Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 61


__ADS_3

Berakhir-lah mereka disini. Dihadapan ruangan serba putih dengan Karin didalamnya. Setelah Ratih sedikit memaksa ingin melihat keadaan Karin, mau tidak mau Sania dan Seno mengantarkan mereka setelah menitipkan Sean dan Reyka pada Ajeng.


"pasien Karin ada didalam. Silahkan yang mau masuk, jika pasien memberontak segera hubungi kami" Ucap salah satu suster dengan pakaian yang sedikit berantakan


Kami menjadi saksi mata bagaimana suster itu berusaha membantu pasien-nya yang terus meronta tanpa memperdulikan dirinya yang terus dicengkeram kencang. Betapa mulianya beliau.


"Saya kebelakang sebentar ya nyonya. Secepatnya saya akan kembali" Sontak Sania mengangguk


"ibu mau masuk sendiri apa gimana?" tanya Seno


Kaca kecil itu menampilkan Karin yang sedang duduk terdiam sambil memandang kosong jendela. Terlihat kasihan memang, tapi menurut Seno ini semua balasan yang setimpal untuk perempuan itu.


Mendengar cerita Ratih, membuat Seno sedikit menyesal dulu hampir tiap harinya memuja perempuan itu. Hingga rela melakukan apapun untuk Karin.


Ratih memandang bergantian, "ibu akan masuk terlebih dahulu" putusnya kemudian


Sania melihat penuh khawatir. Keadaan Karin bisa dikatakan sedikit berbahaya, "tapi kalau ada apa-apa ibu langsung teriak ya bu!" titah Sania


"iya nak. Lagi pula kalian bisa lihat dari luar kan" ujar Ratih lalu mengusap punggung Sania, menenangkan perempuan itu


"baik bu, kami akan lihat terus dari sini" balas Seno


"sayang" Ratih memanggil dengan sangat lembut


Ditutupnya pintu ruangan. Perasaan kasihan memenuhi relung hati perempuan tua itu. Karin yang selalu nampak kuat dan baik-baik saja kini hanya terdiam tanpa merespon hal disekitarnya.


"nak Karin. Ini ibu nak" diusapnya surai rambut yang kini tampak kusut, "katanya kamu rindu sama ibu, tapi gak ada waktu untuk pulang. Oh iya, adek-adek mu pada rindu nih sama sosok kakak kuat seperti kamu" cerita Ratih panjang lebar


Ratih memang sempat kecewa pada Karin. Tapi itu semua tidak menutup kemungkinan bahwa Ratih masih sayang pada anak itu. Mau bagaimanapun Karin menjadi bayangan dibalik tubuhnya saat ia menjalani hidup yang sulit semasa mudanya. Dan jangan lupakan, sifat dewasa Karin yang selalu menjadi dambaan para anak dibawah umurnya.


Karin menoleh. Setitik air mata mulai menetes dari netranya. Kepalanya berangsur menoleh dan menatap sendu Ratih. Tanpa persiapan perempuan itu langsung menubruk tubuh renta Ratih dan memeluk erat. Tangisannya terdengar sangat kencang hingga keluar ruangan.


"Karin jahat.... Karin jahat.... Karin jahat... Tapi semua orang juga jahat sama Karinnnn. Gak ada yang sayang sama Karin" pekiknya tiba-tiba


"enggak nak, ibu sayang sama kamu. Kamu jangan gini ya. Ayu kita pulang dan memulai hidup bersama" Ratih menggengam erat kepalan tangan yang dibuat Karin


"ibu?"


"iya nak ini ibu. Ibu Ratih" Ratih berusaha menahan tangis, tidak ingin terbawa suasana

__ADS_1


"ibu gak ada, ibu pergi. Aku dibuang"


"kamu gak dibuang nak. Masih ada ibu Ratih yang terus sayang sama kamu" pecah juga tangis Ratih yang kemudian mencoba mengurai lengan Karin yang sudah bertengger indah dirambutnya lalu menarik pelan


"ibu jahat, ibu pergi, ayah pergi. Semua orang pergi" jambakan dirambutnya mulai ditinggalkan dan digantikan dengan memukul dirinya


Karin semakin tidak terkendali. Lontaran umpatan yang keluar dari mulutnya semakin kasar terdengar diiringi tawa menggelegar. Ratih sudah tidak kuat menopang tubuh besar Karin yang mencoba menyakiti dirinya.


"jangan gini nak. Ibu mohonnnn"


...~§~...


Disinilah mereka berakhir. Ditempat yang hanya bisa melihat Karin dari suatu kaca. Selepas Ratih mengucap permohonan nya, perempuan itu langsung lepas kendali. Tidak hanya menyakiti dirinya sendiri, perbuatan kasarnya juga beralih pada Ratih. Perempuan itu harus menahan sesak karena cekikan yang dilakukan Karin.


