
Karena waktu yang tersisa hanya satu minggu lagi, jadi bisa dikatakan kalau persiapan pernikahan sudah mencapai 100%. Mulai dari gedung, baju kedua mempelai, dan hantaran dan juga para undangan yang memang sangat terbatas, hanya keluarga dekat saja, sesuai dengan persyaratan yang Bara ajukan.
Samudra yang baru saja melewati ruang keluarga dibuat kaget dengan barang-barang hantaran yang terbungkus rapi berjejeran bahkan mengalahkan rel kereta api. Seluruh ruang keluarga yang begitu luas di penuhi dengan bungkusan yang di hias indah dengan pita ungu.
"Tuan muda Sam, apa tuan baru pulag? Apa mau bibi siapkan makan malam?" Tanya Siti yang merupakan pembantu yang memang sudah tinggal bersama keluarga Bima sejak saat pertama Bima dan Dewi menikah.
"Iya bi, banyak kerjaan yang harus aku selesaikan jadi terpaksa harus pulang malam. Oh ya, aku udah makan di luar tadi." Jelas Samudra.
"Kalau begitu selamat istirahat tuan muda!" Ujar Siti dengan senyuman teduhnya.
"Hmmmm!" Jawab Samudra yang perlahan berjalan menuju kamarnya, namun sesaat kemudia kakinya kembali mendekati Siti yang terlihat masih sibuk mengecek hantaran.
"Kenapa tuan muda? Apa tuan muda butuh sesuatu?" Tanya Siti saat mengetahui kedatangan Samudra.
"Ini semua?" Tanya Samudra menggantung dengan mata yang terus memperhatikan semuanya satu persatu.
"Ini semua hantarannya tuan muda Bara, kan pernikahannya tinggal seminggu lagi!" Jelas Siti.
"Sebanyak ini? Apa ini ide bunda?" Tanya Samudra.
"Iya tuan muda, nyonya yang menyiapkan semua ini." Jelas Siti.
"Apa sebenarnya yang bunda rencanakan? Kenapa begitu ingin punya menantu, bahkan mereka memaksa Bara menggantikan posisi aku untuk menikah, aku jadi penasaran sebenarnya siapa yang bunda pilih menjadi menantu rumah ini sampai bunda begitu terobsesi padanya." Jelas Samudra.
"Jadi benar, kalau sebenarnya pernikahan ini sejak awal memang di rancang untuk tuan muda Sam? Ternyata itu bukan kabar angin belaka?" Tanya Siti yang memang pernah mendengar gosip tentang pernikahan ini.
"Iya. Bi, aku mana mau diatur begini, aku punya kehidupan pribadi aku sendiri, lagi pula bunda dan papa sama sekali tidak memegang kartu kelemahan ku yang bisa mereka jadikan senjata untuk memaksa ku mengikuti pilihan mereka berdua." Jelas Samudra.
"Dan pada akhirnya tuan muda Bara yang harus menjadi tumbalnya. Bibi kecewa sama tuan muda Sam, setidaknya sekali saja jadilah abang yang baik untuk tuan muda Bara." Jelas Siti.
"Apa sekarang bibi sedang membela tuan muda kesayangan bibi itu?" Tanya Samudra yang mulai kesal.
"Bibi hanya khawatir dengan keadaan tuan muda Bara, terlebih dia masih sekolah. Maafkan bibi!" Ujar Siti dan lekas pergi.
Samudra masih mematung di posisi semula bahkan setelah Siti menghilang dari tempat itu. Mata Samudra terus saja memeperhatikan seisi ruangan hingga pandanganya terhenti pada tumpukan undangan yang berwarna ungu yang tersusun rapi di atas sopa sana.
__ADS_1
Perlahan Samudra melangkah mendekati sofa lalu segera mengambil satu undangan dan langsung membukanya. Setelah perlahan undangan terbuka, nama kedua mempelai tepajang indah pada baris paling atas.
"Khumaira???" Ujar Samudra pelan lalu tangannya segera membolak balikkan undangan tersebut.
"Kenapa tidak ada foto pengantin? Ahhhh, lagi pula yang namanya Khumaira kan bukan cuma Ira." Ujar Samudra meyakinkan dirinya sendiri dengan kenyataan yang baru saja ia lihat.
"Sam, kamu baru pulang sayang?" Tanya Dewi yang baru saja tiba di ruangan tersebut dan segera mendekati Samudra.
"Iya bunda." Jawab Samudra yang langsung meletakkan kembali undangan yang sejak tadi ia pegang.
