Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 75


__ADS_3

"mih, Sena gak punya ayah ya?" tiba-tiba Sena berbalik membuat Sania sedikit berjengit lantaran infusnya yang tiba-tiba ketarik


"bukan ayah tapi pipih!" seru Sean dari sofa


Reyka mengangguk menyetujui perkataan Sean lalu membelai adik perempuan-nya yang semakin merengut dalam, "kita manggilnya pipih bukan ayah dek"


Sean semakin cemberut dibuatnya. Ia berbalik tidak ingin melihat keluarganya, "semuanya enak kalena udah lihat pipih! Sena belum sama sekali! Sena diejek telus ama temen-temen"


Tempat mereka tinggal memang dipenuhi anak-anak sepantaran Sena dan Sean. Jadi, cukup wajar jika anak lain akan memandang Sena dan Sean berbeda lantaran tidak pernah ada 'ayah' yang datang kerumahnya.


Sania tertegun dibuatnya. Sibuk ditempat kerja membuat perempuan itu kurang paham akan pergaulan anaknya. Atau apa yang terjadi saat tidak ada dirinya. Kecuali, sesekali Rahayu memang meng-absen apapun yang anak-anaknya lakukan. Tapi Sania belum pernah mendengar hal buruk terjadi.


Sania beranjak keluar ruangan. Ia tidak mau menangis didepan anak-anak. Lengannya terkepal kuat. Ini pertama kalinya ia menangis lagi setelah mengucapkan janji kala itu.


Sementara didalam kamar, Reyka yang berperan sebagai anak sulung sedang menengahi perdebatan antara Sena dan Sean. Untung saja, Daffa memilih kamar rawat inap yang kedap suara. Jika tidak, sudah dipastikan perkataan dua anak kecil itu semakin menyakiti Sania yang sejak tadi belum beranjak dari depan ruangan.


"berhenti! Kakak bilang diam ya diam!" keadaan seperti ini yang membuat Reyka harus tegas pada adik-adiknya


Perasaan Sania melebihi segala hal yang harus diperhatikan oleh Reyka. Menurut Reyka, Sania adalah wanita yang pertama kali dapat membuat ia jatuh cinta.


Jatuh cinta, dengan kata lain.


"kalian seneng liat mamih nangis?" seru Reyka sekali lagi diiringi dengan pandangan menajam yang tertuju pada Sean dan Sena yang kian menunduk


"maaf ka"


Reyka menarik nafas dalam-dalam tak ayal mengusap surai rambut keduanya. Ia kembali melunak dihadapan tingkah adik-adiknya yang terkadang kelewatan.


"janji ya, jangan bilang-bilang tentang pipih lagi didepan mamih! Oke"


Sena mengangguk begitupun Sean yang kini mendekat pada Reyka.


"ka peyukkkk" manja sean


Reyka tertawa lalu mendekati keduanya dan memeluk mereka erat-erat.


Level kesayangan pada kedua anak kurcaci ini sudah berada di tingkat paling tinggi. Secara garis besar, mereka memang tidak ada hubungan. Tapi bagi Reyka mereka sudah seperti keluarga sendiri.


Bahkan Reyka rela mengorbankan tubuhnya demi menjaga Sena dan Sean.

__ADS_1


Seperti kala itu, entah bagaimana Reyka mendapati Sean yang menangis kencang sedang berada diatas pohon cari, meminta turun. Reyka benar-benar merutuki dirinya yang sudah lalai menjaga kedua adiknya. Ia menyuruh Sean untuk loncat ketubuh-nya agar ketika turun Sean tidak terlalu jatuh langsung ke-tanah.


Kala itu juga, Reyka seakan lupa dengan keberadaan orang sekitar. Fikiran-nya begitu buntu. Akibat hal tersebut. Tubuh Reyka luka-luka hampir disekujur tubuh lantaran tubuhnya yang terjatuh akibat tidak mampu menahan tubuh Sean dan terkena kerikil-kerikil kecil.


Back to the topic,


Tidak berselang lama, Sania kembali masuk keruangan sembari membawa beberapa bungkus makanan. Perempuan itu masuk dengan wajah sumringah seakan melupakan kejadian beberapa menit yang lalu.


“Kalian udah makan belum?” tanya Sania lalu mengeluarkan nasi padang kesukaan Reyka dan nasi kuning kesukaan Sean. Untuk kali ini Sania tidak akan membeli makanan kesukaan Sena, bakso. Lagi pula Sena sedang sakit, jadi sepertinya ia masih belum boleh memakan makanan berkuah yang katanya ‘tidak sehat itu’


Reyka, Sena dan Sean saling berpandang lalu tersenyum. Mereka juga sudah berjanji akan tidak membicarakan masalah ini lagi. Untuk kesekian kali-nya Reyka memberi petuah pada Sena agar anak itu mengerti. Walaupun sesekali Sena akan mengucapkan-nya kembali lantaran teman-temannya yang selalu memamerkan kedekatan-nya dengan ayah mereka.


