Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 30


__ADS_3

Happy Reading ~~~


Setelah hampir dua tahun tinggal bersama Seno. Ralat maksudnya, setelah dulu hampir satu tahun lebih bekerja dengan Seno dan kini sudah berganti peran menjadi istri Seno, perempuan itu baru merasakan pertama kali berpijak di kantor suaminya.


"permisi, ruangan Seno dimana ya?" tanya Sania sedikit sopan


Perempuan itu melirik sedikit, tak ayal dalam hatinya ia bingung mendapati orang yang sangat tidak sopan memanggil ceo mereka dengan sebutan nama langsung.


"maaf siapa ya?"


"Saya?" beo Sania, ia menunjuk dirinya sendiri


Sean yang digandeng Sania sudah menghentak-hentakkan kakinya kesal seraya meremas boneka pooh-nya, seperti menyalurkan kekesalan anak kecil itu.


Bayangkan saja, Sean sedang asyik bermain mobil-mobilan tapi harus dihentikan Sania karena mereka diminta datang kekantor Sean hanya karena perkara makan siang saja.


"mi lama! Tape nih" sungutnya


"sabar ya sayang"


Perempuan yang berada ditempat resepsionis itu melongo dan sedikit melirik podium dibawah meja nya. Ia baru sadar perempuan dihadapannya ternyata membawa anak kecil.


Shit! Tuan muda Sean...


Indah, selaku perwakilan yang menjaga resepsionis langsung menunduk hormat. Walaupun ini pertama kalinya anak ceo perusahaan mereka datang, siapasih yang tidak dapat mengenal mereka.


Pasalnya disetiap penjuru gedung selalu ada foto Sean yang terpasang disetiap dinding. Belum lagi berbagai gaya foto Karin yang selalu menemani dan menjadi spot yang paling disukai para lelaki karena kesexyan nya. Tapi itu dulu.


Setelah gosip mengenai perceraian ceo mereka, tuan Seno dan nyonya Karin beredar. Para pegawai diperusahan Seno tidak pernah melihat lagi foto Karin. Yang tersisa hanyalah foto Sean seorang.


Fotonya lenyap begitu saja saat malam hari.


"maaf, maksud anda Tuan Seno CEO perusahaan ini?" tanya Indah meyakinkan


Sania terdiam sejenak lalu mengangguk begitu saja. Melihat kendaraan yang selalu menjadi rasa penasaran nya, berarti pekerjaan Seno bukan pekerjaan main-main.


Jadi bukan pengedar narkoba nih?

__ADS_1


"mba pengasuh tuan muda Sean ya" tanya Indah lagi seraya menunjukkan lift khusus untuk dipakai orang penting diperusahaan ini


Tak mau banyak bicara Sania mengangguk saja. Walaupun sedikit sakit mendengar kata 'pengasuh' yang tersemat difikiran orang-orang. Tapi ia tidak bisa jujur begitu saja, mungkin saja reputasi seorang Seno akan terganggu jika ia mengatakan yang sebenarnya.


"nah ini ruangan CEO nya mba. Kalau bisa mba jangan berisik didalam, tuan sangat tidak suka dengan keberisikan"


Sania mengangguk paham. Sean yang mendengar hanya semakin merengut kesal.


"oh iya mba, kalau bisa mba jangan kecentilan ya sama tuan Seno. Ya saya tahu banyak cerita tentang pengasuh yang sengaja menggoda tuan-nya untuk dinikahi, ditambah tuan Seno itu duda---


"iya-iya saya mengerti, saya gak akan kecentilan sama tuanmu itu" Sania mengibaskan tangannya sebal, wong aku sudah jadi istri sah-nya


"eh tapi gak papa sih, kalau tuan Seno kepincut dengan mba. Lagi pula mba kelihatan lebih baik daripada nyonya Karin" Indah sedikit mendekati Sania, "mba Karin sombong nya gak ketulungan" bisiknya


Sania tersenyum, "gak baik bergosip"


Indah tersenyum kecut. Ia bergosip kepada orang yang salah. Tanpa memperdulikan Sania lagi, ia langsung kembali ketempat awal ia bekerja.


...~§~...


