Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 19


__ADS_3

Happy Reading ~


Sebelum matahari terbit, keluarga kecil itu sudah meninggalkan penginapan, tanpa ada kesan sama sekali. Rencana demi rencana yang akan dia lakukan malam itu, gagal begitu saja akibat badai yang menerpa.


Kini mobil Lamborghini Gallardo dengan kisaran harga lima miliar-an sudah terparkir indah dikediaman Seno.


Selepas turun dari mobil, kedua orang yang masih lelah itu dikejutkan dengan deretan koper yang terletak diteras rumah Seno.


Beberapa koper yang tertata rapi terletak tepat didepan pintu rumah Seno.


"barang siapa ini?" teriak Seno


Tepukan dipunggung terasa ditubuh laki-laki itu. Ia menengok pada Sania yang sedang menatap Sean yang tertidur, seakan menyuruh-nya untuk tidak berteriak.


"aku taruh Sean dulu ya"


Seno mengangguk. Ia berjalan memasuki kedalam rumah mengikuti Sania yang lebih dahulu masuk kedalam kamar Sean.


Tidak lama, Sania kembali diikuti dengan Santy dan Kamal dari belakang.


"koper didepan punya siapa?"


"punya kami kak, niatnya kami ingin pulang pagi ini juga. Tapi, ternyata kakak sudah keburu pulang" cicit Santy


Sania berkacak pinggang dihadapan adiknya, "apa sejak kecil kakak pernah ajarkan kamu sopan santun?" tanyanya tegas


Santy mengangguk, tangannya semakin direkatkan pada pinggang Kamal. Dua manusia itu tampak ketakutan, seperti ada rahasia yang disembunyikan dari sang tuan rumah.


"sopankah saat tamu main pergi saja tanpa pamit terlebih dahulu pada tuan rumah?" tanyanya lagi


"sudahlah San, mas tidak mau memperpanjang masalah. Biarkan mereka pergi, tanpa berterima kasih tentunya" sarkas laki-laki itu


"emhhh kakak ipar, kami pu.. pulang dulu yaa" Ucap Kamal


"pergi saja sana" ketus Seno, "dasar tidak tahu terima kasih"


Entah, rasanya pagi ini emosi laki-laki itu sedang tidak bisa dibendung. Mungkin karena sedang lelah juga membuat mood Seno jauh dari kata baik. Ditambah kedatangan nya malah disambut dengan kepergian Santy dan Kamal yang sudah merasa seperti tuan rumah dirumahnya.


"oh iya, ibu tadi telepon. Ibu nanya, kapan kakak akan merenovasi rumahnya? Ibu sudah menunggu, tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda rumah akan direnovasi"

__ADS_1


Sania menepuk keningnya, merasa malu dengan tingkah adiknya.


"tunggu bentar" Seno menaiki tangga dan beranjak menuju tempat brankas-nya berada. Ia mengambil sebuah cek untuk menyuruh Sumi dan Andi mencari tukang bangunan sendiri.


Sebelum meninggalkan kamar, ia memandangi kamar Karin sejenak. Entah, firasatnya menjadi sangat tidak enak.


Kamar terbuka, semuanya tampak rapi. Seno mengedarkan pandangan sejenak, selepas tidak ada yang mencurigakan ia kembali meraih pintu.


Sebelum menutup pintu kembali, netranya tak sengaja menangkap keberadaan kain yang menutupi laci. Dibukalah kain tersebut,


"SANIAAA PANGGIL ADIK KAMU KESINI!!"


Dengan tegopoh-gopoh Sania mendatangi tempat Seno berada. Seno menatap nyalang kepada Santy seraya menunjukkan salah satu kotak cincin permata, cincin keluarga yang ia beri untuk Karin!


"kembalikan cincin mantan istriku!!!" Seno mendatangi Santy dan menatapnya lekat-lekat


Cengkraman Seno pada Santy terasa semakin kencang. Sania tidak bisa berbuat apa-apa. Perempuan itu masih belum mengerti apa yang terjadi saat ini. Apa yang membuat suaminya sangat marah.


"mas, kasihan Santy" cicit Sania


"kamu kasihan dengan pencuri kecil ini?!" bentaknya seraya menghempaskan tubuh Santy


"pencuri? Apa yang kamu maksud dengan pencuri? Siapa yang pencuri?"


"adikmu ini pencuri dirumahku! Dasar tidak tahu diri. Saya sudah berbaik hati mengizinkan kamu untuk tinggal disini! Tapi kamu---- Akhhhh, dasar pencuri!"


