Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 95


__ADS_3

"jadi perempuan jangan kecentilan!"


Santy mendesis tidak suka, "maksud kamu apa! Kecentilan dari mana yang kamu maksud. Laki-laki ko tidak jaga omongan"


Alex mengendikkan bahu lalu melemparkan tas kerja begitu saja pada Santy. Refleks Santy menangkapnya, takut jika ada barang penting jika ia biarkan begitu saja.


"daripada kamu, perempuan ko centil sama suami kakak sendiri. Oh tidak" Seno menyilangkan lengan dengan telunjuk diwajah Santy, "perempuan ko rebut pacar kakak sendiri" ucapnya lalu tersenyum smirk


Santy menatap tidak percaya. Laki-laki yang beberapa hari terakhir mulai menggelarkan perasaan-nya merupakan tipe laki-laki yang mengumbar keburukan-nya.


Santy meraup wajahnya frustasi. Bisa jelek reputasi-nya jika begini. Tanpa basa basi, Santy berbalik lalu meninggalkan ketiga pria yang kini saling memandang.


"jahat banget sih!" seno menangkis pukulan John, "ogah banget gue nikah sama perempuan modelan gitu" lanjutnya mendumel kesal


Alex tertawa lalu memukul bahu pria itu, "lagian kenapa sih akhir-akhir ini lu ngebet banget pengen nikah"


John menjatuhkan tubuh keatas sofa lalu menunduk foto Reyka, Sean dan Sena yang saling memeluk, "salah satunya gara-gara mereka"


"Hah?" Seno menatap tajam


"maksud gue, gue juga pengen punya anak sendiri. Ngelihat kalian yang beda dihadapan anak-anak dan dihadapan karyawan, membuat gue sedikit kagum" memelankan suara diakhir ucapan, takut kedua sohibnya jadi tinggi hati


"cie kagum sama gue. Ngaku juga kan lu" ledek Alex


Satu detik lalu John memang memuji Seno dan Alex.


Tapi,


Satu detik kemudian ia ingin menarik kembali pujian yang sudah dilontarkan. John menyesal! Memuji kedua pria dihadapan-nya sama saja seperti mempermalukan dirinya.


"udahlah! Kalian pada gak bisa dipercaya. Hubungan kita selalu beberapa tahun ternyata hanya cukup sampai disini" John meraup wajah berpura-pura menangis lalu beranjak dengan tangan yang masih direntangkan pada Seno dan Alex


Paham dong, John hanya ingin mencari perhatian saja.


"geli! Sudah lu sana pergi dari rumah gue" usir Seno maksud bercanda


Tidak mengingat umur John hanya memeletkan lidah lalu berlari masuk kekamar anak-anak.

__ADS_1


Disisi lain,


Santy datang seraya memaki-maki kasar lalu mendatangi Sania yang sedang sibuk memilah-milah barang untuk acara besok, "ka teman abang Seno ngeselin banget" adu-nya, tidak terima


"kenapa?"


Santy tersenyum kecut mendengar jawaban acuh Sania. Sania sedikit berubah setelah menyindir Santy tadi siang, "kakak marah sama aku?"


Sania menarik nafas lalu memandang Santy, "kakak tidak marah hanya saja sedang antisipasi"


"antisipasi?" heran Santy


"antisipasi jaga-jaga kalau suami kakak direbut sama perempuan-perempuan yang menyukai mas Seno diluar sana"


Santy sedikit tersinggung. Walaupun tidak merasa Sania sedang menyindir dirinya, "bener banget ka! Jaga suami kakak baik-baik sebelum pelakor pada beraksi. Suami setampan dan sekaya abang Seno pasti banyak yang incar diluar sana" Ucap Santy berapi-api


"termasuk kamu?" Sania memandang sendu Santy


"Hah?"


"gak usah pura-pura gitu. Kakak memang simpati sama kamu, karena ulah Kamal kamu jadi gini. Santy yang kakak kenal sangat berubah dengan sifat adik kakak yang lu. Tapi satu yang gak pernah berubah dari dulu"


"kamu selalu ganjen dengan laki-laki yang kakak sukai. Dari Kamal, mas Gilang, mas Seno. Sudah cukup ya san!" Sania berkata penuh penekanan


"aku gak seperti yang kakak kira. Memangnya kakak ada bukti?"


"bukti? Tingkah berlebihan kamu selama ini sudah menjadi bukti yang sangat kuat bagi kakak" Sania menarik pakaian yang dikenakan Santy, "dan ini! Untuk apa kamu pakai daster tipis dirumah ini? Untuk goda mas Seno? Mas Alex?"


