Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 49


__ADS_3

Sudah lebih dari dua hari, dan kemajuan hubungan mereka hanya sebatas teman tidur saja. Hanya tidur dan tidak melakukan itu sama sekali.


Seolah Seno kembali mengubur dalam-dalam idenya yang sempat mencuat fikiran-nya sore itu. Ia selalu tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan Sania.


"San kamu jalan-jalan gih sama Sean" Akhirnya kelar juga hal yang sejak kemarin ingin laki-laki itu bicarakan dengan Sania


Hal yang memang sangat simple, tapi sangat berdampak pada Seno. Entah reaksi pada yang didapatkan dari Sania. Seno hanya takut akan mendapatkan reaksi yang bertolak belakang dari harapannya.


"dengan senang hati" Sania merapihkan ujung hijabnya


Oh iya, perempuan itu memutuskan untuk berhijab satu hari yang lalu setelah mendengar bahwa satu helai rambut terlihat oleh laki-laki yang bukan mahrom-nya dapat mengantarkan ia dan kedua orang tuanya turut ketempat yang sangat tidak ingin didatangi oleh siapapun.


Walaupun belum rutin, setidaknya Sania sudah mencoba memakai hijab saat keluar rumah. Meskipun dirumah ia masih sering menggeletakkan hijabnya membiarkan para laki-laki yang bekerja dirumahnya masih dapat melihat aurat perempuan itu.


"kamu mau kemana pakai hijab seperti itu?" heran Seno


Sania harus bersyukur saat Seno langsung menyetujui keinginannya untuk berhijab. Mengikuti jejak almarhum ibundanya, laki-laki itu menjadi semangat saat menceritakan perjuangan ibunya untuk berhijab juga.


Tidak lupa, setelah paginya Sania mengutarakan keinginan nya. Tidak tanggung-tanggung malamnya Seno langsung membawa beberapa pasang baju yang lebih tertutup dan memboyongnya kekediaman mereka.


"malahan tadi Sania yang pengen minta izin sama mas" cicit Sania


"minta izin? Kemana?"


Kehidupannya dikampung membuat perempuan itu tidak tahu menahu segala hal yang ada di kota. Seperti Gramedia, ia baru mengetahui dikota terdapat banyak toko besar yang menjual kelengkapan berbagai macam buku. Terutama di Gramedia.


"mau coba-coba lihat Gramedia"


"Gramedia? Kamu butuh buku? Untuk apa" tanya Seno dengan beruntun


"Sania mau cari-cari beberapa buku tentang pembahasan lebih lanjut mengenai Linguistik. Sania sudah cari di google, tapi Sania belum nemu yang bener-bener klop dihati"


"Linguistik?"


"iya salah satu cabang ujaran gitu. Boleh kan?"


"bukan hal itu yang mas maksud. Sejak kapan kamu mulai suka belajar seperti itu. Yang mas tahu pembahasan Linguistik hanya ada di kuliah saja. Sementara kamu --" Seno terdiam tidak melanjutkan pembicaraan, takut hal tersebut menyinggung Sania


"ya... Memangnya kalau tidak kuliah aku gak boleh mencari segala hal yang Sania sukai. Contohnya tentang dunia sastra ini"


"kamu mau kuliah gak? Mas dukung ko"

__ADS_1


Sania menggeleng, "Sania memang suka belajar dan menambah pengetahuan, tetapi kalau disuruh untuk kuliah lagi Sania dengan tegas bilang gak mau!"


"kenapa?"


"hawanya beda aja gitu. Pokoknya, mau dipaksa kayak apapun Sania gak mau lanjut kuliah lagi. Seperti ini Saja sudah buat Sania senang"


"terserah kamu saja kalau kamu sudah mutusin kayak gitu" sahut Seno, "tapi kalau kamu berubah fikiran, jangan segan-segan kasih tau mas"


"siyap mas! Jadi Sania diizin-in nih ke Gramedia?"


Anggukan pala Seno menjawab semua disusul dengan lengan yang mengeluarkan salah satu kartu dan ditaruhnya kehadapan Sania.


“Untuk apa ini?” Sania menimang kartu bewarna gold


Diberi uang bulanan saja Sania meminta tunai daripada transfer ke bank miliknya. Bukannya tidak bisa, hanya saja memakai tunai mempermudah perempuan itu untuk belanja. Daripada harus ke atm terlebih dahulu. Jadi kerja dua kali.


