
Penghujung senja hari, Sania yang sedang membersihkan diri dikejutkan dengan sebuah kotak misterius diatas kasur.
Dengan perlahan Sania membuka-nya. Hampir saja perempuan itu berteriak kencang saat mendapati dress tosca didalamnya.
Dress yang indah dan elegan!
Sania melenggok-lenggok didepan cermin. Pas! Dress-nya sangat pas ditubuhnya. Sania yang terbilang mungil bahkan sedikit kurus cukup berenang diri dapat mengenakan pakaian yang sudah ingin ia kenakan selama ini.
Tentunya tanpa harus dirombak dulu.
Memiliki tubuh yang dibawah normal membuat Sania sering sekali kesulitan mencari baju sesuai umurnya. Tapi mau bagaimana ya? Sebanyak apapun perempuan itu makan, memang tubuhnya seperti itu. Tidak berubah!
Ada yang senasib?
“mas Seno tahu saja yang aku suka” Sania memeluk dress tersebut dan mengajak memutar-mutar didepan kaca. Seakan-akan sedang mengajak dansa pemberi dress tersebut lalu menicumnya berkali-kali, “jadi makin cinta sama mas Seno!” monolog-nya
Sania berhenti tepat didepan lemari yang terdapat cermin. Terlihat sangat jelas wajah-nya yang sudah memerah. Sania menyentuh dada-nya, “jangan berdetak terus dong!!! Kan jadi malu” ucapnya sambil memukul-mukul pelan jantungnya
“mi, tenapa?” ternyata suara ribut Sania memancing anak itu menjadi penasaran
Sean menongol dari balik pintu. Terlihat lengan-nya yang memegang boneka pooh. Boneka yang harus ia peluk saat tidur. Boneka yang menjadi saksi kehidupan anak laki-laki itu.
“gak kenapa-napa, mami lagi seneng aja” sahut Sania, “kamu udah bangun? Ayah mana?”
Sean mengendikan bahu, “dak tau! Eyan dah cali kemana-mana, tapi ayah dak ada. Eyan kesel, ayah pelgi pas Eyan lagi tidul”
Sean menenggelamkan wajahnya diboneka pooh. Entah sejak kapan, anak itu selalu ingin dekat dengan Seno. Sementara Seno yang welcome membuat Sean menjadi bahagia.
Biarlah, bukankah bagus agar seorang anak dan ayah bisa semakin dekat.
"ayah mana cih!"
"mami juga gak tau, nak" sahut Sania lalu menaruh kotak tempat dress tadi ke atas kasur
Pluk... Sehelai kertas jatuh dari dalam kotak.
...Tolong datang ke-alamat tertera jam 07.00 malam. Jangan lupa pakai dress yang mas beri dan kenakan jas hitam pada Sean, mas sudah menaruh nya dikoper bagian bawah milik Sean. Tidak usah cari mas! Mas akan datang sendiri ditempat itu jam 07.00 nanti....
__ADS_1
Tidak dipungkiri senyuman yang tadi terpampang kini semakin melebar. Kata ‘bahagia’ yang sudah Sania kubur dalam-dalam selama ini kini bangkit kembali. Entah perempuan itu sudah membongkar seberapa dalam kebahagian-nya, intinya kali ini Sania merasakan kesenangan sesuai impian-nya selama ini.
“mih, ayah mana!!” Sean masih saja cemberut. Kini ia sudah berada dalam posisi terlentang diatas kasur, perut bulatnya tak tertutupi oleh apapun karena kaus-nya yang tertarik keatas.
Sania menepuk pelan perut Sean menimbulkan pekik-an Sean. Yang Sania tahu, sejak beberapa minggu yang lalu Sean sudah berubah menjadi priadi yang berlebihan. Maksudnya disini, sering sekali Sean bereaksi berlebihan saat terjatuh ataupun saat terkena sesuatu.
Semua ini gara-gara Seno! Saat itu, Sania meminta Seno untuk menjaga Sean sebentar saat dirinya membereskan rumah. Saat itu belum ada pelayan yang membantu.
Hampir dua jam Sania meninggalkan kedua laki-laki itu diruang televisi. Tapi, saat tiba Sania hanya mendapati Sean yang sedang sangat fokus menatap televisi yang menampilkan sinetron sementara Seno sudah tertidur diantara tumpukan-tumpukan map kerja-nya.
Kemarahan seorang Sania tidak bisa dihindari oleh Seno. Seno sampai rela diceramahi ini itu. Intinya sejak kejadian itu, Sean merubah sikapnya menjadi berlebihan.
Sejak saat itu, Sania menolak mentah-mentah jika diajak menonton sinetron bareng.
