
"maaf. Maafin mas. Maafin semua kesalahan mas. Mas rindu kamu" bisik laki-laki itu berulang kali
Akhirnya pecah juga tangisan Sania~
Sania membalas pelukan Seno dan menangis kencang. Bak kesetenan mereka tidak melepas pelukan hingga dua puluh menit mendatang. Membuat Alex yang melihat dari mobil mengklakson dengan sengaja.
Tin... Tin...
Sania malu dibuatnya. Ia menyembunyikan kepalanya diceruk Seno, hal yang biasa ia lakukan dulu saat ia salah tingkah.
Seno terkekeh lalu membenarkan hijab Sania, "tunggu sebentar disini dulu. Mas mau temui Alex sebentar"
Sania mengangguk dengan tatapan tertuju pada tanah. Merasa malu melihat Seno.
Sementara, Seno mendatangi Alex yang masih menunggu dikursi kemudi sembari menahan rasa ingin cepat-cepat mendatangi anaknya, Reyka.
"kau pergi saja dulu. Gue masih mau disini"
"gak bisa gitu dong" protes Alex, "gue juga mau ketemu sama Alex. Gue udah sangat menanti-nanti hari ini. Jangan lu hancurkan impian gue gitu saja" Ucap Alex dengan sifat yang bikin Seno emosi, lebay
"besok saja, kembali lagi kesini" Ucap Seno disertai lengannya yang menyapu udara bak mengusir seseorang
Alex berdecak tak ayal tetap menuruti perintah Seno. Setidaknya malam ini ia akan menyiapkan sesuatu untuk dibawanya besok bertemu dengan anak terkasihnya, Reyka.
"terserah deh. Pokoknya besok gue harus ketemu Reyka. Gak boleh ada alasan lagi" Rajuk Alex kemudian menaikkan kaca, "iya deh yang baru temu kangen. Dasar bucin!" ucapnya kemudian dan memutar setir meninggalkan Seno begitu saja,
Seno berdeham dan berdiri lumayan lama. Seakan baru sadar kondisinya saat ini sedikit membuatnya gugup. Namun tak mau lama-lama dan membuat Sania menunggu lama, ia segera kembali mendatangi Sania dan duduk dikursi plastik samping perempuan itu.
"San"
"hm?" deham Sania
"maafin mas. Maafin semua kesalahan mas dari dulu yang sudah menodai kamu hingga kemaren mengatai kamu dengan kata yang sangat kasar"
Laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam kemudian berlutut dihadapan Sania sembari memegang kedua lengannya, "mungkin kamu bosan mendengar kata maaf yang mas lontarkan. mas terus mengucapkan kata maaf tapi kemudian mengulangi lagi menyakiti kamu"
Sania tersenyum dan membelai rambut Seno dengan lembut, "buktikanlah mas. Sania gak butuh perkataan maaf, Sania hanya mau mas buktikan dengan perbuatan mas"
"Tapi kamu maafin mas kan?"
__ADS_1
Sania mengendurkan bahu kemudian berdiri begitu saja membuat Seno yang tidak siap sedikit oleng dibuatnya, "entahlah mas, Sania ingin memaafkan mas. Tapi entah kenapa, dalam lubuk hati Sania yang paling dalam sangat sulit melupakan mas saat mengatai Sania 'mandul'" ucap Sania blak-blakan
"Ya mas minta maaf"
Sania mengelus dada-nya, "sudahlah mas. Sebagai istri, Sania juga minta maaf sama mas karena sudah pergi gitu saja tanpa izin suami"
"Tapi kan tetap saja kamu yang mulai duluan. Kalau kamu gak ngomong itu" Sania mengutip kalimat menggunakan kedua lengannya, "aku juga gak akan pergi"
Seno menggaruk tengkuknya, "jadi kamu masih anggap mas sebagai suami nih?"
"loh ko gitu!" jawab Sania dengan sewot
"itu tadi kata kamu 'sebagai istri' berarti benar dong kamu msh anggap mas sebagai suami kamu. Lagi pula gak ada kata cerai yang terucap sama mas. Ah mas masih jadi suami kamu" pekik Seno diakhir kalimat disertai pelukan berulang kali oleh laki-laki itu
Gemas...
Sania melihat sekitar, ada beberapa ibu-ibu yang mencoba melihat kerumahnya tetapi jika ditatap balik ibu-ibu tersebut pura-pura mengalihkan pandangan.
Sania menarik nafas, kesal. Bener kata orang-orang tetangga adalah salah satu cctv yang sangat ampuh. Begitu mereka melihat, sudah dipastikan dirinya besok sudah menjadi bahan perbincangan sekomplek.
