Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 58


__ADS_3

John bingung, entah harus tertawa atau bersyukur. Tertawa karena Karin tidak berbakat menjadi seorang penjahat. Lihat saja perempuan itu hanya membawa Sania beserta tuan mudanya ke apartemen yang dulu sempat ditempati Karin semasa kuliah. Disisi lain, bersyukur karena kebodohan Karin membuat pria itu gampang sekali menemukan keberadaan mereka saat ini.


John hanya berharap, mereka belum telat untuk menyelamatkan mereka.


...~§~...


Sania mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya terasa pening begitu cahaya lampu tepat menyorot wajah perempuan itu.


Shhhh....


Tangannya tidak bisa digerakkan. Seorang yang memiliki riwayat darah rendah membuat Sania kesulitan untuk fokus melihat sekitar, ia hanya bisa kegelapan digantikan dengan cahaya yang begitu terang. Begitu saja terus berulang kali.


Setelah mulai menguasai diri, Sania dikejutkan dengan kedua lengannya yang diikat kebelakang kursi. Dan tubuhnya yang terikat kencang disebuah kursi. Jangan lupa ruangan yang terlihat mencekam.


Sudah berapa jam aku tidak sadarkan diri?


Sebenarnya ia sangat panik. Rasanya ia ingin cepat-cepat berteriak minta tolong kalau tidak ingat Sean dan Reyka.


Oh iya, dimana kedua anak itu berada? Apa mereka baik-baik saja?


Maafkan mamih, karena mamih kalian harus masuk dalam permasalahan ini.


Sean dimana kamu nak!


Ruangan yang sangat tidak familiar, membuat Sania sedikit bertanya-tanya. Tapi sekarang bukan waktunya untuk itu!


Saat ini, Sania berusaha membuka ikatan dilengan-- nya. Walaupun sebenarnya tidak mungkin. Bukannya terbuka, perbuatan Sania malah menimbulkan bunyi yang cukup kencang akibat gesekan kursi dan lantai marmer itu.


Krek... Krek... Krek...


Bunyi tersebut membuat orang yang sudah menunggu sejak tadi langsung membanting pintu dan terbukalah lebar-lebar. Menampilkan Karin dengan senyuman khas-nya.


"hai Sania? Bagaimana kabar kamu sekarang?" dengan santai Karin tiba-tiba datang dan duduk persis dihadapan Sania tidak lupa sambil menyeruput secangkir teh


Tidak ada rasa takut ataupun bersalah sama sekali.


"kenapa mba melakukan ini semua?" tangis Sania pecah


Sejak dirumah perempuan itu sudah menahan nangis. Sania hanya tidak mau menangis dihadapan anak-anak dan membuat mereka semakin ketakutan.


ANAK-ANAK!


"mba dimana Sean!!" Seru Sania tiba-tiba. Pandangan nya terus mengedar melihat keseluruh ruangan. Tapi nihil, tidak ada siapapun diruangan ini. Kecuali Sania dan juga Karin yang masih sempat-sempatnya menyeruput teh


"gak usah khawatirin mereka. Mereka aman bersama aku"


"gak-gak bisa gitu. Mereka tidak akan aman jika terus bersama kamu"

__ADS_1


Brugh...


Sania mendesis begitu kursi tempat ia diikat menjadi objek kemarahan Karin. Karin mendekat dan menginjakkan high-heels nya ke kaki Sania sebelah kanan. Dicengkram-nya wajah Sania.


Sakitnya bukan main.


Sania yakin, kakinya sudah berdarah-darah saat ini. Bayangkan high-heels setinggi 13 cm menghujam telapak kaki Sania.


"mba sa--- sakit" sahut Sania dengan wajah yang masih dicengkram


"sakit? Hooh, ini yang gue rasain kemarin dan kemarin nya. Jadi gak papa dong kalau sekarang kita gantian. Lu yang ngerasain sakit, gue yang bahagia"


Karin tertawa kencang. Setelah puas, Karin menjauhi Sania. Tidak lupa setelah menyela kedua lengannya, seakan Sania adalah kuman yang harus dibereskan.


"mba jahat! Mba tidak tahu terima kasih! Apa ini balasan yang Sania dapat setelah Sania membela mba sedemikian rupa"


"kau hanya pura-pura baik sama sayaa" Karin menjerit, "tapi dibalik itu semua. Lu tertawa melihat kesengsaraan gue. Bener kan!"


Sania menggeleng cepat, "mana ada. Mba sendiri yang bilang, didunia ini mba hanya sendiri. Tanpa siapapun. Benar-benar sendiri. Jadi Sania salah gitu kalau berniat ingin menemani mba. Bukan sebagai musuh tapi sebagai sahabat"


"kau bohong" lanjut Karin setelah terdiam lumayan lama


"dari sisi mananya, aku menertawakan kesengsaraan mba? Kalau aku suka melihat mba sengsara, untuk apa Sania memaksa mas Seno untuk dikasih tempat tinggal bahkan pekerjaan untuk mba. Untuk apa Sania memohon-mohon sama mas Seno agar mba bisa tinggal dirumah. Untuk apa Sania memaksa agar suami mba mendapat ganjaran nya lewat mas Alex. Untuk apa mba" tangis Sania


Karin terdiam. Pandangan nya tertuju tak tentu arah. Tangannya tak bisa diam. Gelisah.


