Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 47


__ADS_3

Sania dan Seno sudah pergi satu jam lalu. Karin sedikit lega setelah menceritakan semuanya pada Sania.


Brughh...


Pintu dibuka dengan lebar dan masuk Alex dan Fanya yang sedang bergandengan mesra dan senyuman tercetak dibibir keduanya. Berbeda dengan Karin yang hanya menatapnya dengan tatapan penuh sakit hati.


Sesak dirasa oleh Karin. Dibawah selimut ia meremas seprai kuat-kuat dan menyalurkan segala emosi yang ditahannya. Laki-laki yang dulu menganggap nya seperti seorang Ratu kini sudah meratukan perempuan lain.


"kalau tidak salah gue ngeliat Sania dan Seno diluar? Habis jenguk lu?"


"Gue? Lu?" suaranya tercekik tertahan oleh perasaan sakit hatinya, dimana panggilan sayang kita sebelumnya


"iya gue dan lu? Ada yang salah" Karin menggeleng kuat-kuat


Karin menoleh bengis pada Fanya, "dasar ja**ng! Mau-maunya lu hamil sama laki-laki yang udah punya istri! Gak punya perasaan lu?!"


"lagian laki lu ganteng sih dan jangan lupa banyak duitnya" balas Fanya tidak membuat Alex merasa tersindir. Malah laki-laki itu membusungkan dada, seakan-akan perkataan Fanya merupakan pujian untuknya


"dia gak bakal kaya kalau bukan gue yang bantuin"


"Gue gak peduli!" Fanya mengendikkan bahu lalu jinjit dan mencium pipi Alex, "yang penting sekarang laki gue banyak duitnya"


"gak malu kah? Hamil diluar nikah kayak gitu" tandas Karin dengan pelan


"jangan menghakimi Fanya sebegitunya!" bela Alex membuat Fanya tersenyum kemenangan, "Reyka juga lahir diluar pernikahan"


"tapi kan mas, dulu kita sudah berkomitmen dan kamu juga menginginkan anak untuk memperkuat cinta kita"


"alah cinta-cinta. Basi tau gak!" sahut Fanya, "cinta itu gak ada didunia ini! Yang ada hanya obsesi dan bisa membutakan hati dan mata kita"


"kalau anda beranggapan seperti itu untuk apa anda mengambil suami saya. Saya mengakui anda cantik, bahkan dengan kecantikan anda. Anda dapat menggaet pria-pria kata yang belum beristri. Tapi jangan suami saya"


Karin tidak bisa apa-apa. Infus dilengannya menyusahkan perempuan itu untuk bergerak. Padahal jika bebas, ia bisa saja menampar Fanya dan memukulnya tanpa ampun.

__ADS_1


"sudah saya bilang, suami lu ganteng dan tampan makanya gue pilih. Dan jangan lupa suami lu duluan yang nyamperin gue, gue tinggal nyodorin tubuh aja dan dia seneng ko"


"mas!" pekik Karin


"gak usah berisik" Alex menggosok telinganya, "gue disini bukan mau denger kemarahan atau teriakan lu. Gue cuma mau ngasih tau Reyka sakit. Tadi gak sengaja minum susu yang dikasih Fanya"


Karin memejamkan matanya lalu menatap bengis kepada dua orang yang tidak tahu malu dihadapan-nya, "gini deh, kalian boleh menyakiti aku tapi jangan sakiti anakku!!!"


"tidak usah berlebihan, Reyka tidak apa-apa. Dia langsung minum obat dan sekarang sudah mulai pulih" enteng Alex


Kasur bergoyang tanda Karin turun dari singgasana nya. Ia menarik topangan infusnya dan mendekati Alex. Tanpa aba-aba ditampar nya laki-laki itu, "kamu tahu sendiri kan, Reyka sama sekali tidak menyukai susu"


Alex menyentuh pipinya tidak percaya, "sudah berani main tangan ya kamu dengan gue! Ckckck, tidak takut apa gue ceraiin lu sekarang ini juga"


"gak sama sekali! Lebih baik diceraikan daripada harus memiliki madu macam jalang" balas Karin dengan ngotot


"kamu yang jalang!" balas Fanya tidak terima


Tapi tidak apa-apa. Fanya yang hidup dalam kegelapan semasa kecilnya sudah berjanji tidak akan memiliki cinta kepada laki-laki lain. Kekerasan oleh ayahnya sudah cukup membuat perempuan itu merasa trauma dan ingin membuat perempuan lain merasakan apa yang ibunya pernah rasakan.


