Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 85


__ADS_3

Aroma air bercampur tanah khas setelah bercampurnya hujan menjadi favorite Sania sejak dulu. Perempuan itu terus melangkahkan kaki menuju kediaman Daffa sembari sesekali menarik nafas dan menghembuskan-nya kencang-kencang.


Tadi pagi, Sean dan Seno meminta bermain dirumah Daffa dan Daffa juga sangat welcome dengan kedatangan anak-anak.


Reyka sedang bersama Alex.


Rumah besar diantara halaman luas mulai terpampang dari jauh. Sania semakin melangkahkan kaki dengan riang seraya bersenandung kecil. Biasa jiwa-jiwa anak mudanya sedang bersemanyam dalam tubuhnya.


"assalamualaikum tuan" sapa Sania ketika melihat Daffa yang sedang asyik merawat taman bunga peninggalan mendiang Dinda


"eh mau jemput anak-anak ya. Kayaknya lagi main di kolam renang belakang"


"eh iya tuan"


"jangan panggil saya tuan lagi. Lagi pula sekarang kamu sudah balik jadi istri Seno -pengusaha terkenal- gak mungkin dong saya masih mempekerjakan kamu disini"


Daffa terkekeh kemudian menaruh kran air dan menggulung-nya kembali.


"apaan sih tuan! Yang benar saja" sahut Sania mengikuti Daffa yang beranjak memasuki rumah


"bagaimana hubungan kamu dengan Seno-Seno itu?" tanya Daffa


"ya begitu tuan, saya baik-baik saja. Sama seperti sebelumnya" Sania terkekeh, "ada mas Seno atau tidak ternyata tidak terlalu mempengaruhi hidup saya"


"eh ada mamih! Aku mau ambil minum dulu buat Danty"


Bocah 5 tahun itu tiba-tiba berlari dengan pakaian basahnya menuju dapur. Sania dan Daffa menatap lucu kearah Sean yang sudah hilang dibalik papan pembatas ruangan.


Rumah Daffa sudah menjadi rumah kedua bagi Reyka, Sena dan Sean. Awalnya memang terasa canggung. Tapi apa daya keluarga Daffa sangat welcome membuat Sania merasa tidak perlu sungkan lagi.


"kebiasaan anak itu" seru Daffa


"maaf ya tuan, gara-gara Sean rumah tuan jadi basah. Nanti Sania bersihkan sebelum pulang" janji Sania


"bukan-bukan, bukan anak kamu maksud saya. Itu Danty! Kebiassan anak itu selalu menyuruh anak kamu. Biar nanti saya beri pelajaran dia. Tidak sopan sekali" Sahut Daffa yang memang selalu tegas pada anaknya


"namanya juga anak-anak tuan. Tidak apa-apa, selagi Sean masih bisa bantu nona Danty"


"gak bisa gitu. Anak kecil harus dibiasakan menghargai orang lain sejak kecil. Mau jadi apa kalau sejak kecil sudah suruh-suruh orang lain"


"eh tapi, nanti saya omongin sama nona Danty ya tuan. Jangan marah didepan Danty, anak tuan masih trauma sama kejadian terakhir itu" ingat Sania


Daffa ber-oh ria. Lalu kembali diam, Sania memang bisa membuat ia diam tak berkutik.


"misi... Misi.... Misi..." Sean lewat membuat Sania dan Daffa tertawa melihat tingkah lucu Sean


Daffa membuka pintu kaca untuk Sean dan masuk diikuti Sania. Angin segar langsung menyergap tubuh kedua orang tua itu.

__ADS_1


Sania dan Daffa memilih duduk dipinggiran kolam seraya memasukkan kakinya kedalam air kolam.


"tuan, Sania mau tanya semua hutang yang sania punya sama tuan. Dari uang kelahiran Sena sampai uang rawat Sena beberapa waktu yang lalu"


"bukankah saya udah bilang, saya ikhlas melakukan ini semua. Kamu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Jadi, tidak usah sungkan dengan saya"


"tapi tuan--


"tidak apa-apa. Dinda sempat hamil di umur yang masih belia tapi ia keguguran menyebabkan sulit memiliki anak sampai adanya Danty. Kalau saja anak pertama saya masih hidup, mungkin sekarang seumuran sama kamu" Daffa menatap langit kelabu, "tapi dia udah hidup bahagia bersama istri saya diatas sana"


"er... Tuan baik-baik aja?" Sania membalik, "aku gak mau liat ayah sedih kayak gini"


"eh?" spontan Daffa memeluk Sania erat, "anak ayah. Mulai sekarang kamu jadi anak ayah. Gak boleh ada yang menyakiti kamu selain ayah"


"iya ayah" perasaan campur aduk meliputi hati Sania.


Bahagia rasanya mendapat sesosok ayah yang peduli padanya. Ah, Sania jadi rindu orang tua kandungnya. Bagiamana kabar mereka? Apa mereka tetap bahagia walaupun Sania tidak pernah mengabari mereka?


Daffa menopang bahu Sania, "kamu kenapa?"


"ah enggak, hanya ingat orang tua dikampung saja"


"oalaa. Terima kasih ya nak, sudah mau menganggap saya sebagai ayah kamu. Benar-benar kejutan dihari kelabu ini"


"aku yang makasih sama ayah, karena udah mau anggap orang lain ini sebagai anak ayah. Anak seorang tuan Daffa yang terkenal itu" canda Sania diakhir ucapan-nya


"ah kamu bisa saja"


"baik, terima kasih. Oh iya saya minta tolong bawa anak-anak kekamar mereka. Mereka sudah terlalu lama dikolam renang" Pinta Daffa


Setelah menyampaikan amanat, Daffa langsung beranjak setelah mengeringkan kedua kakinya diikuti oleh Sania.


