
Kondisi yang dialami Seno tiap pagi hari tidak menimbulkan efek jera pada laki-laki itu. Tetap saja, Seno lebih memilih meminum minuman keras yang jelas-jelas sudah dilarang oleh sang pemilik alam semesta.
"gila! Lebih pusing dari kemaren-kemaren" ucapnya seraya masih mengernyit akibat silakan matahari yang menghujam kamarnya yang gelap gulita
Dibukanya jendela setinggi tubuhnya. Seno menghela nafas mendapati kamarnya yang berantakan berbanding jauh saat Sania masih tinggi bersama nya.
Kemana kamu Sania, mas rindu.
Beralih pada nakas yang memasang berbagai pasang foto Sania dan Sean. Foto yang baru dipasang setelah kepergian Sania. Karena sebelum itu, Seno hanya belum dapat menggantikan foto bingkai terdahulu. Karin.
Tidak-tidak. Seno sudah tidak mencintai perempuan itu lagi. Seno hanya berusaha untuk tidak terobsesi dengan perempuan lain setelah Karin. Walaupun itu Sania.
Tapi semua fikiran itu harus tergerus akibat kepergian Sania. Nyatanya Seno harus sadar bahwa dirinya tidak bisa apa-apa kalau tidak ada Sania.
Seakan Sania tuh udara bagi Seno, kalau tidak ada sudah dipastikan ia tidak bisa hidup. Lihat saja dari dirinya yang tampak lebih lesu dari biasanya. Intinya Sania itu segalanya bagi Seno!
Seno kembali termenung didepan balkon membiarkan udara dingin menyelimuti dirinya. Jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Tapi sudah seperti biasanya, jam segini ia akan melamun sembari menghalau rasa pusing yang terus mendera akibat alkohol.
Biasanya jam segini, Seno sudah bangun sembari mempelajari kembali agenda rapat yang akan dilaksanakan. Tentu saja dengan Sania di pangkuan-nya. Ia akan memeluk erat tubuh mungil itu dengan kepalanya ia taruh di ceruk leher Sania dengan tatapan terus tertuju pada laptop. Kegiatan yang saat ini ia rindukan.
"hmmm, Sania pulanglah. Mas rindu kamu" ucapnya sembari menepis air matanya yang baru saja turun, "mas juga rindu sama Sean"
Selain itu, otaknya kembali memikirkan Reyka. Dirinya memang tidak rindu pada anak Alex itu, hanya saja rasa bersalah yang bersarang dalam hatinya selalu saja seperti menghantui laki-laki itu.
Setelah dirasa pusing-nya sedikit mereda Seno memasuki kamar mandinya. Terkadang mandi di pagi hari dengan mandi dingin dapat membuat Seno menjadi sedikit lebih rileks dan melupakan hal buruk yang menghinggapi dirinya.
Gemericik air dari kamar mandi mulai berhenti, "Sania, ambilkan mas handuk"
Hening, tak ada yang menjawab. Seno mendesah kasar. Lagi-lagi ia lupa hal ini.
Seno-pun keluar dengan boxer dan telanjang dada. Diraihnya foto Sania di atas nakas,
"mas bener-bener gak bisa nahan rindu ini! Kira-kira kamu sudah selesai belum ya merenung semua ini. Mas harap kamu sudah tidak terlalu marah sama mas"
__ADS_1
"sepertinya seorang waktu yang tepat untuk membawa-mu kembali!" tegas Seno dengan kliatan penuh kerinduan dinetranya, "mas akan suruh orang untuk mencarimu dan Sean! Secepatnya"
Setidaknya mas terlalu pengecut untuk ada dihadapan mu, kemarin-kemarin.
...~§~...
Semua orang yang berkumpul langsung kasak-kusuk begitu Seno melangkahkan kaki dengan wajah garang-nya.
"KALIAN BISA KERJA TIDAK! SAYA PERHATIKAN TIM KALIAN YANG BENAR-BENAR HANCUR DIANTARA TIM LAINNYA DIPERUSAHAN INI!"
Teriakan yang lantang terdengar sampai lantai bawah membuat yang mendengar harus mengelus dada maklum.
Seminggu yang lalu, seluruh karyawan diperusahan Seno dikumpulkan dalam suatu ruangan yang memang biasa digunakan untuk acara-acara penting karena dapat menampung hingga 1000 orang. Mereka dikumpulkan lewat pemberitahuan John tanpa Seno tentunya.
Dipertemuan itu, John sudah mewanti-wanti akan perubahan sikap yang terjadi pada Seno. Jadi siapapun yang menjadi objek amukan harap maklum dan jangan dimasukkan kedalam hati perkataan Seno yang mungkin menyakiti.