Wajar saja, karena orang-orang mengetahui suami Sania sudah meninggal. Tidak ada yang tahu, siapa yang menjadi awal adanya gosip tersebut. Yang Sania tahu, kedatangan Sania sudah mendapat kehebohan yang melimpah dari warga sekitar. Karena Sania dianggap hamil diluar nikah.
"mas kita cari tempat yang lebih aman yu"
"cie masih manggil mas" ejek Seno, nyatanya selera humor laki-laki itu menjadi aneh menurut Sania
Dengan keadaan masih seperti ini. Maksudnya bertemu setelah sekian lama. Bukankah suasana yang tepat yaitu penuh kesedihan, haru dan bahagia. Bukan bercanda seperti ini?
Tapi, sudahlah... Sania fikir, mungkin saja selama dua tahun terakhir kepala laki-laki itu pernah terbentur sesuatu. Hingga menjadi seperti ini.
"mas yang benar ih! Aku gak mau nambah tumor dan berakibat sama anak-anak lagi"
"ah iya anak-anak" Seno memasang wajah sendu hingga gemas dibuatnya, "mas mau ketemu sama Sean dong"
"nanti. Ada yang harus Sania bicarakan dulu" ucapnya lalu berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Seno hingga laki-laki itu mengikutinya dengan sedikit drama lantaran pantofel-nya tidak bisa diajak kerja sama.
...~§~...
Sekitar setengah jam berjalan tanpa ada yang berbicara. Akhirnya mereka sampai disebuah danau dengan tempat duduk disekitar nya. Biasanya tempat seperti ini sangat ramai dengan pasangan yang masih dimabuk cinta. Tapi saat ini tempat tersebut tampak sepi. Hanya terlihat segelintiran orang yang lewat dan jualan. Mungkin karena saat ini matahari sedang terik-teriknya. Jadi, orang lebih memilih berdiam dirumah daripada mendapat sengatan panas matahari.
__ADS_1
"bagaimana kabar kamu mas?" tanya Sania setelah terdism cukup lama seraya memainkan kakinya menendang-nendang kerikil
"gak baik setelah kamu pergi. Setiap hari mas selalu dihantui rasa bersalah. Kepergian kamu benar-benar mengguncang kehidupan mas" jawab Seno, "kamu?"
Sania tersenyum, "aku bahagia hidup dengan anak-anak"
Seno mengangguk paham. Istrinya sedang menyindir dirinya. Seno fikir juga seperti itu, Sania jauh terlihat sumringah saat hidup dengan anak-anaknya.
"kamu gak ada niatan kembali sama mas?" tanya Seno
"mas gak ada niatan cari aku?" tanya Sania balik tanpa memperdulikan laki-laki itu yang terpaku
"bukan seperti itu" Seno mearup wajahnya frustasi. Bingung ingin bicara seperti apa, "mas terlalu pengecut untuk menemui kamu. Mas seperti tidak ada muka untuk menatap kamu lagi. Mas paham, perkataan mas sangat buruk untuk dilontarkan pada seorang perempuan. Apalagi mas yang selalu membanding-bandingkan kamu dengan Karin"
Sania tersenyum, "paham kan mas? Anggap saja kepergian Sania selama ini sebagai hukuman yang tepat untuk kamu"
"tolong sudah hukuman ini. Mas tidak sanggup. Keberadaan kamu benar-benar mempengaruhi hidup mas. Mas gak tahu lagi bagaimana hidup mas kedepannya kalau kamu memilih untuk meninggalkan mas"
.
Sania mengendikkan bahu, "entahlah mas. Mas tanya saja sama anak-anak terlebih dahulu. Aku akan ikut apapun permintaan anak-anak"
"gimana kalau gitu mas temui Sean sekarang juga" Seno langsung berdiri mendengar perkataan Sania
Sepertinya menjinakkan Sean tidak akan terlalu sulit. Seno tinggal belikan mainan, sudah pasti anaknya langsung menyetujuinya.
Tapi...
Seno kembali terduduk. 'bagaimana kalau Sean sudah berubah. Bukan lagi Sean yang menatap bahagia padanya tapi Sean yang menatap benci padanya?'
"kenapa duduk lagi? Patah semangat?"
Seno mengangguk, "bagaimana kabar Sean sekarang?"
"bentar-bentar" Sania menoleh, "aku gak ngomong kamu harus ambil hati Sean doang loh. Masih ada Reyka dan Sena yang harus kamu kasih pengertian"
"Sena?"
Sania tersenyum penuh arti, "lihat saja nanti"
__ADS_1