Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 102


__ADS_3

Maaf kemaren gak update ๐Ÿ™


Oh iya, psst besok episode terakhirr~ sedih sebenarnya ninggalin keluarga S ini, tapi kalau terus dilanjutin yang ada cerita malah makin melebar kesana kemari


~~


Lima bulan sudah berlalu~


Dunia serasa cepat bergulir. Kini kehidupan keluarga Seno selalu diiringi oleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang selama ini diinginkan oleh Sania maupun Reyka.


"aku gak mau loh kalau kamu sampai kecapean"


Beginilah rutinitas Seno, tidak lain dari larangan-larangan yang terus dilontarkan untuk Sania. Hal tersebut yang sering memicu pertengkaran diantara keduanya.


Seno yang terus melarang dan Sania yang tidak bisa diam, bisanya terus melanggar perintah Seno. Tetapi walaupun begitu, Seno tidak akan tega mendiamkan Sania lama-lama.


Semua kemarahan-nya selalu terpendam dengan sikap manja Sania.


"aku cuma lipet baju loh mas. Bukan kerja yang bikin aku cape" keluh Sania


"tetap saja! Yang namanya kerjaan pasti mengeluarkan hormon keringat dan membuat kamu kelelahan. Aku gak mau kamu sama baby kenapa-napa" tandasnya


Sania tersenyum lembut. Seno dan segala perhatian nya selalu bisa membuat Sania tersipu, "kami baik-baik saja mas. Kan ada 3 penjaga dan satu princess yang menjaga kami"


Maksud Sania tidak lain Seno, Reyka, Sean dan Sena. Keempat orang yang selalu menjaga Sania dengan sepenuh hati.


"hahaha, iya-iya" Seno mengusap surai Sania, "maaf banget ya beberapa bulan terakhir mas lembur terus. Jadi, gak ada waktu buat kamu" ucap Seno penuh sesal


"selama itu untuk aku" jawabnya


Memang benar, sebagai pemilik perusahaan Seno termasuk atasan yang bertanggung jawab dan tidak melulu memerintah bawahan nya untuk memajukan perusahaan.


Ia selalu turut andil dalam mengerjakan ini itu. Karena itu selama 5 bulan terakhir, Seno berusaha menyibukkan diri agar selama 5 bulan kedepan ia tidak akan disodorkan beberapa file perusahaan.


Seno ingin fokus dengan perkembangan Sania selama hamil dan mendekatkan diri kepada Sean, Sena dan juga Reyka.


"dih gombal" rengek Seno


Sania terkikik kemudian mengusap kepala Seno yang berada dipangkuannya, "masalah foto keluarga itu jadi?" tanya Sania hati-hati


Seno langsung duduk dan mengangguk. Ia mengeluarkan beberapa polaroid, "tadi pagi mas dapet kiriman beberapa contoh sketsa atau tema yang mau kita pakai"


Sania memperhatikan satu per satu. Semuanya tampak elegan, sangat khas dengan kepribadian seorang Seno yang pecinta sketsa hitam putih. "terserah mas aja" acuh Sania


"kamu gak mau foto keluarga?" tanya Seno begitu mendapat sikap ketidak perdulian Sania


Sania melirik. Mendapati Seno yang memebelakangi dirinya seraya melipat tangan didada. Ini suaminya sedang merajuk?

__ADS_1


"mas?" panggil Sania


Ceklek... Atensi Sania langsung tergantikan. Ia melihat ketiga anaknya memakai piama membawa beberapa bantal. Sontak saja hal itu membuat laki-laki yang sedang kesal menjadi semakin kesal.


Ia sudah tahu, apa yang diinginkan ketiga anaknya,


"kita mau bobo sama adek bayi lagi!" seru Reyka bak ketua rombongan


Sean dan Sena mengangguk. Dengan hebohnya mereka menaruh bantal disamping kanan dan kiri Sania hingga Seno yang berada disisi hampir terjungkal. Jika tidak ada Reyka yang menahan, sudah pastikan Seno akan terjun bebas dari atas kasur.


"sini... Sini... Dekat mamih" titah Sania dengan menepuk-nepuk bokong sikembar


Seno semakin merengut, "huh!"


Reyka yang sadar langsung berbalik kearah kearah Seno dan memeluk pria itu dari belakang, "papih gak suka kita tidur disini?"


Seno mendelik lalu buru-buru berbalik dan menangkup wajah Reyka, "kata siapa? Papih seneng banget malah kalau kalian tidur disini" ucapnya bersungguh-sungguh


Reyka ber-oh ria. Merasa Seno baik-baik saja ia kembali berbalik mengarah pada Sania. Walaupun terhalang oleh Sean, Reyka tetap berusaha memeluk Sania dan mengusap perut Sania.