"Gimana menurut kamu? Apa hantarannya masih ada yang kurang?" Tanya Dewi sambil mengusap kedua bahu Samudra.
"Bukankah ini sudah terlalu banyak? Apa bunda masih mau menambahnya lagi? Toh pernikahan ini cuman..." Penjelasan Samudra langsung diselip oleh Dewi.
"Cuman? Sam, ini nggak yang seperti kamu pikirkan!" Jelas Dewi.
"Bukankah ini perjodohan? Ini skenario yang ditulis rapi oleh kedua keluarga kan? Untung aku tidak terlibat dengan semua hal mengerikan ini!" Jelas Samudra.
"Mungkin dimata kamu ataupun Bara, pernikahan ini hanya semata perjodohan orang tua saja, tidak Sam, bunda dan papa melakukan semua ini karena papa dan bunda tau kalau pernikahan ini adalah pilihan yang tepat untuk anak bunda." Jelas Samudra.
Disaat yang bersamaan Bara yang baru pulang, juga berjalan terburu-buru menuju kamarnya, karena memang searah tanpa sengaja Bara justru menabrak Samuda bahkan beberapa buku yang ada ditangan Bara berjatuhan di lantai.
"Haisssh!" Gumam Bara kesal dan langsung memungutk buku miliknya.
Langkah Samudra kembali terhenti saat ponsel Bara berdering.
"Iya kak!" Jawab Bara setelah menerima panggilan yang baru saja masuk.
"Iya, aku baru aja sampai rumah, apa ada masalah? Kak Ira baik-baik saja kan?" Taya Bara sambil melangkah hendak menaiki tangga.
Ketika mendengar nama Ira di sebut dengan spontan tangan Samudra langsung menahan bahu Bara.
"Kenapa?" Tanya Bara dengan menatap tajam pada Samudra, Bara bahkan langsung memutuskan panggilan Ira.
"Apa kamu sedang bicara dengan Ira? Kakaknya Rival?" Tanya Samudra.
__ADS_1
"Bukan urusan abang? Lagi pula sejak kapan abang peduli dengan siapa aku bergaul dan bicara?" Tanya Bara sinis.
"Bara, Sam..." Ujar Dewi yang segera menjadi penegah, karena dia tau kalau perang sudah dimulai keduanya tidak akan bisa dihentikan.
"Jawab!" Gumam Samudra kasar.
"Lepas!" Seru Bara yang langsung menepis tangan Samudra dari bahunya.
"Sam, udah!" pinta Dewi yang mencoba menenangkan Samudra.
"Bunda, aku hanya mau jawab pertanyaan aku!" Jelas Samudra.
"Bodo amat!" Cetus Bara dan segera menaiki tangga menuju kamarnya.
"Dasar...." Gumam Samudra yang semakin emosi.
"Sam, tenang! Lagi pula kenapa kamu begitu kesal? Ini bukan seperti Sam yang bunda kenal. Bukankah kamu sama sekali tidak peduli dengan Bara, lalu kenapa tiba-tiba kamu jadi begini?" Tanya Dewi.
"Aku cuma mau mastiin aja bunda, cuman itu!" Jelas Samudra.
"Sam, Ira adalah calon istri Bara, jadi terserah mereka mau telponan atau apa, itu privasi mereka." Jelas Dewi.
"Calon istri?" Tanya Samudra yang terlihat jelas begitu kebingungan dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya, Ira, kakaknya Rival anaknya mas Syakil, dia adalah calon istri yang bunda pilihkan untuk kamu, maksud bunda, untuk Bara." Jelas Dewi.
"Ira? Maksud bunda Ira?" Tanya Samudra dengan terbata-bata.
"Iya, Ira. khumaira." Jelas Dewi.
"Kenapa bunda tidak cerita kalau menantu pilihan bunda adakag Ira, kenapa bunda nggak ngomong ke aku?" Tanya Samudra.
"Bagaimana bunda bercerita? Kamu bahkan tidak mau mendengarkan bunda sama sekali waktu itu." Jelas Dewi dan pergi begitu saja.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Haruskan aku merempas milikku kembali? Karena memang sejak awal akulah yang akan menikah! Tidak, aku tidak bisa membiarkan Ira menikah dengan bocah brandalan itu, aku harus merebut milik ku kembali, Ira adalah wanita ku!" Tegas Samudra pada dirinya sendiri.
__ADS_1
🦋🦋🦋🦋🦋