
Bara menarik kasar tangan Ira dari mulutnya, lalu segera mengambil tas sekolah serta seragamnya yang tergeletak diatas sandaran sofa.
"Mai itu teman curhat ku, sampaikan sama papa. Dan bilang juga sama papa kalau kali ini aku tidak berbohong, aku serius. Aku pulang!" Tegas Bara dan langsung keluar dari sana.
"Waaaaah, dia benar-benar Bara, sesuai dengan cerita yang beredar di kantor selama ini, benar-benar menakutkan!" Jelas Dimas dan langsung duduk di sofa.
"Udah biarin aja, nih filenya." Jelas Ira yang langsung menyerahkan sebuah file pada Dimas.
"Emang kamu baby sisternya? Kenapa semua hal tentang dia kamu yang urus? Sampai dalam perang keluarga pun kamu yang jadi bulan-bulanannya." Jelas Dimas.
"Ya mau gimana lagi, udah gih sana kembali ke ruangan mu, aku ada rapat, aku duluan ya!" Jelas Ira lalu mengambil tas dan ponselnya.
"Rapat?" Tanya Dimas.
"Hmmmm, bye-bye!" Jelas Ira dan segera berlari keluar dari ruangannya.
"Apa aku yang terlalu over thinking, atau memang mereka yang mencurigakan? Ntahlah!" Cetus Dimas dan juga ikut keluar dari ruangan Ira.
_________
Ira terus berlari keluar dari gedung menuju parkiran namun tidak ada Bara di sana.
"Cepat sekali perginya, apa dia balik ke sekolah? Atau malah pulang? Jangan-jangan justru keluyuran kemana-mana." Tanya Ira pada dirinya sendiri lalu perlahan berjalan keluar dari area kantor.
Ia berdiri di pinggir jalan dengan mata yang terus celingak-celinguk ke sepanjang sisi jalan berharap bisa menemukan sosok Bara.
"Cari siapa?" Tanya Bara yang perlahan berdiri dibelakang Ira dengan sederet Yakult ditangan dan mulut yang terus menyodotnya satu persatu.
Semua botol Yakult sudah ia tusuk dengan sedotan yang berjejer rapi, bahkan ada beberapa botol yang justru sudah kosong.
"Mau?" Tanya Bara sambil menyodorkan Yakult kearah Ira.
"Kamu masih di sini?" Tanya Ira.
"Hmmmm, nungguin kak Ira, nih!" Jelas Bara yang kembali menyodorkan botol Yakult pada Ira.
"Kamu aja yang minum, dan segera kembali ke sekolah sebelum wali kelas mu menghubungi kakak!" Tegas Ira dan hendak pergi begitu saja.
"Soal kejadian barusan...." Seru Bara lantang.
"Kita bahas nanti di rumah, bisa kan?" Tanya Ira.
"Aku mau menjelaskannya sekarang!" Tegas Bara.
"Bar..." Ujar Ira.
__ADS_1
"Ratu menanggap aku sebagai pacarnya, bukan berarti aku juga beranggapan demikian, jujur aku sama sekali tidak mencintai Ratu, rasa peduli dan sayang aku hanya sebatas sahabat doang, nggak lebih. Dan soal Mai, sekalipun aku suka sama dia, lalu bagiamana dengan perasaannya terhadap aku? Apa sama? Dan parahnya, dia bahkan tidak tau bagaimana wujud ku, bagaimana dunia ku, sehari nggak berkabar, dia bahkan tidak tau kalau aku masih bernafas atau tidak." Jelas Bara panjang lebar dan lekas pergi begitu saja.
Ira masih saja tercengang mencoba memahami apa yang baru saja ia dengar, bahkan saat Bara pergi dengan motornya, Ira masih mematung tak bergeming sama sekali.
"Bara, apa itu artinya kamu mencintai wanita yang bernama Mai?" Tanya Ira setelah merasa sedikit paham dengan ucapan Bara.
Masih dalam tatapan yang lesu, tanpa sadar air mata mulai menetes perlahan, kakinya seakan melemah.
"Ada apa dengan dada ini, rasanya sesak, apa yang terjadi pada diriku?" Keluh Ira dengan tangan yang menyentuh pelan bagian dadanya.
Berusaha mencoba menenangkan diri, menghapus air mata yang membasahi pipinya, setelah mereka normal lagi Ira akhirnya kembali ke dalam kantor.
_________
"Bolos kemana tadi?" Tanya Rival dan langsung merebahkan tubuhnya disamping Bara.
Karena saat ini Bara sedang berbaring diatas tempat tidur milik Rival.
"Bertemu dengan pujaan hati!" Jawab Bara singkat dan kembali mengunyah kripiknya.