"sudah ya bu, kita pulang saja"


"tapi--" Ratih terdiam tak kala mendengar teriakan Karin lagi kali ini disusul jeritan suster


"ibu dengar sendiri kan. Kondisi Mba Karin lagi gak stabil. Daripada kita yang kena imbas, lebih baik kita yang undur diri. Nanti Sania ajak ibu lagi deh kalau aku sama mas Seno kesini lagi"


Dengan lunglai Ratih mengangguk. Ia hanya bisa menatap nanar anak yang sudah ia besarkan kini terdiagnosa memiliki sakit di kejiwaan nya. Dalam hati, perempuan tua itu benar-benar menyalahkan dirinya karena sudah salah mendidik Karin.


Sania dan Seno saling pandang saat Ratih tidak menyahut. Sebagai orang tua, Sania paham akan perasaan Ratih. Peran Ratih sama seperti dirinya yaitu mendidik anak yang bukan dilahiri olehnya.


"gak usah nyalahin ibu. Ajaran ibu sama sekali gak salah ko"


"tapi---


"Karin begini karena ulah dia sendiri. Bukan karena didikan ibu atau ajaran ibu" tegas Seno, "jadi gak usah salahin ibu"


Ratih mengangguk lirih


"kita pulang sekarang?"


Ratih mengangguk lagi lalu mengikuti kedua anak muda itu masuk kedalam kendaraan.


...~§~...


Pukul sepuluh malam, Sania dan Seno baru sampai dikediaman Ajeng. Kediaman yang cukup kecil tapi terbilang nyaman karena dikelilingi tanaman hijau.

__ADS_1


Tadi, setelah sampai dipanti asuhan mereka tidak langsung pulang. Kedatangan Ratih langsung disambut anak-anak yang tidak bisa tidur tanpa kehadiran Ratih. Karena itu pula, Sania dan Seno mesti menunggu Ratih menidurkan anak asuhnya.


Tadi siang, saat melihat keadaan panti asuhan yang sebenarnya. Seno langsung menghubungi John untuk mengurus agar sebagian pendapatan perusahaan disalurkan kepanti asuhan ini.


Kondisi yang cukup memprihatinkan, menggerakkan kedua insan itu untuk saling menolong. Setidaknya dalam tiap bulannya panti asuhan matahari udah terjamin hidupnya.


"maaf ya saya lama. Pada susah diajak tidur" Ucap Ratih tiba-tiba datang dengan membawa dua cangkir teh manis


Sania mengangguk paham, "iya bu santai saja. Namanya juga anak-anak, sudah biasa"


"diminum dulu" titah Ratih. Sania dan Seno langsung menyeruput teh tersebut, "ada yang masih ingin kalian bicarakan?"


Seno mengeluarkan amplop cokelat yang telah diurus John, "bu, kami memutuskan untuk membantu mengembangkan panti asuhan ini lewat dana yang kami berikan tiap bulannya"


Ratih membaca file didalam map dan langsung terpana melihat nominal yang sangat besar, "ya Allah nak. Ini benar?"


"iya bu benar. Niat ibu sudah sangat baik sekali, ingin merawat anak yang tidak memiliki tempat bernaung. Kami tidak bisa membantu apapun, kecuali lewat uang yang kami berikan" jawab Seno


"ya Allah nak. Makasih banyak, maaf hari ini ibu banyak ngerepotin kalian. Dan juga makasih karena sudah kasih kabar tentang Karin dan memberikan dana yang sangat banyak" Ratih menggengam erat lengan Sania, "insyaallah saya akan gunakan untuk hal yang baik"


"iya bu tidak apa-apa. Kami juga terima kasih banyak, karena udah mengenal ibu"


"dana itu bukan untuk renovasi tempat ini ya bu. Saya pribadi yang akan merenovasi tempat ini. Selama renovasi ibu dan anak-anak saya pindahkan ketempat saya dulu"


"alhamdulillah ya allah. Terima kasih banyak atas rezeki yang kau berikan lewat orang baik seperti kalian. Syukur gak berhenti-henti saya ucapkan"


Sania mengurai pelukan diantara mereka, "alhamdulillah kalau kedatangan kami sangat bermanfaat bagi ibu dan anak-anak"


"terima kasih banyak ya nak" Ucap Ratih lagi dan lagi


"iya bu sama-sama" balas Seno dan Sania berbarengan


_______


Akhirnya aku nyempatin update. By the why ini ngetik nya diem-diem pas ortu lagi keluar. Hehe✌️


Maaf ya kalau part ini rada garing atau kurang nyambung. Soalnya ngetiknya setiap ortu keluar jadi setiap mau nulis ulang kadang suka lupa mau nulis lanjutannya gimana.


Dan makasih banyak atas doa-doa yang kalian berikan. Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2