Seno sedikit memarahi Sania yang teledor akibat kedatangannya yang tiba-tiba pagi menjelang siang ini. Laki-laki itu harus direpotkan dengan panggilan terus menerus dari sekretaris nya yang mengatakan ada perempuan asing dan anaknya yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Seno.


Karena itu pula Seno terpaksa menghentikan sejenak kegiatan rapat yang sedang berlangsung untuk memerintah Sania dan Sean agar diam diruangan khususnya untuk beristirahat.


"kamu masih marah mas?" tanya Sania seraya menuangkan tumis kangkung ke piring Seno


"ya dikira. Rapat mas hampir gagal karena kamu, ditambah para investor hampir menarik dana untuk proyek di tepi pantai X. Untung saja mas bisa berspekulasi dan mereka tidak jadi menarik dana kembali"


Sania mengendikan bahu tidak paham. "ya maaf Mas, Sania juga kurang tahu. Hanya saja yang Sani tahu, kalau anak tk itu istirahat pas jam 9 siang" seru Sania seraya mengingat-ingat pekerjaannya dulu yang sempat beberapa bulan mengajar di tk


"mas bukan anak TK ya!" peringat Seno


"ya dikirakan sama" cicit perempuan itu, "maaf mas" ucapnya lagi


Seno mengangguk acuh.


Setelah itu mereka semua terdiam, menikmati makanan yang ada. Sudah menjadi peraturan dikediaman Seno, saat makan tidak boleh ada yang berbicara kecuali ada hal yang benar-benar penting.

__ADS_1


"sudah pak, Sania sama Sean pulang sekarang saja" pinta Sania seraya memasukkan beberapa kotak makanan yang ia bawa kedalam tas slempangnya


Sean juga sudah mulai mengantuk dilihat dari Sean yang tidak mau melepaskan pelukan dari perempuan itu. Dan menaruh wajahnya dengan nyaman di dada Sania.


Seno menatap iri. Sejak nikah, ia belum pernah merasakan itu kembali. Serasa masih ada jarak diantara mereka berdua jika sudah menyangkut paut tentang hal yang seharusnya dilakukan suami istri yang sah.


Terakhir kali Seno merasakan kenikmatan itu, ya saat laki-laki itu memperkosa Sania. Malam penuh kenikmatan bagi laki-laki itu, tapi malam itu menjadi saksi kesedihan seorang Sania.


Ah anakku, ayahmu saat ini sedang iriiii


"mas!" Sania membuyarkan lamunan Seno, "aku pulang sekarang ya?" pamitnya


"no! Pulang dengan saya"


Mereka keluar ruangan beriringan, sekretaris laki-laki yang menjaga diluar ruangan spontan langsung menunduk sopan. Tanpa melirik sedikitpun Seno terus melaju dengan kini membawa lengan kanan Sania, bergandengan.


Begitu sampai di lobi ruangan, semua mata langsung tertuju kearah ceo itu dan perempuan disamping nya. Indah, perempuan yang tadi mengantar Sania langsung mendelik tidak suka.


Bukan, indah bukan perempuan yang bermimpi-mimpi untuk menjadi suami sang CEO. Ia juga menerima Seno mau bersanding dengan siapapun, toh menurut dia pengasuh Sean kali ini masih sangat muda dan sangat cocok bersanding dengan Seno.


Tapi bagi pecinta cogan seperti Seno, Indah sedikit sedih karena stok cogan alias cowo ganteng semakin menipis dimuka bumi ini.


Seno dan Sania sampai di parkiran khusus milik Seno. Sean yang masih menahan kantuk nya menunjuk salah satu mobil yang mirip seperti mobil mainnanya.


"mau naik yang itu" serunya


"oke sayang" jawab Seno seraya mengecup pipi gembil anaknya


"loh loh, nanti pemilik mobilnya marah loh mas" sahut Sania


Tiba-tiba seorang petugas memakai seragam khusus menghampiri mereka dan memberikan satu kunci mobil pada Seno.


"semua mobil di parkiran ini milik mas, Saniakuuuu" gereget Seno


Pasalnya laki-laki itu sedikit kesal pada Sania, yang dari kemarin tidak percaya akan kekayaan miliknya.


Sania semakin takjub dibuatnya. Perempuan itu baru tahu, ia sudah menikah dengan laki-laki kaya. Oh tidak, bukan kaya lagi. Tapi sultan!

__ADS_1


__ADS_2