
Derap langkah terdengar mendekati lorong. Refleks Cheris mendorong Sania, setelah menyeka lengannya ia langsung berlari sebelum ada orang yang melihat perbuatan-nya.
"uhuk.. Uhuk...." Sania menarik nafas berulang kali
Sania terjatuh dengan wajah terjerumbub pada lantai. Lehernya terasa sangat kebas. Tetapi dibanding leher, perempuan itu merasa sakit diare perut-nya. Ia meremas dress, menyalurkan rasa sakit yang sangat dahsyat.
"kakak!" santy berteriak heboh hingga beberapa orang dibalik lorong menyadari sedang terjadi situasi yang menegangkan
Tetapi orang tidak berani mendekat lantaran, para penjaga yang langsung menghadang pintu lorong.
"tolong kakak!" Sania berujar lirih, tubuhnya terasa lemah
Entah kenapa, leher yang menjadi sasaran Cheris tapi Sania merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Mungkin perutnya terbentur oleh tembok tadi, Sania tidak memperdulikan penyebab-nya. Yang ia tahu perutnya benar-benar merasa sakit bukan main.
Santy berteriak heboh. Hingga pemeran utama laki-laki yang merasa ketidakhadiran Sania langsung bergegas mencari sampai mendengar teriakan Santy.
Seno berlarian menuju lorong yang memang jarang didatangi pengunjung, "kamu apakan kakak kamu!" bentak Seno langsung mengambil alih Sania dan membopongnya keujung lorong
Sania menggeleng, tetap mengikuti Seno. "bukan. Bukan aku yang ngelakuin. Aku lihat kakak udah tengkurep sambil megangin perutnya" Santy sedikit takut
"Saya tidak percaya!" seno membentak hingga Santy terisak
Acara menjadi tidak kondusif saat Seno keluar dari lorong dengan Sania digendong ala bridal style. Sumi dan Andi langsung berlari menghampiri dan mengikuti Seno yang bergegas.
Walaupun Sania memakai pakaian 'lumayan ribet' tidak menutup kemungkinan Seno akan kesulitan. Laki-laki itu berlari melewati tangga darurat saat merasa lift terlalu lama untuk ia tunggu.
Dilain sisi,
John dan Alex berusaha menenangkan tamu undangan yang sangat riuh. Tidak lupa ketiga anak yang sudah menangis kencang meminta Seno untuk ikut. Tapi tidak diperbolehkan oleh Seno.
"tes... Sebelumnya maaf ada sedikit peristiwa yang kurang baik. Tapi saya harap kalian tidak perlu khawatir. Semoga kami bisa menangani masalah-nya" Ucap Alex setelah meraih mic, "kalian tidak perlu risau, acara akan tetap berjalan. Jadi, selamat bersenang-senang"
Berbagai sahutan mereka dapat. Ada yang bahagia, karena mereka tidak perlu berlaku formal karena Seno sudah pergi. Ada yang sedih karena pemilik acara tidak ikut mendampingi acara. Ada juga yang netral, tidak sedih dan juga senang. Karena memang mereka datang hanya untuk memenuhi kewajiban saja.
"kita susul Seno sekarang" titah John setelah berusaha menenangkan Sena dan Sean, yang kini sudah tertidur kelelahan digendongan nya
Alex mengangguk, lalu menggendong Reyka dengan mata terpejam. Meminta do'a untuk kesembuhan sang-mamihnya.
"sebentar deh" refleks Alex berhenti
"menurut lu kejadian ini sengaja gak sih?" bisik John tidak ingin membangunkan Sena dan Sean
__ADS_1
"maksudnya?" tanya Alex yang masih saja kurang mengerti
"kenapa Sania ada dilorong itu? Lu tahu sendiri kan lorong itu cuma boleh dilewati sama petugas aja" adu John
Alex menjetikkan jari, "benar! Tadi Sania izin ketoilet dan lorong itu sangat berlawanan arah sama toilet disini" Ucap Alex mulai memahami kejanggalan yang ada
"nah! Aneh banget gak sih. Kenapa Sania sampai nyasar kelorong itu? Kayaknya ini memang sengaja deh"
"sengaja atau gak sengaja, gue yakin Seno bakal marah. Setidaknya orang itu akan habis karena sudah main-main dengan wanita yang Seno cintai setengah mati"
"ayah mau mamih" rengek Reyka menengahi perbincangan John dan Alex
Alex menepuk dahinya, "intinya kita harus kerumah sakit sekarang"
John mengangguk setuju, "nanti biar gue urus masalah disini. Masalah gini doang mah kecil" Ucap John menyepelekan, bukan maksud gimana. Memang benar ia sudah menguasai masalah lebih besar dan masalah itu selesai begitu saja.
