Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 90


__ADS_3

"pokoknya ibu harus datang!" seru Sania tidak menerima penolakan yang Andi dan Sumi lontarkan


"tapi nak---" Andi terdiam melihat Sania cemberut, "kami malu kalau nanti malah mempermalukan kamu dan Seno" lanjut Andi tahu diri


Seperti rencana Seno, ia akan mengadakan pesta tapi tidak sampai 7 hari 7 malam seperti ucapan asalnya bersama Alex. Seno hanya ingin membuat acara seharian penuh dan mengenakan pada orang-orang kalau sebenarnya dia sudah memiliki istri.


Karena semua orang pada salah sangka dan mengira Seno adalah seorang duda, setelah putus dari Karin.


"gak ada kaitannya ibu dan bapak bikin malu kami. Kami malah ngerasa bersalah banget kalau ibu sama bapak gak dateng, di acara ini"


"memangnya acara apa sih ka?" heran Santy yang tiba-tiba datang sembari mencomot gorengan bakwan


"bukan acara penting" sungkan Sania


"bukan acara penting tapi ko pakai acara gede sih" seru Santy, merasa aneh dengan jawaban Sania


"acara kembalinya Sania, sekalian memperingati empat tahun pernikahan kami"


"mas!" Sania menyenggol Seno, memperalat perkataan laki-laki itu


Seperti dugaan, Santy menunduk sedih. Ulang tahun pernikahan Sania dan Seno berarti sama dengan ulang tahun pernikahan Santy dan Kamal. Kan mereka menikah dihari yang sama.


"mas" Ucap Sania dengan lirih, memberi tahu keadaan Santy pada laki-laki itu


"eh.. Maaf, saya tidak sengaja. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya saja" Ucap Seno tanpa rasa bersalah


Santy mengadah menatap langit-langit dapur. Kenapa rasanya sesakit ini saat mengetahui suami selingkuh, tidak main-main dengan tiga orang sekaligus! Apa ini Karma yang harus aku dapat setelah merebut pacar ka Sania?


"San?" panggil Sania menyadarkan santy


Santy gelagapan dibuatnya lalu tertawa. Tawa kosong yang sangat Sania pahami, "anu.. Maaf, tiba-tiba malah kepikiran pekerjaan. Tadi kenapa ka?" alibi Santy


"kamu jadi ikut kan?" tanya Sania antusias, walaupun tahu adiknya baru saja berbohong


"aku sih terserah ibu sama bapak. Seperti kata kakak, aku gak mungkin ninggalin ibu sama bapak gitu saja" jawab Santy kemudian menyanggul rambut-nya untuk membantu Sania dalam mencuci piring


"Saya tidak mau tahu, saya pribadi sudah tidak memiliki orang tua. Jadi saya sangat mengharapkan kalian datang sebagai perwakilan keluarga kami" Seno menginterupsi perbincangan Sania dan Santy


"ibu sih terserah kalian saja"


"bapak juga!" jawab Andi cepat


"ya sudah kalau seperti itu, h-2 sebelum acara saya akan meminta orang suruhan saya untuk menjemput kalian kemari. Dan untuk masalah kemarin saya serius mengucapkan-nya, besok orang suruhan saya juga akan datang kesini dan mulai membangun toko didepan rumah ini lengkap dengan barang yang kalian ingin jualkan" terang Seno


"ya ampun, terima kasih banyak kakak ipar. Maaf jika aku ngerepotin kakak"

__ADS_1


Entah serius atau tidak, Santy menatap kagum pada Seno. Laki-laki itu benar luar biasa. Sania sangat beruntung mendapat suami yang seperti itu.


Tapi kenapa? Seno terlihat sangat cool dimata Santy. Laki-laki yang sangat berwibawa berbeda dengan mantan suaminya yang sangat breng***. Bagaimana kalau aku yang jadi istri mas Seno?


Santy tertawa kecil, kemudian langsung menggeleng cepat begitu sadar. Ia menepuk-nepuk pelan pipinya,


'-sadar, gue gak boleh ngulang kesalahan untuk yang kedua kalinya'


"kamu kenapa?" tanya Andi heran melihat anaknya yang bertingkah sendiri


Santy menjadi salah tingkah dibuatnya, "enggak kenapa-napa, kepikiran suatu hal aja" dustanya


Santy beranjak memasuki kamarnya. Ia butuh waktu sendiri. Untung saja hari ini merupakan hari pekan yang disukai banyak orang. Setidaknya ia tidak perlu kerja dan menghalau niat untuk menatap wajah tampan suami Sania.


Ups... Bukan seperti itu maksudnya! Lebih baik gue istirahat, daripada kefikiran suami orang terus!