“lebay ah kamu!” Sania menepuk kembali perut gempal Sean lalu mengkelitik-nya
“huahahhah, mamiii geyiiiii” tubuh bulat-nya meronta kesana-kemari menghindari serangan sang mami tercinta, “udah mi! Eyan tape katawa”
“hahahha, iya-iya maafin mami” tawa Sania diakhiri dengan kecupan hangat dipipi Sean
Bagai seorang ratu dan pangeran, Sania dan Sean sudah tampak rapih mengenakan baju yang dipinta Seno. Saat semuanya siap, sebuah mobil yang Sania tidak ketahui merek-nya sudah menunggu didepan Villa.
“saya Ridho, pegawai tuan Seno yang dipinta untuk memboyong nyonya dan tuan muda ketempat spesial yang sudah ditata tuan Seno” sahut Ridho seraya membuka-kan pintu mobil
“mih kita mau ketemu ayah?” tanya Sean yang duduk dipangkuan Sania
Anak itu sudah sedikit muak dengan kursi anak-anaknya. Ia lebih memilih duduk dipangkuan sang mami seraya melihat pemandangan yang sangat indah. Perpaduan hijaunya pohon dan langit gelap malam hari.
Tampak dari jauh, sebuah tempat didalam gazebo diantara danau-danau yang terhias teratai indah telah dipenuhi lampion yang menyala indah. Bak Ratu didunia dongen, Sania dan Sean berjalan memasuki gazebo tersebut diiringi karpet merah yang tersusun dan hamburan bunga yang indah.
Setelah mengucapkan ‘terima kasih’, Ridho langsung melimpir pergi. Tugas-nya sudah selesai disini.
Tidak ada siapapun disekitar gazebo tersebut. Hanya ada suara kicauan burung yang menambah keindahan langit malam. Sean sudah asyik berlarian mengelilingi danau. Tidak perlu risau, karena disekitar danau terdapat pagar kecil jadi anak-anak tidak mungkin terjatuh.
Walaupun dikelilingi pohon besar tidak membuat suasana sekitar gazebo menjadi gelap. Lampion dan lampu yang terpasang sudah sangat cukup untuk jarak pandang disekitar.
Sania duduk emperan diatas bantal yang sudah tersedia, lalu membuka ponsel-nya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Sudah setengah jam lewat, tetapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Seno.
__ADS_1
Makanan sudah mulai dingin, bunga yang terpasang indah sudah mulai sedikit layu. Beberapa lilin yang terpasang sudah menunjukkan kegoyahan-nya.
“mi ayah mana! Kata mami, kita mau temu tama ayah. Tapi mana” Sean datang dengan penuh keringat lalu duduk dipangkuan Sania, disandarkan-nya tubuh kecil diperempuan yang kini sudah terlihat sangat cemas
“sabar ya nak, mungkin ayah lagi dalam perjalanan kesini”
Dua jam kemudian…..
Angin malam semakin menyapu gazebo. Sania sudah merekatkan tubuhnya ditubuh mungil Sean yang sudah tertidur pulas dipelukan Sania. Sejak tadi Sean menangis akibat tak melihat Seno yang tak kunjung datang dan berakhir ketiduran dipelukan Sania.
Sudah puluhan pesan dikirimkan pada Seno, bahkan sudah ratusan panggilan dilayangkan pad alai-laki itu. Sania takut! Dikelilingi pepohonan besar. Ingin pulang, tapi ingat perempuan itu tidak memperhatikan arah jalan villa kegazebo sini.
Sania mulai terisak. Ia merengkuh tubuh Sania dan mulai menangis seray amenutup mulut-nya kencang-kencang agar tidak mengganggu tidur Sean. Tubuhnya sudah menggigil. Cardigan yang digabungkan dengan dressnya sudah ia lepas untuk dikenakan-nya pada Sean.
Tinggal tersisi dress tipis bermodel tanpa lengan yang tersisa, satu per satu lilin sudah padam akibat hembusan angin malam. Suara kodok mulai menyatu dengan alam. Semakin kencang dan membuat perempuan itu semakin ketakutan.
Mas, dimana kamu? Apa kamu sedang menyiapkan surprise yang begitu indah? Dan ini salah satu yang menjadi rencana kamu.
Apa rencana kamu tidak begitu berlebihan mas? Aku kedinginan
Kamu dimana mas?
Mas?
Sania takut.
Mas Sean nangis tanpa henti, jangan buat Sania semakin takut dong! Kamu dimana
Sania kedinginan
Dingin sekali!
Ting….
Senyuman langsung terpampang dibibir pucat Sania. Ia membuka, membaca dan langsung berteriak histeris.
“Maaf nona, saya John sekretaris tuan Seno. Tuan Seno sedang berada dengan saya, tuan sedang menunggu nyonya Karin yang habis kecelakaan”
__ADS_1