Untuk mencari pelaku kayak gini mah, bagi John gampang!
...~§~...
Seno memegang erat lengan Sania dengan penuh kasih sayang. Senyuman bahagia tidak pernah terlepas dari wajah Seno.
Kabar yang baru saja ia dapat!
Sumi dan Andi langsung sujud syukur mendengar perkataan dokter. Begitu juga santy yang tersenyum bahagia walaupun tidak menampilkan kehebohan.
Ia masih takut melihat Seno, yang selalu melihatnya dengan tatapan intimidasi.
"sayang cepet bangun" bisiknya
Seno tersenyum bahagia. Membayangkan seorang anak lahir dari rahim perempuan dicintainya membuat laki-laki itu bahagia bukan kepalang.
Seno sudah lama menanti ingin mempunyai anak kandung dari Sania.
Sena?
Ehm, maksudnya Seno ingin menjadi suami siaga yang siap 24 jam untuk menjaga istrinya yang hamil. Sena, Sean dan Reyka memang anak-anaknya.
Tapi sejak dulu ia tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi suami siaga yang menunggu istrinya sedang hamil.
Reyka, bukan anaknya.
__ADS_1
Selama hamil Sean, Karin lebih memilih libur keluar negri. Alibinya.
Sena, ia tidak pernah tahu bagaimana dan gimana proses hamil Sena.
Karena itu, Seno benar-benar bersyukur karena Tuhan masih memberi kesempatan dirinya untuk mengabulkan keinginannya selama ini.
Netra Seno beralih pada Sumi dan Andi yang duduk antusias dengan wajah lelahnya, "ibu sama bapak pulang saja, biar saya yang urus Sania sampai sadar" titah Seno
Sumi menggeleng, "sebagai orang tua tugas kami memang seperti ini, nak"
"biar saya yang urus. Ibu sama bapak istirahat saja dirumah, mengingat aktivitas yang sudah dilakukan dari dini hari sampai sekarang pasti ibu sama bapak cukup lelah"
"tapi nak--
" sudah tidak apa-apa, bapak sama ibu turun saja kebawah. Nanti supir saya yang jemput kalian. Maaf saya tidak bisa antar"
"tidak apa-apa nak, kamu jaga Sania saja disini" sahut Andi
Andi dan Sumi langsung berpamitan begitu juga Santy yang sedikit telat keluar lantaran harus merapihkan barang bawaan milik Sumi dan Andi terlebih dahulu.
"disini saya masih mencurigai kamu, jadi jangan coba-coba bertingkah ataupun sampai kabur" gertak Seno
Santy mengangguk, "I-iya" jawabnya dengan tubuh gemetaran
Pintu terbuka kencang dari luar. Hal itu menjadi kesempatan Santy untuk berlari keluar. Menyisakan Alex, John dan anak-anak yang masuk.
"mamih...." seru Reyka lalu berlari ketempat Sania berbaring lalu memeluk erat, tanpa membangunkan Sania
Seno mengambil alih Sena dan Sean dan menidurkan mereka ke sofa bed yang memang berukuran lumayan besar, cukup menampung tubuh mungil anak-anak.
"jangan terlalu keras sama Santy" Ucap Alex tiba-tiba memecah keheningan
"kenapa jadi lu yang bela dia sekarang? Padahal sebelumnya lu yang ejek mati-matian perempuan itu"
Alex mengendikkan bahu, "entahlah, gue rasa dia gak mungkin seberani ini"
John menyela, mendapat pesan "sepertinya gue tahu siapa yang ngelakuin ini!" ujar John
"siapa!"
"tapi gue belum tahu pasti, gue balik kegedung dulu. Nanti kalau udah fiks, gue kabarin" seru John lalu menyambar jas dan berlari keluar ruangan
__ADS_1
Seno mencengkram lengannya hingga urat-urat lengan timbul menandakan laki-laki itu sedang menahan emosi, "saya gak akan biarin pelaku itu begitu saja" ucapnya disertai seringai tajam hingga Alex bergidik
Jangan membangunkan harimau yang mengamuk!