Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 55


__ADS_3

Sania dan Seno memutuskan untuk membiarkan Karin untuk tinggal sementara bersama sampai butik yang dibangun Seno rampung terlaksana.


Saat ini juga Karin masih memerlukan bantuan Seno. Bukan-bukan bantuan Seno, maksudnya bantuan dari pengacara milik keluarga Seno. Karin sedang berusaha keras untuk menceraikan Alex dengan cara apapun. Walaupun sampai saat ini masih nihil, Alex sama sekali tidak merespon-nya. Laki-laki itu malah menyuruh Karin untuk kembali.


Kembali untuk disiksa-nya.


Sania sebagai teman Karin sontak menolaknya. Menghampiri Alex sama saja dengan bunuh diri. Mereka tidak tahu rencana apa yang dibuat laki-laki itu untuk membawa Karin dan Reyka kembali.


Saat ini,


Mereka sedang berada ditengah-tengah pusat perbelanjaan terkenal tempat Seno membeli sebuah took yang dibilang salah satu tempat yang besar dipusat perbelanjaan itu. Seno ingin meminta saran dari Sania untuk menghias butik itu.


Sania, Seno dan Sean berjalan beriringan. Karin yang tahu diri memilih berjalan bersama Reyka sedikit jauh dari keluarga ‘S’ tersebut. Sebenarnya Sania sudah meminta mereka untuk berjalan beriringan, tetapi dengan tegas Seno menolaknya.


“pih, eyan mau main dsituuu!!!”


“Reyka juga” sahut Reyka tak kalah histeris


Mereka menunjuk tempat penitipan anak yang dipenuhi berbagai area bermain yang sangat cocok ditempati oleh anak-anak seumuran mereka.


Seno menatap Sania, seakan mempertanyakan boleh tidak Sean kesana? Lagi pula dengan menitipkan Sena dan Reyka, semakin memudahkan mereka untuk meninjau lokasi butik.


"ya udah, terserah kamu aja. Tapi aku disini ya, jaga anak-anak"


"jangan! Nanti mas suruh salah satu bodyguard untuk menjaga mereka"


Kalau Sania ikut dengan Sean dan Reyka, yang ada Karin akan semakin leluasa. Lagi pula dengan lantang Seno mendedikasikan diri untuk tidak berada disatu ruangan yang sama dengan Karin. Walaupun itu terpaksa, tidak akan pernah!


"tapi mas" Sania menatap Sean dan Reyka yang sudah tidak peduli dengan dunia sekitar. Mata mereka hanya tertuju pada area bermain itu saja. Sania menyerah, "ya udah deh"


Seno bersorak lalu memerintahkan dua bodyguard untuk menjaga anaknya Sean dan Reyka juga.


"dadah mamih... Pipih...."

__ADS_1


"dadah bundaaa"


Sania dan Karin sontak membalas lambaian tangan kedua anak itu.


Setelah kepergian Sean dan Reyka. Ketiga orang dewasa itu kembali menelusuri pusat perbelanjaan dan melihat salah satu toko yang kosong.


Sebuah tempat yang sudah didesain khusus dengan warna ungu muda terpampang nyata begitu mereka memasuki ssalah satu dari toko yang kosong diantara toko lainnya yang sudah terisi.


“bagaimana?”


"bagus mas Sania suka" Sania mengitari penjuru ruangan


Dinding-dinding pun sudah dihias dengan model bunga-bunga yang tampak indah. Membuat ruangan itu sudah seperti tempat yang sangat mewah.


Seno mengacak-acak pucuk kepala Sania, merasa lucu melihat tingkah Sania. Berbeda dengan Sania yang malah merengut karena harus merapihkan hijabnya kembali. Tanpa mereka sadari ada sepasang netra yang menatap cemburu.


"Mba juga suka kan?" Karin menoleh lalu mengangguk


"Aku suka desain-nya. Persis seperti yang mba fikirkan. Kamu tahu saja seleraku" Seno menghindar saat Karin ingin memukulnya pelan


Ini yang Seno takutkan. Karin akan berbesar hati dan menganggap kebaikannya sebagai sebuah perhatian khusus. Jika seperti ini perbuatan baiknya akan menjadi boomerang sendiri kepada pernikahan nya dengan Sania.


