
"ganti!" seruan Seno membuat Sania kembali masuk keruang ganti untuk menukar pakaian yang akan dipakai-nya nanti
Seno dan Sania sedang berada dibutik milik almarhum istri Daffa. Butik ini memang direkomendasikan oleh laki-laki paruh baya itu untuk melihat pakaian yang bagus untuk digunakan di acara.
Seno sengaja meminta semua pegawai untuk libur, jadi didalam butik hanya ada Sania dan Seno berdua. Karena itu pula kini Sania tidak memakai hijab, lantaran ribet harus ganti dari satu pakaian ke pakaian lainnya.
"bagaimana mas?" tanya Sania lagi keluar dari ruang ganti dengan pakaian peach bercampur soft biru
Seno menggeleng, "terlalu berlebihan gak sih? Mas gak suka, ganti lagi"
Sania mengusap dadanya secara kasar, "sabar ya Allah, orang sabar disayang Allah" Ucap Sania keras-keras agar Seno mendengar
Tawa Seno pecah juga paham Sania sedang menyindir istrinya. Ia bangkit dan beranjak menuju Sania, "maaf ya, mas kurang suka dengan pakaian-pakaian sebelumnya. Kurang sempurna"
"ya iyalah! Kan kesempurnaan hanya milik Allah .Swt. " khotbah Sania tiba-tiba
"ya maksud mas, baju yang hampir sempurna gitu" alibi Seno tidak mau disalahkan
"padahal kamu yang ambilin baju-baju tadi loh" kesal Sania
Sebagai perempuan yang tidak kenal dunia 'fashion' Sania menyerahkan semua urusan pakaian pada Seno. Laki-laki itu juga yang membawakan beberapa pasang pakaian dan disuruhnya Sania untuk dicoba.
Tapi sudah empat baju, laki-laki itu menolak dan menyuruhnya ganti. Jadi, mau laki-laki itu apa!
"ya kan, tadinya bagus. Tapi gak tau kenapa, pas kamu pakai jadi kurang cocok gitu"
Sania merengut, "jadi maksud kamu pakaian nya jadi gak bagus gara-gara aku yang pake? Hah!"
"eh.. Eh.. Bukan gitu maksud mas" Seno gelagapan, paham ia sudah salah dalam berkata
"sudahlah, ini baju terakhir yang akan Sania coba. Kalau menurut mas kurang cocok Sania gak mau ganti lagi" final Sania
Seno mengangguk, berharap pakaian yang ia pilih kali ini benar-benar membuat ia terpukau. Sebenarnya ia sudah memiliki satu buah dress putih dengan perpaduan sedikit payet yang menambah kesan elegan.
Dress tersebutlah yang akan digunakan saat acara utama berlangsung. Sementara saat ini Seno sedang memilihkan dress untuk dikenakannya saat acara sudah mulai selesai tinggal tertinggal sanak saudara saja.
Krek....
Sania keluar menggunakan terusan satin berwarna krem, terusan yang terlihat mewah sekaligus elegan, "pas! Kita ambil yang ini"
"alhamdulillah... Akhirnyaaa" seru Sania, "aku ganti baju dulu ya" Sania memasuki ruang ganti dengan memegang terusan-nya hati-hati, melihat harganya yang cukup 'waw' membuat Sania sejak tadi memakai, membuka dan menukar baju-baju sebelumnya dengan hati-hati
Beberapa menit kemudian, Sania keluar menggunakan rok putih dengan baju 'oversize' biru muda. "yuk, mas kita pulang"
"sekarang? Oh iya, mas gak suka kalau kamu pake baju kayak gini lagi. Serasa anak rema lagi jalan-jalan sama 'sugar daddy-nya'"
__ADS_1
Sania menyingsing, "sugar daddy? Apaan itu?"
Seno tidak langsung menjawab. Ia mengurus terusan yang akan ia beli dan digantung disalah satu almari, karena memang itu amanat dari Daffa setelah memilih. Nanti biar pegawai Daffa yang mengurus selanjutnya.
"bukan apa-apa" jawab Seno, ternyata istrinya masih terlalu polos walaupun sudah menikah
"kita pulang ya. Nanti sore orang tua sama adik kamu bakalan dateng" Ucap Seno lalu membuka kan pintu mobil untuk Sania
"makasih mas" ucapnya, "iya kah? Bukannya keluarga aku bakal datang lusa?" heran Sania
Seno yang sudah berada dikemudi menggeleng pelan, "acara mas percepat, jadi keluarga kamu akan datang hari ini. Semakin cepat semakin baik"
"iya, terserah kamu aja"
Perjalanan terasa damai. Sania dan Seno sama-sama terdiam, dengan fikiran mereka masing-masing. Seno dengan kebahagiaan-nya lantaran acara mereka akan dipercepat. Sementara Sania dengan fikiran gelisahnya lantaran takut ada hal buruk yang terjadi kedepan-nya.
Entah, firasatnya sedikit tidak enak.
