Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 44


__ADS_3

Seakan mendapat izin dari laki-laki dihadapan-nya, Seno langsung berterima kasih dan beranjak keluar apartemen. Mencari keberadaan villa lain-nya sangatlah tidak sulit. Lingkungan yang sengaja dibuat berjarak memudahkan jarak pandang untuk melihat villa lainnya.


Sementara Gilang terduduk dibalik pintu. Teringat kembali perkataan Seno yang seakan-akan menusuk relung jantung-nya. Kenangan saat Matahari memohon ampun pada-nya kembali terulang jelas.


Bahkan saat-saat yang menyakitkan saat mereka sedang berhubungan badan tanpa sengaja Gilang mencelos nama Sania. Entah bagaimana perasaan matahari saat itu. Yang Gilang paham semenjak malam itu tingkah Matahari berubah dan perempuan itu semakin drop hingga ajal menjemput nya.


Yang Gilang sesali, ia belum sempat minta maaf…


Memang benarr, kehilangan seseorang akan terasa jika orang itu sudah tidak ada. Begitu pula perasaan yang sedang dirasa seorang Gilang. Katakan-lah dia lebay. Gilang tidak peduli. Yang ia tahu, Perasaan-nya terasa diombang ambing setelah kepergian Matahari.


Istri yang dicintainya, tapi telat untuk mengatakan nya.


Disisi lain,


Seno berjalan melewati semak-semak dengan jalan terseok. Kakinya yang baru saja menjadi objek tendangan Gilang sepertinya lumayan terluka parah.


Tak lama berjalan, Seno menemukan perempuan yang dicarinya sedang berjalan bersama Sean.


“San …. “ Sania menoleh lalu mempercepat langkah, berbeda dengan Sean yang seperti berusaha memberontak digendongan Sania ingin menemui sang ayah tercinta


“San tunggu mas” Sania mempercepat langkah begitupun dengan Seno yang sudah tidak perduli dengan kakinya.


Sania direpotkan dengan Sean yang terus meronta balik. Bahkan tanpa sengaja anak itu menendang perut Sania, “Mau tama ayah!!!! Mau ayah!!!!”


Sania menyerah. Memang benar hubungan antara anak dan ayah tidak bisa dipisahkan. Walaupun sehari-hari Sean lebih dekat pada Sania. Tapi Sania akan tetap kalah jika disaingkan dengan sosok Seno. Bukankah, darah lebih kental daripada air?


“San, maafin mas” Seno meraih Sania dan memeluknya erat. Sania memberontak terus sampai diam-nya karena pelukan Seno yang sangat erat dan tak kunjung lepas.


Perempuan itu pasrah. Walaupun dalam hati ada rasa ingin memukul laki-laki itu sampai puas. Kata lega belum ia dapatkan sejak kemarin. Ia masih memikirkan-nya,


Lebih baik berpisah atau pergi begitu saja tanpa ada kata cerai.


Tapi terlambat Seno telah mengetahui keberadaan-nya.


“San bicara dong…” ucap Seno dengan sangat lirih, “kalau kamu diam saja aku semakin merasa bersalah. Maafin mas, mas khilaf. Janji gak akan gitu lagi”


“Janji?! Sudah berapa kali kata janji mas lontarkan pada Sania. Tapi apa? bukannya Janji yang Sania dapatkan justru hanya pengkhianatan yang selalu didapat” sahut Sania, “sakit mas sakit, kurang apa selama ini aku sama kamu”


Sean memandang kedua paruh baya itu bergantian. Seakan paham sedang ada masalah yang terjadi, anak itu memilih diam.

__ADS_1


“biar Sean sama saya” tiba-tiba Gilang datang membawa Sean meninggalkan Sania dan Seno bersama


“San? Mas janji untuk terakhir kalinya untuk tidak berurusan dengan Karin. Mas khilaf”


“Sania cape ya mas mendengar hal itu berulang kali! Saya janji, saya janji, saya khilaf” ujar Sania, “tapi saya tidak sebodoh itu untuk mengulangi kesalahan yang sama. Memaafkan mas merupakan kesalahan yang sangat fatal menurut Sania”


“mas hanya mengkhawatirkan Karin akibat kecelakaan-nya” cicit laki-laki itu


“Khawatir dengan mba Karin, tapi tidak khawatir dengan istri dan anak? Sania paham, mas masih sangat mencintai mba Karin, tapi setidaknya hargailah sedikit perasaan Sania. Sania istri mas” lirihnya


Seno menangis dipelukan Sania. Laki-laki itu benar-benar merasa berslaah.


