
Aku sempetin update nih, maaf kalau kurang dapet feel nya.
Happy Reading ~~~
Tak ada jawaban yang didapat laki-laki itu. Umay sedikit membiarkan Sania bersedih terlebih dahulu. Ia paham rasanya, mungkin jika ia berasa diposisi Sania, ia akan teriak sepuasnya.
Siapa sih yang tidak sakit hati saat suami sendiri tiba-tiba pergi begitu saja karena ulah mantan istri dan menghiraukan kita sebagai istri sah-nya. Seakan tidak dianggap dan tidak dilihat keberadaannya.
Umay berjongkok dihadapan Sania, lalu mengeluarkan ponsel untuk memainkan nya sejenak.
Sesekali Umay melirik Sania yang sedang menggendong Sean sembari menunduk sedih. Perempuan itu memainkan kakinya dan menendang-nendang kecil kerikil yang berhamburan.
"sini biar saya yang bawa Sean"
Sania mengangguk lalu mengalihkan tubuh Sean yang sudah terlelap begitu saja setelah sejak tadi menguyel-uyel pipi Sania, seakan tidak paham kesedihan perempuan itu.
"sudah tidak usah difikirkan, perempuan iblis kayak Karin mah jangan ditanggepin. Senang sendiri dia kalau kita tanggepin" ujar Umay
Sania mengangguk lalu kembali terdiam. Helaan nafas kembali terdengar, dipendengaran laki-laki itu.
Umay sudah diambang batas! Bukan, bukan karena ia marah pada Sania. Ia hanya jengah saja, karena tubuhnya menjadi santapan para nyamuk malam.
Bayangkan saja ia merawat tubuh hingga mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Yang seharusnya untuk dinikmati para perempuan disana tetapi semuanya ambyar saat para nyamuk dengan santainya menodai tubuh indahnya.
"San! Pulang sekarang yuk" ajaknya tidak tahan lagi, lengannya yang menopang tubuh gempal Sean pun mulai terasa kebas
Sania menepuk keningnya, "oh iya, sebelumya perkenalkan namaku Sania. Aku istri mas Seno, tetapi aku dulu hanyalah seorang pengasuh dikeluarga tersebut. Ada suatu masalah yang membuat kami terpaksa untuk menikah"
Umay mengangguk paham, "ih iya, perkenalkan juga nama saya Umay. Saya sahabat dekat sekaligus rekan bisnis suamimu"
Sania mengangguk sopan, "salam kenal ka Umay"
"salam kenal juga" sahutnya, "kamu mau pulang sekarang?" tanya laki-laki itu berulang kali
Perempuan itu merogoh tas nya, "Sania gak bawa dompet, jadi gak tau mau pulang sama siapa? Paling Sania tunggu disini aja, sampai nas Seno ingat Sania dan Sean"
Umay menepuk keningnya, "terus untuk apa dari tadi saya disini?! Saya yang akan mengantar kamu pulang sekarang juga!" Ucap Umay dengan geregetan
__ADS_1
"gak papa nih? Gak ngerepotin?" Umay menggeleng lalu membuka mobil dan menaruh Sean dikursi khusus untuk bayi dibagian tengah mobil
"kakak punya kursi untuk anak kecil di mobil? Kakak sudah nikah?"
"boro-boro nikah, itu kursi memang sengaja saya pasang untuk Sean. Entah sejak anak ini lahir saya sayang banget sama dia" ujarnya seraya melirik Sean yang masih pulas tertidur
"pulang sekarang?"
"iya ka"
...~§~...
Sania mengucapkan terima kasih begitu meraka sampai dengan selamat dikediaman Seno. Mobil Seno terparkir rapih dihalaman rumah, menandakan laki-laki itu ada didalam rumah.
Entah Sania harus sedih atau bahagia, bahagia karena Seno tidak menghabiskan malamnya dengan sia-sia diclub. Tetapi disisi lain ia juga sedih, mengapa ia dan Sean tidak diajak pulang bersama jika memang laki-laki itu hanya ingin cepat-cepat pulang kerumah.
Setidak kelihatan itukah keberadaan dirinya?
Luar rumah memang terlihat terang benderang. Tetapi begitu ia masuk, keadaan rumah benar-benar gelap gulita. Hanya terlihat sedikit cahaya itupun karena pantulan sinar bulan.
Setelah menidurkan Sean, Sania kembali kekamar dirinya untuk membersihkan diri sebelum mencari dan melihat keadaan Seno saat ini.
