Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 54


__ADS_3

"mas kasihan kan hidup mba Karin. Aku gak bisa bayangin deh kalau jadi mba Karin"


"Ya gak usah dibayangin!" Ketus Seno


Gimana tidak kesal, jika Sania sudah membicarakan hal yang sama sejak satu jam yang lalu. Waktunya berduaan terlewat begitu saja karena Sania yang terus menerus menceritakan Karin.


Seno tahu! Masalah yang tertimpa Karin saat ini bukanlah masalah biasa. Tapi apa yang harus ia lakukan? Menghiburnya? Yang ada perempuan itu malah berbesar hati dan bisa-bisa mengancam pernikahan mereka.


Dan satu lagi, kenapa Seno tidak mau terlalu dekat dengan Karin. Karena ia gak mau usahanya melupakan Karin akan gagal begitu saja saat menatap matanya. Karena itulah, Seno berusaha menjaga jarak dari Karin.


"Gak usah ceritain Karin lagi" Seno mengusap surai indah istrinya, "masalah ini harus diselesaiin saya dia sendiri. Kita gak usah repot-repot membantu dengan hal yang seharusnya bukan ranah kita lagi. Setidaknya kita sudah membantu dia dengan mengizinkan Karin dan anaknya untuk tinggal sementara" jelas Seno


"Kenapa hanya sementara?"


"Karena gak baik, seorang mantan istri tinggal bersama mantan suaminya dalam satu atap yang sama"


Sania terdiam tak ayal mengangguk. Rasa kasihan yang begitu dominan pada Karin membuat dirinya lupa akan kenyataan suaminya pernah begitu mencintai perempuan itu.


"Tapi kamu bisa bantu mba Karin dapat pekerjaan kan?" Seru Sania


Seno berdeham, "sebenarnya mas udah fikirin ini sejak kemarin. Tapi sebelumnya mas mau minta persetujuan kamu dulu" Sania mengangguk, "kamu mau mas bikinin butik gak?"


"Butik? Untuk apa, Sania gak ada bakat sama sekali dengan pakaian-pakaian atau semacamnya"


Kalau bisa memilih Sania lebih menyukai dunia masak memasak daripada dunia fashion.


"Kamu sebagai atasan dan kepemilikan butik aja. Dan Karin yang akan mengelola sisanya" Seno menoleh dikit pada Sania. Takut perempuan itu merasa sakit hati perihal ucapannya, "mas fikir hanya itu yang bisa kita bantu sama Karin"


"Kenapa harus butik? Kenapa gak kerja diperusahaan kamu aja"


"Setahuku Karin tidak sepintar itu. Untuk bisa masuk ke perusahaan mas, perlu orang dengan pengetahuan yang mendalam. Lagi pula, dengan butik ini bukan semata-mata untuk membantu dia. Tapi sekalian dengan mas investasi bangunan untuk kamu kelak"


Sania memandang Seno penuh haru. Beranggapan Seno masih perduli pada Karin hanyalah angan-angan semata. Ternyata Seno memikirkan ia sebegitunya.


"Mas aku gak perlu loh kamu bikinin usaha kayak gitu"


"Pokoknya rencana ini gak boleh diganggu gugat" ucap Seno dengan bercanda


"Apaan sih mas"

__ADS_1


Mereka tertawa berbarengan dengan saling berpelukan. Seakan dunia hanya milik mereka berdua.


"Ehemmm" sosok anak kecil muncul dari balik pintu, "eyan mo ikutan"


"Hahahaha sini anak mami" berakhir lah mereka bertiga yang kini saling berpelukan diliputi kebahagiaan


"mas gak kerja hari ini?"


"enggak dulu"


Mungkin fikiran orang, jadi atasan memang sejenak itu. Suruh saja karyawan yang pada bekerja, tetapi tetap atasan tersebut mendapatkan hasil dari jerih payah para karyawan nya.


Beberapa hal memang benar. Tetapi tetap saja, seorang atasan harus menjadi tameng bagi karyawan nya saat perusahaan sedang terkena masalah. Atasan juga yang harus membawa beban besar. Jadi tidak semudah yang orang lihat untuk menjadi atasan.


"kenapa gak kerja?" Sania menyisir rambut suaminya yang sedang terduduk didepan cermin sembari sesekali memijatnya


Seno menggeleng, "males" alibinya. Membayangkan Sania dan Karin tinggal satu atap membuat dirinya bergidik. Ia lebih memilih meluangkan waktu kerjanya daripada membiarkan kedua perempuan itu tinggal bersama.