Tidak lama, Sania dan Seno sampai dikediaman Seno.
"papih.... Mamih...." Sean dan Sena langsung berhamburan memeluk mereka bergantian
"lagi pada ngapain disini? Maaf ya mamih pergi-nya lama"
"gak papa! Kan ada om John sama om Alex yang jagain kita. Sena sama ka Sean lagi main lali-lalian disini" tunjuk Sena pada halaman yang luas
"lali-lalian! Lali-lalian! Pokoknya lali-lalian" pekik Sean lalu siap menangis karena tidak bisa ngomong 'r'
"duh anak ayah jahil banget sih!" Seno mengucap surai Sean lalu menggendongnya dilengan sebelah kanan dan menggendong Sena dilengan sebelah kiri, "minta maaf sama adik, gak boleh gitu lagi"
"sudah mas, jangan terlalu keras sama Sean. Sean cuma lagi bercanda aja ko" sahut sania
Sean menjulurkan lidah pada Sean lalu meminta Sania untuk menggendongnya.
"hua... Kakak jahattt, aku gak suka ka Sean" Sena memeluk Seno erat, melupakan emosi
"cengeng... Wle... Wle..." ejek Sean
Sania melirik Sean lalu tersenyum. Sean langsung terdiam, sudah paham wajah sang mamih yang tersenyum yapi mengisyaratkan sesuatu, "eh iya.. Kakak minta maaf" Ucap Sean terbata-bata lalu berlari masuk kedalam rumah
Sena masih aja menangis, "sudah-sudah, kakak udah minta maaf tuh. Adek gak boleh nangis lagi"
"iya pih~
...~§~...
__ADS_1
Ting.... Tong....
Suara bel membuat Sania yang sedang mencuci piring langsung keluar rumah sebelum dibukakan oleh salah satu pelayan.
"eh... Ibu? Bapak? Santy? Kalian sudah sampai. Ayu masuk-masuk" ajak Sania kemudian menyeka lengannya yang masih basah kebelakang baju-nya
Keluarga Sania memasuki rumah sembari menunduk, mengingat ulah mereka kala itu. Berbeda dengan Santy yang dengan santai-nya menoleh kesana kemari mengesankan kesan 'norak' dalam dirinya.
"kakak ipar lagi dimana ka?" tanya Santy
Sania mengernyit heran, "ada didalam, lagi main sama anak-anak. Memangnya kenapa?"
"oh enggak, nanya doang" jawab Santy gelagapan
"gimana kabar kamu, nak?" tanya Sumi
"baik, bu. Sania baik-baik saja. Gimana kabar ibu sama bapak" Ucap Sania kemudian memerintah pelayan untuk membawakan minuman untuk keluarga-nya
"iya, pasti baik-baik saja dong. Hidup dirumah mewah seperti ini, gak mungkin hidup kakak gak baik-baik saja dong" Ucap Santy penuh candaan tapi memeliki makna tertentu
"hahaha, gak gitu juga" Sania mengambil nampan yang dibawakan seorang pelayan lalu mengucapkan terima kasih, "diminum"
"makasih, nak" sahut Andi dan Sumi berbarengan
Tidak lama terdengar langkah turun dari lantai dua. John, Alex dan Seno tampak bersama turun.
"ibu sama bapak sudah datang? Maaf saya tidak tahu, sedang ada urusan diatas" sahut Seno
John dan Alex sama-sama menunduk sopan. Sania hampir saja dibuat tertawa melihat dandan-an Alex dan John yang tidak biasa. Kunciran asal rambut sudah mendominasi rambut mereka, ulah siapa lagi kalau bukan Sena pelakunya.
"kami pamit pulang dulu" John dan Alex pamit undur diri
Tiba-tiba Sean, Sena dan Reyka tiba-tiba berlarian dari kamar mereka, "jangan pulanggg" mereka merengek
John frustasi, ia meraup wajahnya kesal. "uncle pulang dulu ya. Kalian main sama papih Seno dulu aja" pintanya penuh harap
Bayangkan saja, ketiga anak yang bukan anak kandungnya sama sekali lebih suka bereksperimen dengan wajahnya dibanding ayah-ayah kandung mereka sendiri.
John seakan menjadi bahan uji coba bagi ketiga anak Alex dan seno. Sementara sang-ayah malah asyik memperhatikan John yang terlihat kewalahan dan menertawakan kesengsaraan john.
"pokoknya uncle mau pulang" final John tidak mau tahu, "kalian main sama uncle Alex sama papih Seno saja" ucapnya lalu berlari memasuki mobil
Dan berhasil kabur! Meninggalkan Alex sama Alex yang saling memandang.
"serbuuuuuu" pekik Reyka, Sena dan Sean dengan alat make up nya masing masing lalu mengejar kedua pria paruh baya yang sudah pontang panting berlarian kesana kemari
__ADS_1
Menyisakan Sumi, Andi, Santy dan Sania yang tertawa terbahak-bahak.
"suami kakak lucu deh"