“paham kali”


Disodorkan-nya kembali kartu itu kehadapan Seno, “aku gak perlu kartu kamu. Uang yang kamu kasih aja masih sisa banyak” gerutu Sania


Seno tersenyum kecil. Salah satu sifat Sania yang membuat bangga laki-laki itu dan menjadi pembeda dari diantara perempuan-perempuan yang dulu mendekatinya.


Perempuan-perempuan? Ya, semasa sma dan kuliah Seno dikenal dengan laki-laki playboy yang hampir setiap hari berganti perempuan. Bahkan tak ayal dalam satu ruangan ia mengumpulkan beberapa perempuan bersama dengan status yang sama yaitu kekasihnya.


Tetapi sifat playboy-nya terpatahkan saat melihat sosok Karin yang menangis dilorong kampus-nya. Dengan mata yang penuh air mata itu membuat Seno merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya.


Back to the topic,


“seenggak-nya untuk perintilan kayak gini itu masih tugas aku” Seno kembali merogoh kantungnya. Jika Sania tidak mau kartu pasti ia akan langsung diterima, “mas Cuma punya 300, tidak banyak. Kamu bawa saja, jaga-jaga” Sania mengangguk


“makasih mas!”


...~§~...


Kepergian taxi menjadi tanda Seno sedang sendiri berada dirumah. Benar-benar sendiri karena ia sudah meminta seluruh pekerja dirumah-nya untuk pergi sebentar selama ia menghias rumah.


“bismillah”


Dibongkarnya seluruh barang yang ada diruang tamu. Tidak tanggung-tanggung ia menyingkirkan semua barang hingga ruangan benar-benar kosor. Tidak benar-benar disingkirkan ko, Seno hanya menyimpan-nya sementara digudang.


Seno berlari menuju kamar dan mengambil beberapa barang yang sudah disembunyikan dari Sania. Digelarnya permadani dilantai berlapis kayu jati itu. Yaps, Seno ingin membuat suasana makan malam yang romantis, anggap saja sebagai ganti dari hilangnya ia malam itu.

__ADS_1


“yaps, semuanya beres!”


Diambilnya ponsel dan dibuka sebuah note yang ia dan John buat bersama.



Mendesain tempat makan (harus lesehan) agar suasana terasa romantis


Hias jalan dengan kelopak bunga mawar menuju tempat makan itu


Pasang lilin, agar suasana menjadi romantis


Bawa hadiah untuk nona Sania


Masak sendiri makanan untuk makan malam itu



Percayalah lima rencana yang dibuat Seno bersama John itu membutuhkan hampir tiga jam. Rencana sangat simple yang membuat mereka melupakan rapat yang harusnya mereka kunjungi.


“selanjutnya buat jalan dengan kelopak bunga mawar dan hias tempat dengan lilin”


Seno segera menyebar kelopak bunga mawar bewarna merah itu hingga membentuk jalan indah dan tidak lupa dipasangnya lilin disekitar tempat makan dan setiap sudut ruangan.


“Hadiah sudah siap!” Seno bergumam, “terakhir masak” lanjutnya


Dipandang-nya jam dinding yang menunjukkan pukul 6 petang. Seno meminta Sania dan Sean untuk pulang sekitar delapan malam. Berarti ia masih memiliki waktu sekitar dua jam. Semoga masih cukup.


Masakan yang simple, Seno hanya membuat spaghetti dengan bumbu yang tinggal disajikan. Tidak lupa dengan sirup pandan kesukaan Sania.


“rebus di air yang sudah mendidih” eja Seno sembari membaca resep dibalik bungkus spaghetti


Sekiranya sudah mendidih, Seno memasukkan semua isi dalam bungkus spaghetti. Laki-laki itu sedikit mengaduh saat lengannya terciprat air panas. Dipandang-nya terus pasta yang berada didalam air panas. Tidak perduli matanya yang sudah perih.


Dilihatnya pasta mulai menyusut, ditiriskannya air panas tersebut. Diambilnya salah satu helai pasta dan dilemparnya kesudut ruangan.


“Sempurna!” serunya saat pasta tertempel didinding yang menjadi objek lemparan Seno menandakan spaghetti matang sempurna


Seno membawa makanan hasil masakan-nya sendiri ke tempat makan yang sudah ia susun. Ditaruhnya didua arah yang saling berhadapan.


“Selesai” Seno hanya tinggal menunggu Sania pulang

__ADS_1


Semoga ini semua tidak mengecewakan Sania!


__ADS_2