Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 43


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari sesaat laki-laki itu sampai digazebo yang sudah ia hias sedimikian rupa. Tapi kini semua hiasan sudah terombang-ambing akibat angina kencang yang menderu. Benar saja perkataan Sania, semua lampu padam tidak tersisa. Entah itu lilin yang ia pasang disekeliling gazebo ataupun lampion yang mengiringi jalan menuju gazebo itu.


Seno meraup wajahnya, frustasi. Ia merutuki dirinya, untuk apa aku mencari Sania digezebo ini. Sudah pasti ia sudah pergi. Aku juga gak akan memaafkan diriku jika Sania masih menunggu disini.


Baru sebentar berada diluar ruangan, Seno sudah merapatkan dirinya dengan jas yang dikenakannya. Dingin banget! Benar kata Sania.


Seno kembali memasuki mobil dan memutar arah kemudi. Jalanan yang dipenuhi kerikil tidak bisa membuat laki-laki itu leluasa untuk mengebut. Bisa-bisa mobilnya terkena pecah ban, jika ia memaksa untuk mengebut.


Karena lingkungan gazebo tadi tidak terlalu jauh dari villa. Hanya dalam sepuluh menit laki-laki itu sudah sampai dipekarangan villa.


Gelap.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia memasuki villa dengan langkah panjang. Bolehkah ia berharap bahwa Sania sedang tertidur lelap dikamar-nya dan kemudian bangun keesokkan harinya tanpa mempermasalahi perbuatan bejat-nya?


Tapi sepertinya ia harus menelan pahit-pahit impian-nya saat tak mendapati seorang Sania dan Sean dikamar-nya masing-masing.


Seno buru-buru mengecek keberadaan koper mereka dan menghela nafas lega saat koper mereka masih ada disudut ruangan.


Kemana kamu sania?


...~§~...


Pagi-pagi Seno dikejutkan dengan suara dentingan bel yang berbunyi. Seno terbangun dari atas sofa, dan meraih pintu dengan wajah kantuk-nya. Semalam laki-laki itu mencari kesekeliling penginapan, oh iya tidak lupa laki-laki itu melampiaskan amarah pada Ridho. Pekerja yang dipinta-nya untuk menjaga Sania dan Sean.


Tetapi setelah empat jam berlalu dan keberadaan Sania masih tidak dipertemukan membuat Seno memilih untuk mengistirahatkan diri sebentar saja diatas sofa. Laki-laki itu hanya takut jika ia memaksakan diri untuk tetap mencari keberadaan Sania bukannya menemukan Sania dan Sean ia malah menemukan ajalnya sendiri.


Pasalnya, bukankah sangat bahaya menyetir ditengah daerah pegunungan yang kanan kirinya masih terdapat jurang yang dalam. Bagaimana jika ia menyetir dibawah kantuk dan menerjun bebaskan mobil kejurang itu.


Brughh....


Layangan pukulan didapat Seno begitu saja. Seno yang masih menahan kantuk, merasa segar seketika. Belum melihat pelaku, Seno kembali dihajar mengenai rahangnya.


"anj, siapa sih" tampak Gilang menatap nyalang pria kusut itu

__ADS_1


"mau apa lu, tiba-tiba mukul gue! Ada urusan apa sama gue!"


"bangsat lu jadi laki!" Seno sendiri heran melihat laki-laki yang baru dikenalnya kemarin tiba-tiba marah dan langsung memukuli-nya


Sial, sakit juga. Seno menyeka ujung pelipisnya. Disekanya begitu saja oleh laki-laki itu. Lalu bergantian menatap nyalang Gilang.


"salah gue apa sama lu"


"bangsat juga ya lu jadi laki-laki. Kalau gak becus jaga Sania, kembaliin dia ke gue. Jangan lu kekep itu perempuan tapi lu sakitin gitu aja!!"


FLASHBACK


Sudah rutinitas seorang Gilang yang akan berkeliling dimalam hari. Selain ingin berolahraga laki-laki itu hanya ingin melupakan sejenak perilaku buruknya pada Matahari.


Aroma embun malam ditemani segelintir angin membuat laki-laki itu menjadi sangat rileks. Ia terus berjalan sesuai tujuannya yaitu gazebo.


Bunyi daun kering yang terinjak mengiringi laki-laki itu semakin masuk kedalam wilayah hutan. Cukup angker memang, tapi jika sudah melihat keindahan bulan purnama dengan pantulan cahaya didanau sekitar gazebo. Semuanya menjadi terbayar lunas.


