
Semalam suasana berubah kaku. Seno yang memilih tidur di ruang kerjanya dan Sania yang memilih tidur kembali dikamar sebelumnya. Kamar yang menjadi saksi saat dia masih menjadi pengasuh. Kamar itu memang sengaja dikosongkan oleh Sania.
Diruangan yang tidak lebih besar dari kamar mandi dirumah ini, Sania menghabiskan air matanya yang tak kunjung berhenti.
Mandul?
Mendapat hal tersebut terucap dari mulut orang yang dicintainya merupakan hal yang sama sekali tidak pernah Sania fikirkan. Sakit hati, Sania merasakan sakit hati terparah dalam hidupnya.
Semua hal yang pernah ia hadapi selama 22 tahun tidak sebanding dengan ucapan santai Seno. Tidak-tidak, Sania menyeka air mata yang masih saja turun. Air matanya terlalu berharga untuk orang sejahat Seno.
Sania melirik jam diponselnya. Setengah empat. Ia memilih mencuci muka dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Tetap saja, yang namanya istri tidak akan tega melihat suami keluar rumah tanpa makan. Biarlah mau dimakan atau diabaikan. Yang penting niat Sania sudah baik, ia sudah menjalankan tugas nya sebagai seorang istri.
"lupakan pembicaraan kita tadi malam" Ucap Seno yang tiba-tiba datang lalu meraih apel dan digigit-nya begitu saja menghiraukan makanan yang telah dimasak Sania
Sania tersenyum miris. Tangisannya tadi malam hanya dianggap sepele oleh Seno? Oh Sania rasa laki-laki itu sedikit tidak waras. Amarah yang seharusnya ada pada dirinya kini malah berbalik ada padanya. Padahal Sania sudah mencoba memaafkan laki-laki itu. Tapi apa yang ia dapat? Tidak ada.
"kamu gak lihat aku udah masak banyak hanya untuk sarapan kamu?" sarkas Sania mengabaikan pernyataan Seno
"saya sudah telat" ucapnya sedikit bergegas seraya mengenakan dasi yang biasanya dipasang oleh Sania, "nanti malam saya pulang larut, jangan tunggu saya"
...~§~...
"si**, Bisa-bisanya kau datang tanpa rasa bersalah sama sekali"
Jika saja ruangan Seno tidak didesain kedap suara, sudah dipastikan para karyawan dengan tingkat kekepoan tinggi sudah berkumpul didepan ruangan.
Sementara pria yang menjadi objek bentakan Seno hanya terduduk santai, walaupun tanpa Seno sadari pria itu sedang gugup luar biasa.
"impas kan?"
"impas bagaimana!"
"kau mengambil anakku dan saya mengambil sedikit uang perusahaan mu" ucapnya dengan penuh maksud didalamnya
"Saya tidak mengambil anakmu. Anakmu sendiri yang memilih tinggal dengan saya"
__ADS_1
Reyka, tiba-tiba Seno teringat perilaku buruknya pada Reyka. Entah kenapa setiap melihat wajah perpaduan antara Alex dan Karin itu Seno menjadi tidak suka.
"lebih baik dia tinggal bersama denganmu dari pada harus tinggal dengan laki-laki bejat seperti saya"
"tahu diri juga anda. Tapi saya lebih setuju, anak anda tinggal dengan anda daripada hanya menjadi benalu bagi keluarga saya saja"
Alex yang sedari tadi menunduk langsung bangkit begitu saja walau selanjutnya ia harus menerima kesakitan yang luar biasa karena lengannya yang terborgol dengan kursi didepan-nya.
"kamu tidak menyakiti anak saya kan?"
Seno ber-smirk, "lihat saja sendiri bagaimana kondisi anak anda selepas Karin dinyatakan masuk rumah sakit jiwa" ujarnya sedikit melebih-lebihi
Alex terdiam, tangannya terkepal kuat dibalik borgol yang menahan-nya. Ingin marah dan melayangkan pukulan, tapi ia sadar kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Selain itu, ia juga tidak ingin menambah masalah pada pria bengis dihadapan-nya.
Masalah yang sebenarnya bukan hasil perbuatan dia. Alex baru sadar, bahwa sekretaris nya --- Fanya --- orang yang paling mengetahui Seluk Beluk perusahaan miliknya memiliki niatan untuk mengelabui perusahaan besar milik Seno. Entah bagaimana, Fanya berhasil melakukan niat buruk itu dan berhasil kabur meninggalkan segala hal yang diperbuatnya.
Benar-benar wanita yang jahat.
"jangan kau sakiti anak saya. Biarkan saya saja yang mendapat balasannya" ---- walaupun saya tidak berbuat apapun
Menyia-nyiakan perempuan sebaik Karin merupakan hal terbodoh yang pernah Alex lakukan. Karin memang bukan perempuan baik, tapi Karin akan selalu berlaku baik padanya. Pada laki-laki yang sangat dicintainya. Alex merasa bodoh karena sudah meninggalkan mutiara putih demi mendapatkan kotoran semacam Fanya.
