Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 62


__ADS_3

Akhirnyaaa aku update, setelah sekian purnama. Haha berlebihan. Kalau gak ada gangguan, nanti sore aku update lagi ya... ✌️


~~


Semua masalah sudah selesai menurut pandangan Seno. Hanya tersisa satu remahan saja. Kenapa remahan? Karena sekali sentil saja menurut Seno segala hal milik laki-laki itu bisa binasa.


Alex.


Laki-laki yang sudah menyakiti Sean kala itu. Menyakiti Sean sama saja Alex sudah mengibarkan bendera perang pada Seno.


Bukankah mudah? Menemui Alex, kemudian mengancamnya hingga laki-laki itu ketakutan. Bahkan bisa menggusur perusahaan Alex dengan kerja sama tipu daya-nya.


"mas jangan didepan laptop terus dong" Seno terhenyak


Bayang-bayang impiannya lenyap begitu saja. Sudah sejak lama Seno mengundang Alex untuk datang keperusahaan nya. Tapi apa daya, laki-laki itu tidak pernah memenuhi undangan.


"masih ada urusan yang harus mas kerjakan" Seno menggeletakkan wajahnya dilengan perempuan itu, "mas butuh di-cas nih?"


"Hah?"


Seno hanya menggumam pelan, bingung harus merespon bagaimana. Seno menutup laptop nya lalu semakin menenggelamkan diri dilengan Sania.


Istrinya ini terlalu polos untuk mengerti perkataan nya! Padahal kan ia ingin dipeluk, dikecup bahkan ---. Aduh, membayangkan nya saja sudah membuat laki-laki itu tersenyum sendiri. Tidak lupa dengan wajahnya yang memerah karena membayangkan hal yang tidak-tidak!


"sudah lah, mas marah!" perkataan Seno berbanding terbalik dengan perbuatannya yang malah menarik Sania hingga jatuh kepangkuan laki-laki itu


"mas apaan sih, nanti Sean masuk"


"enggak! Dia lagi tidur" dusta Seno


Tidur dari mana. Sudah jelas-jelas jam masih menunjukkan pukul 7 malam. Suatu mukjizat jika Sean mau tidur jam segitu. Untuk tidur jam sepuluh malam saja, Sania sudah bersyukur banget. Maka dari itu, bapak dari anak itu suka menggerutu kesal. Merasa waktu malamnya dirampas oleh Sean.


"ck, apaan sih mas. Lagian tumben banget sih kamu manja-manja sama aku. Lagi ada masalah?"


"ini Alex. Bagai ditelan bumi, gak pernah muncul-muncul lagi itu orang"


"tapi kan ---


Seno menyela," bangsat banget ya tuh orang. Berani berbuat tapi gak berani mendapat balasannya. Laki-laki pengecut dasar"gerutu Seno membuat Sania geleng-geleng kecil


"gak baik ngomong kasar ih!" Sania melayangkan kecupan pada Seno berulang kali


Mood buruk Seno kian membaik. Bukan lagi Sania yang mengendalikan tubuhnya, ia sudah membalikkan keadaan. Nafasnya semakin memburu.


"Pipih!"


Shit... Memang lagi dan lagi anaknya yang terus mengganggu ia. Bodo amat kali ini Seno akan menulikan diri.

__ADS_1


"mas ada Sean didepan" seru Sania


Tapi Seno tidak perduli. Ia semakin menenggelamkan wajah diceruk Sania dan dihisapnya dengan lembut namun penuh dengan gairah.


"mas!"


"pih.... Pih... Pih... Pipih...." Arghhhh, Seno mendesah kasar.


Anaknya ini memang harus diungsikan secepat mungkin.


Tanpa membuka pintu, kini pintu sudah terbuka menampilkan Sean yang memegang sebuah gelas dengan Reyka yang masih berjinjit mencapai kenop pintu. Sepertinya hilangnya suara Sean sebentar, ternyata untuk meminta bantuan pada Reyka. Anak yang diam dan menurut saja semenjak kejadian itu.


"ada apa sih, anakku sayang" tanya Seno penuh penekanan


Yang ditanya-tanya malah tersenyum tidak jelas lalu menggelendot manja dilengan sang mamih, membuat laki-laki yang sedang menahan gairah itu melotot marah.


"pipih malah-malah aja!" Reyka terkekeh mendengar tuturan Sean, "benel kan ka!" Sean meminta perlindungan Reyka


Seno mangut-mangut, entah harus bereaksi seperti apa. Dirinya tidak mungkin marah kan didepan Sean yang berusaha melucu?


"kata ibu Ajeng, pipih sama mamih dak boleh dibialin didayem Kamal. Ntal eyan punya adek lagi! Kan eyan gak mau punya adek"


"kenapa gak mau punya adek? Sedangkan temen-temen kamu pada pengen tuh punya adek yang banyak. Kan kalau kamu mau adek yang banyak juga, ayah tinggal bikinin" Ucap Seno penuh ngawur


Sean yang selalu diam dirumah, mana mungkin punya teman. Salah satu teman paling dekat ya Reyka. Reyka-pun sudah dianggap sebagai kakak bukan temannya.