"mamih... Reyka rindu mamih" Reyka memeluk perempuan itu


Sania memeluk balik, "kamu kesini sama siapa?"


"sama papih. Tuh papih lagi didepan" Reyka melepas ransel dan diberikannya pada Sania, "paman aku mau kekamar yang lain dulu ya" izin Reyka yang diangguki Daffa


Daffa dan Sania kembali melangkahkan kaki kedepan pintu menuju halaman depan. Terlihat Seno sedang duduk dikursi kayu jati dengan netra tertuju pada ponsel.


"duh mantu sibuk banget"


"eh?" Sania langsung mengisyaratkan Seno untuk salim pada Daffa, "eh iya tuan, maaf saya tiba-tiba datang"


"tidak apa-apa, sudah tugas seorang suami untuk menjemput istri dan membawanya kembali kehunian kalian. Kalian akan tinggal bersama lagi kan?"


"iya" ---- "enggak"

__ADS_1


"loh?" Daffa memandang bergantian pasangan yang saling menatap kesal, "coba Sania, kenapa kamu gak mau tinggal bersama dengan suami kamu lagi?"


"ya gitu" jawabnya ambigu seraya menunduk dan memainkan kakinya, entah kenapa tiba-tiba ia merasa gugup


"Allah saja maha memaafkan masa kamu yang hanya umatnya tidak mau memaafkan sesama makhluk Tuhan. Apalagi kamu seorang istri, tugas seorang istri itu menuruti suami-nya. Bahkan ada hadist-nya loh"


"tapi---


"maksud Seno baik sama kamu. Kamu hanya ketakutan semua akan terulang kembali kan?" Sania mengangguk, "ayah janji kalau Seno kembali seperti dulu lagi, ayah akan memberikan hadiah pada laki-laki itu"


Seno bergidik ngeri. Hadiah sih hadiah, tapi kenapa Daffa membicarakan sebuah 'hadiah' sembari tersenyum misterius. Bikin takut saja.


"lagi pula ayah lihat Seno tulus sama kamu. Lupakan masa lalu, kalian jalanin masa depan. Buat masa depan kalian sedari dengan menjadikan hal-hal kecil menjadi sesuatu yang besar dan bikin keluarga kalian bahagia"


Sania dan Seno saling memandang. Seakan mendapat nasihat yang sangat memuaskan. Mereka mengangguk puas.


"terima kasih yah, maaf Sania selalu ngerepotin ayah" paham Seno bingung Sania langsung menepuk bahu Daffa pelan, "kenalin ayah Sania. Ayah angkat yang udah Sania anggap seperti ayah kandung sendiri"


"oh iya, salam kenal ayah mertua" Seno langsung menunduk sopan


"hahaha, kenapa jadi gugup sperti itu. Santai saja, saya akan bersikap sesuai kalian menyikapi diri kalian dihadapan saya. Saya akan baik kalau kalian baik, dan saya akan lebih jahat jika kalian juga jahat pada saya ataupun pada keluarga saya"


Seno mengangguk paham dan mengucapkan berulang terima kasih karena sudah merawat Sania selama ini.


"ayah saya izin bawa Sania sama anak-anak pulang kerumah saya" izin Seno


Daffa mengangguk maklum, "memang seharusnya seperti itu. Tapi kalian jangan sampai melupakan ayah ya"


Sania memeluk pria paruh baya itu. Baru saja ia merasakan kasih sayang seorang ayah kini ia harus berpisah kembali, "Sania gak mungkin melupakan ayah. Makasih banyak karena sudah membuat hari-hari Sania penuh warna karena adanya ayah Daffa sama bunda Dinda"


Daffa merasa tersentuh dengan ucapan Sania. Tanpa mereka sadari pria tua itu menyeka ujung matanya, "sudah ah kenapa jadi mellow gini. Kayak mau perpisahan lama saja. Pokoknya ayah gak mau kamu sampai hilang kabar setelah ini. Setiap hari harus terus kasih kabar sama ayah, tiap minggu harus datang kesini. Pasti rumah ini sangat sepi tanpa keberadaan kamu, nak"


"huu ayah, Sania jadi terharu" sahutnya tersenyum sedih, "ayah merupakan orang terbaik yang pernah Sania kenal melebihi bapak kandung Sania sendiri"


"sudah-sudah, nanti ayah nangis kalau suasana nya seperti ini terus. Kalian ingin pulang kan? Pasti masih banyak urusan yang harus kalian kerjakan"


Seno langsung berdiri, "oh iya, kami pamit terlebih dahulu ya yah. Anak-anak salim sama ayah Daffa"


Reyka, Sena dan Sean yang sudah kembali dengan pakaian baru-nya. Mereka bertiga berebutan salim pada Daffa membuat laki-laki itu tertawa.


"kami pulang dulu ya yah. Salam buat Danty" ucap Sania yang memang Danty langsung tertidur setelah bersih-bersih diri


"waalaikumsallam. Hati-hati nak" Daffa melambaikan tangan


Setelah mereka semua sudah siap duduk dikursi kendaraan, mereka melambai balik pada Daffa. Kemudian beranjak meninggalkan kediaman yang hampir dua tahun menjadi tempat Sania mengadu.


"mas nanti kita kesini lagi ya" Pinta Sania

__ADS_1


"iya sayang, apa sih yang enggak buat kamu"


"gombal!"


__ADS_2