Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 81


__ADS_3

Berbeda dengan Seno yang masih terpaku menatap anak perempuan yang menatap bingung padanya, "anak siapa itu?"


Melihat perawakan-nya yang mirip dirinya membuat Seno tampak bingung. Bisa saja Seno langsung berburu sangka, tapi ia langsung menggeleng tidak mau mengulang tabiat buruknya.


"papihhhh, papih ko diam aja. Eyan kangen banget sama papih" Sean asyik duduk dipangkuan seno


"kata mamih, papih kerja jauh banget. Naik pesawat" ucapnya seraya memainkan lengan seakan membentuk pesawat terbang, "makanya papih pulangnya lama"


"papih juga kangen banget sama kamu" Seno membalik Sean dan memeluknya erat


Rasa hangat menderu perasaan Seno. Laki-laki itu benar-benar rindu berada seperti ini. Seorang ayah sekaligus suami yang berada ditengah-tengah keluarga yang hangat.


"papih gak pergi lagi kan?" tanya Sean dengan raut sendu


Seno menggeleng, "enggak ko. Papih akan terus-terus barengan Sean, mamih sama ka Reyka selamanya"


Sean merengut, "Sena gak diajak?"


"Sena?" Seno beralih pada anak perempuan yang masih menatapnya tajam, "anak itu?"


"iya adik aku!" jawab Sean sembari berusaha bangkit dari pangkuan Seno, " adik yang paling eyan sayang" sahutnya dengan memainkan pipi Sena


"atit!"


"Sean. Kebiasaan deh" seru Sania tiba-tiba, "gak lihat pipi adik kamu nganggur, pasti aja kamu jadiin bahan mainan"


"lagian lucu sih"


Seno berdiri diam-diam dan mengangkat bahu tidak paham, "ini maksudnya kayak gimana? Mas benar-benar gak paham. Itu anak siapa?"


"om yang sapa?" tanya Sena balik


(om yang siapa?), kemudian berkacak pinggang membuatnya sangat lucu dimata Sania


"ih pipih ko gak tau! Ini Sena adik-ya eyan. Adiknya ka Reyka juga. Ih pipih, anak sendiri masa gak tau" sebal Sean


"Hah?" Seno memasang Sania heran lalu menunjuk dirinya sendiri, "adik Sean yang berarti anak kamu?"


Seno menggeleng tidak percaya hingga menepuk-nepuk pipinya hingga kemerahan. Ia masih tidak paham apa yang terjadi saat ini, "kamu udah nikah?"


Ups, fikiran absurd apa itu. Gumam Sania. Perempuan itu memilih diam seraya memandang sendu Seno.

__ADS_1


Brugh...


Sofa menjadi sasaran kemarahan laki-laki itu. Bukan marah pada Sania, ia lebih marah pada dirinya sendiri. Karena ulah dirinya, ia mendapati Sania sudah menikah dengan orang lain.


"paman apaan sih, Sena adik aku sama Sean. Ya berarti Sena anak paman lah" Reyka mencebik


"anak saya?" Seno terkejut bukan main. Laki-laki itu langsung mundur secara teratur seakan tidak percaya apa yang baru ia dengar


Sania mengangguk setuju, "Sena, putrimu. Putri kandungmu. Anak bungsu mas" jawab Sania


Brugh...


Bukan lagi suara tendangan yang diakibatkan oleh Seno. Bunyi itu berasal dari benturan tubuh Seno pada sofa. Yaps, seorang Seno laki-laki yang diagung-agungkan kini terbaring lemah di sofa. Alias pingsan.


"untung saja gak kena kepala, mas" Ucap Sania seraya menidurkan kepala Seno keatas pahanya supaya tidak terbentur langsung dengan ujung sofa, "ambilin mamih bantal, nak"


Sean berlari kearah kamar dan membawakan bantal pooh yang sudah usang, "nih eyan pinjemin bantal kesukaan eyan" dengan sedikit tidak rela, anak itu mengulurkan bantal bergambar wajah pooh


"makasih anak mamih yang paling tampan" Sean jadi cengengesan dibuatnya


"mih kasih buat paman" Reyka menyerahkan sebotol minyak angin


"makasih juga anak mamih yang paling soleh" tambah Sania lalu mengurut kepala Seno dengan minyak angin tersebut


"papih. Papih kamu" Tangannya terulur merapihkan poni Sena, "kamu mau ketemu papih kan? Ini papih kamu. Orang yang selalu kamu tanyakan selama ini"


"Hah? Papih. Yeay.... Yeay... Akhirnya Ena punya papih. Pokona, Ena mau sombong ma temen-temen" ujarnya lalu jingkrak-jingkrak, "Ena juga punya papih!"