"maafkan kami" Ucap sang ketua tim
Rangga --ketua tim-- sedikit heran. Amukan tuan-nya tidak sebanding dengan masalah yang dibuat anggotanya. Its oke, mereka memang salah karena sudah telat mengkonfirmasi data yang seharusnya dikirim pada Seno pukul 06.00. Tapi, mereka tidak selama itu. Mereka hanya telat 3 menit.
"mau jadi apa perusahaan ini, jika kata maaf mudah terucap begitu saja setelah melakukan kesalahan. Apa kalian tidak habis fikir, keterlambatan proposal ini bisa mengancam saham perusahaan! Bagaimana kelanjutan nya kalau investor tersebut benar-benar menarik dana yang sudah ia salurkan!"
"baik tuan, kami menerima mentah-mentah amarah tuan. Tapi apa yang tuan takutkan, nyatanya tidak membuat perusahaan ini merugi kan? Investor tersebut masih bisa memaklumi-nya karena memang deadline yang diberikan tidak sebentar"
"BERANI MEMBANTAH KAMU!"
John yang berada dibelakang Seno hanya bisa meraup wajahnya frustasi. Frustasi lantaran Rangga yang tak bisa mengalah dan Seno yang terus menerus melampiaskan emosi-nya pada mereka. Karyawan-nya.
"Saya tidak membantah. Saya hanya menegakkan keadilan. Kami memiliki hak tersendiri, rasanya sangat tidak tepat kalau tuan terus memarahi saya" tegas Rangga, "oh tidak hanya saya. Tapi semua karyawan tuan Seno. Saya fikir sejak kemarin sudah banyak karyawan yang mendapat amukan tuan hanya karena masalah sepele"
"tetap saja... Masalah sepele akan membahayakan perusahaan jika dilakukan secara terus menerus" sengak Sneo tidak mau tau.
Seno duduk dikursi kebesaran nya membiarkan lima orang dihadapan-nya berdiri sambil menunduk, diam tak berkutik. Terlihat sangat --Bossy, itulah Seno.
__ADS_1
"jadi untuk mengembalikan citra kami, sebaiknya kami melakukan apa pada perusahaan ini?"
"pecat secara tidak terhormat?" Seno menampilkan senyum membuat orang yang melihat langsung bergidik
"Saya bersedia jika memang itu yang diinginkan oleh tuan. Lebih baik saya keluar demi tim. Tapi satu permintaan saya, anggota lain yang berada di tim saya tetap berada diperusahan ini" Rangga mengajukan diri meninggalkan decak kagum bagi para anggotanya yang sejak tadi hanya diam, tidak berkutik
"baik kalau itu mau-mu" sahut Seno cepat, "asal kau tidak lupa saja, mencari kerja dikota metropolitan sangatlah tidak mudah!"
"Saya paham! Paham sekali. Tapi saya punya Allah yang dapat mempermudah segalanya" Ucap Rangga yang membuat Seno sedikit tersindir
"terserah! Keluar kalian dari ruangan saya" Ucap Seno seraya memijit keningnya yang tiba-tiba merasa pening
Para anggota dari tim Rangga langsung berebutan dari ruangan Seno. Ruangan Seno susah seperti ruangan interogasi akhir-akhir ini. Siapa saja yang dipanggil, sudah pasti akan mendapat amukan oleh laki-laki itu.
Rangga uang terakhir keluar seketika berbalik didepan pintu, "saya rasa sangat tidak profesional seorang atasan mencampur adukan masalah pribadinya dengan masalah yang ada dikantor" ucapnya diakhiri dengan dehaman kecil lalu berlalu keluar ruangan
"Sial!"
"cepat urus surat pemecatan Rangga!" Titah Seno membuat John langsung bergegas keluar ruangan
"sial! Perkataan dia benar-benar menghujam gue" seru laki-laki itu
Buru-buru Seno meraih ponsel yang sejak tiga hari lalu tidak sempat disentuhnya. Pasalnya ponsel tersebut menjadi saksi atas kebahagiaan hidup Seno bersama istri dan juga anaknya.
Banyak kenangan-kenangan yang terpotret oleh ponsel tersebut.
Ah, Seno jadi semakin rindu dengan perempuan itu. Perempuan yang telah ia hina habis-habisan.
Kalau ingat itu, Seno tak habis fikir. Karena permasalahan dikantor ia bisa memperlakukan Sania dengan buruk. Tidak hanya itu, bahkan ia sadar telah mengucapkan hal yang paling tidak disukai wanita.
Mandul! Seno hanya bisa meraup wajahnya jika mengingat kata itu. Dirinya benar-benar keterlaluan!
Tuut..... Suara sambungan terdengar dari seberang sana.
__ADS_1
"cari keberadaan istri saya dan anak saya, sekarang juga! Saya tunggu kabarnya sampai besok" ucapnya cepat sesaat diangkat dari seberang sana lalu dimatikan-nya begitu saja sebelum pihak sana menjawab apapun permintaan Seno
Semoga kamu belum terlalu jauh dari jangkauan, mas.