"mas" panggil Sania, sedang memangku Sena yang meminta rambutnya untuk dikuncir


"kenapa sayang?" Seno ikut duduk disamping Sania


"papih geser! Sean gak kelihatan" protes Sean saat Seno menghalangi jarak pandang mereka pada televisi yang sedang menyala


"ck! Anak papih udah berani protes" jawab Seno kemudian membawa Sean kepangkuan-nya. Agar tidak terjadi lagi aksi 'protes'


"bukan hal yang serius. Hanya saja, kayaknya belakangan ini aku terlalu memforsir tubuh aku untuk terus kerja. Kerja dalam artian lain loh" peringat Sania


"iya-iya, mas paham" Seno merangkul Sania dan menyenderkan kepala Sania pada dada-nya, "jangan sampai sakit ya, mas gak suka!"


Rumah orang tua Sania memang bukan rumah yang besar seperti rumah Seno. Tetapi tetap saja, rumah dengan luas sekitar tiga ruangan dirumahnya akan menyita energi seseorang yang membersihkan-nya.


Ditambah hanya Sania sendiri yang membersihkan seluruh rumah yang tampak kotor itu. Awalnya, Seno memang marah dengan orang tua Sania ataupun adiknya lantaran tidak membantu Sania sama sekali.


Tapi dengan lembut Sania menggeleng, "mereka tidak pernah melakukan pekerjaan ini semua mas. Maklum saja kalau mereka acuh melihat aku yang sibuk ini itu membersihkan rumah"


Kalimat yang membuat Seno sedikit paham.


"oh iya san, sepertinya nanti sore kita harus pulang" Ucap Seno tiba-tiba


"yeay pulang!" pekik Reyka dengan berbisik, jujur saja dibanding yang lain anak itu yang paling tidak betah berada disini


Mungkin saja, ia yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Sania dan Seno membuat Sumi serta Andi memandang sebelah mata pada anak itu.


Entahlah, Reyka juga tidak paham.


"kamu mau cepet-cepet pulang juga nak?" tanya Sania seraya mengusap lembut kepala Reyka

__ADS_1


Reyka mengangguk cepat, "aku udah kangen sama ayah!" alibi Reyka


"ya sudah kalau kayak gitu, gimana kalau kita pulang sekarang?" Pinta Seno membuat Reyka memekik riang


"gak tiba-tiba banget gitu? Kesannya kayak diburu-buru, takut ibu sama bapak kesinggung"


"mas juga bingung, tapi besok pagi mas ada pertemuan penting. Kalau kita pulang sore yang ada istirahat mas gak cukup" Seno berusaha menjelaskan niat-nya


"ya udah deh kalau gitu, aku mau beres-beres baju dulu"


...~§~...


"kalian benar pulang sekarang nih?" tanya Sumi dengan nada sumbangnya, baru saja ia merasa dekat dengan si sulung kini mereka harus kembali terpisah lagi


Seno membuka bagasi mobil dan mengeluarkan beberapa barang yang memang dibawa untuk keluarga Sania, "maaf ya bu, saya terpaksa pulang. Ada kerjaan yang gak bisa saya tinggalin begitu saja" sahut Seno serba salah


"sudah nak tidak apa-apa, pekerjaan kamu lebih penting" Kata Andi yang tiba-tiba datang dengan membawa kantong plastik berisikan singkong, "kami hanya ada ini dirumah, bapak mohon kalian bawa ya untuk bekal kalian dijalan"


"yeayyyy Singkong. Makasih kakek" seru Sean dan Sena berbarengan serta Reyka yang menunduk sopan, berterima kasih


"Sama-sama sayang"


Spontan Sena dan Sean mengambil plastik itu dan memasuki mobil bagian tengah begitu saja, tentu setelah mereka salim kepada Sumi dan Andi bergantian. Sementara Reyka masih betah berada disamping Seno sedari tadi.


Sania datang setelah membangunkan Santy.


"bu aku sama mas Seno pamit dulu ya. Maaf kalau kedatangan kami malah mengganggu rumah ini" pamit Sania


"gak ada. Gak ada yang ganggu sama sekali, malah ibu seneng kamu datang setelah sekian lama. Sekali lagi maafin ibu ya nak" Sumi memeluk erat Sania, hal pertama yang baru Sania dapatkan setelah selama kecil ia tidak pernah mendapat pelukan hangat seorang ibu


"bapak juga. Maafin kesalahan bapak saat ini" Sania bergantian memeluk Andi walaupun sedikit canggung


"Sania udah maafin semua. Udah ah jangan jadi mellow gini" canda Sania lalu beralih pada Santy, "kamu gak mau peluk kakak" ucapnya sembari merentangkan tangan


Santy balas memeluk Sania, "hati-hati ya ka"


"iya kamu juga hati-hati disini"


Setelah selesai giliran Seno yang memeluk Sumi dan Andi bergantian giliran dihadapan Santy, perempuan itu langsung merentangkan tangan tapi dilewatkan oleh Seno begitu saja.


"kami pamit dulu" Ucap Sania setelah berada didalam mobil


"dadah kakek... Nenek...." Ucap anak-anak setelah mobil sedikit melaju dengan tangan yang dilambaikan


"dadah...."

__ADS_1


__ADS_2