
Semuanya tampak berubah. Suasana lebih ramai tidak seperti dulu saat Sania masih menempati lingkungan ini.
Katakanlah Sania kualat, karena sudah satu tahun pernikahan-nya ia tidak pernah menghubungi orang tuanya sama sekali. Oh tidak! Ia pernah menghubungi orang tuanya sekali setelah insiden Seno yang mengusir orang tuanya. Tapi apa? Hanya umpatan yang terdengar kala itu.
Karena itu pula, Sania ketar-ketir memikirkan respon yang akan diterima. Tidak mungkin kan ia diusir begitu saja? Mengingat ibu dan bapaknya yang kejam sih sepertinya mungkin-mungkin saja.
Bagaimana hidupnya jika ia benar-benar diusir? Ia hanya memegang uang sekitar 1 juta rupiah. Cukup buat apa kalau dihitung belum menyewa sebuah tempat tinggal.
Sania menggeleng. Menghalau fikiran buruknya yang baru hinggap.
"mih, lumahnya masih jauh?" Sean merapatkan topi menghalau panas yang begitu terik menyinari wajahnya
"bentar lagi dek" Reyka yang menjawab lantaran kesal mendengar Sean yang terus bertanya seraya merapatkan genggaman-nya dengan Sania
"bental mulu. Eyan cape nih, panas banget lagi" keluh Sean seraya menghentakan kaki, meminta turun
"bentar lagi, nak. Itu didepan rumah orang tua mamih"
Sean dan Reyka melongok dari belakang tubuh Sania. Melihat keadaan rumah yang jauh berbanding dari rumah milik Seno. Tapi rumah ini jauh lebih besar ko dari rumah yang dulu.
Oke! Wait-wait, ini rumah kenapa bisa berubah modelan-nya? Berubah hampir 90 persen. Hanya model halaman depan rumah-nya yang masih tampak sama.
Jika tidak melihat ukiran yang dulu menjadi hasil karya Sania, pasti perempuan itu tidak mengenali rumah yang tampak berbeda seperti terakhir kali ia kemari. Pernikahan itu.
Kenapa bisa beda gini? Jauh lebih besar dan lebih nyaman!
"yeay! Sampe" seru Sean semangat lalu berlari memasuki pagar mungil dengan tanaman layu yang tumbuh disekelilingnya
Padahal dulu tanaman tersebut sangat indah. Merambat pada kayu rapuh, menambah kesan indah pada rumah itu. Tapi dulu! Sania yang selalu merawatnya. Jika tidak ada dia, jadinya ya seperti ini. Terbengkalai.
Ya Allah, semoga ibu dan bapak nerima keberadaan aku dan anak-anak. Gumam Sania lalu mengelus perutnya yang masih rata.
Tok... Tok... Tok...
"assalamualaikum bu, pak. Sania pulang"
"mikum...." tambah Sean dan Reyka bergantian lalu keduanya cekikikan
Kedua lengan Sean dan Reyka saling bertautan dengan tas panda ditengah-tengah. Masih sempat-sempatnya Sean memilih tas pergi-nya padahal situasi saat ini bukan untuk jalan-jalan.
"waalaikumsallam" sahutan terdengar dari dalam diikuti suara batuk kecil
__ADS_1
Ibu kenapa?
"loh kamu? Ngapain kamu disini? Mantu kesayangan ibu mana" Ucap Sumi lalu memaling-malingkan wajah keluar rumah
"hai nenek" suara anak-anak menginterupsi membuat Sumi menyalang
"siapa mereka!" bentaknya membuat anak-anak yang tadi tersenyum kini memandang penuh ketakutan dan berebutan untuk bersembunyi ditubuh Sania
"bu jangan bentak-bentak didepan mereka. Mereka masih kecil" Cicit Sania
Sumi berdecak, "gak peduli! Mereka bukan cucu ibu ini. Jelasin ke ibu, kenapa kamu disini? Dan satu anak yang lebih tinggi itu siapa? Kamu mungut anak lagi?"
"bu pelan-pelan" jawab Sania, "ibu gak ada niatan suruh aku masuk?"
Sumi menggeleng tegas. "jelasin dulu baru masuk" titahnya final
Sania menarik nafas dalam-dalam lalu berlutut dihadapan Sean dan Reyka, "kalian masih disamping rumah ya" kebetulan tepat disamping rumah Sania terdapat lahan kosong yang biasanya menjadi tempat anak-anak bermain bola ataupun lari-larian, "ingat! Jangan jauh-jauh"
"siap mih!"
"jadi?" Sumi berkacak pinggang begitu Sean dan Reyka sudah tidak terlihat oleh pandangan lagi
"panjang bu ceritanya... Intinya Sania ingin tinggal disini sementara sampai situasi membaik. Boleh?"
Dengan takut-takut Sania mengangguk. Pasalnya Sumi sudah menatap nyalang anaknya itu.
Plakk!!
"AWWW!.." Reflek Sania melindungi perutnya yang hampir terbentur kursi anyam didepan rumahnya membiarkan pipinya yang mungkin sudah memerah, "bu!"
"kenapa kamu pulang kesini kalau cuma bawa berita buruk doang! Bagaimana uang bulanan ibu kalau kamu pergi dari suami kamu!"