"Pujaan hati? Siapa? Kamu selingkuh dari Ratu?" Tanya Rival yang bahkan langsung bangun lalu menatap horor pada Bara.
"Selingkuh dari Ratu? Kenapa kamu nggak ganti pertanyaannya, selingkuh dari kak Ira?" Tanya Bara yang masih begitu rileks seakan tanpa terjadi masalah sama sekali.
"Aku tau kalau kak Ira istri kamu tapi orang yang kamu cintai itu Ratu, aku nggak masalah kamu sama Ratu asalkan jangan buat kak Ira kecewa, tapi kalau ada wanita lain lagi diantar Ratu dan kak Ira, maka aku tidak akan memaafkan mu." Jelas Rival.
"Hmmmm, karena kak Ira tau dan juga kenal dengan Ratu. Dia pasti baik-baik saja." Jelas Rival.
"Karena kak Ira kenal Ratu atau karena kak Ira sama sekali tidak punya perasaan apapun terhadap ku?" Tanya Bara.
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu?" Tanya Rival.
"Aku?" Bara balik bertanya.
"Iya, perasaan kamu?" Ulang Rival.
"Apa itu penting?" Tanya Bara.
"Sangat penting, lalu siapa orang yang kamu temui tadi pagi?" Tanya Rival kembali pada masalah awal pembicaraan mereka berdua.
"Rahasia." Tegas Bara.
"Kami sengaja membuat aku marah?" Tanya Rival yang mulai emosi.
"Apa sekarang kamu marah? Lalu kamu kira aku tidak?" Tanya Bara.
__ADS_1
"Kamu marah? Apa salah ku?"
"Dasar,,,," Gumam Bara yang mulai emosi.
"Apa?" Gumam Rival yang lebih emosi.
Keduanya saling terdiam dengan mata yang saling menatap satu sama lain, namun dimenit berikutnya Tinju Rival langsung mendarat di pipi kiri Bara. Tak tinggal diam, kini Bara ikut menyerang, dan pertengkaran dahsyat pun terjadi diantara keduanya.
Bara berulang kali menonjok wajah Rival begitu pula sebaliknya, bahkan sampai keduanya terguling ke lantai dan mereka masih saja saling menyerang.
Tubuh Rival yang berada di atas tubuh Bara, membuat dirinya lebih mudah untuk terus menyerang Bara, bahkan nafas keduanya terdengar ngos-ngosan dan energi pun mulai menghilang, hingga akhirnya tubuh Rival terjatuh ke sisi kiri Bara, keduanya terbaring lemah di lantai dengan wajah bonyok disana-sini.
"Bagaimana kalau aku malah jatuh cinta sama kak Ira?" Tanya Bara dengan nafas yang masih belum stabil.
"Kamu yakin?"
"Hmmmm ini cinta, aku jatuh cinta sama kakak mu, Val!" Jelas Bara sambil memejamkan kedua matanya.
"Awww sakit!" Lanjut Bara karena merasa perih saat tanganya menyentuh ujung bibir.
"Dimana yang sakit?" Tanya Rival yang bahkan segera mengecek keadaan Bara.
"Rival, apa aku bisa mendapatkan cinta kak Ira? Apa dia bakalan jatuh cinta sama bocah gila seperti aku ini? Lebih dari semua itu, apakah kak Ira masih mencintai mantan pacarnya yang bernama Vino itu?" Tanya Bara.
"Jujur, sebenarnya aku nggak mau kalau kamu yang jadi suami kak Ira. Aku hanya tidak ingin masa depan kakak ku di hancurkan oleh sahabat aku sendiri, tapi...."
"Tapi...?"
"Aku rasa kak Ira tidak membenci mu!"
"Tidak membenci bukan berarti cinta kan?"
"Ya setidaknya dia tidak benci sama kamu!" Cetus Rival dengan tangan yang langsung memukul pipi kiri Bara.
"Awwww sakit tau!" Gumam Bara yang berusaha menahan rasa sakit diwajahnya.
"Kak Ira...." Ujar keduanya serentak saat melihat sosok yang muncul dari balik pintu kamar sana.
"Apa lagi ulah kalian kali ini?" Tanya Ira dengan terus menatap seisi kamar yang berantakan.
"Ini kan kamar aku, terserah dong mau aku apain, ya kan Bar?" Jelas Rival membela diri.
Bara dan Rival lekas bangun lalu berdiri tegak menghadap Ira.
"Kalian berkelahi? Kenapa wajah kalian bonyok sana-sini? Rebutan cewek?" Tanya Ira yang amarahnya langsung on seketika.
__ADS_1
🦋🦋🦋🦋🦋