“bahagia mas! Sania hanya ingin bahagia. Sejak kecil Sania sudah hidup sengsara, gak bisakah saaat sudah dewasa seperti ini Sania meminta sedikit kebahagiaan saja” ucapnya, “sedikit saja”


“mas salah San, mas salah”


“untuk apa mas ngomong salah , kalau mas akan berbuat lagi! Lelah mas, Sania hanya ingin bahagia. Baru kemarin Sania merasakan apa itu bahagia, tapi malamnya sudah ditampar lagi sama kenyataan”


“san”


“gak usah panggil-panggil! Sania benci sama mas, lebih baik Sania pergi dari kehidupan mas selamanya”


“Jangan gitu dong” Sadar mereka sedang berada ditengah jalan, Seno memboyong Sania kepinggir menuju sebuah taman menghadap langsung penginapan villa Gilang, “jangan pernah berfikir untuk pergi dari mas! Mas tidak akan menyetujuinya” kali ini ucap Seno dengan sedikit amarah


Tapi tidak perlu sebegitu-nya.


Amarahnya bertambah saat Sania mengucapkan kata-kata yang paling dibenci nya, yaitu kata cerai. Ia sangat membenci segala hal apapun tentang perceraian. Termasuk perceraian nya kala itu dengan Karin.


"kenapa jadi kamu yang marah! Seharusnya disini Sania yang marah"


"kekanak-kanakan" cibir Seno, "kamu pergi berarti sama saja dengan kehilangan Sean"


Ancaman yang cukup ampuh untuk Sania menjadi bungkam. Sejak tadi Seno sudah memperhatikan Sania yang melihat Sean yang mengintip dari balik pintu utama villa dan memandang sedih. Seakan paham masalah yang dihadapi oleh orang tuanya.


Dan satu Sania sangat tidak tegaan dengan Sean. Sania menjadi saksi pertumbuhan Sean tanpa orang tuanya. Hal itu membuat Sania mengukuhkan diri untuk terus menjaga Sean agar tidak menjadi anak broken home.


"jangan" lirih Sania


Perempuan itu merutuki dirinya karena tidak mengikuti perkataan Gilang yang menyuruhnya pergi sembari membawa Sean malam itu juga. Pasalnya, malam itu ia masih memikirkan perasaan Seno.

__ADS_1


Tapi jika seperti ini?


"ikut dan turuti semua perkataan mas dan dapat bersama selamanya dengan Sean atau memilih pergi tapi gak boleh berhubungan lagi dengan Sean. Mau kapanpun dan dimanapun" tegas Seno sekali lagi


"ikut dengan mas"


Sudahlah, ia kalah. Benar-benar kalah. Tidak ada kebahagiaan yang akan mendatanginya. Sania sudah pasrah.


Sesak didalam dada semakin terasa. Ingin ia teriak kencang-kencang seraya memukul dadanya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa sakit ini.


Dirinya tak sekuat itu untuk melawan.


Karena ia dibentuk oleh orang tuanya untuk selalu nurut tanpa harus melawan.


Seno mengangguk tegas. Bukannya laki-laki itu berbuat tidak baik. Tapi Sania harus ditegasi agar dapat kembali bersamanya. Tanpa laki-laki itu sadari, perbuatan nya kali ini malah akan menambah jauh jarak diantara mereka.


"sudah, nurut dan ikuti mas"


Sania mengangguk. Mereka beriring mendatangi penginapan Gilang. Seno sedikit kesal saat mengetahui Sania menginap disini semalam.


"gimana sudah selesai?" tanya Gilang yang sedang duduk disofa seraya membaca koran


Dengan sangat terpaksa Sania mengangguk. Tatapan nyalang Seno membuat perempuan itu sedikit gentar untuk mengatakan yang sebenarnya, "sudah bang, aku pamit dulu ya. Maaf semalam aku ngerepotin abang"


"gak ko, gak ngerepotin. Tapi bener kan masalahnya sudah selesai?" Sania mengangguk cepat


"jaga Sania bro, kalau gak mau gue pukulin kaya tadi lagi"


Seno mengangguk. Mereka berpamitan lalu meninggalkan pekarangan villa itu dan Gilang yang termenung. Laki-laki itu tidak sebodoh yang mereka kira.


Ada suatu tatapan Sania yang membuatnya sedikit tidak percaya. Mungkin untuk saat ini, Gilang memilih diam dulu dan tidak mau ikut campur permasalahan keluarga itu. Tapi, saat waktunya nanti. Ia akan mengetahui. Semuanya.


 


Maaf kalau cerita ini gak sesuai dengan alur yang kalian inginkan.


Dan, pasti kalian kesel ngeliat Sania yang cuma diam daripada inisiatif pergi atau gimana. Saya hanya ingin menggambarkan sosok yang tidak bisa apa-apa. Karena memang tidak berani, ia sudah mendapat asupan seperti itu sejak kecil.


Oh iya, dan mental orang beda-beda. Ada yang mendapat masalah, dia lebih baik mengiyakan dan diam. Ada juga yang lebih berani mengekspresikan diri. Tetapi yang memilih diam tidak selamanya ia akan diam saja, ada saatnya ia lebih memilih pergi dan meninggalkan semuanya.

__ADS_1


Jadi kepribadian setiap orang beda-beda. Author hanya ingin membuat karakter Sania seperti itu.


Oh iya, aku juga gak bisa double up. Soalnya bentar lagi aku uts jadi harus bener-bener fokus sama uts dulu 🙏✌️


__ADS_2