Dari semua anak, yang paling antusias mengenai kehamilan Sania adalah Reyka. Reyka sangat bahagia sampai menyombongkan kesemua orang yang ditemuinya.


Walaupun harus memposisikan diri sebagai abang yang sigap bahkan harus siap untuk menambah pekerjaannya dalam menjaga adik-adiknya. Reyka tidak perduli. Kebahagiaan yang terlihat dari Sania dan Seno membuat sikecil Reyka ikut bahagia juga.


"jadi gak ada yang mau nemenin papih tidur nih?" rajuk Seno membuat Sania terkikik


Walaupun keinginan tersebut harus terhalang dengan pekerjaan yang menumpuk.


"Sena mau!" seru Sena lalu buru-buru melangkahi tubuh Sania dan kedua kakaknya dengan santai


"awas nanti kena mamih!" keluh Sean seraya memeluk posesif perut Sania


Sena mendelik lalu memelototi Sean. Ia kembali berjalan dan berakhir dikukungan Seno.


"memang cuma Sena yang sayang sama papih" ambek Seno


Sena memeluk erat Seno, "cuma Sena yang tayang tama papih" serunya, "papih cuma punya Sena!"


Sean dan Reyka terlihat tidak perduli. Malahan Reyka memilih mengambil posisi menggantikan Sena, agar tidur tepat disamping Sania, "gak papa, Sean sama ka Reyka cuma punya mamih"


"papih?"


"gak mau.... Wle...." ledek Sean dan Reyka


Dan malam itu berakhir, Seno yang ngambek kepada semua orang dan hanya ingin berbicara dengan Sena saja.


...~ยง~...

__ADS_1


Ditempat studio foto,


Sania dihebohkan dengan rengekan Sena yang tidak menginginkan memakai dress putih sebagai dresscode foto utama keluarga mereka.


"aku gak like putih, maunya Pink!" serunya tidak terima, ditambah bayang-bayang dress Pink diruang ganti tadi menambah keengganan Sena memakai dress putih. Dress yang sama persis dengan yang dipakai Sania


Bedanya dress Sania didesain lengan panjang agar pas dengan hijab yang dikenakannya. Sedangkan dress Sena didesain tanpa lengan. Jadi sangat lucu digunakan Sena.


"jadi, Sena gak mau pakai baju yang sama kayak mamih?" tanya Sania pura-pura sedih


Dengan perut yang semakin membesar, membuat Sania cepat lelah walau hanya bekerja sebentar. Tak ayal, seperti saat ini. Hanya menunggu Sena berganti baju sudah membuat Sania lelah. Punggungnya terasa kebas dan perutnya yang sedikit kram.


"tapi--- iya deh" putus Sena akhirnya, tidak tega dengan wajah sedih Sania


Sena dibantu dengan pengasuhnya untuk memakai dress tersebut. Semenjak kehamilan Sania semakin membesar, Seno memang sengaja menyewa dua pengasuh untuk menjaga ketiga anak-nya.


"istri sama anak papih memang yang paling cantik!" kelakar Seno yang mendapat sorakan riuh dari Sean, Reyka dan juga pegawai distudio


Sania yang mendengar hanya tersipu malu.


"sekarang posisi anak-anak didepan duduk disofa sementara tuan dan nona berdiri dibelakang kursi, melihat arah depan" titah fotografer. Ia sudah siap dengan kamar tercanggih yang dipinta Seno agar mendapat hasil yang memuaskan


Fotografer pria itu sudah membidik netra menatap keluarga Seno dibalik kamera. Lengannya sudah menunjukkan satu, dua lalu kembali turun saat Sena tiba-tiba berbalik kearah Sania.


"mamih nanti aku pakai baju yang Pink kan?" tanya Sena sekali lagi


Sania terkekeh, "iya nak, sekarang diam dulu ya. Lihat om itu sambil senyum"


Sena mengangguk paham. Ia melihat laki-laki yang ditunjuk Sania lalu tersenyum hingga memperlihatkan gigi ompong-nya.


"oke, satu.... dua... ti


"papih aku senyum?" tanya Sean


Fotografer itu hampir mencapai batas kalau tidak mengingat sedang melayani konsumen seroyal Seno. Dengan terpaksa ia tersenyum, menahan kesabaran. 'namanya juga anak-anak'


"iya nak, senyum yang lebar ya" jawab Seno


"sudah siap ya!" tanya fotografer itu sembari membidik kearah keluarga Seno


"siap om!" jawab Reyka dengan semangat, merasa kesal dengan tingkah adiknya yang selalu menyela itu


"baik, satu... dua... tiga..."


Cheese..


Gema sinar dan suara kamera membidik keluarga Seno berulang kali.

__ADS_1


__ADS_2