Satu jam kemudian,
Perempuan itu sudah selesai memasak sup hangat untuk Seno dan membersihkan diri. Ia membawa nampan berisikan sup tersebut kekamar Seno yang terletak dilantai dua.
Sania mengetuk pelan sebelum memasuki kamar tersebut. Keadaan kamar sama seperti keadaan rumah seperti saat perempuan itu pertama masuk, alias gelap gulita.
Ia menaruh nampan diatas meja lalu menyalakan saklar lampu.
Sania hampir melompat saat melihat pecahan kaca dari bingkai foto pernikahan Seno dan Karin tepat berada didepan kakinya. Ceceran darah juga didapati disekitar nya.
Kamar Seno sudah seperti kamar yang ditinggalkan pemiliknya hampir satu bulan. Dengan kata lain sangat berantakan! Lihat saja tirai yang terbuka lebar, membiarkan angin malam dan para nyamuk berkeliaran. Selimut yang tergulung, baju-baju yang berserakan.
Tapi dari semua itu, Sania tidak menemukan keberadaan orang yang dicari nya sedari tadi.
"gak mungkin kan mas Seno ke club? Kan mobilnya saja terparkir indah dihalaman rumah" retoris Sania
__ADS_1
Sania kembali membawa nampan tersebut, lalu keluar dari kamar Seno. Saat ingin kembali turun, matanya tak sengaja melihat kamar yang dulunya milik Karin terbuka lebar.
Ia memasuki kamar tersebut, beda seperti ruangan lainnya. Kamar ini terlihat sangat terang benderang, semua lampunya dinyalakan.
Sania meredupkan salah satu lampu lalu melihat Seno yang meringkuk manja dengan memeluk foto Karin yang terlihat tersenyum bahagia.
Sania memukul dadanya berulang kali setelah menaruh nampan tersebut. Ia duduk dibalik pintu kamar yang sudah tertutup. Entah kenapa rasanya sangat nyesak.
Kenapa? Kenapa hidupku tidak pernah bahagia sejak dulu.
Berulang kali Sania memukul dadanya seraya berteriak tanpa suara. Hal tersebut sering dilakukan sejak dulu, tanpa diketahui siapapun termasuk kedua orang tua nya.
Sejak SMP ia sudah dituntut untuk membantu mencari uang untuk menyekolahkan Santy kesekolah yang mahal. Masa-masa sekolahnya, ia dedikasi kan pada orang tua juga adiknya.
Tidak, ia tidak pamrih. Hanya saja---
Dulu, perempuan itu sering berdo'a agar waktu cepat berlalu. Agar dengan tenang ia bisa meninggalkan rumah untuk kerja diluar kota.
Akhirnya, kebahagiaan itu datang. Waktu yang selama ini perempuan remaja itu inginkan, akhirnya tiba. Dengan semangat ia meminta untuk mencari pekerjaan keluar kota dengan dalih agar bisa memberikan uang setiap bulannya kepada Sumi dan juga Andi.
Mungkin beberapa bulan, Sania bisa mendapatkan kebahagiaan nya. Tapi apa, tidak lama ia kembali mendapat musibah. Keperawanan yang selama ini ia juga direnggut dengan paksa oleh sang tuan rumah.
Tapi, tidak apa-apa. Sania sudah biasa merasa sedih. Akhirnya karena kejadian tersebut, Sania kembali kekampung. Tetapi apa! Dia mendapat suatu kejutan yang tidak pernah ia fikir kan selama ini. Santy menikah dengan pacarnya.
Tetapi, dengan gentle-nya Seno kembali datang untuk meminang dirinya. Sekali lagi ia terpaksa mengikuti alur kehidupan. Paksaan Sumi membuat Sania harus terpaksa menikahi Sania.
'aku ingin saat besar, bisa bertemu dengan pangeran. Aku ingin merasakan dicintai, aku juga ingin merasa dijaga sama pangeran itu. Aku ingin menikah dengan pria yang baik seperti pangeran!'
Sania ingat sekali perkataan nya waktu kecil. Tapi sepertinya takdir kembali mempermainkan dirinya. Saat ini, belum waktunya perempuan itu merasa dicintai ataupun merasa dijaga.
Tetapi, semakin bertumbuh nya usia. Sania sadar, semua angan-nya hanyalah angan semata. Mendapat suami yang masih mencintai mantan istrinya, benar-benar membuatnya sedikit merasa terpuruk.
Kini Sania hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada kebahagiaan nya. Yang entah akan datang atau tidak.
Sania menarik nafas perlahan, tubuhnya terasa lebih tenang. Ia menggegam erat lengannya.
"mas?"
__ADS_1