"mas! Disini aku suami kamu loh. Aku gak ada tuh restuin hubungan kalian" tukas Karin, "apa kalian gak merasa bersalah setelah aku tahu kebenarannya?"


"buat apa merasa bersalah, kita tidak berbuat sesuatu hal yang besar ko. Gue dan Fanya berhubungan badan sebelum nikah, kita juga melakukan nya dulu. Fanya hamil diluar nikah, kita juga melakukan nya" Alex memainkan lengan kekarnya, "bukankah sama? Dimana letak kesalahan kami?"


"tapi kamu sudah menikah dengan aku mas. Kamu sudah berkomitmen denganku. Kita sudah sah menjadi pasangan suami istri dihadapan Tuhan dan negara. Kau tidak bisa seenak itu menikah dengan perempuan lain"


"lu membuat gue pusing" Sahut Fanya seraya menyentuh kepalanya yang berdenyut


Spontan, Alex segera merangkul Fanya dan menggiringnya kearah sofa. Kemudian disentuhnya perut perempuan itu yang sudah tampak lebih berisi dibanding biasanya. Dikecupnya dengan pelan, "anak ayah jangan bandel ya! Kasihan bunda kamu"


Pergerakan mereka membuat perempuan yang berdiri seraya menopang infusnya menjadi tertegun. Perlakuan Alex sama dengan perlakuan nya saat ia sedang hamil.


Karin menarik nafas dalam-dalam, "pergi kalian dari kamar ku"

__ADS_1


"setelah kami repot-repot menjengukmu, ini yang gue dapatkan setelah nya. Untung saja gue masih inget sama lu"


"kalau seperti ini lebih baik jangan jenguk aku dan untuk kedepannya jangan sampai kalian muncul dihadapan aku"


"gimana ya?" Fanya melipat kaki dan menumpu pada kaki lainnya, "sepertinya mulai besok kita akan sering bertemu. Kenapa? Karena Alex menyuruh kita untuk tinggal bersama" jawabnya diakhiri dengan tawa menyebalkan


"mas!"


"Gue gak terima protes dalam bentuk apapun. Semua keputusan ada ditangan gue!" jawab Alex dengan bentakan, "oh iya, jangan sampai lu minta kita cerai. Karena gue gak akan terima"


Begitu bentakan demi bentakan dilontarkan Alex, diikuti dengan kepergian Alex dan Fanya meninggalkan Karin yang menitikkan air mata dan memohon ampun pada yang maha kuasa.


Mungkin ini Karma untuk dirinya


...~§~...


Disisi lain,


Seno dan Sania terdiam diparkiran mobil. Hanya lirikan yang mendominasi keduanya. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.


"mas, kasihan ya mba Karin"


"biarlah, biar perempuan itu menemui Karma-nya" jawab Seno, "yang penting kamu sekarang sudah tidak marah lagi sama mas"


"dih kata siapa!" sewot Sania diakhiri tawa kecil, "belum seratus persen aku maafin kamu. Walaupun Mba Karin udah ceritain semuanya tetap saja kepergian kamu dan mendatangi mba Karin itu inisiatif kamu sendiri. Bukan disuruh siapapun"


"bukan gitu --


"kita omongin nanti aja mas. Intinya aku sudah maafin kamu tapi belum sepenuhnya. Hati akutuh masih kecewa banget sama sikap kamu"


"terus harus apa biar kamu maafin mas sepenuhnya"


Sania mengendikan bahu, "entah, lihat nanti saja"

__ADS_1


__ADS_2