Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 101


__ADS_3

Ruangan didominasi gelap begitu Seno memasuki sebuah tempat yang dibuat khusus untuk pengkhianatan keluarganya.


Hal seperti ini sudah terbiasa bagi keturunan keluarga Seno. Membuat tempat pembantaian untuk orang yang sudah melakukan kecurangan ataupun menyakiti keluarganya.


Sudah lama tempat ini tidak didatangi Seno, semenjak kedua orang tuanya meninggal. Saat itulah terakhir kali Seno mendatangi tempat ini setelah ia menghabisi orang yang merencanakan kecelakaan yang melibatkan kedua orang tuanya.


Orang yang tak lain adalah rekan bisnis orang tuanya. Memang sekejam itu dunia kerja!


Seno mengepalkan lengan begitu masuk kedalam pintu kayu tua yang hanya diterangi bohlam kecil. Terlihat dua orang terikat diatas kursi dengan mata tertejam.


Tubuh yang lemas membuat atensi Seno bahagia. Ia suka melihat orang kesakitan karena ulah dirinya.


Tiba-tiba Seno mengernyit. Siluat Cheris memang terpapar jelas dibalik remang-remang cahaya. Tapi siapa perempuan satu lagi yang sejak tadi menunduk?


Seno memicing pada John. Meminta jawaban atas pertanyaan dibenaknya.


"bukannya lu juga suruh gue untuk cari pelayan tidak tahu diri yang hanya bisa menghabiskan uang mertua lu? Ya Disini lah dia" jawab John dengan seringai puas


Seno menepuk John bangga. Urusan cari mencari seperti ini memang tugasnya John. "gaji bulan ini naik" jawabnya singkat, padat dan jelas tetapi membuat John kegirangan


Sementara, Alex mengadah. Ia tidak pernah tuh mendapat yang namanya bonus. Sebenarnya, tanpa bonus juga gaji yang didapat sudah cukup untuk berlibur keluar negeri sebulan penuh. Dengan kata lain benar-benar banyak.


"ko gue gak pernah dapat bonus sih?" keluh Alex


John menepuk prihatin, "makanya kalau kerja jangan pamrih" ujarnya yang malah membuat Alex semakin merengut kesal


Perbincangan dua asisten Seno tentu saja dihiraukan oleh laki-laki yang saat ini sudah memutar-mutar diantara kedua kursi. Sebelum itu, Seno sengaja membuka penutup mata kedua perempuan yang sudah berani bermain-main dengan keluarganya.


"maa... af..." Ucap perempuan yang Seno kenal sebagai pelayan dirumahnya beberapa tahun silam


"Saya belum ada bicara apa-apa, kenapa anda sudah meminta maaf. Memangnya anda melakukan kesalahan apa?" sarkasnya


Perempuan itu semakin menunduk dan kini disertai isakan kecil. Keberanian-nya selama ini seakan ciut hanya karena Seno berdiri dihadapan-nya.


Ia benar-benar menyesal. Luna sangat menyesal!


"ssttt... Saya tidak mau mendengar suara isakan tangis lagi"


Ruangan seketika hening. Kedua perempuan tersebut memilih diam daripada mendapat balasan yang lebih kejam. Sebenarnya mereka diam atau tidak, Seno akan tetap menghukum mereka berdua.


Hukuman yang membuat mereka tidak bisa melihat langit hari esok maupun selamanya. Katakan Seno kejam, nyatanya seorang Seno memang dibentuk dari kekejaman orang disekitarnya.

__ADS_1


Ditengah hening ruangan, tiba-tiba Seno bertepuk tangan lalu tertawa keras. "saya tidak pernah menyepelekan pekerjaan lain. Bahkan saya selalu menyamaratakan semua kerjaan yang ada. Tapi kenapa malah pekerja rendahan seperti kalian yang berani mengusik keluarga saya"


Seno memerintah penjaga berbadan besar untuk mendekat dan membawa persiapan untuk menghukum kedua perempuan itu.


Kedua penjaga sudah siap berada dibelakang Cheris dan Luna. Tinggal menunggu perintah Seno mereka akan melayangkan benda yang ada dilengan mereka.


"ada yang ingin bicara, sebelum saya beri hadiah untuk kalian?"


"ma... af, maafkan saya... Saya janji tidak akan menganggu keluarga tuan lagi" isak Luna


Cheris terdiam. Tidak nangis ataupun mengucapkan sepatah dua kata. Kata yang mungkin akan terucap untuk terakhir kalinya.


Cheris seperti pasrah oleh keadaan. Perempuan itu paham, dia akan berakhir meregangkan nyawa mau bagaimanapun dia membela diri. Jadi, lebih baik ia diam. Setidaknya ia puas karena sudah melakukan rencananya pada istri dari laki-laki dihadapan nya. Laki-laki yang membuat dia melakukan hal buruk ini.