Karin memang sudah berubah. Tapi tidak menutup kemungkinan perempuan itu akan berkata yang tidak-tidak pada Sania, saat Seno sedang tidak dirumah. Untuk meminimanilisir kejadian itu, lebih baik Seno meluangkan waktunya.


"idih sudah tua masih aja males-malesan!"


Sania memberontak, "mas bauuuu"


"enak saja, harum lavender gini dibilang bau!" seru Seno tidak terima lalu mencuri kecupan diseluruh wajah Sania yang merupakan hal yang tidak disukai Sania


"gak mau mas! Geli ih sanaaa"


...~§~...


Siang hari selepas makan siang, Sania, Seno beserta Karin sedang mengistirahatkan diri diarea taman belakang rumah.


Bukan mengistirahatkan diri, lebih tepatnya mereka menyibukkan diri masing-masing. Sibuk dengan ponselnya sendiri.


"astagfirullah!" pekik an Karin membuat Sania dan Seno spontan menoleh


Karin menangis dan menjatuhkan ponselnya yang sedang menampilkan Headline utama hari ini.


Pengusaha terbaru Alex kedapatan sedang jalan berdua dengan sekretarisnya? Simak lebih lanjut di.....

__ADS_1


Hubungan Pengusaha termuda Alex kini terkuak...


Ada apa dengan CEO Alex dan sekretaris nya?


Kiat-kiat menggaet atasan dikantor...


Sania dan Seno saling menatap. Yang mereka tahu, pernikahan antara Karin dan Alex hanya diketahui oleh para pengusaha yang kala itu datang saja. Semua media tidak ada yang tahu menahu tentang pernikahan ini.


"mas bantu Karin ya" pinta Sania


Karin mendongak lalu menggeleng, "jangan, jangan bantu aku lagi. Aku begitu malu sama kalian"


Jika diingat kembali perilaku buruk Karin pada Seno membuat perempuan itu malu sendiri. Berlindung dibalik laki-laki yang dulunya selalu ia hina sedemikian rupa.


"itu tahu diri" tandas Seno


"mas!" Sania menatap langsung mata cokelat milik Seno dan menggeleng agar tidak berkata buruk lagi dihadapan Karin. Mental perempuan itu kini sedang diuji.


Seno menarik nafas dalam-dalam, "sorry! Oh iya, gak usah sedih gitu. Saya sudah urus sebuah rencana untuk menghancurkan perusahaan suami kamu. Tapi saya minta izin dulu, boleh?"


Karin mengalihkan pandangan dan menekuk kedua kaki lalu mengayunkan nya berulang kali, "terserah kamu aja, aku udah gak ada urusan sama Alex lagi. Tapi ini beneran?"


Kehancuran seorang Alex sudah sangat dinanti-nanti oleh Karin. Tapi mengingat tidak ada pion untuk membuat semua rencananya terkabulkan, Karin akhirnya merelakan rencananya begitu saja.


Tapi kalau dikasih kesempatan seperti ini. Siapa yang mau menolaknya. Biarlah ia jahat. Tapi semuanya setimpal mengingat perlakuan Alex yang sudah ia buat dengan Fanya kepadanya.


"bener"


Seno berulah bukan karena membela Karin. Sudah sejak lama ia mengetahui perbuatan melenceng Alex pada perusahaan dirinya. Jadi, sekarang waktu yang tepat untuk membalas semuanya.


"tidak perlu tahu saya melakukan seperti apa. Kamu tinggal terima beres aja"


Karin mengangguk dan tersenyum bahagia, "makasih, makasih banyak" tersirat rasa bahagia dalam hati Karin mengetahui Seno masih perduli padanya


Seno mengangguk, "dan ingat, saya melakukan ini bukan karena kamu! Memang ada hal yang buat saya melakukan hal keji pada perusahaan Alex"


Karin menguraikan senyuman dan memainkan ujung jarinya. Ia mengangguk lemah.


"sekali lagi saya ingatkan! Jangan merasa berbangga diri dengan perlakuan baik saya beberapa hari terakhir. Saya melakukan ini sangat terpaksa dan itupun atas perintah Sania. Jadi jangan macam-macam" Ucap Seno lalu pergi begitu saja meninggalkan Karin yang semakin terluka dan Sania yang termenung

__ADS_1


__ADS_2