"ka, apa kakak tidak terlalu berlebihan memarahi istriku?" Kamal mulai jengah, "lagi pula cincin itu hanya milik mantan istri kakak. Kakak sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan mantan kakak itu. Kau berlebihan!"


"berlebihan? Dimana letaknya yang berlebihan! Cincin itu sudah saya anggap seperti nyawa saya sendiri. Tidak ada yang boleh menyentuh barang milik mantan istri saya sedikitpun begitu juga memasuki kamarnya!"


Sania mulai paham. Disatu sisi perempuan itu senang akhirnya Seno tegas atas perbuatan adiknya, tapi dibalik itu ia benar-benar kecewa dengan adiknya. Bagaimana mereka bisa ber-fikiran untuk mencuri dirumah kakak iparnya?


Disisi lain, Sania sedih akan Seno yang marah pada adiknya karena cincin mantan istrinya. Tidak, bukan karena cincinya. Hanya saja, ia kecewa melihat Seno yang sangat membela barang yang pernah menjadi hak milik Karin.


Segitu cintanya kah Seno dengan Karin? Apakah kenyamanan mereka tadi malam hanyalah bualan semata?


"apa saja yang kalian ambil!"


Santy semakin gugup dan panik, ujung pakaian nya sudah lecek akibat remasan kuatnya.

__ADS_1


Laki-laki itu yakin pasangan dihadapan-nya tidak hanya membawa barang penting itu. Kamar Karin sudah menjadi brangkas tersendiri bagi Seno. Banyak perhiasan yang bahkan laki-laki itu tidak ketahui seberapa banyaknya. Saat cerai, Karin hanya ingin membawa dua kotak penuh perhiasan kesukaan-nya, yang lainnya perempuan itu tinggalkan begitu saja dikamarnya.


"cepat katakan!"


Dengan cepat Kamal dan Snaty bersimpuh dihadapan Seno. Mereka memohon maaf, sementara Santy sudah menangis histeris.


Sania berkacak pinggang lalu geleng-geleng. Dirinya kembali dibuat malu atas kelakuan adiknya. Mungkin, jika ia dan Seno pulang siang hari. Barang penting dirumah ini sudah habis diraibnya.


"kakak benar-benar kecewa sama kamu, kali ini" ucap Sania penuh lembut, "ini semua salah kakak! Salah kakak yang sudah salah mendidik mu. Salah kakak, ini salah kakak" Sania mulai terisak


Sania mulai membuka salah satu koper yang tidak pernah ia lihat saat Santy membawanya waktu datang.


"kakak gak habis fikir" tidak hanya cincin pemata yang dicari Seno. Masih banyak perhiasan lain, memang tidak sampai beruluh-puluh. Kalau dihitung jumlah semuanya hanya ada sekitar 7.


Tapi yang namanya pencuri tetap pencuri kan? Mau itu banyak ataupun sedikit.


"pergi kalian dari rumah saya sekarang juga!!"


Seno menarik paksa Kamal diikuti Santy dibelakangnya.


"ka maafkan kami, kami khilafff" sahut Santy


"Saya maafkan, tapi jangan harap lagi kalian menginjak kerumah saya lagi! Dan karena ulah kalian saya memutuskan untuk membatalkan renovasi rumah orang tua kamu. Kalau mereka marah, bilang saja ini gara-gara ulah anaknya yang sudah mencuri dirumah saya"


"ka jangan bawa-bawa ibu, Santy takut dimarahin" cicit Santy


"biarkan saja! Kalian yang berbuat kalian juga yang harus menuai nya. Kali ini saya tidak main-main. Pergi dari rumah saya sekarang juga!"


"ta-- tapi ka, ibu" Santy mengadah pada Sania


Sania menggeleng-geleng, "kali ini kakak tidak bisa bantu kalian. Anggap saja ini hukuman yang harus kamu dapat, karena selalu berbuat seenaknya selama ini"


Kamal dan Santy mengambil koper dengan perlahan seraya menatap sendu pada Sania. Yang ditatap hanya terus menggeleng, tidak bisa membantu mereka.


Kamal membawa koper dengan lesu, lalu menarik Santy untuk cepat jalan. Hal tersebut membuat Seno semakin jengan dibuatnya.


" CEPAT!"


Kedua pasangan itu terbirit meninggalkan pekarangan rumah Seno. Kini Sania menatap pada Seno yang masih menatap tajam jalanan yang masih sepi.

__ADS_1


"mas" lirihnya


__ADS_2