
Happy Reading ๐
Dirumah yang besar ini, pagi-pagi Sania sudah disibukkan dengan membersihkan rumah disetiap penjuru ruangan. Sementara Santy dengan santainya nonton depan televisi seraya menghamburkan remah cemilan yang dimakannya.
"San, bantuin kakak! Kamu tuh numpang disini, jangan sok belaga seperti pemilik rumah" omel Sania sambil terus menyapu ruangan
Sania lelah! Perempuan itu sudah dibangunkan oleh Seno pukul empat pagi, karena laki-laki itu ingin berangkat kerja sekitar pukul lima pagi. Kodrat-nya sebagai istri menyuruh dirinya untuk menyiapkan pakaian dan makanan untuk Seno.
"hmmm, makasih San. Nanti mas pulang jam 12 siang, kita ajak jalan-jalan Sean dan adik kamu"
"iya mas, terima kasih banyak"
Selanjutnya Sania dikejutkan dengan ciuman di kening Sania secara tiba-tiba. Belum selesai terkejutnya, Sania kembali kaget karena bibirnya terasa lembab tiba-tiba. Sania terpaku sebentar, setelah sadar ia baru menyadari bahwa Seno sudah meninggalkan dirinya yang masih terpaku didepan pintu rumah.
Sejak saat itu, ia memutuskan untuk membersihkan rumah. Pekerjaan yang biasanya dilakukan Ajeng, kini berangsur pada dirinya. Entah, sampai sekarang tidak ada kejelasan lebih lanjut dari perempuan paruh baya itu.
Sejak kepergian Seno, perempuan itu memutuskan untuk membersihkan rumah sembari sesekali melihat Sean yang masih asyik didunia mimpinya. Sampai saat ini pukul sembilan siang. Makanya perempuan itu sangat lelah!
Rumah yang besar ditambah telah ditinggal selama beberapa hari kekampung Sania membuat rumah itu tampak lebih kotor dari hati biasanya. Selain itu, penampakan Santy yang dengan santainya berbaring seraya menonton televisi membuat perempuan itu geram.
"males ah ka! Dirumah Kamal, Sania udah disuruh-suruh terus, masa disini juga sih. Lagi pula, masa rumah orang kaya gak ada pembantunya" Santy menatap Sania dsri atas sampai bawah, "apa kakak menikah dengan ka Seno untuk menjadi pembantunya ya hahahah"
"Diam kamu!"
"sepertinya perkataan Santy benar. Kasian sekali kakak hahaha, sudah mantan kekasihnya menjadi suamiku dan kini suaminya menjadikan kakak istri hanya untuk merawat anak nya dan menjadi pembantu dirumah besar miliknya"
"sudahlah ka tidak usah malu"
Hua.......
"kenapa nak?" Sania memasuki kamar Sean yang ternyata sudah terbuka itu. Tampak Kamal menggendong Sean yang terus menangis, "kamu apakan anakku?"
"tadi dia jatuh dsri tempat tidur, aku tidak sengaja lewat dan menenangkannya"
__ADS_1
"baiklah, terima kasih"
Kamal keluar kamar sementara Sania mengambil alih Sean dan mengajaknya untuk melihat sekitar agar lupa pada kesakitan nya.
"miiii"
...~ยง~...
"Kamu menyambutku?" Seno memberikan tas dan jasnya pada Sania
"sudah tugas istri, untuk selalu menyambut suaminya saat pulang kerja"
"Karin tidak pernah melakukannya padaku"
Mereka memasuki kamar dengan Sean yang terus mengikuti kedua orang tuanya tanpa tahu kehadiran anak kecil itu.
"Sania tidak tahu, yang penting saat ini Sania hanya mengerjakan kewajiban seorang istri untuk selalu mengurus suaminya"
"kamu yakin?" Ucap Seno seraya melepas kemeja putihnya yang sudah penuh akan keringatnya
Bisik Sania penuh maksud. Maksud perempuan itu tentang uang belanja, tetapi perkataan Sania mengandung maksud lain bagi fikiran laki-laki itu.
Seno tersenyum, ia menarik lengan Sania mendekat dan mendekatkan diri dengan dadanya yang telanjang pada Sania, "mas juga belum mendapat kewajiban sebagai seorang suami agar dapat kepuasan istrinya diatas ranjang"
"mas" Sania menahan dada bidang Seno agar tidak semakin mendekat
Tangan laki-laki itu meraih dagu Sania dan mendekatkan dengan wajahnya. Laki-laki itu tersenyum smirk melihat wajah istrinya yang sangat memerah dengan bola mata yang terus menatap tak tentu arah.
Deg...
Deg...
"kau gugup?"
__ADS_1
Gelengan Sania membuat Seno semakin tersenyum senang didalam hati.
"tapi mas yakin, jantungmu sedang berdebar sangat kencang saat ini"
Seno mendekatkan diri pada Sania dan sebelum beberapa centi lagi bibir lugas laki-laki itu terkena dengan bibir ranum Sania. Seno merasa ada yang menarik-narik celana nya.
"miiii... Yah...."
Sania mengerjap dan menjauhkan diri dari Seno. Seno meraup rambutnya frustasi seraya mengusap tengkuknya, salah tingkah.
"mas bersih-bersih dulu saja, nanti Sania yang rapihkan semuanya" Ucap perempuan itu tanpa mau menatap Seno
Seno mengangguk, "makasih" sahutnya setelah masuk kedalam kamar mandi
Sania mengangkat Sean dan mencium nya bertubi-tubi, membuat anak kecil itu tertawa.
"untung saja ada kamu, untunggg sajaaaa"
Kelegaan Sania ternyata berbanding terbalik dengan keadaan laki-laki yang sedang berada dikamar mandi. Ia berusaha menurunkan nafsunya yang sudah berkobar hanya karena melihat bibir ranum Sania.
"arkhhhhh" pekiknya dalam hati
~~
Maaf dikit :( ini juga nyempetin update
Sebelumnya author mau ucapin makasih banyak-banyak sama kalian semua๐
Makasih udah yang mau baca, makasih yang udah mau vote. Tanpa kalian, author tidak bisa menjadi apa-apa.
Aku seneng banget loh, banyak yang komentar tentang kekesalan kalian dengan Santy dan Kamal. Berarti kalian bener-bener menghayati baca ini, dan sampai merasakan kekesalan pada dua orang itu.
Hihihi, sebenarnya bukan author buat karakter Sania dan Seno yang gak tegas. Hanya saja disini, author sengaja membuat karakter utama itu untuk membiarkan kelakuan Santy dan Kamal asal tidak sampai batas wajar saja.
__ADS_1
Kalian pernah gak sih, kalau punya masalah dibandingkan marah-marah dan bales dendam lebih baik dipendem dan dijalankan saja. Karena tidak mau repot gitu. Nah, author sengaja buat karakter utama semacam itu...
Oh iya, stay safe semuanya ๐๐๐ค