"tidak-tidak, Sania bukan tipe yang harus mendapat imbalan kalau membantu orang lain. Sania gak segila hormat itu"


Karin mulai terisak dan berjongkok. Wajahnya langsung ditelungkup pada celah dikedua kakinya. Tangannya saling tertaut dan dimainkan kuku nya secara abstrak.


"Sania terima kalau mba menuduh Sania seperti apa. Sania juga mempersilahkan mba memandang Sania seperti apa. Tapi gak gini caranya mba. Mba orang baik. Gak sebaiknya mba berbuat jahat seperti ini"


"tapi kamu jahat"


Suara Karin kembali. Panggilan saya-anda dan lu-gue, sudah berubah kembali menjadi aku-kamu. Entah Sania sempat bingung.


Perbuatan Karin sebelumnya seperti bukan Karin. Semuanya berbeda. Sania merasa seperti itu. Walaupun mereka orang yang sama. Tapi Sania merasa yang memperlakukan nya dengan butik seperti tadi bukanlah Karin yang sebenarnya.


Karin tidak memiliki raut dingin seperti itu. Karin tidak pernah berteriak sekencang dengan suara dingin seperti itu. Mereka sangat berbeda.


Tapi Sania tidak paham.


"jahatnya kenapa? Silahkan mba bicara dari relung hati. Sania akan terima semua tuduhan mba, kalau memang Sania melakukannya"


"kamu mengambil suami dan anakku. Mas Seno dan Sean ku. Mereka berdua milikku. Hanya untukku dan bukan untuk siapapun" tegas Karin


"mba lupa?" Karin menoleh dengan tatapan sendu

__ADS_1


"mba sendiri yang menginginkan perceraian dengan mas Seno demi Alex. Mba sendiri yang sangat senang akibat perceraian ini. Dengan sengaja mba membuat mas Seno sakit hati, memperlakukan mas Seno layaknya suami Sania tidak terlihat. Mba melakukan semua itu semata-mata ingin bercerai dengan mas Seno. Tapi apa? Sekarang mba masih menganggap mas Seno suami mbak?"


"Sean ya. Mba sendiri yang menelantarkan Sean. Tidak ada yang mengurus Sean. Hanya aku yang mengurusnya sejak bayi. Tanpa kedua orang tuanya yang mendampingi Sean. Wajar dong kalau Sean lebih menganggap aku mamih nya ketimbang mba yang sama sekali tidak pernah merawat Sean" lanjut Sania membuat Karin semakin terisak kencang


"semuanya mba yang memulai, tapi kenapa sekarang seolah-olah aku yang bersalah. Padahal Sania dipaksa. Dipaksa keadaan untuk menggantikan peran mba selama ini"


"maksud kamu?"


Brak.....


Sania mengalihkan pandangan dan mendapati Seno dan juga John membuka pintu dengan kasar dan menodongkan sebuah pistol. Sania menggeleng kuat seakan berkata jangan macam-macam dengan Karin saat ini.


"jangan mas" sahut Sania yang melihat Karin semakin ketakutan.


Seno mendekat membuat Sania yang menahan ketakutan nya menjadi lega lalu menangis kencang, "mas huaaaa" Seno membuka jas dan menutupi mahkota Sania alias rambut indah yang hanya boleh ia lihat saja


"kenapa kau lakukan ini semuaaaa" pekik Seno setelah membalut kepala Sania dengan jas-nya, "jangan harap kali ini kau bisa bebas. Bermain-main denganku sama saja kau mengorbankan nyawa"


John sudah bersiap didepan pintu. Jaga-jaga jika perempuan yang sampai saat ini terus histeris seraya mengacak-acak rambutnya tidak lepas diri dan memberontak keluar.


"tidak.... Tidak.... Aku tidak bersalah.... Aku tidak bersalah..."


"mas?" Seno mengendikkan bahu lalu berjongkok didepan Sania


Seakan menulikan dari keadaan sekitar, Seno tetap berfokus memerhatikan kaki Sania dengan darah yang mulai mengering.


Krekkkk.... Kemeja putih yang dikenakan Seno kini sudah tidak utuh, menyisakan kaus putih saja.


"sakit gak?"


Sania meringis lalu mengangguk.


Seno semakin fokus membalut kaki Sania dengan robekan kemejanya. Dilakukannya secara perlahan agar tidak membuat perempuan yang dicintainya semakin merasa kesakitan.


Gerak gerik mereka tak luput dari perhatian Karin. Perempuan itu terpaku. Tangisan dan tawaannya kian menghilang.


Sesaat sebelum, "Aaaaaaa" Karin menjerit sekuat tenaga diikuti dengan lengannya yang terus menyakiti tubuhnya hingga John perlu turun tangan agar Karin tidak sampai kenapa-napa.


"mba!"




Maaf ya baru update. Btw, kayaknya cerita ini kurang gimana gitu menurut aku. Pertama kalinya bikin cerita ada suasana aksi :(


__ADS_1


Maaf ya kalau masih jelek


__ADS_2