Santy melirik kaca yang menampilkan tubuhnya. Memang benar ia sedang menggunakan daster tipis yang melihatkan lekuk tubuhnya. Dan benar perkataan Sania, ia memang mengenakan pakaian itu hanya untuk menggoda kedua pria tampan yang baru saja ia lihat beberapa jam yang lalu.


"aku tidak sepicik itu ka" kilah Santy lalu menunduk


Sania mengangkat dagu Santy dengan ujung telunjuk-nya, "kakak rasa ini terakhir kalinya kakak lihat kamu goda mas Seno, mas Alex ataupun John sekalipun. Jika kakak mendapati kamu sedang bertingkah, jangan harap kakak akan menghidupi kamu kedepan-nya" bisik Sania hingga Santy bergidik


Tiba-tiba Seno datang lalu merangkul Sania, "kau dengar? Saya diamkan kamu hanya karena tidak enak hati dengan istri saya tersayang tetapi kamu malah menganggap bahagia kebungkaman saya dan malah semakin bertindak. Tapi jika istri saya sudah berkata seperti itu, jangan harap saya akan diam saja kedepannya"


Santy mengangguk cepat. "baik ka, maafin Santy. Santy janji gak akan ngulang lagi" ucapnya terbata-bata sembari menautkan kedua lengan

__ADS_1


"ada apa ini?" Sumi datang dan melihat aura diantara kedua anaknya sedikit tidak enak, "kalian berantem?"


Sania menggeleng dan mengibas lengannya, "enggak ko enggak. Kami hanya sedikit berbincang. Iya kan san?" Sania meminta jawaban Santy lalu menyenggol-nya


"iya bu" lirih Santy, "ya udah, aku permisi" Santy langsung beranjak berlari memasuki kamar-nya. Menghindari suasana yang sangat tidak menguntungkan bagi dirinya


Santy terduduk dihadapan jendela besar yang terbuka menghadap taman langsung, "aku paham... Aku salah" lirihnya


Menelungkup kedua lengan diwajahnya dan terisak pelan, "tapi hanya itu yang bisa aku lakukan"


"setelah cerai dengan Kamal rasanya hidupku semakin sia-sia saja" ucapnya disela-sela tangisan kecil


"seorang anak yang hanya beemodalkan ijazah smp seperti aku bisa apa?"


Santy memiliki pola fikir yang unik. Ia sadar dirinya salah karena sudah menyia-nyiakan pendidikan hanya untuk menikahi Kamal dan berakhir ia hanya bergelar lulusan smp saja.


Santy tidak berfikir lebih lanjut. Ia kira pernikahan-nya akan bertahan sampai akhir hayat. Bersantai adalah hal yang selalu ia lakukan selama pernikahan. Tetapi,


Semuanya jadi kelimpungan semenjak mereka cerai. Masalah keuangan, orang tua dan Kamal seakan berturut-turut menghampiri hidup Santy. Sejak saat itu ia memantapkan diri untuk mengganti peran Sania dan menjadikan dirinya sebagai kepala keluarga.


Dengan bermodalkan ijazah smp, ia harus mencari kerja kesana kemari. Semuanya semakin sulit saat semua mengetahui status yang terpampang di CV.


Santy hampir menyerah. Ia memilih Pekerjaan serabutan walaupun ia harus menahan beban berat yang sama sekali bukan seperti dirinya, walaupun seperti itu ia harus menguatkan diri.


Ia sadar mencari uang sesulit itu.


Sampai... Kedatangan Sania dan Seno seakan memberi harapan lebih. Maaf terus ia lontarkan, karena sadar perbuatannya dimasa lalu bukan suatu hal yang bisa dimaafkan begitu saja.


Tapi, begitu melihat Sania yang hidup bahagia dengan Suami dan anak-anaknya membuat Santy iri.


Kenapa aku harus merasakan penderitaan ini? Sementara ka Sania hidup bahagia dikota sana? Kenapa harus aku?


Hinggga, entah fikiran dari mana. Tiba-tiba Santy memiliki fikiran 'orang seperti aku jika ingin kaya hanya memiliki satu cara. Yaitu mencari pria kaya untuk dinikahi'


Dari situ, Santy berambisi untuk menggaet laki-laki kaya dan ia hanya menemukan laki-laki tampan dan kaya pada suami kakak-nya. Alias Seno.


Dengan modal nekat, Santy berusaha mendekati Seno. Dengan kebungkaman Seno, membuat Santy berfikiran bahwa laki-laki itu juga memiliki perasaan padanya.

__ADS_1


Santy meringis. Kebungkaman kakak iparnya hanya karena laki-laki itu menghargai Sania. Ternyata secinta itu kakak iparnya dengan kakak-nya.


Pupus sudah harapannya selama ini.


__ADS_2