“mih, aku mau nasi padangg” Reyka mendekati Sania, lalu memposisikan dirinya pas disamping perempuan itu


“yah… ko nasi kuning” ujar Sean saat membuka bungkusan nasi


“Sena mau juga maem bakso” kali ini giliran Sena yang mengeluh, ia memandang sendu Sania dan yang lainnya yang berada sedikit jauh dari jangkauan-nya. Lantaran anak itu harus beristirahat dikasurnya


“kamu kan masih sakit sayang. Jadi harus makan, makanan rumah sakit ya!” perintah Sania lalu beranjak menghampiri Sena, “mau mamih kupasin buah?” tanya-nya


Sena menggeleng lalu menarik selimut dan menyembunyikan wajah dibalik selimut. Kali ini, ia sudah cukup muak memakan buah-buahan atau sayur-sayuran. Sena memilih tidur dibanding akan menatap iri kedua kakak-nya.


Karena itu, diusia Sena yang baru menginjak dua tahun anak itu sudah menumbuhkan sifat iri kepada dua kakak-nya.


“mih aku gak mau nasi kuning” seru Sean kali ini seraya mengaduk-aduk nasi kuning tanpa memakan-nya


“ya udah kamu mau makan apa? Biar mamih beliin” ucap Sania kemudian mengingat-ingat sisa uang didompet-nya, “mamih ambil uang dirumah dulu ya”


“jangan!” sela Reyka, ia menukar nasi padang-nya dengan nasi kuning milik Sean, “Sean makan, makanan aku aja biar aku makan yang punya Sean. Mamih jangan keluar lagi, mamih baru pulang kerja. Reyka gak ijinin”


Sania tersenyum. Dibalik keketusan Reyka ada rasa perhatian yang diusul anak itu, “bukan-nya kamu gak suka nasi kuning?”


“sukaaa. Kan makan-nya juga bareng sama mamih, aku gak bisa makan banyak-banyak. Masih kenyang” bohong Reyka seraya pura-pura membelai perut-nya bak orang kekenyangan


“ya sudah” putus Sania


“makasih ka” ucap Sean tiba-tiba setelah menyuap nasi padang berlauk telur dadar tersebut


“iya sama-sama. Lain kali gak boleh milih-milih makanan lagi. Bersyukur kita masih bisa makan, masih banyak orang diluar sana yang menginginkan makanan yang kita makan” ingat Reyka membuat Sean mengangguk patuh

__ADS_1


Kemudian, mereka makan dalam diam. Setelah makanan-nya habis Sania menggiring kedua anak-nya untuk mencuci tangan di kamar mandi yang menyatu


“Seannnn” Danty diikuti Daffa tiba-tiba masuk mengejutkan mereka semua


“tuan kesini?”


Daffa mengangguk lalu memasukkan salah satu lengan-nya ke sakunya, “iya, saya mau jenguk Sena. Tapi sepertinya saya datang diwaktu yang salah. Tapi gak papa saya akan tunggu Sena sampai bangun” ucap Daffa seraya melihat Sena yang terlelap kemudian mengingat janji-nya pada anak itu


“tuan mau nunggu disini sampai Sena bangun?” tanya Sania hati-hati


Daffa mengangguk, “memangnya kenapa? Kamu ingin kemana” ujarnya berulang kali


Sania memasukkan barang-barang penting ke tas kumal-nya, “saya boleh minta tolong tungguin anak-anak gak tuan?”


“memangnya kamu mau kemana?”


“saya ada panggilan cuci baju dirumah tetangga” jawab Sania sejujurnya. Walaupun tubuhnya sudah sangat lelah, tetapi tidak apa-apa. Hasil yang didapat-nya sangat lumayan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak


“memangnya kamu tidak lelah?” dua jam lalu Sania baru saja pulang kerja dari rumah laki-laki itu dan sekarang ia sudah mau kerja lagi?


“demi anak-anak apa sih yang buat saya lelah” hirau Sania


Daffa mengangguk, “ya sudah terserah kamu saja. Sampai jam berapa?” Daffa memandang jam yang melingkar indah dilengan kekarnya. Pasalnya tiga jam dari sekarang ia sudah ada janji dengan sahabat-nya


“tidak lama tuan. Dua jam saja”


“baik akan saya tunggu anak-anak” janjinya


Sania menunduk berulang kali menandakan berterima kasih tak terhingga pada tuan-nya, “terima kasih banyak tuan. Saya akan cepat kembali”


“iya, hati-hati dijalan”


Sania mengangguk lalu melambaikan tangan, “mamih pergi dulu ya Sean, Reyka. Mba juga pergi dulu ya Danty”


Ketiga anak itu mengangguk. Segera saja Sania melangkah cepat keluar rumah sakit. Tangannya mencengkram kuat tas slempang-nya.


Ya Allah, aku lelah.


Egois gak sih aku kalau tiba-tiba datang kerumah mas Seno lagi untuk mengatakan hal yang sebenarnya? Tentang Sena.

__ADS_1


__ADS_2