Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 94


__ADS_3

"huahahha... Sumpah gue geli banget sama adik ipar lu" tawa Alex pecah dibalik kemudi


Seno mendengus. "kalau gak lihat Sania, udah gue babat abis tuh orang. Semakin didiemin malah semakin ngelunjak" geram Seno


Santy tetaplah Santy. Sejak dulu Seno tidak menyukai perempuan itu. Terlalu banyak kemunafikan didalamnya.


Seno hanya bisa diam dan akan bertindak jika perempuan itu sudah melewati batas.


"gi**... Secara tidak langsung dia udah berani goda elu didepan sania. Eh dia perempuan yang lu bilang nikahin pacar istri lu bukan?" heran Alex


Jangan heran, laki-laki juga suka ngegosip. Semenjak ditinggal Sania, hampir setiap hari Seno tidak pernah absen menceritakan kebiasaan sampai kesukaan Sania. Bahkan masalah Santy yang menikung Kamal. Semua hal dibicarakan, tentu saja kecuali masalah keluarga.


Jangan anggap John dan Alex akan menanggapi datar perbincangan Seno. Malah yang paling semangat itu kedua pria itu. Bukan, bukan John dan Alex hanya senang menanggapi karena saat Seno bercerita laki-laki itu tampak antusias berbeda dengan wajahnya yang selalu suram.


"hm"


"terus suaminya kemana?" heran Alex


"kabur, selingkuh sampai sama tiga orang" jawab Seno mengingat perbincangan Sania dan kedua mertua nya kala itu


"mamp**" Alex terbahak, "jahat gak sih gue kalau ngetawain perempuan gatel kayak adik ipar lu" ujarnya lalu membelokkan kendaraan kearah perusahaan Seno


Seno turun setelah merapihkan jas, "jangan lupa bawa undangan" titah Seno


Alex segera mengambil sekerdus kecil berisi undangan acara besok di kursi penumpang. Semua sudah rampung terlaksana tinggal pembagian undangan untuk pegawai dikantor yang tersisa.


Sengaja Seno mengundang pegawainya yang tidak bisa dihitung puluhan tetapi ratusan agar pegawai yang selalu memandang centil dirinya tahu dirinya juga sudah memiliki pawang. Termasuk siapa itu?


Cher --- Cher-- Cherokan? Ya serokan, untuk saat ini Seno akan memanggil perempuan itu serokan. Sangat cocok dengan kegunaan nya, sama-sama berakhir ditampungan sampah.


"selamat siang" sapa pegawai begitu Alex dan Seno lewat


Seno mengangguk lalu tersenyum, hal yang tidak pernah ia lakukan.


"jangan lupa adakan rapat sebentar lagi, saya akan menginfokan-nya disana" titah Seno mempertahankan keformalan-nya, mengingat mereka sudah di kantor


Alex mengangguk lalu memutar balik.


"huft..." Seno mengeluarkan kotak cincin dari dalam jas-nya


Diperhatikan cincin yang hanya dimiliki olehnya karena didesain khusus. Seperti itulah Sania, menjadi manusia khusus yang hanya boleh dimiliki oleh Seno.


"mas harap kamu benar-benar pelabuhan terakhir yang tepat. Mas tidak mau kehilangan kamu lagi" Seno mengusap foto Sania menganggap itu benar-benar Sania


"mas gak sabar hari esok" serunya lalu mengembalikan cincin kedalam kotak dan dimasukkan kembali kedalam jas


"sen, semua sudah pada nunggu di ruang rapat" John masuk seraya menggulirkan tablet, mengecek jadwal Seno, "dua hari lu bener-bener rehat dari dunia kerja ya. Gak ada jadwal sama sekali. Jadi gue harap setelah itu gak ada alasan untuk gak kerja" ketus John yang seperti atasan Seno

__ADS_1


"dih siapa lu, suruh-suruh gue" ketus Seno, padahal dia sudah membayangkan seminggu ke paris bersama Sania


Anak-anaknya? Bisa ia titipkan. Ia butuh waktu berdua dengan Sania!


"Gue asisten lu, inget ya tanpa gue perusahaan lu gak mungkin semaju ini" John menepuk bahu, sombong


"gak.. Gak.. Gak.. Gue mau libur satu minggu" final-nya lalu mengancingkan jas sebelum beranjak keluar, menghindari omelan yang akan dilontarkan John


"Gue juga butuh waktu liburrz" rengek John, "kapan nikahnya gue kalau hampir 24 jam ngurus perusahaan doang" kesal John


...~§~...


Seno menyatukan kedua lengan dan menumpu diatas meja, memperhatikan para pegawai nya yang sudah duduk rapih tak berani memandang nya.


"Saya mau memberikan info kepada kalian" ucapnya memecahkan keheningan, "sebelumnya silakan John, Alex"


John dan Alex segera menggulir undangan sampai semua dapat. Berbagai reaksi yang mereka terima.


