
Happy Reading ~
Tepat tanggal 14 februari, mantan istri Seno alias Karin menggelarkan pernikahan dengan sangat megah disebuah hotel. Katanya.
Sania tidak mengetahuinya hingga saat ini. Undangan pun belum pernah ia lihat sejak saat itu. Dirinya juga hanya perlu menyiapkan badan setelah semuanya Seno yang urus. Seperti dress, make up dan keperluan lainnya.
Seperti saat ini.
Tampak Seno memakai jas hitam dipadu dengan dasi kupu-kupu berwarna merah. Diikuti dengan Sean memakai jas anak-anak, yang tampak lucu ditubuh mungilnya. Kemudian Sania yang diminta untuk memakai dress berwarna putih dengan hiasan manik yang menambah kesan kemewahan. Rambutnya disanggul meninggalkan leher jenjang, membuat siapapun yang melihatnya merasa kegerahan.
Tidak lupa tas mungil yang dikenakannya dan terlihat mahal, menambah kesan kemewahan dalam diri perempuan itu.
"kenapa harus disanggul sih?" keluh Seno
Laki-laki itu sudah bisa memikirkan reaksi teman-teman nya saat mendapati ia sudah menikah lagi dengan perempuan yang bisa dibilang sangat manis itu.
"kalau digerai terlalu mainstream. Apalagi rambut Sania terlalu panjang, ribet kalau pakai dress gini"
"tapi kan---
"sudah mau berangkat sekarang apa gak berangkat sama sekali?!" ancam Sania
Ah aku sedikit tidak rela melihat semua orang yang akan mengagumi kecantikan Sania, nanti.
Seno buru-buru mengambil kunci mobil. Entah kenapa, sejak pertengkaran nya tempo hari. Seno jadi lebih terbuka dan sedikit takut melihat kemarahan Sania.
Ini pertama kalinya laki-laki itu kalah dengan seorang perempuan. Dulu, saat ia bersama dengan Karin ia tidak pernah tuh mengalah demi hal kecil walaupun saat itu Seno sangat mencintai Karin.
"iya-iya berangkat"
Sania tersenyum penuh arti. Tidak menyangka aksi ngambek nya tempo hari, membuat Seno sedikit lebih menurut dan takut kepada Sania. Ia tidak jahat kan?
__ADS_1
Mereka memasuki mobil, keadaan didalam mobil tampak tenang. Hanya terdengar pertanyaan Sean tentang segala hal yang dilewatinya. Maklum anak seumuran Sean, sudah waktunya untuk penasaran dengan dunia sekitar.
...~§~...
Seperti yang perempuan itu dilihat difilm, saat memasuki tempat acara terdapat dua orang penjaga yang meminta untuk memperlihatkan kartu undangan. Setelah diperkenankan masuk, keluarga mereka diantar oleh seorang petugas ke tempat duduk yang sepertinya dimodif khusus untuk mereka.
"terima kasih" Ucap Seno tanpa senyuman
Sania tahu laki-laki yang duduk dihadapan nya sedang sakit hati. Lihat saja dirinya yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya padahal acara sudah dimulai sejak tadi.
Walaupun kedua pengantin belum keluar sama sekali.
Terdengar Alunan musik merdu dari luar ruangan. Semua undangan langsung menoleh keasal suara tampak anak kecil mungkin seumuran tiga tahun menyebarkan kelopak bunga mawar diatas karet merah diikuti dengan Karin dan Alex yang saling menyatukan tangan.
Wajah Seno tampak mengeras saat melihat kedua pengantin yang tampak berbahagia itu. Sania hanya bertugas mengusap pelan punggung suaminya, agar Seno sedikit lebih rileks.
Kedua pengantin yang tampak seperti pangeran dan ratu malam itu sedikit melirik kearah Seno dan tersenyum sekilas. Entah tersenyum karena melihat keberadaan tamu spesial nya atau tersenyum karena sadar akan kesedihan Seno pada pernikahan mereka.
Sania menghela nafas. Kali ini perempuan itu memilih menoleh pada Sean yang sedang sibuk bermain ponsel milik Sania sejak tadi.
"mi, eyan bocen" ujar anak itu lalu menghempaskan ponselnya begitu saja
Sania mengurut dadanya melihat ponselnya terhempar begitu saja. Untung tidak ada yang rusak setelah Sania mengeceknya. Kemudian ia kembali menaruh ponsel kedalam tas nya.
"sama mba juga bosen" sahut Sania lalu menyadarkan tubuhnya dikursi
Mendengar perkataan Sania membuat Seno langsung menoleh, "mba?" ujarnya dengan mengangkat salah satu alis
Sania mengangguk, "memangnya salah? Kan dari dulu Sania memanggil 'mba' pada anak mas" ucapnya
"ganti! Sekarang kamu udah menjadi istri aku. Mami! Ingat ya mami. Sean sendiri manggil kamu mami ko" Ucap Seno. Ia sedikit tidak suka dengan penyebutan mba pada Sania. Bukannya kenapa-napa, hanya saja penyebutan itu seperti seorang pengasuh saja! Sania kan sudah menjadi istrinya sekarang.
__ADS_1
"iya mas, maaf"
Rangkaian acara terus berlalu, Seno sengaja menyibukkan diri dengan mengurus Sean dan memainkan ponselnya. Kini acara sudah selesai, yang tersisa diruangan tersebut hanyalah orang-orang penting. Dengan kata lain sahabat dekat dari sang pengantin.
"woi broo" tiba-tiba ada yang menepuk pundak Seno, "gila! Bener Seno. Gua kira lu gak bakal datang ke pernikahan perempuan yang pernah lu agung-agungkan" laki-laki itu tertawa, "sampai sekarang sih!"
Sania menunduk, perkataan laki-laki itu seakan menyindir dirinya dan menyuruh dirinya untuk sadar akan keberadaan nya.
"kurang ajar" jawab Seno. Beginilah bercanda nya laki-laki orang dewasa. Berkata kasar tanpa membuat salah satu dari mereka merasa tersinggung.
"butuh club gak nih habis pernikahan ini selesai?" tanya Salah satu laki-laki berjas putih dijawab derai tawa oleh yang lainnya
"oh ini Sean ya anak lu" salah satu orang menyadari keberadaan Sean yang tertutup oleh tubuh tegap Seno
"hayooo om, aku Eyan anak ayah Eno tama mami Nia" sapa Sean
Sania tersenyum canggung saat kini seluruh tatapan mata tertuju padanya. "hai" ucapnya dengan senyum lebar
Seno mendengus.
"gila-gila, ini siapa bro. Bening bener, manis banget lagi mukanya. Cocok banget buat jadi bini gue"
Seno menoyor laki-laki yang berkata tadi, "bini-bini! Dia bini gue. Jangan pada macam-macam kalian" Ucap Seno seraya merangkul tubuh Sania lalu mencuri kecupan di pipinya
"bini! Kapan lu nikah?"
"dua minggu yang lalu" jawab Seno sekenanya
Semua orang memandang takjub. Kalau Karin cantik karena keanggunan-nya, Sania cantik karena perawakan yang dewasa dan muka imut nya.
Semua orang mendengus pada Seno. Laki-laki itu sudah menikahi dua perempuan dan dua-duanya bener-bener sangat berkualitas.
__ADS_1
Mereka iri!