Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 17


__ADS_3

Happy Reading ๐Ÿ˜Š


Sania sudah siap dengan dress tanpa lengannya berwarna biru langit yang telah dibeli Seno untuk Sania. Sementara Sean memakai kemeja jeans berwarna biru dongker.


"mana adikmu?" kedatangan Seno membuat Sania mengalihkan pandangan dan terpaku


"hey?"


"eh iya, biarkan Sania panggil dulu" jawab Sania dengan gugup


Seno mengulum senyuman. Oh my good, istrinya terlihat sangat manis saat gugup seperti itu


Sania turun dengan Santy dan Kamal yang mengikutinya dari belakang. Santy tampak glamor dengan pakaian milik Sania yang ia kenakan setelah memaksa Sania untuk memberikannya.


"kita mau kemana kakak ipar?" tanyanya dengan suara centil


"sayang" panggil Kamal dengan tatapan tajam pada istrinya itu


"kenapa kau memakai pakaian istriku? Siapa yang memperbolehkan?" Ucap Seno dengan lengan yang meremas kemudi lantaran kesal dengan sikap semaunya Santy


"kakak yang menyuruh" balas Santy sekenanya


"oong, nte oong. Mii angis gala-gala nte itu" sahut Sean tiba-tiba


(bohong, tante bohong. Mami nangis gara-gara tante itu)


Sean menjadi saksi atas pemaksaan Santy yang menyuruh Sania untuk membuka kamar milik Karin. Sean juga melihat mami nya yang menangis dengan kencang akibat dorongan Santy yang membuatnya terjatuh dan sedikit terantuk pada ujung tangga.


"anak kecil tidak pernah bohong" tegas Seno, "saya cukup memaklumi dengan sikap kalian yang terlihat norak, karena kalian dari kampung. Saya juga memaklumi kalian dan orang tua Sania yang terus memperlakukan saya seperti bank mereka. Tapi saya gak mau, kalau kalian menyentuh yang seharusnya menjadi milik saya. Jika kalian kedapatan menyakiti Sania dan Sean, saya tidak akan tinggal diam! Camkan itu"


Kamal dan Santy sontak mengangguk patuh. Mereka tidak mau menganggu pria yang sedang menahan amarah itu. Terlalu seram berurusan dengan Seno!


"kita mau kemana ka?" tanya Kamal hati-hati


"pusat belanja"


Mobil berhenti disalah satu pusat belanja terbesar di kota itu. Santy sudah menatap kagum bangunan megah itu dari luar.


"turun" titah Seno sembari merogoh kantung celana nya. Ia mengeluarkan amplop berisi lima juta dan diberikannya uang tersebut pada kedua orang yang sudah dangat antusias itu. Maklum dikampung tidak ada bangunan megah yang menjulang tinggi dan menjual berbagai macam barang. Alias mall.

__ADS_1


"Saya dan Sania akan keempat lain. Kalian disini saja puas-puasin belanja dengan uang yang saya kasih. Untuk pulangnya kalian bisa kenakan taxi, ucapkan saja rumah 'seno' pasti mereka tahu sendiri" jelas Seno


Santy dan Kamal mengangguk antusias, lalu segera masuk kedalam pusat perbelanjaan itu setelah berterima kasih pada Seno.


Biarlah laki-laki itu mengeluarkan kocek untuk digunakan Santy dan Kamal, daripada dua orang itu merecok-kan liburan yang sudah ia impi-impikan bersama Sania dan Sean.


"memangnya kita mau kemana mas?" tanya Sania seraya mengusap pipi tembam Sean yang sudah tertidur


"lihat saja nanti" senyum Seno penuh misteri


...~ยง~...


Suatu hari


Dikala kita duduk ditepi pantai


Dan memandang


Ombak dilautan yang kian menepi


Burung camar


Suara alam ini


Hangatkan jiwa kita


Sementara


Sinar surya perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


Mengalunkan melodi tentang cinta~


Lagu itu langsung mengalun indah didalam hati Sania, setelah hamparan didepannya membuat perempuan itu menyatakan mengingat kenangan lama.


Tidak sangka-sangka, Seno mengajak Sean dan Sania meninggalkan kota Y, yakni kota tempat Kediaman Seno berada.


Empat jam perjalanan digunakan Sania untuk tidur dan terbangun saat mereka sudah sampai.

__ADS_1


Kemesraan ini....


No! Sania menggeleng dengan sepenuh hati. Mereka tidak ada mesra-mesranya, dengan Sania yang masih menahan kantuk terduduk dibibir pantai dan Seno yang sibuk dengan ponselnya. Tidak ada kata mesra diantara mereka.


"ko sepi sih?" ujar Sania tiba-tiba


"mas sengaja menyewa tempat ini khusus untuk hari ini. Kita menginap ya disini, besok siang baru kita pulang"


"dih tapi Sania belum siapin baju" ingat Sania


"sudah. Semua perlengkapan sudah mas bawa"


"makasih mas, makasih untuk semuanya. Dari mas yang mau mempertanggung jawabkan perbuatan mas, kesediaan mas untuk merenovasi rumah orang tua Sania, ditambah mas juga yang mau membiayai setiap bulan keuangan ibu dan bapak, selain itu mas juga bersedia untuk menyediakan ruangan dirumah untuk tempat sementara Santy dan Kamal"


"santai saja, sudah tugas suami untuk selalu membiayai kebutuhan istri dan keluarganya. Melihat kesalahan mas malam itu, menurut mas semuanya belum sebanding"


Sania tersenyum pedih. Firasat perempuan itu ternyata benar, Seno menikahi dirinya hanya semata-mata untuk tanggung jawab saja.


Benar perkataan Santy, yang mengatakan Seno menikahi perempuan itu hanya untuk menjadi pembantu dirumahnya dan menjadi pengasuh anaknya. Ah sudahlah, memang apa yang mau diharapkan perempuan itu.


Seno menyukai nya? Tentu saja tidak mungkin!


"melihat tempat ini, mengingatkan saya pada sesuatu" Ucap Seno tiba-tiba, lalu menyimpan ponselnya seraya menatap arus pantai yang tampak tenang


"apa?"


"tempat ini menjadi tempat penyaksian saat mas melamar Karin kala itu. Mas masih mengingat dibawah pohon kelapa itu" Seno menunjuk salah satu pohon kelapa yang menjulang tinggi, "menjadi tempat mas memohon-mohon pada perempuan itu untuk menerima mas dengan iming-iming uang berjumlah besar"


Sania terdiam. Hatinya mencelos, bahkan saat bersama dirinya Seno masih memikirkan perempuan lain.


"ah, bodoh nya mas saat itu" lanjut laki-laki disebelahnya


"mas menyesal bercerai dengan nyonya Karin?" tanya Sania sedikit hati-hati


"dibilang menyesal juga tidak, karena mas akan sangat egois jika mempertahankan perempuan yang hatinya sudah menjadi milik orang lain. Tapi, hanya saja saat itu mas lebih berusaha lagi untuk mendapatkan hati Karin. Mungkin saja saat ini, mas sedang berada disini dengan perempuan yang mas cintai dan buah anak cinta kami. Sean"


Sandra memainkan ujung jari nya, pertanda gugup. Ia tidak tahu ingin menjawab pernyataan tiba-tiba Seno mengenai mantan istrinya.


"ah sudahlah, kini mas sudah menikah dengan kamu. Mas harus coba untuk memulai semuanya dari awal. Oh iya, lusa pernikahan Karin. Kamu datang ya dengan mas?"

__ADS_1


__ADS_2