Ada yang bahagia lantaran ini menjadi akhir sikap tempramental Seno.


Ada yang kecewa akibat stok cogan alias cowo ganteng diperusahan akan berkurang.


Ada yang sedih karena merasa dikecewakan dengan berita yang sangat tiba-tiba ini.


Khususnya cheris. Perempuan itu berdiri diujung ruangan lalu meremas undangan hingga tak tersisa. Wajahnya memerah, ia benar-benar marah. Ternyata wanita yang ia temui waktu itu adalah istri dari Seno. Jika seperti itu, seharusnya waktu itu ia langsung menghabisi perempuan yang sudah mengambil Seno dari sisi-nya.


Beralih lagi pada Seno. Laki-laki itu tersenyum bangga. Senyum yang jarang ia tampakkan oleh siapapun. Karena hanya Sania yang boleh melihat senyuman manisnya.


"jadi saya harap kalian datang besok. Tidak usah terlalu formal, ini hanya pesta kecil-kecilan saja" ucapnya merendah


"tidak ada dresscode, tidak ada atasan bawahan. Intinya besok kalian datang. Acara saya terbuka lebar menanti kehadiran kalian"


"baik tuan. Terima kasih" Ucap mereka serentak


Seno mengangguk, "hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya tunggu kedatangan kalian, besok. Permisi"


Seno keluar dari ruang rapat diikuti dengan Alex dan John.


"oh iya, sen untuk hari ini gue mau nginep dirumah lu"


"dih ngapain! Ho*o lu?" bukan Seno yang menjawab tapi John yang terlihat kaget


"enak aja! Pokoknya gue lagi adain misi nih" ucapnya semangat


"misi?"


"misi menggagalkan rencana mak lampir yang ada dirumah Seno. Lu mau ikutan gak" tanya Alex, "oh iya, lu lagi cari bini kan? Kayaknya dia cocok deh"

__ADS_1


Seno tersenyum geli, paham maksud Alex. "bener banget, lu lagi cari istri kan. Noh adek ipar gue lagi nganggur"


"cantik gak? Pasti sifatnya gak jauh beda sama istri lu. Dewasa dan mandiri. Yaudah, kenalin dong" paksa John


Alex dan Seno saling memandang dan tersenyum penuh arti. "gue kenalin, sekalian aja hari ini nginep dirumah gue. Pendekatan gitu" Ucap Seno


Tanpa berfikir lagi John langsing mengangguk. Bahkan ia langsung merapihkan meja-nya yang memang sudah ada disampingnya. Ia memasukkan beberapa barang yang tidak boleh dibiarkan.


"selesai. Gue ikut, mau liat calon istri"


Alex tertawa, "memangnya dia udah mau? Kenapa lu seyakin itu"


John mengendikkan bahu, "ngeliat Sania yang bisa sejauh cinta itu sama Seno, pasti adiknya gak jauh beda. Maksudnya gampang untuk ditaklukan"


"silahkan saja, gue sebagai kakak ipar akan membuka pintu lebar-lebar untuk kedatangan lu sebagai adik ipar"


John tersenyum kemenangan, "terima kasih kakak ipar" ucapnya dengan suara manja


Seno bergidik, "geli!"


...~§~...


John merapihkan pakaian didepan kaca mobil sebelum mengikuti Alex dan Seno yang sudah berlalu. Maniknya terus memperhatikan dirinya dikaca. Ia kembali menyisirkan rambut, berusaha tampil keren.


Setelah dirasa siap, John turun dan berlari menghampiri Seno dan Alex yang sudah berada didepan pintu.


"gak usah rapih-rapih, yakin do'i langsung kepincut"


"bener?"


Seno dan Alex mengangguk mantap. Berhasil mengerjai John. Kasihan sekali laki-laki itu, sekalinya semangat karena perempuan malah dikerjain oleh dua kunyuk yang entah sejak kapan jadi sekongkol itu.


"selamat sore"


Target kena. Santy yang membuka pintu. Perempuan itu dibuat terpana melihat tiga orang tampan berada didepannya.


"ini?" tanya John sedikit berbisik


Seno dan Alex spontan mengangguk, "bagaimana? Pilihan yang keren kan"


"ogah!!!" ucapnya sedikit memekik


Kedua alis Santy terangkat, tidak paham pembicaraan ketiga pria didepannya yang sedang asyik berbisik dan terkadang tertawa dan melirik dirinya.


Lirikan yang dianggap salah paham oleh Santy. Perempuan itu semakin merasa sombong mengira ketiga pria itu sedang membicarakan kecantikan dirinya.


"eh abang ipar sudah datang" Santy ingin mengambil tas kerja Seno, tapi langsung dihadang oleh Alex

__ADS_1


"gak usah kecentilan jadi perempuan!"


__ADS_2