Dia Mamiku!

Dia Mamiku!
Bab 50


__ADS_3

Suara deru mobil sampai kependengaran Seno. Ia kembali merapihkan jas dan dasi yang dikenakannya. Tidak salah bukan dia mengenakan jas? Mungkin agar terlihat lebih totalitas saja.


"assalamualaikum mas" Sania masuk dengan paper bag yang lumayan banyak dan diikuti Sean seraya memakan donatnya


"jangan masuk dulu!" Sania terperanjat mendengar teriakan Seno dari dalam rumah


"tenapa pipih teliak-teliak" sungut Sean, "kalau eyan yang teliak aja, pipih pasti malah"


Diingatnya kembali kejadian saat Seno menasihati anak itu karena sudah teriak dari atas memanggil sang mami.


Diraupnya donat dengan sangat kasar menandakan Sean benar-benar sedang sangat kesal. Huuh.


Pintu terbuka menampilkan Seno yang mempersilahkan masuk diiringi dengan senyuman manis, "silahkan masuk istri dan anakku tercinta"


"HAH?" Sania terkejut bukan main, "mas ada apa sih ini" tanya Sania tetapi dengan senyuman yang tidak terlepas dari wajahnya


Dipandangnya kembali isi rumah yang sudah di hias sedemikian rupa. Seno sendirian dirumah besar ditambah saat ini sedang malam hari. Jadi, laki-laki itu tidak kerasukan kan?


Sania bergidik, tetapi tetap mengikuti Seno yang menggiring-nya. Padamnya lampu diruang keluarga membuat jarak pandang sedikit sulit.


Tetapi lilin-lilin yang menyala membantu menerangi disekitar ruangan.


"ck, ada apa tih geyap-geyap! Kan eyan gak bisa liyat" seru Sean lalu duduk disamping Sania menghindari menabrak benda disekitar


Lengannya direngkuh pada tubuh gempal Sean. Pertama kalinya ia melihat sang pipih memakai jas dibalut celemek bunga yang sering dipakai Sania.


Umurnya sudah dua tahun lebih, Sean sudah paham segala tingkah yang selalu pipih-nya perbuat. Tetapi malam ini, baru pertama kalinya ia melihat Seno rela tampak konyol dihadapan Sania yang masih tertegun.


Hihihi. Lagi-lagi Sean terkikik saat Seno tidak sengaja tersandung akibat permadani yang tidak terpasang dengan rapih.


"kamu ketawain pipih ya" marah Seno sembari menyajikan spaghetti dihadapan Sania, sontak Sean menggeleng lalu kembali menyibukkan diri hingga Seno mencebik, "spaghetti spesial untuk istri yang spesial juga"


"apaan sih mas! Lagi pula ada hal apa kamu sampai berbuat seperti ini" tanya Sania dan merogoh salah satu paper bag


"salah satu nya agar mas mendapat permintaan maaf kamu" Seno merengut, "lagian kamu gak kunjung-kunjung maafin mas"


"siapa yang bilang belum maafin?" seru Sania, "dari awal juga Sania udah maafin mas. Walaupun kalau inget masih suka kesel sendiri"


"jadi beneran udah maafin mas nih? Mas kepikiran terus nih"


Diingatnya kembali saat ia dan John hampir menghabiskan waktu bersama karena memikirkan solusi dari masalah ini.

__ADS_1


Sebenarnya ini bukan reaksi yang Seno harapkan. Ia berharap Sania akan menangis terharu dan memeluk dirinya karena saking terkejutnya.


Tapi, ya sudahlah. Sudah dimaafkan saja, dia sudah beruntung sekali.


"terserah mas mau anggep-nya gimana. Yang penting Sania udah maafin mas" Sania bertopang dagu, "mas masak ini semua?"


Seno mengangguk cepat. Bincangan antara keduanya membuat masakan yang sekiranya hangat kini menjadi dingin untuk disantap.


Kecuali yang Sean, anak itu sudah memakannya sejak tadi kedatangan mereka. Makanan-nya sudah tandas kini meninggalkan Sean yang tiduran di sofa dengan perut yang kekenyangan.


Seno tidak sempat bertanya pada Sean. Sejak tadi, fikiran dan netranya hanya tertuju pada Sania. Karena memang niat awalnya ia memasak hanya untuk disantap Sania.


"aku yang masak sendiri loh" menatap dalam Sania yang sedang meresapi masakan-nya, "bagaimana?"


"enak banget loh. Waw, kamu berbakat juga ya" Seno tersenyum bahagia, "tapi, besok-besok kamu gak boleh masak lagi ya" peringatnya


Alam bawah sadar Seno seperti mendapati perkataan Sania termasuk peringatan yang tidak baik untuknya.


