngelamun gak jelas kaya tadi. Bahaya tau, sampai gak merhatiin sekitar gitu. Kalau lagi sendiri terus ada orang jahat, gimana! Apalagi kalau----


"stttt, iya mas maafin Sania. Tadi lamunan-nya asyik sih" kekeh Sania, "gak lagi-lagi deh"


Seno balas tersenyum dibuatnya. Sudah seperti biasa, mereka makan dalam diam.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka sama-sama menyeka sekitar mulut mereka. Hal yang baru Sania pelajari saat tinggal dengan Seno. Tata krama saat makan, begitu kata laki-laki itu.


Biasanya, kalau dikampung setelah makan Sania langsung mencuci-nya. Tanpa repot-repot mengetahui sisa makan yang bertengger dimulut kecilnya.


"sebenarnya, untuk apa kita ke sini mas?"


"mas mau beliin kamu ponsel. Mas baru inget selama ini kamu masih pakai ponsel tidak layak pakai" sahut Seno seraya menaruh beberapa lembar uang diatas meja


Sania memukul pelan Seno, "tidak layak pakai! Gitu-gitu Sania beli pake uang sendiri. Hasil keringat sendiri" balas Sania tidak mau kalah


Enak saja barang hasil dirinya bekerja selama setahun lebih dibilang tidak layak pakai. Tidak tahu saja, Sania memilih ponsel yang paling murah. Itupun, untung saja pemilik toko-nya mau memberi diskon. Kalau tidak, tidak mungkin Sania sanggup beli ponsel.


"memang benar kan?" Seno mengiring Sania dan Sean untuk jalan bersama, "ponsel kamu tuh sudah jadoel, tahu kan?"


Sania merengut, lalu memalingkan wajah dari Seno. Ia tidak mau tahu, ia marah!


Seno masih saja asyik menggoda Sania, "kamu tahu kan jadoel? Iya jaman dulu! Ponsel kamu tuh udah ketinggalan zaman"


"huuh!" Sania semakin merengut. Ia menyibukkan diri dengan Sean, "ejek aja terus mas. Aku mah bukan orang kaya seperti kamu, yang bisa bebas tunjuk apapun. Aku harus rela kerja keras dulu demi membeli barang keinginanku. Bahkan untuk ponsel saja aku terpaksa beli, kalau tidak aku lebih memilih barang yang berguna lainnya"


Sania mengangguk.


"mas beliin kamu ponsel ya?"


Sania menggeleng, "aku gak butuh banget mas. Sania juga takut kalau dibeliin ponsel, malah sibuk sama ponsel daripada ngurus Sean. Jadi, lebih baik Sania gak usah dibeliin ponsel saja"


Seno mensetujui saja. Tanpa Sania tahu, laki-laki itu menghubungi John untuk Membeli ka ponsel untuk Sania.


"ya sudah, jadi sekarang mau beli apa?"


"atuh mas yang ngajak kesini! Mana Sania tahu"


"eyan mau beyi mainan" timpal Sean, "mainan yang banakkk tekaliii"


"iya-iya, nanti ya Sean" jawab Seno, lalu memboyong mereka memasuki toko pakaian


Toko pakaian yang Seno maksud yaitu butik yang sudah sangat terkenal dimana-mana. Butik itu tidak hanya menyediakan baju perempuan, baju laki-laki pun ada bahkan baju anak pun ada. Jadi sangat lengkap.

__ADS_1


"pilih semua baju yang kamu pengen" titah Seno, "mas sama Sean mau kebagian pakaian anak-anak dulu"


Sania mengangguk bahagia.


"oh iya jangan lupa beli jaket. Nanti kita mau jalan-jalan kedaerah pegunungan"


"jalan-jalan?"


...~§~...


Mereka sudah selesai berbelanja setelah terjadi sedikit perselisihan antara Seno dan Sania. Bagaimana tidak, Sania selalu menaruh kembali pakaian yang ia anggap menarik setelah melihat label harga-nya.


Seno sudah menyuruh Sania mengambil apapun. Tapi tetap saja Sania menolaknya. Dan berakhir Seno meminta Sean untuk membujuk Sania, akhirnya perempuan itu pun menyetujui dengan syarat tidak membeli banyak-banyak.


Sayang, katanya.


Keluarga 'S' itu sedang berjalan kearah pintu utama sembari berbincang kecil.


"San!" tiba-tiba Seno berhenti lalu menatap sesuatu. Sania mengikuti arah pandang Seno


"mas, Sania gak salah lihat kan?"


Seno menggeleng, "tidak-tidak, ams juga melihatnya. Tadi Alex kan? Dia sama siapa mesra begitu?"


Ya, mereka melihat Alex dan Fanya sedang berjalan mesra melewati mereka begitu saja. Sepertinya Alex tidak menyadari keberadaan mereka.


"itu bukan mba Karin kan?" cicit Sania


Seno menggeleng tegas. Ia buru-buru mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Karin, "gak bisa dibiarin ini mah. Sudah punya istri saja masih jalan mesra sama perempuan lain. Mas harus bilang Karin" Seno terdiam, "tapi... Bagaimana perasaan Karin saat mendengar berita ini. Dia pasti sakit hati banget"


Sania menyentuh lengan Seno, "mas katanya mau berusaha melupakan mba Karin? Kalau seperti ini sama saja mas terus berharap sama mba Karin"


Seno terdiam lalu mengembalikan ponsel kedalam saku nya, "kamu benar. Mereka bukan urusan mas lagi, ya sudah kita pulang sekarang saja"


Mereka kembali berjalan. Walaupun mereka tetap bersama, Sania cukup sadar perubahan sikap Seno. Laki-laki itu lebih diam daripada tadi.


Melihatnya masih peduli dengan mba Karin, sangat membuatku sakit hati.

__ADS_1


__ADS_2