Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 40


__ADS_3

"terserah!"


Sania yang sedang mengeluarkan beberapa lauk yang dibawa langsung menoleh. Ditaruhnya sendok kembali kedalam kotak makan itu.


"mas?" Seno tetap terdiam tanpa berniat menjawab


Gilang mendekati Sania dan duduk dipantry yang berhadapan langsung dengan Sania yang sedang menghangatkan makanan, "sepertinya suami kamu cemburu dengan abang" ucapnya sedikit berbisik


"siapa yang cemburu!" ujar Seno tiba-tiba mengejutkan Gilang dan Sania


Pedengaran yang tajam, memudahkan laki-laki itu mendengar bait demi bait perbincangan laki-laki asing itu dengan istrinya, Sania. Sampai sejauh ini Seno tidak menemukan hal aneh yang dibicarakan oleh mereka.


Tapi apa tadi? Cemburu? Dari sudut mananya seorang Seno cemburu dengan seorang Sania?


Ngawur


"tuh kan benar!" bisiknya lagi


Dengan terpaksa Seno mengeluarkan laptop-nya yang sejak tadi tersimpan rapih untuk meminimalisir kegugupan-nya. Padahal laki-laki itu membawa laptop hanya untuk jika ada keadaan genting saja.


Seno merutuki tindak spontan-nya. Seharusnya ia lebih memilih diam daripada menanggapi perkataan absurd Gilang.


“Mas, Eyan ayuuu makannn. Makanan-nya sudah siap” panggil Sania


Sean berlari mendatangi panggilan Sania. Ia merentangkan tangan, meminta gendong untuk diduduk-an diatas kursi khusus-nya. Gilang melihat sania yang masih repot membawakan piring-piring berinisiatif untuk mengangkat Sean.


Tapi lengan panjang terulur mengangkat Sean dan langsung menghalaunya. Seno menatap tajam Gilang, “jangan dekati anak saya” titah-nya tegas


Setelah kau dekati istriku, kini kau juga ambil perhatian anakku?


Seno kesal bukan main, ia menarik kursi untuk duduk berdekatan dengan Sean. Decitan suara akibat gesekan kursi dan lantai terdengar kencang karena tarikan Seno yang tidak biasa. Seno sengaja mendetingkan Sendok dan garpu untuk mengungkapkan kekesalan-nya.


“mas, ada apa sih?” tanya Sania seraya menaruh lauk dipiring Seno


“Gak!” jawabnya nge-gas


Sania berdecak sementara Gilang mengulum senyum-nya. Saat ini laki-laki itu paham bahwa Seno tengah cemburu pada-nya sejak tadi. Walaupun dalam hati Gilang masih tersimpan rapat rasa sayang-nya pada Sania. Ia tidak sejahat itu, untuk mengambil perempuan yang sudah menjadi milik orang lain.


Ditambah Gilang masih merasa bersalah pada Matahari, almarhum istrinya. Tidak ada cinta, tidak membuat laki-laki langsung melepas rasa berslaahnya begitu saja walaupun Matahari sudah meninggal. Mau bagaimanapun, ia sudah memperlakukan buruk pada Matahari hampir dua tahun lebih.


Rasa bersalahnya masih melekat snagat kuat didalam hatinya.

__ADS_1


Ditengah acara makan, Sean tiba-tiba menjadi rewel. Anak itu mendorong piring-nya dan menangis minta gendong dan melihat-lihat pemandangan luar.


Sania langsung ber-inisiatif memboyong Sean untuk keluar melihat lingkuan sekitar meninggal dua pria yang salaing mengirim sinyal permusuhan.


“Ehem… sepertinya Sania sangat sayang pada anakmu”


“memang harusnya gitu kan?!” kesal Seno, “selesaikan makan anda dan cepat pulang!”


“memangnya kenapa? Setelah ini, saya rasa ingin menghabiskan waktu berdua dengan Sania. Berkeliling berdua dibawah pohon rindang menuju air terjun terdengar sangat bagus untuk dilakukan” goda Gilang


“Tidak! Saya tidak meng-izin kannya”


“saya tidak butuh izinmu” ejek Gilang. “Sania sangat patuh dengan saya. Pasti dia langsung menyetujui segala hal yang saya pinta. Dulu saja, kami sering kesana kemari bersama. Bahkan dikampung banyak yang mengatakan kami pasangan yang sempurna” ucap Gilang dilebih-lebihkan


“bersama sampai petang datang, terkadang kami berdua menunggu hinggal gelap gulita datang dan menyaksikan keindahan bintang bersama. Bayangkan saja berdua ditengah malam, saya menyampirkan jaket saya pada tubuh Sania. Bahkan jika kedinginan saya berinisiatif untuk -----


Gebrakan meja hampir membuat Gilang tertawa terbahak-bahak. Laki-laki itu pura-pura terkejut dan memasang wajah polosnya, “ada yang salah?”


