Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 89


__ADS_3

"Santy!"


Perempuan dengan pakaian kerja tampak tersenyum bahagia dan langsung menghamburkan pelukan pada Sania. Santy menangis! Hal yang tidak pernah Sania sangka sama sekali.


"kenapa nangis?" tanya Sania lembut


"ka maafin Santy, maafin semua perbuatan Santy. Maafin karena udah hina kakak, maafin karena udah rebut pacar kakak---


" sst... Yang lalu biarlah berlalu. Kakak udah lupain semuanya. Sekarang kakak mau tanya, kenapa adik kakak sampai seperti ini?" Sania mengusap lembut surai rambut Santy yang tampak kusut


"semuanya hancur ka. Perasaan Santy, tubuh Santy. Santy capek!" seru anak itu dengan cemberut, "ternyata kerja itu susah ya ka! Salsa jadi gak enak sama kakak, yang dulu Mati-matian cari uang buat Salsa. Tapi Salsa malah menghamburkan uang seenaknya saja"


Sumi mengangguk, setuju mendengar perkataan Santy. Sementara Andi memilih kedepan mencari udara segar dengan tongkat yang membantunya menompa tubuh.


"tidak apa-apa, kakak kerja memang untuk kalian. Oh iya, kamu kerja dimana?"


"serabutan ka. Seperti yang kakak lakukan dulu"


Suasana kembali hening. Santy memilih pergi ke kamar, mengistirahatkan tubuh. Sumi memilih tidur kembali setelah meminum obat yang harus dikonsumsi-nya. Tertinggal Seno dan Sania duduk berdua menghadap jendela menampilkan remang-remang langit sore.


"San bagaimana kalau kita keluar?" ajak Seno, "mas inget didekat sini ada tempat yang sangat indah untuk dikunjungi"


Sania memicingkan mata, "gimana kamu tahu ada tempat bagus disini!" tanya-nya penuh selidik


"saat kunjungan proyek disekitar sini. Mas lihat sendiri. Gimana kalau sekalian ajak anak-anak"


Sania mengangguk lalu beranjak untuk membangunkan ketiga anaknya.


...~§~...


Semilir angin terus terasa, ditambah dengan hawa dingin membuat Reyka dan Sean yang ikut mengeratkan pelukan mereka pada tubuhnya masing-masing.


Sena tidak ikut. Selain tidak mau, anak itu histeris saat Santy mau mendekati anak itu. Hingga mereka sekarang merasa dekat dan tidak mau terpisahkan. Pembawaan Santy yang lucu membuat Sean betah dengan adiknya itu.


Ditambah anak kecil bisa melihat orang yang tulus kan?


"masya Allah, tempatnya benar-benar indah sekali. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan, ya rabb" Ucap Sania


"tempatnya memang bagus banget. Mas saja sampai terpesona. Dulu, mas berjanji akan membawa kamu kesini. Alhamdulillah kesampaian" sahut Seno


Tempat yang mereka maksud, bukan objek wisata yang sering didatangi orang banyak. Diantara ilalang tinggi, Sania dan Seno harus hati-hati menginjakkan kakinya takut ada zona 'zonk' diantara ilalang itu.

__ADS_1


Kesulitan semakin ditambah saat Sean dan Reyka yang sudah ketakutan lantaran takut adanya ular seperti yang mereka sering tonton di tablet.


"mas bahagia sekali, kita bisa berkumpul kembali. Padahal mengingat kesalahan mas--


"papih gak boleh ngomong gitu! Nanti Reyka nangis lagi" seru Reyka dengan wajah sendu-nya, "emang papih mau buat mamih nangis lagi?" ucapnya sok dewasa


"memangnya mamih nangis kenapa? Terus kakak kenapa harus nangis?" heran Sean tidak paham lantaran sejak tadi memilih berlarian diatas bangunan


For your information, tempat yang Seno maksud itu berada diatas bangunan kosong. Bukan bangunan yang seram karena masih dipergunakan segelintir para pekerja untuk beristirahat. Nah diatas bangunan itu terdapat roftoop yang menghadap langsung perdesaan.


Jadi dari atas, rumah-rumah terlihat sangat kecil dan pohon-pohon menambah kesan indah pemandangan. Jangan lupa langit yang kini mulai memerah menambah ke-estetikan tempat itu.


"enggak ko. Kamu masih kecil untuk memahami semua" Lagi-lagi Reyka berucap sok dewasa


"eh!" seru Sean tidak terima, "Sean udah gede! Bukan anak kecil lagi. Yang anak kecil tuh Sena" jawab Sean tidak terima


Sania terkekeh, lalu memisahkan Reyka dan Sean sebelum terjadi hal yang tidak ia inginkan. "sudah-sudah, gak boleh berantem. Inget kata oppa Daffa" peringat Sania dengan kata-kata Daffa, orang yang sudah ia anggap sebagai ayahnya


"kita gak lagi berantem ko mih. Kakak sama adek lagi bercanda. Iya kan dek?" paksa Reyka lalu merangkul Sean, membisikkan sesuatu hingga anak kecil itu patuh dan mengangguk kecil


"terserah kalian aja deh" Sania pasrah, "mas kita turun sekarang yu. Keburu malem" ajak Sania dan disetujui langsung oleh Seno


Sania dan Seno berjalan menelusuri kios-kios kecil. Jalan yang berbeda dengan jalan masuk tadi.


