Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 36


__ADS_3

Menu sarapan hari ini simple saja, hanya roti bakar. Seno tidak memperbolehkan Sania untuk kerja yang berat-berat. Tidak boleh ini lah! Tidak boleh itu lah!


Memang terlalu ribet laki-laki satu itu. Padahal semenjak Seno sedikit mengobati lukanya, perempuan itu sudah merasa enakan semua. Walaupun masih perih jika terkena air. Ya itu wajar kan?


"mas mau selai apa?"


"apa saja, Asal bukan yang kacang"


Satu lagi yang Sania tahu akhir-akhir ini, Seno benci segala hal yang berkaitan dengan kacang. Katanya sih dulu pernah ada kejadian buruk dan itu berkaitan dengan kacang. Sania kurang paham! Lagian Seno juga tidak ingin menceritakan nya lebih lanjut. Malu, katanya.


Sania menaruh piring yang sudah berisi roti bakar dengan selai cokelat kehadapan Seno. "Makasih yang", Sementara Sean lebih suka roti tawar polos agar bisa dicelupkan dalam susu cokelat.


"Teyamat makan!" Seru Sean dengan semangatnya


"Iya selamat makan juga Sean" ucap Sania seraya memotong-motong roti tawar dalam bentuk kecil agar dapat mempermudah makan Sean


Ting.... Tong....


"Tumben ada tamu? Siapa?" Ujar Sania, Seno hanya tersenyum misterius menanggapi pertanyaan Sania


Tidak lama terdengar derapan langkah beberapa orang masuk kedalam rumah. Sania menoleh dan mendapati beberapa orang yang belum ia kenali sama sekali.


"Selamat pagi tuan Seno dan nyonya Sania" sapa laki-laki yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada Seno, John! Ia menunduk sopan diikuti kelima orang dibelakang nya


"Ini orang yang akan bekerja disini?" Sahut Seno membuat Sania kembali makan, seakan paham urusan kerjaan suaminya ia tidak perlu ikut campur


"Benar tuan. Tiga orang sebagai penjaga rumah ini dan dua lainnya yang akan membantu nyonya membersihkan rumah" sahut John


"Aku tidak perlu bantuan mas. Sania masih bisa melakukan semuanya sendiri" serodot Sania, "tapi kalau untuk penjaga, Sania setuju. Biar tidak terulang lagi kejadian kemarin"

__ADS_1


"Nurut apa kata mas! Gak selamanya kamu sanggup mengurus rumah sebesar ini. Minimal ada yang membantu kamu, sisanya terserah kamu mau melakukan apa. Tapi jangan semuanya! Ingat kamu masih kurang sehat. Mas juga gak mau punya istri berasa pelayan rumah yang mengerjakan ini itu semuanya"


"Tapi mas--


"Sudah nurut saja! Tugas kamu saat ini ya hanya melayani mas dan Sean saja. Selebihnya biar pelayan itu yang bekerja" perintah Seno tanpa mau ada protes-an lagi dari Sania


Dengan tidak ikhlas Sania mengangguk. Padahal perempuan itu lebih suka mengerjakan semua sendiri. Maklum sudah terbiasa sejak kecil.


Seno bangkit lalu mengacak-acak rambut istrinya yang kini sedang merengut, "jangan ngambek gitu ah. Gini-gini juga demi kebaikan kamu. Sudahlah, mas berangkat dulu ya. Nanti siang siap-siap, mas pengen ajak kamu pergi"


Sania mengangguk lalu mengantar Seno keluar setelah menyalimi laki-laki itu, "hati-hati mas"


"Iya, jaga diri dirumah. Telepon mas jika ada sesuatu terjadi. Dan jangan lupa nanti siang pakai baju bagus!" Sania mengangguk


"Dadahh ayahhhh" pekik Sean dengan heboh sembari melambaikan tangan kearah kepergian mobil Seno


"tidak usah kaku begitu. Selamat ya kalian keterima kerja disini" Sania tersenyum canggung, "oh iya sudah pada sarapan belum?"


"sudah nyonya" jawab salah satu perempuan, "perkenalkan nama saya Rerin nyonya, dan ini Ela. Yang tiga laki-laki lainnya itu ada Doni, Asep, dan Wahyu" Ucap Rerin yang sepertinya ketua diantara mereka


"oh iya salam kenal saya Sania dan ini Sean" sahutnya


"hayo tanteeee, ommmm" pekik Sean lalu dibalas tawaan dari lima orang tersebut, "halo juga tuan muda Sean"


"semoga betah bekerja disini. Jangan sungkan-sungkan sama saya, kalau ada pertanyaan bilang saya saja"


"baik nyonya"


Sania ber-oh ria mendengar jawaban mereka, kemudian ia dan Sean kembali kekamar setelah berpamitan pada mereka.

__ADS_1


...~§~...


Seperti perkataan Seno tadi siang, laki-laki itu datang tepat pukul 12:00 siang. Sania mengusap dada, lega. Untung saja ia sudah siap-siap sejak jam sebelas.


Sania mengambil jas yang disampirkan Seno dilengan-nya, lalu membuka dasi yang masih terpasang. Kemudian Seno menggulung kemeja putih-nya dan masuk kedalam kamar mandi.


Setelah selesai,


"haduh ini anak diajak jalan-jalan malah tidur" omel Seno saat mendapati anaknya tidur didepan ruang tv


Diangkat-nya Sean dan disampirkan ditubuh nya. Seno masih saja mengomel. Walaupun ia hanya ingin mengajak mereka berbelanja, ini kan perdana bagi mereka berjalan bersama dengan status baru.


"sudah ih mas, lagi pula Sean kalau tidur tidak pernah lama. Paling dijalan juga bangun" Seno yang sedang mengemudikan mobil tetap saja mengerucut kesal


Perjalanan menuju pusat perbelanjaan hanya dipenuhi gerutuan Seno. Sania hanya menggeleng ampun melihat tingkah suaminya yang sudah persis seperti tingkah Sean.


"mas! Diem ih, itu anaknya keganggu" desis Sania, "nanti malah bangun, nangis lagi. Sean kan kalau sudah nangis susah berhenti"


"memang itu yang mas mau, biar bangun. Biarin aja nangis yang menting bangun!" sahutnya


Hua..... Kan benar saja


Sania sampai harus memiringkan badan untuk mengambil Sean yang berada dikursi belakang. Setelah melepas sabuk dikursi khusus, Sania mengangkat anak yang berbobot 13 kg itu.


"mas kan ih! Anaknya jadi nangis" kesal Sania seraya terus menepuk-nepuk punggung Sean yang masih menahan kantuk


"biarin" jawabnya dengan senyum bangga


Ck, elah

__ADS_1


__ADS_2