
SANIA POV
Anak ya?
Masih banyak yang beranggapan, wanita belum dikatakan sempurna jika belum pernah mengandung dan melahirkan seorang anak. Pemikiran yang menurutku sangat kolot.
Memang sebagian benar, tetapi tidak dipungkiri perkataan itu sangat menyakiti hati perempuan yang sampai saat ini divonis tidak bisa dikaruniai seorang anak. Atau belum dikasih kesempatan oleh yang maha kuasa.
Masih banyak perempuan yang bersedih akibat pernyataan itu.
Begitu juga aku. Lahir prematur, membuat perempuan itu selalu memiliki satu sisi kondisi yang membuat aku tidak boleh kelelahan. Tetapi kondisi aku, tidak memungkinkan untuk selalu beristirahat dirumah. Masih banyak topangan yang harus genggam selalu.
Berakhirlah, aku yang selalu mengabaikan perintah bidan kala itu. Dan tetap menggeluti kerjaan sana sini.
Mengabaikan imun badan.
Mengabaikan kesehatanku.
Mengabaikan tubuh yang selalu minta istirahat.
Sampai disatu titik, aku baru sadar bahwa umur seusia ku kala itu harusnya sudah mendapat haid. Aku benar-benar lupa masalah itu.
Tapi, aku tidak berani menanyakan-nya kebidan. Lebih baik uang tersebut aku sisihkan untuk biaya sekolah Santy ataupun memberinya pada ibu dan bapak.
Diumur 18 tahun, aku baru pertama kali mendapat haid. Hari-hari yang sangat ditunggu akhirnya tiba. Aku sampai merayakan nya dengan Kamal dengan dalih telah mendapat kerjaan dengan gaji yang lebih besar.
Sampai-sampai pemikiranku tentang haid berubah. Begitu kedatangan tamu bulanan tersebut datang dua bulan sekali. Awalnya aku tidak terlalu mempermasalahkan nya.
Tapi yang aku bingung, setiap aku sedang mendapat tamu bulanan pasti tidak luput dari sakit yang mendera. Sampai-sampai aku perlu meliburkan diri dari kerjaan selama tiga hari jika tamu bulananku tiba.
Sampai suatu hari, aku benar-benar tersiksa dengan rasa sakit ini hingga tanpa sadar aku pingsan. Hingga saat itu, aku berfikir bahwa rasa sakit ini bukan rasa sakit biasa.
Tapi apa?
Tetap saja aku tidak berani untuk mendatangkan diri kedokter. Bukan karena uang, hanya saja aku takut jika memang benar ada penyakit serius ditubuhku. Syukur jika memang ini hanya karena rasa stress seperti yang diberitakan dimedia online.
Tetapi aku rasa, sudah tiga bulan terakhir ini aku tidak pernah merasakan sakit haid yang berkepanjangan. Jadi, aku tidak pernah memikirkan lagi. Selain akhir-akhir ini aku sering mual.
Tapi entahlah, mungkin aku hanya kelelahan.
__ADS_1
"mamih....."
SANIA POV END
Sania menoleh begitu mendengar panggilan sang anak yang sudah beberapa jam selalu menatap sendu padanya, "kenapa nak?" ucapnya diiringi senyuman lembut menahan bongkahan kebahagiaan yang selama ini ia tunggu
Sejak kepulangan mereka dari rumah sakit. Rumah mereka seakan hening tanpa canda tawa dari anak-anak. Suasana dingin melingkupi rumah berantai dua itu. Yang terdengar hanya bentakan demi bentakan yang Seno lontarkan untuk Reyka disusul dengan bentakan Sania yang membela Reyka.
"mih, jangan marahan sama pipih gala-gala Eyan. Maafin eyan"
Dengan lembut diusapnya surai milik Sean, "mamih gak marah ko. Bukannya kamu yang marah sama mimih?" ucapnya diakhiri jawilan dihidungnya
Sean merengut lalu terkekeh, "eyan gak malah sama mimih" lalu menenggelamkan wajah diceruk Sania, "mana bisa Eyan malah sama mimih. Kemaren eyan khilaf" ucapnya menggunakan kata yang baru ia ketahui di Internet itu
"emang Sean tahu khilaf itu apa?" tanya Sania setelah tertawa kecil
"hmmmm" diketuk ujung jarinya pada kepala seakan sedang berfikir keras, "ya begitulah" ujarnya sedikit sulit untuk menjabarkan kembali dari apa yang ia dengar
Sania tertawa terbahak-bahak lalu memeluk erat tubuh mungil Sean. Seakan melepas rindu sedalam mungkin walaupun hanya seharian penuh tidak bertegur sapa.
"maafin Eyan ya mih. Eyan salah, gak lagi-lagi deh eyan malah cuma kalena ka Leyka"
Sania mengangguk lalu meminta Reyka yang sejak tadi mengintip nya untuk mendekat.