Karin menelan salivanya tak ayal tersenyum canggung pada Sania yang sudah menatapnya balik. "Eh... I.. iya"


"Kau urus bagian depan. Sebentar lagi akan ada pihak yang datang mengirim berbagai macam pakaian merek terkenal" Karin mengangguk patuh


"Aku dan Sania akan urus bagian belakang" Karin mengangguk lagi


Lagipula selain menyetujuinya ia harus apa? menolaknya? Tidak mungkin, mulai sekarang ia bekerja dibawah naungan keluarga Seno dan Sania. Ia tidak mungkin macam-macam, kalau tidak mau ada sesuatu hal yang terjadi.


Sania dan Seno mengunjungi salah satu ruangan dibalik papan besar yang menghalau bagaian belakang. Ruangan dibelakang memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menampung satu kamar mandi, pantry dan satu ruangan untuk Sania.


"Ini buat apa mas?" Sania mengedarkan pandangan dan menemukan nama lengkapnya dikursi kebesaran, "ruangan aku?"

__ADS_1


"Benar sekali. Ruangan ini mas dedikasikan untuk kamu. Jadi kamu bebas menghias nya seperti gimana atau mau menambah parabot juga boleh. Tinggal kasih tahu mas"


Sania mengangguk patuh. Lengannya beberapa kali menyentuh perabot yang masih diplastik tanda masih baru, "gak usah beli baru, ini juga udah bagus"


Percakapan mereka terhenti ketika tangisan Sean dan Reyka terdengar. Dengan panik Sania langsung keluar ruangan menghalau kakinya yang baru terantuk ujung pintu.


"Kenapa.. kenapa ada apa ini" Sania mengambil Sean digendongan salah satu bodyguard begitu juga dengan Karin yang langsung membawa Reyka


"Kenapa anak saya bisa nangis seperti ini!!!"


"mamiihhh... Pipih.... Atitttt" sahut Sean menghentikan amarah Seno yang langsung menggendongnya


"maaf... Maaf tuannn"


"ayah jahattttt" pekikan Reyka memberhentikan layangan pukulan yang ingin dilakukan Seno pada bodyguard itu


"kenapa... Ayah... Alex? Alex ada disini?" menggoncang-goncang tubuh Seno, "Seno bantuin aku. Aku gak mau lagi ketemu laki-laki itu"


"lepasin dulu tanganmu! Baru saya bantu" Sania mendelik tidak suka reaksi berlebihan Karin pada suaminya, "sebenarnya ada apa ini"


"jadi gini nona, tuan muda Sean dan Reyka sedang bermain. Tapi tiba-tiba Reyka minta izin ke toilet dan minta ditemenin sama den Sean. Mereka gak mau saya ikut"


"kenapa tidak kamu ikuti dari belakang!" sentak Seno


"maafkan kesalahan kami tuan" Seno mendelik tetap meminta lanjut penjelasan, "saya membiarkan mereka ketoilet begitu saja. Karena jarak saya dengan toilet tidak terlalu jauh, jadi saya fikir mereka akan aman saja. Hingga saya mendengar teriakan Reyka diikuti Sean"


"huhuhuhu ayah mau mukul Reyka, tapi sama Sean didorong. Eh ayah malah mukul Sean" adu Reyka sambil menangis dipelukan Karin


"hooh benel, badan Eyan takit" Sean menggulung pakaian bagian belakangnya dan menampilkan memar biru dipunggung anak itu


Karin menyentuh luka dipunggung Sean dan merabanya. "nak sini sama ibu" Sean menggeleng tegas


"mau ama mamiii" Sean menenggelamkan wajahnya diceruk Sania menghalau Karin yang terus berusaha meraih nya, "huahhhhh.... Mami atitttt" pekik Sean

__ADS_1


Seno mengepalkan tangan. Alex sudah salah cari perkara dengan keluarga saya.


__ADS_2