
Seperti janji Seno tempo hari, kini mereka sedang dalam perjalanan menuju villa yang sudah disewa Seno. sejak tadi Sean sudah menampakkan keantusiasan-nya, anak itu tak berhenti bertanya mengenai apa yang ia lihat dan sorakan kecil selalu terdengar dari kursi belakang.
Sesekali Seno yang sedang menyetir, menanggapi pertanyaan Sean.
Omong-omong tentang Seno. Perubahan sikap Seno seharian lumayan terlihat semenjak kejadian kemarin. Laki-laki itu terlihat sedikit lebih diam dibanding biasanya.
Tentu saja Sania sakit hati, siapa yang tidak sakit hati saat suami sendiri memikirkan perasaan perempuan lain. Perempuan yang notabene-nya sangat dicintai oleh suaminya.
Padahal sudah berulang kali Sania mengingatkan akan janji Seno waktu itu. Janji dirinya yang akan berusaha untuk melupakan Karin. Bahkan saat itu Seno meminta untuk Sania terus mengingatkan Seno jika laki-laki itu khilaf. Seperti saat ini.
Tapi lihat saja, setiap Sania mengingatkan Seno hanya mengangguk tanpa mau membalas sedikitpun. Seakan tidak mau Sania ikut campur begitu saja.
Jadi, ya sudahlah. Sania memaklumi nya sekali lagi. Lebih baik Seno seperti ini, daripada seperti dulu yang tidak terima akan pernikahan Karin.
Biarlah, lagi dan lagi perempuan itu mengalah.
...~§~...
"wuahhhhh"
Baru pertama kalinya Sania melihat pemandangan sebagus ini. Hamparan gunung menyambut kedatangan Sania dengan Villa dengan nuansa kayu yang sangat indah. Sangat pas dengan Perpaduan pohon-pohon disekilingnya.
Aku harus mengabadikan ini semua!
Buru-buru Sania mengeluarkan ponsel, tapi ia langsung merengut dibuatnya saat ingat penyimpanan ponselnya sudah sangat penuh. Sudah tidak bisa diapa-apakan sekalipun hanya untuk foto.
"mamiii, potoin Eyan!"
Sean sudah siap berdiri didepan hamparan bunga berwarna-warni dengan gaya andalan nya yaitu senyuman.
"mas tolong fotoin Sean dong" Ucap Sania dengan pandangan tertuju pada ponsel. Perempuan itu sedang berusaha menghapus beberapa file pelajaran yang telah ia pelajari
__ADS_1
Walaupun Sania tidak melanjutkan ke jenjang kuliah, perempuan itu berinisiatif mencari beberapa modul yang berkaitan dengan matkul yang ia sukai. Bagi Sania, pendidikan harus menjadi hal yang paling utama.
"Sean mintanya kamu loh" ujar Seno seraya mengeluarkan beberapa koper dari dalam mobil
Seno sengaja tidak membawa beberapa pesuruh. Laki-laki itu ingin mereka benar-benar libur bertiga.
"tapi, ponsel ku gak ada penyimpanan"
Seno tertawa. Ia mengeluarkan ponsel yang memang ia ingin beri untuk Sania dari dalam sakunya, "ngeyel sih kemarin. Sok-sokan nolak ponsel baru" Seno memberikan ponsel pada Sania, "nih ponsel buat kamu. Tidak usah pakai nolak segala, anggap saja hadiah mas untuk kamu"
"bener mas!" pekik Sania kesenangan
"iya buat kamu. Semua berkas penting diponsel lamamu, sudah ada diponsel itu"
"makasih banyak mas!" Sania mencium singkat pipi Seno
Seno terpaku sembari menyentuh pipinya. Laki-laki itu tersenyum malu-malu lalu beranjak masuk kedalam villa masih dengan senyuman dibibir-nya.
"mi yama banget cih!" kesal Sean, anak itu masih mempertahankan gaya-nya sejak tadi
Setelah puas berfoto bergantian. Sania dan Sean duduk dikursi taman menghirup aroma pegunungan yang terasa sangat sejuk.
Tidak lama Seno keluar sembari membawa botol berisi teh hangat, diberikan nya pada Sania. "nih buat kamu, pasti haus kan daritadi belum minum sama sekali"
"makasih mas"
"yah, Eyan mau tinggal ditini! Eyan suka ditini" seru anak itu lalu beranjak untuk duduk dipangkuan Seno
Seno mengusap rambut anaknya, "Sean suka? Nanti kita sering-sering kesini ya. Tapi, kalau untuk tinggal disini sepertinya tidak bisa"
"tenapa yah?"
__ADS_1
"sudahlah kamu masih kurang paham. Intinya tinggal disini, masih sangat susah untuk akses kemanapun. Apalagi nanti kamu sekolah, disini gak ada sekolah sama sekali. Kalau ada ya paling harus kekota dulu"
Sean menggaruk pelipisnya tidak paham, "tekolah itu apa tih?"
.
"hmm.... Sekolah itu tempat kamu belajar dan bermain"
"ada temen gak?"
"banyak, nanti disekolah kamu punya banyak temen. Tapi kamu harus pilih-pilih temen ya. Jangan sampai ada yang manfaatin kamu. Oh, kalau bisa kamu berteman dengan orang yang sepantaaran seperti kita"
"au ah! Eyan gak ngelti"
"mas! Apaan sih, ngajarin-nya gak bener banget" sahut Sania
"bagus dong, Mas gak mau dapet temen yang hanya bisa manfaatin dia saja" Ucap Seno dengan amarah menggebu-gebu
"pengalaman ya mas, ko sampai kesel gitu" tawa Sania pecah juga akhirnya, "dimanfaatin siapa sih. Ko sampai kesel banget gitu"
"Karin, siapa lagi" kali ini giliran Sania yang terdiam
Seruan suara mesin motor memecah keheningan diantara keluarga itu. Sebuah motor lewat lalu berhenti tepat didepan halaman Villa yang telah Seno sewa.
"permisi, kalian pendatang baru ya?" tanya pria itu kemudian turun dari motor menghampiri mereka
"tidak, kami hanya menginap beberapa hari disini saja" jawab Sania dengan sopan
Laki-laki itu menoleh dan menajamkan pandangan, "Sania? Kau Sania kan? Abang tidak salah lihat kan"
"Bang Gilang?" Sania memekik kesenangan, "apa kabar bang Gilang. Ih sudah lama banget gak lihat bang Gilang, semakin ganteng aja nihh" puji Sania
__ADS_1
"ehemm. Anda siapa ya, ada urusan apaa datang kesini" dehaman Seno membuyarkan kerinduan antara Sania dan Gilang
Apa-apaan, pria itu! Datang-datang langsung merangkul istriku. Siapa dia, kenapa Sania begitu bahagia melihat laki-laki itu