Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Ending


__ADS_3

Potret lima belas tahun lalu terpampang diruang utama. Seluruh mansion hampir dipenuhi foto keluarga terutama Sania.


Begitu pintu mansion terbuka, dapat dilihat foto besar keluarga. Kebahagiaan yang terlihat didalam foto berbanding terbalik dengan keadaan laki-laki paruh baya yang sedang menyeruput kopi dan memandang suram foto itu.


"pih?" laki-laki berusia 22 tahun membuka pintu dan menatap pria itu yang tersenyum sendu


"papih baik-baik saja kan?" laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam itu menyalimi pria paruh baya yang kini menatap sendu


"Reyka habis kesana?" tanya pria itu penuh maksud


Reyka mengangguk. Anak itu tampak berbeda dari dalam foto tersebut. Kini ia sudah tumbuh tinggi, tampan dan menjadi incaran para perempuan lain. Tapi dengan sikap dinginnya, membuat para perempuan itu sedikit sungkan mendekati laki-laki itu.


Jawaban Reyka terhalang oleh kedatangan Sean dan juga kedua adiknya Sena dan Salma yang sama-sama memakai pakaian serba hitam.


Seno tersenyum bahagia, "kalian bahagia sudah bertemu mamih?" tanya Seno diselipi nada rindu yang sangat besar


"ayah tidak datang?"


Seno menarik nafas dalam-dalam, "ayah belum kuat, untuk mendatangi mamih kalian"


"tapi mamih pasti rindu sama papih. Mau sampai kapan papih seperti ini terus? Mamih pasti sedih melihat papih seperti ini dari atas sana" tukas Reyka menyadarkan Seno


Seno bersandar disenderan sofa. Mengusap wajahnya frustasi. Rasa sesak kembali terasa dihatinya. Perasaan bersalah yang selalu terbayang-bayang selama ini.


Ya, Sania sudah meninggal akibat pendarahan yang parah saat melahirkan Salma. Kejadian suram yang tidak akan pernah mereka lupakan.

__ADS_1


Tidak-tidak, mereka tidak pernah menyalahkan Salma. Mereka sangat bahagia begitu bayi mungil tersebut berhasil keluar karena perjuangan Sania. Walaupun perjuangan yang menanti kematian perempuan itu.


"kalian ingin makan siang apa?" tanya Seno mengalihkan pembicaraan


Semenjak Sania meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Seno selalu memposisikan diri sebagai ayah yang baik. Ia mengurus sendiri keempat anaknya tanpa mau meminta pertolongan pengasuh.


Ia sendiri juga yang harus membicarakan perlahan mengenai ketiadaan Sania kepada anak-anak meskipun ia sendiri merasa hancur tiap kali membicarakan hal itu.


Tiga tahun Seno mengatur segalanya. Mengatur perasaannya, mengatur kekecewaan pada diri sendiri yang tidak bisa menjaga Sania, menylahi dirinya. Hingga ia sadar, jika ia tenggelam dalam masa lalu ia akan melewatkan tumbuh kembang anaknya.


Karena laki-laki itu sadar, hanya dirinya lah


"Sean gak mau makan. Sean hanya ingin papih datang ke pusara mamih" Pinta Sean penuh harap


"sampai kapan ayah akan melihat kebelakang? Mamih sudah gak ada! Papih harus tahu itu. Meskipun sangat menyakitkan, tetap saja papih harus hidup" pangkas Reyka


Sementara laki-laki itu pada berdebat. Sena dan Salma memilih menyemili cemilan kacang yang disediakan. Cemilan kesukaan Sania.


Sena yang bersama Sania hanya sampai umur 2 tahun dan Salma yang tidak pernah merasakan keberadaan Sania tidak terlalu merasakan kesedihan yang mendalam.


Mereka memang sedih karena mengetahui orang yang melahirkan mereka sudah tiada. Tetapi kesedihan mereka tidak sedalam ketiga pria yang memang merasakan kehadiran Sania, kala itu.


"kami semua juga sedih yah... Mamih, mamih yang sangat Sean sayangi. Walaupun mamih Sania bukan mamih kandung Sean. Tetapi tetap saja, Sean sangat sedih mendengar kepergian mamih. Tapi apa! Sean bisa bangkit. Karena Sean tahu mamih bisa lihat kami diatas sana. Sean mau buat mamih bangga bukannya hanya diam dan merenungi masa lalu"


Seno terdiam. Dibanding menyelam pada masa lalu, Seno lebih merasakan rasa bersalah yang berlebih pada Sania. Andai saja waktu itu ia berada dirumah, andai saja diakhir-akhir kelahiran Salma ia meluangkan waktu yang berlebih dan meninggalkan kerjaan.

__ADS_1


"papih baik-baik aja kan?" panggil Salma dengan memandang lucu, "papih jangan sedih, adek aja belum pernah ketemu sama mamih gak pernah sedih sama sekali" bohongnya hanya ingin menenangkan Seno


Seno tersenyum seraya mengusap lembut pipi anaknya, "papih gak sedih ko, kehadiran kalian sudah cukup menenangkan papih"


Melihat Sena dan Salma yang semakin tumbuh, membuat Seno merasa kehadiran Sania disekitaran laki-laki itu. Mereka sangat mirip dengan Sania entah itu wajah ataupun pribadi yang hampir 90 persen mirip.


Reyka meringis. Dibanding mereka, laki-laki itu merasa kesedihan Salma merupakan yang paling mendalam. Perempuan itu tidak pernah menemui sosok perempuan yang sangat Reyka hormati itu.


"jangan sedih ya dek" Reyka menarik Salma kepelukan, membuat perempuan itu terisak


Suasana riung tiba-tiba berubah sendu dikediaman Seno. Seno memeluk Sena dan Sean berbarengan. Mereka semua menangis. Menahan rindu pada Sania.


Perempuan yang sangat berarti bagi kehidupan mereka.


"pih mau kan ikut kami ketemu mamih? Pusara mamih terasa sepi tanpa kehadiran papih" bujuk Sena diangguki Salma


Seno terdiam. Tidak mungkin selamanya ia tidak mendatangi Pusara istri tercintanya. Pusara yang terakhir kali ia kunjungi saat istrinya dinyatakan meninggal dunia.


"baiklah!" putus Seno


Semuanya tersenyum bahagia lalu memeluk Seno. Begitu pun Seno yang memeluk keempat anaknya.


"kami sayang papih"


"papih juga"

__ADS_1


__ADS_2