Omong-omong tentang Reyka, bapak dari anak itu alias Alex sama sekali tidak pernah mencari keberadaan nya. Selayaknya orang tua yang baik, bukankah seharusnya Alex segera mencari keberadaan anaknya begitu Karin dimutasi dirumah sakit jiwa.


Sania memandang lirih. Perkataan yang terlontar dari mulut mungil Sean tak ayal sedikit menyentil relung hatinya. Padahal Sania sangat menginginkan anak yang ia kandung sendiri.


Walaupun sampai saat ini Allah belum memberikan kesempatan padanya.


"mih, jangan sedih" Reyka menggengam erat lengan Sean


Biarpun masih kecil, pemikiran anak laki-laki itu sudah dewasa. Beberapa kejadian yang terjadi tepat didepan matanya seakan membuka paksa keadaan yang sebenarnya disekitar Reyka.


Bahkan, Reyka mencoba menyambung segala hal yang dilihatnya. Dan mendapati inti, bahwa dirinya merupakan anak diluar hasil pernikahan, dengan sang bunda yang sudah tega meninggalkan orang yang kini dipanggil nya dengan sebutan pipih.


Karena itu pula, Reyka seakan tidak enak jika sudah berada dihadapan Seno. Karena dirinya paham, karena adanya ia. Reyka sudah menyakiti orang banyak.


Tanpa mereka sadari, pemikiran Reyka sudah jauh lebih dewasa dibandingkan anak seumuran-nya.


Sania balik menggengam lengan Reyka dengan lembut dan tersenyum paksa, "mamih gak sedih ko. Mamih yang harusnya bilang gitu, kamu gak boleh sedih" Ucap Sania diakhiri jawilan dihidung mancung Reyka


"iya mih"


...~§~...

__ADS_1


Seperti malam-malam sebelumnya, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi tidak ada tanda-tanda Sean dan Reyka akan terlelap.


Padahal Seno sudah wanti-wanti sejak jam tujuh malam agar mereka tidur cepat. Kan Seno ingin melampiaskan hasratnya pada Sania yang sempat tertunda tadi siang karena ulah anaknya sendiri.


Argh....


Rambutnya sudah acak-acakan akibat remasan yang entah sudah berapa kali berulang. Menunggu anaknya tidur sama saja menunggu orang yang disayang peka. Sukar untuk dinanti.


"nak tidur yuk" pinta Seno pada Sean


Sean menggeleng kuat, "aku mau tidur baleng mamih sama pipih. Boleh kan?"


"boleh ko sayang" belum sempat menolak, Seno dikejutkan dengan jawaban Sania


"tapi, yang" Seno menoleh lemah dan mendapat gelengan dari Sania


Apa-apaan nih! Sebagai rakyat Indonesia, ia memiliki hak untuk berpendapat. Tapi kenapa kalau dirumah, ia tidak bisa menggunakan hak tersebut?


"tuh boyeh. Kenapa pipih malah-malah sama eyan mulu sih"


"siapa yang marah nak. Pipih gak ada tuh marah sama kamu. Sudah ah, pipih mau kerja dulu"


"gak mau istirahat?" tanya Sania


"gak"


Kepergian Sania mengundang gelak tawa antara Sean dan Reyka. Sangat lucu melihat marah yang dilontarkan Seno. Marah hanya untuk gertakan bukan marah yang sebenarnya.


"kalian ini bener-bener deh" Sania geleng-geleng ampun melihat tingkah jahil anaknya


"lagian pipih kalau marah lucu deh" Ucap Reyka tiba-tiba


"iya pipih kamu memang lucu kalau lagi marah" setuju Sania lalu merapihkan tempat tidur untuk mereka berempat


"tapi pipih Seno, bukan pipih kandung aku" jawab Reyka


"eh bukan gitu ko" Sania kelimpungan sendiri dibuatnya, "mau gimanapun kamu tetap anak pipih ko"


Reyka menggeleng dan tersenyum kecut. Ia sadar akan keberadaan nya. Kemudian ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut bercorak kartun.


"tetap saja. BEDA" ujarnya sedikit berbisik lalu mulai terisak pelan, tanpa ada yang mendengar nya


Sania jadi serba salah sendiri dibuatnya. Berusaha menenangkan diri, ia meminta Sean untuk ikut membaringkan diri disamping Reyka dan mulai memejamkan mata. Tentu saja dengan sedikit rengekan terlebih dahulu.


Sebelum menghampiri Seno, Sania sedikit memberi celah pada selimut yang Reyka kenakan. Lalu mencium keningnya pelan.


"jangan bicara seperti itu, mamih sedih denger nya. Kamu dan Sean sama-sama anak mamih dan pipih. Gak ada yang beda sama sekali"

__ADS_1


Tanpa sadar Reyka semakin terisak didalam sana. Seakan paham perkataannya sudah menyakiti orang yang telah merawatnya itu.


"maafin Reyka mih"


__ADS_2