
Semua berubah. Tidak hanya Sania saja, Sean pun mulai berubah sejak kejadian itu. Suasana rumah terasa dingin dan mereka tidak paham sikap mereka sangat memengaruhi tumbuh kembang Sean.
Seperti saat ini anak itu lebih memilih menahan lapar dibandingkan mendatangi sang mami yang sejak kemarin selalu sedih.
Walaupun masih berumur dua tahun lebih, anak itu seperti paham masalah yang diderita kedua orang tuanya.
"Sean?" Sania memasuki kamar Sean
Sean mendongak lalu tersenyum polos, menyembunyikan kesakitan akibat perutnya yang begitu lapar.
“kamu belum sarapan kan?”
Sean menggeleng dengan sungkan. Tahu bahwa perbuatan-nya dapat membuat Sania semakin sedih. Tapi jika tidak jujur, perut anak itu akan semakin sakit seperti tadi malam.
“kenapa belum makan?” tanya Sania lalu menggendong Sean dan memeluknya dengan sangat erat
Sebenarnya perempuan itu ada fikiran untuk meninggalkan Seno dan Sean begitu saja. Tetapi setiap melihat wajah polos Sean, ia langsung mengurungkan fikiran absurd-nya itu. Anak sekecil Sean tidak boleh lagi menjadi korban keegoisan orang tua.
“tadi mami gak ada, ayah juga gak ada”
Pelayan memang menyediakan banyak makanan, Tapi sudah beberapa hari makanan itu akan berakhir ditong sampah begitu saja akibat tidak ada yang menyentuhnya sama sekali. Seno lebih memilih makan dikantor, sementara Sania memilih makan saat benar-benar merasa lapar.
“maafin bunda ya” sahut Sania lalu menghujami ciuman pada seluruh wajah Sean
“ayah tama bunda lagi malahan?”
Sania menatap terkejut, ternyata Sean sudah sadar apa yang terjadi pada Sania dan juga Seno. Sania memeluk Sean dengan erat dan air mata mulai jatuh membasahi pipinya, “enggak ko sayang, enggak. Gak ada yang marahan”
“mami bohong”
Rasa sesak kian membuncah. Sania merasa bersalah karena sudah mengabaikan Sean selama ini. Pasti anak itu tersiksa.
“maafin mami, Sean” Sean membalas pelukan Sania lalu mengusap air mata sang mami
Sania menyadari perbuatan-nya salah. Mengabaikan bahkan melupakan keberadaan Sean hanya karena memikirkan cara meninggalkan Seno. Perempuan itu lupa niat untuk tidak meninggalkan Seno karena Sean malah menjadi boomerang kepada anak itu. Bukankah jika seperti ini sama saja ia secara tidak langsung sudah meninggalkan Sean?
“San”
Sania langsung menghentikan tangisnya begitu mendengar suara Seno yang memanggil dirinya. Melepaskan pelukan pada Sean lalu tangisan-nya semakin pecah saat Seno merentangkan tangan kepada-nya.
“kenapa kalian pada menangis?” tanya Seno dengan nada khawatir
__ADS_1
Tangis sania semakin pecah. Entah hatinya menjauh lebih tenang saat berada dipelukan Seno. Seakan-akan semua kekesalannya pada laki-laki itu lenyap begitu saja.
“maafin Sania mas, kekesalan ini telah membuat Sania lupa akan tanggung jawab seorang istri. Maafin Sania”
Seno menahan air matanya yang hendak keluar, mengecup sebentar puncak kepala Sania. “kamu gak perlu minta maaf. Sikap kamu yang seperti ini akibat perbuatan mas sendiri. Jadi, yang harus disalahkan ya mas”
“Tapi Sania—
“gak usah bicara lagi” Sania tersenyum dibalik air matanya yang masih luruh, “nah, mas rindu lihat senyuman kamu. Jangan nangis lagi ya, maafin mas”
Sania mendongak dan menatap Seno yang menatapnya balik lalu mengangguk. Matanya berkaca begitu Seno menghapus air matanya.
“mas gak suka lihat kamu nangis” Seno memeluk Sania, “I love u, Sania”
Sania menguraikan pelukan lalu menatap terkejut Seno. Seno terkekeh lalu mencium pipi Sean dan Sania berganti, “aku sayang kalian berdua”
“huaaa…. Eyan juga mau dipeyuk”
...~§~...
Malam sudah tiba,
Selesai membereskan meja makan, mereka sedang berkumpul diruang keluarga. Tentu saja dengan Sean yang sudah pulas tertidur dipangkuan Seno.
“Ada yang mas ingin bicarakan denganmu”
Sania mendongak dan menatap balik Seno, “ada apa?”
“untuk yang waktu itu –
Sania terdiam lalu memainkan ujung kausnya, “gak usah diinget-inget lagi lah mas. Bikin sakit hati saja”
Kini Sania dan Seno terdiam, berlarut dengan fikiran dan ego-nya masing-masing. Seno meremas jarinya kuat-kuat, ia tidak boleh mendahulukan ego-ku lagi. Terakhir kali karena keegoisannya membuat semuanya berubah.