"ibu gak mikirin apa yang sebenarnya terjadi sama aku? Ibu gak tanya dulu kejadian sebenarnya? Kenapa aku pergi? Kenapa aku pilih kembali kesini?" omongannya bergetar menandakan emosinya yang sudah ada di ubun-ubun
"memang! Tidak ada yang paling penting selain uang" serunya disertai senyuman seakan tidak sadar perkataannya akan menyakiti Sania semakin dalam
"alih-alih memikirkan perasaan anak ibu hanya memikirkan uang?"
"tentu saja. Kalau bukan uang dari suamimu rumah ini tidak akan sebagus ini. Kau bukan karena uang suamimu juga, ibu sama bapak gak mungkin leha-leha seperti ini. Toh tiap bulannya kita tetap dapet uang sebesar sepuluh juta"
Ini-nih yang Sania tidak suka dari Seno. Laki-laki itu selalu bertindak sendiri tanpa mau berbincang terlebih dahulu dengannya.
__ADS_1
Bukankah laki-laki itu sendiri yang bilang akan memotong uang bulanan orang tuanya dan membatalkan membangun rumah ini. Bukan karena ia pelit, hanya saja ia tidak ingin membuat orang tuanya terus berkegantungan pada dia.
Sudah cukup semasa mudanya ia menjadi topangan hidup kedua orang tuanya. Ia sudah lelah mendapati tingkah malas Sumi dan Andi yang selalu menjadikan dirinya seakan kepala keluarga yang menyokong kehidupan.
"ibu dapet transferan dari mas Seno?"
"iyalah! Kalau enggak pastinya ibu masih terus menghubungi kamu sampai saat ini" Sumi mendengus
Tidak ada rasa rindu ataupun selebihnya yang ada hatinya hanya diliputi rasa malas melihat anaknya yang datang.
"bu, ibu gak mau nanyain kabar aku gitu? Gimanapun kita udah gak berhubungan kurang lebih satu tahun"
Normalnya seorang ibu dan anak akan terus berhubungan walaupun sudah tidak tinggal bersama. Ikatan batin pasti akan selalu ada. Selamanya. Tetapi kalau itu anak kandung.
Terkadang Sania sering bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa dia anak kandung ibu dan bapaknya? Tapi melihat kemiripan diantara mereka. Mau tidak mau Sania menguburkan pertanyaan absurd-nya itu.
Sumi memandang Sania dari atas sampai bawah. Berulang kali, "melihat kamu yang tinggal dirumah besar dan ditemani uang yang bergelimang. Ibu rasa hidupmu baik-baik saja. Hidup didunia ini hanya butuh uang. Uang banyak pasti bahagia"
"ibu bagaimana kabar ibu sama bapak. Oh iya, gimana kabar Santy dan suaminya?" tanpa perintah Sania duduk dikursi anyam saat merasa kakinya mulai pegal
"ibu baik, bapak juga baik" jawab Sumi kemudian mengikuti jejak anak-nya duduk disebelah Sania dan menyilang kan kakinya
"Santy?"
Sumi mengendikkan bahu, "entahlah sudah lama ibu tidak mendengar kabar anak itu. Dasar anak tidak tahu diri, setelah kaya dia membuang ibu dan bapak layaknya sampah. Awas saja kalau dia sampai kembali!" umpat Sumi dengan mata berkobar penuh amarah
Sania memandang heran. Bagaimana orang tuanya bisa hidup tanpa mendengar kabar kedua anaknya?
"bu, jadi apa Sania boleh tinggal disini dengan anak-anak?" tanya Sania kembali ke topik
"sebenarnya kamu dan suami kamu ada masalah apa? Kalau masalah besar, ibu tidak mau ikut campur. Apalagi kalau masalah itu sampai mengorbankan uang bulanan ibu dan bapak"
"bu, bisa gak sih ibu jangan terus memikirkan uang! Sesekali pikirkan perasaan anak-anak ibu!"
"kalian sudah pada menikah, jadi sudah bukan urusan kami lagi" seru Sumi mengejutkan Sania
Bagaimana ibunya bisa memiliki pola fikiran seperti itu? Anak tetaplah anak. Entah sudah menikah ataupun belum, anak masih tetap menjadi milik orang tua. Bagaimanapun statusnya.
"sekarang terserah ibu deh, mau berpendapat kayak gimana. Intinya, Sania bolehkah tinggal disini? Gak lama sekitar 3 harian" sahut Sania. Entahlah kedepannya ia akan berfikir lagi, yang penting saat ini ia bersama anak-anaknya memiliki tempat untuk berteduh, "setelah itu Sania akan kembali kerumah mas Seno" dusta Sania
"terserah kau saja. Yang jelas setelah tiga hari ibu sudah tidak mau melihat keberadaan kamu disini lagi. Dan, oh iya jangan sampai ibu melihat kedua anak kecil tadi merecoki rumah ini! Ibu tidak suka dengan anak kecil" tegas Sumi kemudian masuk begitu saja
__ADS_1
Sania tersenyum pedih kemudian mengelus perutnya, "biar mamih saja yang tahu keberadaan kamu ya nak. Kamu aman sama mamih"