"mas punya ide mau bawa orang tua kamu ke kota deh" Ucap Seno tiba-tiba


"Sania sih terserah mas aja. Tapi, setahu Sania ibu sama bapak bukan tipe orang yang suka untuk pindah dan memulai interaksi dengan orang-orang lagi" jawab Sania seraya netra terus mentap Reyka dan Sean yang berjalan didepannya dengan bergandengan tangan


"terus yang baiknya gimana? Sebagai anak yang udah gak punya orang tua, mas sedikit sakit hati melihat kondisi mertua mas. Apalagi mas menjadi salah satu alasan dibalik keadaan mereka saat ini"


Sania mengusap lengan Seno, "bukan salah mas ko. Semuanya udah takdir, anggap saja ini balasan yang allah berikan untuk orang tua Sania agar sadar"


Seno mengangguk. Memang benar, Seno bisa melihat sendiri perbedaan yang sangat signifikan antara dulu dan sekarang.


"jadi, yang baiknya kita harus gimana. Gak mungkin juga kita biarkan begitu saja sementara kita enak-enakan tinggal di kota"


"Sania tadi juga mikir kayak gitu, tapi Sania dapet ide. Sania tahu ibu gak pernah bersih-bersih rumah, makanya Sania akan minta tetangga untuk membantu membersihkan rumah tiap harinya sembari memasak makanan dan mengingatkan ibu dan bapak untuk minum obat. Selain itu, untuk Santy Sania akan cari pekerjaan yang ringan tapi dengan gaji yang besar. Memang sulit tapi akan Sania cari sampai ketemu"


Seno mangut-mangut paham, "gak usah fikirin pekerjaan, biar mas yang cari sendiri" Ucap Seno, "oh iya, kita cari lauk buat makan dulu"


Sania melirik sekitar dan mendapati tukang pecel lele langganan-nya saat masih remaja, "gimana kalau pecel lele! Udah lama Sania gak makan itu. Kangen"

__ADS_1


"ya sudah" jawab Seno seraya memanggil Sean dan Reyka untuk belok kearah pedagang pecel lele


"mang pecel lele 9"


...~§~...


"ibu tidak mau"


Penolakan Sumi membuat Sania meledek Seno. Benar saja sesuai fikirinnya, kalau Sumi akan menolak untuk tinggal di kota. Masih aja sama Seno ditanyakan.


"kan hanya memastikan saja" Seno merajuk


"hahahaha" derai tawa terdengar dari keempat orang dewasa membuat Santy dan ketiga anak kecil itu sedikit terganggu saat menonton kartun yang disetel Seno lewat aplikasi yt


Setelah makan malam, mereka memilih berbincang diruang televisi dibanding tidur. Masih banyak pembicaraan yang harus mereka lakukan.


Dua tahun tidak bertemu, membuat Sumi dan Andi benar-benar merasa perbedaan yang signifikan dirumah mereka. Kini suasana lebih hangat dibandingkan beberapa hari lalu yang terkesan suram.


"terus ibu maunya seperti apa. Sania gak mau ninggalin ibu disini begitu saja" Ucap Sania serius


Andi mengendikan bahu. Sebagai kepala keluarga, Andi sama sekali tidak bisa memutuskan suatu hal. Andi lebih memilih Sumi yang memutuskan segala hal, karena dirinya terlalu menyepelekan segala hal dibanding Sumi yang bisa cukup serius memindai suatu masalah.


"ibu sudah tua, bapak juga sudah tua. Lebih baik kita disini menikmati masa-masa tua bersama. Kamu ajak saja Santy, hidupnya masih panjang. Biarlah Santy yang dibawa kesana, kami tidak usah"


"tidak-tidak, Sania gak mungkin biarin ibu tinggal disini berdua doang"


Seno menengahi, "begini saja, saya akan buat toko disini dan biar Santy yang kelola. Biar Santy bisa sekalian jaga ibu sama bapak disini"


"gak usah nak. Kami sudah banyak merepotkan kamu"


"anggap saja sebagai permintaan maaf saya karena secars tidak langsung saya sudah memberi kesempatan pada pelayan itu untuk berlaku tidak baik ibu sama bapak"


Sania berdeham, "sudah terima saja bu, pak. Ini Bakti kami sebagai seorang anak"


Sumi terisak, "ibu malu nak. Ibu malu karena kamu selalu baik sama ibu dan bapak bahkan Santy, padahal kami sudah berlaku buruk sama kamu. Kamu selalu memperlakukan kami layaknya orang yang istimewa dan membiarkan diri kamu tunggang langgang berjalan sendirian"


"sudah tidak apa-apa bu. Sania senang sudah memperlakukan ibu dan bapak sangat baik saat itu"


Seno menginterupsi, "saya akan usut pelayan itu. Jadi, kalian tidak perlu risau lagi akan keberadaan nya" tegas Seno


Lagi-lagi Sumi dan Andi menunduk malu, "terima kasih nak, terima kasih banyak"

__ADS_1


__ADS_2