"aaaa ka Leyka, maafin eyan" Reyka menyambut tubuh yang kini hanya setinggi bahu-nya itu
"kakak juga minta maaf sama kamu" Reyka memeluk erat tubuh Sean, "gak lagi-lagi Sean ambil mamih Sania dari kamu"
Sania bersedikap dada, "mamih marah ya kalau kamu bilang gitu lagi! Gak ada yang rebut mamih disini. Mamih milik kalian berdua, jadi gak ada yang boleh iri-irian lagi"
"siyap mih" berderai tawa Sean disusul Reyka
"ehmm... Ada apa ini ramai-ramai?" Kedatangan Seno mengheningkan suasana yang tadi berwarna
Dengan paksa Seno menarik Sean dari pelukan Reyka membuat Reyka langsung menunduk ketakutan.
"hua... Pipih jahat" Sean memegang lengan yang terkena cengkraman Seno yang cukup kencang bagi anak kecil
"mas apa-apaan sih kamu. Sama anak sendiri juga"
__ADS_1
"kamu yang apa-apaan, aku gak suka ya lihat Sean dekat dengan orang asing itu. Anak dari hasil perselingkuhan itu! "
"mas!"
Maksud Sania jika ingin berkata buruk tentang Reyka, kalau bisa jangan didepan anak itu. Psikis Reyka bisa terganggu. Masalah mengenai Karin saja masih terus terbayang-bayang bagi anak itu. Sania hanya tidak ingin menambah beban fikiran bagi Reyka dan membuat psikis bahkan mental Reyka menjadi down.
"apa kamu mau bela anak itu lagi!" Seno berdecak, "mas diamkan kamu, malah semakin melunjak ya! Tidak ingat peran awal kamu disini?! Pengasuh. Kamu hanya berperan sebagai pengasuh disini, jadi jangan berlagak nyonya dan dapat membantah mas disini! Tetap saja kekuasaan mas sejauh diatas kamu"
"oh iya mas, Sania paham sekali. Harusnya Sania berterima kasih sama mas karena sudah mengangkat derajat Sania karena sudah menikahi Sania. Walaupun terpaksa dan karena ulah kamu juga" Sania terdiam, "tapi semua itu gak ada hubungannya dengan Reyka. Reyka memang bukan anak kandungku. Tapi gak ada seorang manusia yang tega melihat anak kecil dikatai kasar oleh orang yang notabene-nya seumur dengan ayah dari anak itu"
Ucapan Sania penuh penekanan membuat Seno terhenyak. Kemudian Sania memilih membawa Reyka kekamar anak itu, daripada mendengar perkataan buruk Seno lagi dan lagi.
Argh...
Seno meraup wajahnya frustasi. Kebiasaan! Lagi-lagi ia membawa masalah dikantor kerumah. Masalah dengan Alex lagi! Laki-laki yang sampai saat ini masih menjadi buronan bagi Seno.
Karena itu pula Seno sangat benci mendapati anak kandung dari laki-laki yang sudah berhasil menipu dan saat itu menyakiti anaknya berada dirumah dengan tertawa bersama anaknya.
Ia tidak sudi melihat Reyka sebahagia itu. Bagaimanapun Reyka menjadi alasan Karin sudah membohonginya dari awal pernikahan mereka.
Dilain sisi...
"mih mamih sama pipih selalu berantem gara-gara Reyka ya? Reyka itu anak pembawa sial kan?" ucapnya sedih mengejutkan Sania
"HEH! siapa yang udah ajarin kata buruk itu sama kamu!" tanyanya tegas
Reyka diam tidak berkutik seraya memelintir ujung selimut menutupi kegugupan-nya. Matanya tertuju tak tentu arah menghindari tatapan Sania yang seakan menembus tubuh anak itu.
"siapa yang bilang Reyka sayang" Sania melembutkan ucapan-nya, sadar kalau amarahnya akan menambah ketakutan bagi Reyka
"bunda Karin sama pipih Seno, huaaaa" Reyka menangis kencang, "kata mereka aku cuma anak pembawa sial dikeluarga mereka. Memangnya benar mih?"
Sania memejamkan mata sejenak menahan amarah yang semakin menggebu pada Seno lalu memeluk erat Reyka untuk menyalurkan ketenangan bagi anak itu, "enggak sayang. Kamu bukan anak pembawa sial. Kamu adalah anugerah terindah yang pernah mamih miliki selain Sean. Kalian berdua anak yang paling berharga bagi mamih. Jadi, jangan bilang gitu lagi ya. Mamih sedih dengernya"
Reyka mengangguk lirih lalu menoleh sedikit kearah Sean yang tersenyum seakan menyemangati Reyka, "huhuhu Sean aku pinjem mamih bentar ya"
Sean mengangguk cepat, "oke! Tapi nanti malam giliran mamih sama aku"
Reyka mengangguk lalu memeluk Sania dengan erat dan menangis kembali.
__ADS_1
Sania menahan senyuman dibuatnya. Yang namanya anak-anak tetap saja anak-anak. Mereka masih polos untuk mengerti segalanya. Diusapnya punggung Reyka bergantian dengan usapan dikepala Sean.
Kalian adalah hal yang paling berharga yang pernah mamih temui. Gak ada yang boleh menyakiti kalian sebelum melewati mamih terlebih dahulu! Mamih gak perlu yang lain. Kalian saja sudah cukup bagi mamih