Benar-benar seindah itu.


Sosok perempuan yang sudah menggigil luar biasa tersenyum lemah pada Gilang, seakan penantian-nya terkabulkan.


Gilang segera berlari, "San..... Sania...."


"ternyata bukan mas Seno" hanya itu yang Gilang tahu


Karena setelah itu Sania pingsan dipelukan Gilang dan berakhir Gilang yang membawa dua makhluk, Sean dan Sania dalam gendongan nya.


FLASHBACK END


Brughh... Pintu villa menjadi objek kemarahan Gilang selanjutnya. Laki-laki itu ingat pesan Sania untuk tidak ikut menghakimi Seno. Karena disini dirinyalah yang salah, terlalu percaya pada Seno. Ya, tanpa sadar Sania menceritakan semuanya pada Gilang. Ia sudah lelah menyimpan-nya sendiri. Ia cape!


"Sania? Dimana sania, Gil. Gue mau ketemu dia” Seno terisak dan bersimpuh dikaki Gilang. Hal pertamya yang pernah ia lakukan kepada seorang manusia.

__ADS_1


Sebanyak masalah yang Seno pikul. Laki-laki itu tidak pernah sampai bersimpun dan memohon kepada sesama makhluknya. Tapi saat ini… ia sudah tidak perduli dengan yang namanya harga diri.


Ia sudah tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. John, sang asisten sekaligus sekretaris sudah mencari kemanapun tapi tidak ada tanda-tanda Sania meninggalkan daerah sekitar sini.


“maaf-maafin gue, bilang sama Sania” ucapnya, “gue salahhh…. Gue ngaku. Tapi biarin gue ketemu sama Sania”


“gak, gak akan!” Gilang menyilangkan lengan dan berbalik, “lu gak tahu kan, gimana senyum Sania terurai disaat gue datang, itupun gue kira karena elu yang datang! Lu gak tahu kan bagaimana kedinginan-nya seorang Sania, tapi selepas dari semua itu ia tetap mencoba menghangatkan tubuh anak lu! Dia gak mementingkan dirinya sendiri”


“maaf…. Maaf”


“Bagaimana seorang Sania yang terkenal tertutup dan tidak pernah ingin menceritakan masalahnya kepada orang lain akhirnya cerita ke gua. Gue masih inget raut wajahnya saat menceritakan perihal pernikahan lu sama sikap lu selama ini---


‘Ta---


“gak usah nyalahin Sania karena menceritakan aib suami sama gue. Jangan suruh perempuan itu simpan semuanya sendiri. Bisa ambruk dia. Lu pasti tahu kan gimana sikap orang tua dia pada Sania. Jadi please… jangan nambah masalah sama Sania. Gua hanya pengen perempuan itu bahagia”


“iya gue salah… sekarang tunjukkin keberadaan Sania dan Sean” lirih Seno, “gue gak kuat”


“gue gak bakal izinin lu ketemu dia lagi. Sudah cukup penderitaan Sania selama ini. Biarin kali ini Sania bahagia dengan gue. Oh iya, Relain aja mereka berdua, dan mungkin Sean juga lebih bahagia jika bersama dengan Sania”


“jangan-jangan, jangan pisahin gue sama Sania apalagi Sean. Mereka kekuatan gue selama ini, gue khilaf. Maafin gue. Manusia tidak pernah luput dari yang namanya kesalahan”


Gilang terdiam. Secara tidak langsung perkataan Seno seperti menyindir dirnya. Ya ‘manusia tidak akan pernah luput dari keslaahan’. Begitupun juga ia. Ia ingat bagaimana ia menyiksa Matahari secara fisik maupun batin.


Mungkin saat ini, jika matahari masih hidup Gilang sedang memohon ampun pada perempuan itu. Gilang jadi melihat posisi Seno saat ini sam aseperti dirinya kala itu. Ia sedikit prihatin melihat tampang acak-acakan Seno.


“gue akan ketemuin kalian. Tapi ada syaratnya


“apa syaratnya?” serobot Seno, “gue akan ngelakuin apapun asal bertemu dengan Sania dan Sean”


“dia ada dipenginapan gue dan jagan berifkiran yang tidak-tidak. Gue hanya menolongnya saja” Seno mengangguk cepat, “dan jika Sania menolak kedatanganmu, gue harap lu gak memaksa-nya. Sania butuh waktu sendiri”


“makasih, makasih banyak Gilang”

__ADS_1


 


__ADS_2