Seno berdeham lalu menarik piring kosong Gilang, “sudah habis kan?! Lebih baik anda pulang dan jangan kemari lagi” Seno mendorong-dorong Gilang keluar pintu, “pulang sekarang juga!!” titah Seno lalu kembali masuk kedalam


Tawa Gilang lepas begitu saja saat Seno kembali masuk, membuat Sania dan Sean yang melihat kebingungan. Gilang hanya menggeleng dan mengatakan tidak ada yang terjadi. Ia berterima kasih dan berpamitan pada Sania, lalu langsung terbirit keluar halaman pekarangan Villa.


****


Seno sudah mengenakan pakaian santai-nya, ia juga meminta Sania untuk bersiap. Setelah kepergian Gilang, laki-laki langsung meriset ‘benar tidak disekitaran sini ada air terjun’. Ternyata benar! Tidak jauh dari Villa yang laki-laki itu sewa ada spot air terjun yang jarang terjangkau oleh manusia. Oleh karena itu, spot tersebut masih sangat indah. Tanpa ada tangan-tangan jahil yang merusak-nya.


“mas kita mau kemana?” Sania keluar dengan dress selutut dan warna senada dengan pakaian Seno


‘waw’ satu kata yang langsung ada difikiran Seno. Ini pertama kalinya melihat Sania tanpa make up dan laki-laki itu benar-benar pangling. Natural-nya seorang Sania membuat Seno langsung terpikat tanpa sadar hati laki-laki itu berdesir.


“mas”


“e… eh iya kenapa?”


“Kenapa tiba-tiba keluar? Sean ajak gak?!”


“Jangan!!!” ucapnya cepat, “ini destinasi khusus kita berdua. Biarin Sean tidur siang dengan nyaman, tidak lama lagi ada orang suruhan mas datang dan menjaga Sean”


Sania mengangguk. Benar, mereka butuh waktu berdua tanpa Sean.


“memang-nya kita mau kemana?”

__ADS_1


Karena jarak yang tidak jauh, Seno memutuskan untuk menelusuri jalan setapak yang penuh kerikil. Mereka berjalan sembari bergandengan tangan, tanpa disadari keduanya. Mereka hanyut dalam obrolan kecil.


“tidak usah banyak tanya” ucap Seno


Sania mendengus tak ayal tetap berjalan disamping Seno. Pepohonan yang dilintasi mereka menambah kesan mesra diantara kedua-nya. Sesekali mereka tertawa kecil dan saling bercanda. Tawaan mereka memcah keheningan diantara kedua-nya.


“wuahhhh air terjunnnn” pekik Sania kesenangan. Ia membiarkan tubuhnya basah akibat percikan air terjun.


Sudah lama perempuan itu ingin mendatangi salah satu keajaiban milik Tuhan yaitu air terjun.


“mas, makasihhh. Sania suka banget sama air terjun!!” pekik Sania penuh kebahagian. Akibat kesenangan-nya yang berlanjut ia memeluk erat Seno


“ehem!” Sania melepas pelukan dengan kikuk


“maaf mas kebablasan” serunya lalu berloncat-loncat bahagia. Ia meloncati batu-batu besar dan sesekali mengabadikan-nya dengan ponsel yang diberi Seno


Seno tergugup. Laki-laki itu sangat bahagia karena melihat senyuman Sania yang tak pernah terlepas dan akibat pelukan tiba-tiba barusan. Lagi dan lagi Seno menyentuh jantungnya yang berdetak kencang.


“San duduk sini” Seno menepuk batu yang lumayan besar disamping-nya, “ada yang mas ingin bicarakan”


Sepertinya perkataan teman Sania memang benar, aku cemburu dengan laki-laki itu


Sania melambaikan tangan meminta tunggu sebentar. Tak lama Sania datang menghampiri Seno dengan keadaan dress yang sudah setengah basah.


Seno melepas jaket-nya dan disampirkan ketubuh Sania.


“Ada apa mas?” tanya Sania lalu duduk disamping Seno. Perempuan itu merapatkan jaket milik Seno yang tercium harum khas laki-laki itu. Sania suka!


“mas harap ini menjadi awal kedekatan kita. Maafin mas jika sikap beberapa lalu yang sempat berubah akibat masalah Karin. Mas sudah memikirkan-nya dan mas fikir sikap mas sangatlah salah”


“lalu?”


Seno merogoh sakunya dan mengeluarkan liontin dengan bandol mutiara kecil, “mulai sekarang mas akan mulai untuk belajar mencintai dan menghargai kamu”


“benar mas?” cicit Sania. Perempuan itu benar-benar tidak menyangka mendapat ucapan seperti itu dari laki-laki yang sudah berstatus menjadi suaminya


“iya, jadi mas harap kamu juga belajar mencintai mas”


“pasti mas pasti!” Kemudian Seno menyampirkan rambut Sania dan mengenakan liontin tersebut, “makasih banyak mas, makasih!”


“sama-sama, sayang” kemesraan mereka diakhiri dengan kecupan hangat dibibir ranum keduanya.

__ADS_1


__ADS_2