“tidak kita harus membicarakan-nya. Kalau tidak selamanya kamu akan beranggapan buruk sama mas”
“bukan buruk saja mas, nama kamu sudah sangat tercoreng dimataku” Sania menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya seakan mengeluarkan sesak didalam dadanya, “benarkan seperti itu?”
“maaf” ujar Seno, “mas hanya refleks saja saat itu. Seketika mas hanya ingat saat Karin masih menjadi istri mas” alibi Seno
Sebenarnya saat itu Seno sedang sadar, sangat sadar. Hanya saja saat mendapat info tentang Karin, alam bawah sadarnya seperti meminta untuk segera menemuinya hingga laki-laki itu lupa akan janjinya dengan Sania.
__ADS_1
“tetap saja” rutuk Sania, “kalau seperti itu, sama saja mas masih merasa menjadi suami mba Karin. Mas sendiri yang bilang kan masih ingat saat mba Karin menjadi istri mas”
Sania memberikan jarak diantara mereka, “mas tidak pernah memikirkan perasaanku”
Disisi lain, perempuan itu sedang kedatangan tamu bulanan. Hal itu menjadi salah satu faktor Sania menjadi sangat labil, terkadang memaafkan Seno terkadang merasa sangat sebal dengan Seno. Ditambah umur Sania yang masih muda. Fikiran yang belum dewasa menjadi acuan yang membuat perubahan sikapnya pada Seno.
“bukan seperti itu maksud mas” Seno menggaruk tengkuknya, “mas salah, jadi maafin mas ya” bujuknya
“Sania gak butuh janji! Sania udah cape makan hati gara-gara janji yang mas Seno lontarkan. Sania sudah gak mau percaya sama mas lagi”
“jangan gitu dong” rengek Seno, “oh iya, mas ada sesuatu. Tunggu sebentar –“
Seno bangkit seraya membawa Sean untuk ditaruhnya dikamar. Setelah itu, melangkah memasuki mobil dan mengambil sebuah kotak yang sebelumnya ia ingin beri pada Sania saat malam itu. Malam yang menjadi saksi awal dari pecahnya hubungan mereka.
Kotak berisi perhiasan. Perhiasan menjadi satu hal yang langsung terfikir Seno untuk membujuk Sania. Laki-laki itu tahu pasti setiap perempuan menyukai perhiasan. Siapa yang tidak suka perhiasan? Karin saja suka…
Seno menggeleng, “gue gak boleh inget-inget tentang Karin lagi” ucapnya seraya memukul-mukul pelan kepalanya. Ia tidak mau mengulangi kesalahan untuk yang ketiga kalinya.
Seno masuk kedalam rumah. Didapatinya Sania yang masih menunggu Seno diruang keluarga. Seno hampir tertawa saat mendapati lirikan penuh keingin tahuan Sania pada barang digenggamannya. Tapi begitu Seno melihat perempuan itu, Sania langsung pura-pura menoleh kearah yang lain.
Seno berdeham, menetralisir rasa ingin tertawanya. Berlutut dihadapan perempuan itu seraya membuka cincin untuk Sania, “perhiasan yang cantik untuk perempuan yang cantik juga”
Sania tertegun. Bukan ini yang dia mau, dia tidak butuh perhiasan. Yang Sania butuhkan hanyalah perubahan sikap Seno, “aku gak mau ya kalau kamu beli ini hanya untuk bujuk aku! Sania bukan seperti perempuan lagi yang haus akan perhiasan”
Ampun salah lagi, rutuknya dalam hati.
Seno tidak menjawab rutukan Sania sejak tadi. Ia tetap fokus memakaikan cincin tersebut untuk Sania. Digenggamnya lengan perempuan itu lebih kuat dan dikecupnya.
“bukan untuk bujukan, memang sejak lama mas ingin membelikan kamu cincin. Anggap saja sebagai cincin pernikahan kita” jawab Seno, “mas juga lagi pesan cincin yang sama untuk mas pakai. Bukankah kit abelum memiliki cincin pernikahan”
“tapi Sania gak butuh ini” ujarnya
Membawa barang mahal ditubuhnya sama saja membuat perempuan itu semakin terbebani. Belum liontin berbandul mutiara dilehernya kini juga cincin. Sania hanya takut pencopet mengambil barang semahal ini.
“butuh gak butuh, kamu harus memakainya” jawab Seno, “istri seorang Seno tidak boleh terlihat sepolos itu tanpa perhiasan sama sekali. Apa kata orang-orang yang melihatnya”
Sania berdecih, Ternyata Seno masih memikirkan nama-nya didepan orang-orang. “terserah kamu aja! Aku ngomong pun gak mungkin didenger”
“itu kamu tau” jawab Seno dengan nada pura-pura marah lalu tertawa terbahak-bahak disusul delikan Sania
“aku belum maafin kamu ya mas!”
__ADS_1
Glek…..