Untung saja, Alex belum jatuh begitu dalam pada pesona Fanya. Sampai suatu hari, ia dikejutkan bahwa perusahaan nya memiliki hutang yang sangat besar. Tidak hanya satu perusahaan, hampir lima perusahaan ia memiliki hutang yang cukup besar. Keempat perusahaan lainnya ia masih bisa mengatasi. Tapi pada perusahaan Seno ia tidak bisa berkutik. Ia memilih melarikan diri sampai suasana nya membaik.
Tetapi -- sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga -- jadi disinilah Alex berada. Dihadapan sang pemilik perusahaan, seperti seorang tahanan ia hanya bisa menunduk dan diam tidak berkutik.
"Saya memang menunggu kamu. Tapi melihat wajah polos anak kamu, entah kenapa saya merasa tidak suka. Jadi, daripada menunggu kmau yang entah datang saya lebih memilih membuat anak kamu menderita dirumah saya"
Pemikiran jahat memang. Pemikiran yang sangat tidak dewasa.
"tidak, saya mohon lebih baik saya hidup menderita daripada melihat anak saya menderita"
"baru bisa bilang seperti itu sekarang? Kemana saja anda saat anak anda menangisi karena ulah anda. Anda tidak pernah datang setidaknya untuk menemui anak anda!"
Alex menggeleng kuat. Ia tidak sebejat itu sebagai seorang ayah. Mungkin diluar ia tidak perduli pada Reyka, tapi tidak. Ia memilih diam memperhatikan anaknya dari jauh. Bahkan ia rela berdiam lama didepan rumah Seno demi memperhatikan sang anak yang terlihat semakin diam. Tidak seperti biasanya yang ceria.
__ADS_1
"tidak seperti itu, saya hanya takut mendapati anak saya yang memandang jijik pada saya --- say
"sudah pasti! Tidak ingat kejadian di pusat perbelanjaan saat itu. Anda menyakiti anak anda agar bisa ikut dengan anda bahkan sampai menyakiti anak saya" Seno meraup wajahnya frustasi, "GEEZ! Bahkan saya ingat sampai sekarang tangisan anak saya karena ulah anda"
Anaknya menangis sama saja seperti menantang dirinya. Karena itu pula, ia membenci Sania yang dengan tega-nya membuat Sean menangis hanya karena lebih memilih condong pada Reyka.
"bukan saya! Saya hanya meminta Reyka untuk ikut pulang dengan saya. Fanya yang sudah mendorong paksa anak anda"
Seno mengendikkan bahu, tidak ingin tahu. Netranya memandang Alex dari atas dan bawah. Laki-laki itu memang tampak ketakutan, tapi tidak membuat gentar Seno.
Kemudian Seno merogoh map yang ia tumpuk dibawah laptop. Dibawa-nya map itu sepaket dengan bulpoin.
"cukup tanda tangani surat ini dan anda bebas dari lingkupan saya"
Alex menghela nafas pasrah. Memberikan perusahaan yang telah ia bangun pada Seno dengan cuma-cuma memang sudah ada diagenda laki-laki itu. Alex sudah tidak sanggup menopang hutang yang mencapai triliun-an itu. Belum lagi kerugian-kerugian lainnya. Alex sangat tidak sanggup.
"bagaimana dengan anak saya?" ujarnya seraya menyerahkan lengannya yang diborgol pada John untuk dibukakannya
"terserah anda, ikut dengan saya dan tidak bertemu lagi dengan anda selamanya atau ikut bersama anda tapi tidak boleh menemui keluarga saya sedikitpun"
Kejam!
"lebih baik ia hidup dengan anda daripada dengan saya yang sudah tidak memiliki apapun" ucap Alex cepat lalu menandatangani surat tersebut tanpa berfikir lebih lagi
Sepertinya, kedepannya ia akan merantau kekota yang lebih sepi penduduk dan memulai kehidupan sederhana-nya. Tanpa siapapun.
"fikiran yang bagus sekali!" pulang dari kantor ia akan segera memeluk Reyka dan meminta maaf akibat perbuatannya beberapa hari belakangan ini
Masalah dengan Alex sudah selesai sama seperti masalah dengan Reyka juga akan selesai. Begitu menurut Seno.
"tapi pertemukan untuk terakhir kalinya saya dengan anak saya. Setelah itu, saya janji tidak akan menemui anak saya lagi"
Seno mengetukkan ujung jari pada meja dihadapannya seraya mengangguk menyetujuinya, "baiklah, untuk yang terakhir kalinya"
"terima kasih, terima kasih banyak"
__ADS_1