"kenapa tidak enak ya?" sahut Seno sembari memainkan spaghetti dipiring-nya, jadi sungkan


Sania menyentuh tangan Seno lalu mengusap nya, "bukan itu maksud Sania. Nih lihat sendiri, tangan kamu merah-merah semua"


"memang gak sakit, tapi bekasnya itu loh" seru Sania, "masa tangan CEO merah-merah demi memasaki makanan untuk istri. Kan gak lucu"


Seno terbahak. Sania memang bukan main. Lagi pula apa tidak boleh seorang CEO rela terluka demi memasak makanan untuk istrinya.


Sebetulnya sangat berlebihan jika dikatakan rela terluka. Toh dia bukan melakukan hal sampai bertaruh nyawa untuk Sania. Hanya memasak bukan sesuatu yang rumit.


"mas makasih banyak ya, Sania menganggap ini sebagai gantinya malam waktu itu" seru Sania


Seno tersenyum bahagia, "Sama-sama. Mas juga minta maaf sama kamu" Sania mengangguk, "sekarang sebutin permintaan yang kamu inginkan"


Sania menyatukan tangan mengikuti keinginan Seno lalu memejamkan mata, "aku harap keluarga kita terus bahagia seperti ini, tanpa ada halangan dari siapapun"


Seno yang memejamkan mata segera membuka matanya. Netranya tiba-tiba meneduh. Harapan yang simple tapi sangat berkesan bagi Seno.


Merutuki dirinya sendiri adalah kerjaan Seno sejak tadi. Karena ia paham, penyebab keluarganya menjadi tidak bahagia ya karena dirinya.


Selanjutnya ia akan mengukuhkan diri untuk tidak berbuat yang melenceng dan membuat Sania dan Sean menjadi tidak bahagia.


Dipandangnya kembali Sean dan Sania bergantian. Sean yang sudah tertidur diatas sofa dan Sania yang masih menyatukan tangan sembari memberi permintaan dengan suara kecil.

__ADS_1


"San? Kalau minta permohonan suaranya gedein dong" ba


Bagaimana dia bisa mengabulkan permintaan Sania jika saja laki-laki itu tidak mengetahui apa permintaan dari perempuan itu.


Sania tersenyum, "tadi itu permintaan aku sama Allah, kamu gak mungkin bisa mengabulkan-nya"


Seno mengangguk pasrah lalu beranjak untuk menyalakan lampu. Ternyata semakin malam, lilin yang menyala tidak sanggup untuk menerangi seluruh ruangan. Yang ada hanya seram akibat hampir seluruh penjuru ruangan terasa gelap.


"kalau permintaan sama aku, kamu minta apa?"


Sania berdeham, "aku hanya mau kamu berubah"


...~§~...


Ide yang dilakukan oleh Seno memang romantis, hanya saja untuk membersihkan smuanya butuh waktu.


Mana, para pekerja sudah dipulangkan semua. Kurang apa Sania yang menjadi membersihkan semuanya karena Seno tiba-tiba ada email dari John yang harus diperiksa nya.


Hampir dua jam dibutuhkan untuk membersihkan semuanya. Yang paling bikin menyusahkan adalah kelopak bunga yang terus bertebaran kesana kemari. Hingga Sania memutuskan untuk menutupi pintu utama dan langsung disapunya.


"Akhirnya selesai juga" telapak tangan-nya saling bertubrukan membersihkan noda yang masih menempel


Perempuan itu naik kelantai atas, didatangi nya kamar Sean yang hanya diterangi oleh lampu tidur. Ia membenarkan selimut yang sudah berantakan. Dikecupnya kening Sean lalu Sania keluar kamar dan memasuki kamar utamanya.


"mas sudah mandi?" Seno mengangguk lalu kembali menekuni laptop


Sania mengendikkan bahu. Ia memilih meneruskan niatnya yang ingin membersihkan diri juga. Sudah terlalu malam, tetapi ia terobos saja.


Sepuluh menit kemudian, Sania keluar dengan piama-nya. Piama yang serasi dengan yang dikenakan oleh Seno.


Tampak Seno sudah bergelung diatas selimut. Laptop nya yang masih menyala dibiarkan begitu saja diatas nakas.


Begitu Sania merebahkan diri, Seno segera menyusup wajahnya diceruk perempuan itu. Sudah rutinitasnya setiap malam, Jadi Sania akan membiarkan laki-laki itu saja.


Tetapi sepertinya malam ini berbeda. Entah rasanya Sneo lebih agresif. Tangannya sudah menjalar kemana-mana.


"San aku mau"


Sania menarik nafas panjang. Sudah tugas istri untuk memenuhi kebutuhan sang suami. Dengan perlahan Sania mengangguk.


"silahkan mas"

__ADS_1


__ADS_2