Lihatlah mas, anak-anak langsung senang melihat kedatangan kamu. Mungkin aku salah satu penyebab yang membuat anak-anak tampak murung. Tapi, aku berjanji untuk kedepannya hanya ada senyuman yang terpantri diwajah anak-anak.


...~§~...


Seno merasakan pusing yang berlebih. Ia sudah sadar hanya saya kedua netranya seperti enggan untuk membuka. Seno hanya bisa mendengar suara-suara. Suara anak itu, Sena.


Nafasnya semakin memburu lalu netranya terbuka secara perlahan. Tidak lama setelah mengumpulkan nyawa, ia merasa seperti ada barang yang menimpa perutnya.


Brukkk... Brukkk.... Seno memejamkan mata kemudian membukanya lagi, mencoba mengatur cahaya yang menerobos paksa masuk ke netra-nya.


"mamih ayah bangunnn" pekikan Sena menyadarkan seno


Barang berat yang ia kira ternyata tubuh Sena yang duduk diperutnya seraya meloncat-loncat kecil.

__ADS_1


"bukan ayahhhh tapi papihhhh" sela Sean yang kini duduk didepan tv, menampilkan acara kartun


"ih suka-suka Ena dong" dengus sena


"sudah-sudah. Kalian pergi main dulu ya diluar rumah" titah Sania


Paham akan apa yang terjadi, Reyka menggiring Sean dan Sena keluar rumah seraya melambaikan tangan pada Seno dan memerintah laki-laki itu agar tidak pergi lagi.


"Saya masih gak paham. Ini maksudnya bagaimana? Kamu hamil, anak saya? Kapan? Kenapa gak bilang?" Seno terdiam, "apa ini yang menjadi alasan kamu pergi meninggalkan mas?"


Sania mengangguk. "mungkin?" jawabnya membuat Seno menarik nafas


"alasan lain? Bukankah saya masih ada hak atas Sena" ucapnya mulai meninggi, "tapi kenapa kamu pisahkan kami ---- ah... Sudahlah, saya tahu kamu pergi juga karena kesalahan saya" balas Seno


"Bukannya seperti ini. Hanya saja fikiran Sania kalut saat itu. Mendengar perkataan kasar mas membuat Sania tidak berfikir panjang lagi" cicit Sania


"ya sudah, saya paham. Tapi kamu baik-baik saja kan selama hamil?" Seno membawa Sania kepangkuan membelakangi laki-laki itu


"banyak cerita lah" seru Sania, "tapi yang menting sekarang baik-baik aja"


Seno menelusup masuk keceruk Sania yang memang sedang tidak memakai hijab, "jangan pergi lagi ya dari saya. Saya gak suka" ucapnya lalu menghirup dalam-dalam harum tubuh Sania


Sania berbalik, "iya mas. Maafin Sania"


Seno mengangguk lalu mengacak-acak rambut perempuan itu. Dikecupnya kedua pipi Sania lalu beralih pada bibir ranum Sania.


Cuppp... Tanpa lumayan ataupun membawa nafsu mereka saling mengecup cukup lama.


"papihhhh" seruan Sean membuat kedua orang tua itu gelagapan hingga refleks saling mendorong


"eh iya nak, kenapa?" tanya Seno dengan deru nafas yang masih belum stabil


"katanya Sena mau digendong tuh" jawab Sean lalu kembali berlari keluar setelah menyerahkan Sena yang sudah bergelimang air mata


"ayah pengen digendong, kayak Tiala" Sena merentangkan tangan membuat Seno tertawa kecil kemudian mengangkat badan Sena untuk digendong


"maafin papih, karena gak bisa lihat tumbuh kembang kamu" Ucap Seno disela-sela tangisan Sena


"sejak dulu, Sena gak pernah absen nanyain kamu. Setiap hari, tiap jam selalu nanya 'ayah dimana?' 'kapan ayah pulang?' sampai-sampai bisa sakit kalau udah mikirin kamu terus" seru Sania lalu membelai pipi Sena yang cemberut, "sekarang udah ketemu kan sama ayah. Giman senang?"


"seneng. Seneng bangettttt" pekik Sena lalu kembali mendusel-dusel diceruk seno

__ADS_1


Seno juga memeluk erat Sena, "ayah juga senang bisa ketemu sama kamu. Anak ayah" bisik nya


"ayah sayang Sena. Maaf karena kelakuan ayah, kita jadi terpisah" gumam nya


__ADS_2