"tidak ada permintaan maaf. Semuanya sudah terlambat" Seno mengangkat wajah Luna dengan ujung jarinya, "sepertinya saya harus berterima kasih dengan anda, mungkin perlakuan anda memang sangat jahat pada mertua saya. Tapi karena anda, mertua saya jadi sadar. Sadar dari kesombongan nya"


Seno kembali berdiri setelah menyeka lengannya selama wajah Cheris adalah noda yang sangat menjijikan, "ya saya patut berterima kasih. Karena saya memiliki hati yang baik, tidak perlu risau. Anda tidak akan saya bunuh, mungkin hanya sedikit bermain-main dengan beberapa bagian tubuh anda saja"


Entah Luna harus berterima kasih atau berteriak kesal. Ia hanya bisa menunduk sembari menyesali perbuatannya selama ini.


"nona Cheris? Tidak ada yang ingin anda bicarakan?" tanya Seno dengan geram


Perempuan itu menoleh dan menatap malas pada Seno. Ia benar-benar sudah pasrah, jadi ia hanya mengangkat bahu. Acuh.


Tidak ada respon.


Seno mendelik, "kalian tahu pekerjaan kalian selanjutnya?" perintah Seno pada kedua penjaga tersebut


Tanpa mau melihat proses selanjutnya, Seno beserta kedua asisten-nya memilih keluar.


Seno tersenyum bangga. Satu masalahnya selesai. Orang yang menyakiti keluarganya sudah mendapat timbal balik.


Kembali ia dengar jeritan dan raungan dari dalam sana. Seno tersenyum bahagia. Menyakiti tanpa menyentuh mereka sama sekali.


Tangannya terlalu berharga.


...~§~...


Pagi menyingsing, Seno beserta antek-anteknya baru sampai di pagi hari. Selepas meninggalkan ruangan terkutuk, mereka memilih mendatangi perusahaan yang beberapa hari terakhir mereka tinggalkan.


Benar saja, semua pegawai langsung kelabakan. Beberapa file dan rapat mingguan dilewatkan begitu saja saat ketiadaan Seno.

__ADS_1


Untuk mengurus semua itu, Seno melemburkan semua pegawai tanpa bonus! Biarkan mereka mengeluh, sudah menjadi kesalahan mereka karena bersantai saat tidak ada pimpinan.


Kembali lagi,


Rumah tampak gelap begitu mereka tiba.


"mas, baru pulang kamu?" Ucap Sania yang tiba-tiba datang kemudian membantu melepas dasi yang bertengger indah dileher-nya


"iya maaf baru sempet pulang jam segini" lirih Seno lalu mengecup singkat kening Sania, kasihan banyak para jomblo disini. Seno masih mementingkan perasaan John dan Alex


"mau dibikinin teh atau kopi?"


"teh aja yang" jawab Seno seraya mengisyaratkan untuk membuat sebanyak 3 cangkir


Setelah Sania pergi, John dan Alex langsung melenguh kesal. Sikap spontan istri yang siaga membuat mereka menjadi iri.


"geez! Jadi pengen punya istri kalau tahu bakal diurus gini" sahut John seraya meraup wajahnya


"seenggaknya gue pernah ngerasain punya istri" celetuk Alex kemudian merenung, "tapi Karin gak pernah sih ngelakuin gue kayak gitu"


Seno mengangguk setuju. Menikah dengan Karin dan Sania, benar-benar berbeda. Bersama Karin, Seno merasa menjadi budak. Tetapi dengan Sania, ia merasa menjadi raja yang selalu diistimewakan oleh Sania.


"benar kan!" seru Alex melihat Seno yang mengangguk setuju


"kenapa jadi ngomongin mba Karin?" sentak Sania membuat ketiga pria itu gelagapan


"oh itu, Alex mau ketemu sama Karin" serobot Seno mengorbankan Alex


Alex mendelik kesal tak ayal mengangguk. Tidak mau membuat Seno berada dalam permasalahan, "lusa saya mau bertemu dengan dengan Karin sekalian mengajak Reyka"


Sania memandang khawatir, "Reyka?


"iya dia ingin bertemu Karin setelah melihat foto keluarga kami. Saya akan mengajak Reyka, tapi hanya untuk memperhatikannya dari jauh"


Sania mengangguk mengerti. Tidak mungkin membawa Reyka kehadapan Karin langsung. Perempuan itu masih suka mengamuk tidak jelas pada siapa saja yang ia lihat.


"Omong-omong foto keluarga, kita belum punya foto keluarga loh" ingat Seno


Sania mengangguk, "iya"


"nanti mas luangin jadwal deh, kita foto bareng di studio" ajak Seno

__ADS_1


"terserah mas aja"


Seno tersenyum. Dibenaknya sudah terpampang dekorasi yang akan ia gunakan untuk foto mereka bersama. Ah, Seno jadi tidak sabar!


__ADS_2