
Seluruh gedung mulai dipenuhi oleh para undangan yang mulai berdatangan. Yah, hari ini merupakan hari yang begitu di tunggu-tunggu oleh Ira, Bara dan juga pihak kedua keluarga
Dekor yang begitu mewah dan elegan, suasana yang penuh dengan tawa kehangatan semua bercampur menjadi satu yaitu kebahagiaan yang tiada tara. Di atas singgasana megah sana terlihat dua insan yang sedang tersenyum lebar pada setiap para undangan.
Bara terlihat begitu tampan dalam balutan baju pengantin yang berwarna putih bersih dengan di dampingi oleh sang istri yang menggenakan gaun yang berwarna senada, sesekali keduanya bahkan saling bertatapan lalu tersenyum bahagia. Tidak hanya para undangan yang memenuhi ruangan tersebut namun juga ada para awak media yang memang diizinkan untuk meliput acara pernikahan putra pengusaha kondang tersebut, karena memang keluar Pradipta adalah keluarga yang begitu terkenal didunia bisnis baik di dalam negeri maupun diluar negeri.
Serangkaian acara berjalan dengan lancar tanpa terkendala.
"Gimana?" Tanya Bara pelan sambil sedikit bergeser mendekat pada Ira.
"Terima kasih." Ucap Ira dengan senyum lebar.
"Bukan pestanya tapi kamunya? Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Bara setelah memandangi Ira dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Hmmm, aku okay." Jawab Ira pasti.
"Waaaah! Jadi pengen cepat-cepat nyusul, aku iri sama kamu Bar, baru lulus udah resepsi aja, gila emang orang kaya." Jelas Gibran sambil memeluk sahabatnya.
"Mulut, yang lain mana?" Tanya Bara karena tidak melihat para teman lainnya.
"Bentar lagi juga bakal datang." Cetus Gibran.
"Kamu ninggalin Ratu? Nggak bareng?" Tanya Rival yang tiba-tiba ikut naik ke pelaminan.
"Dia bareng Safia dan Lea, paling bentar lagi juga bakal datang, ayo kita foto." Ajak Gibran penuh semangat dia bahkan langsung bergaya untuk berfoto.
"Ayo!" Jelas Rival lalu langsung menempel pada sang kakak tersayang dan...
"Creeek" moments mereka berempat berhasil diabadikan oleh sang fotografer.
"Dasar nggak setia kawan!" Gumam Ratu yang bahkan langsung menepuk kepala Gibran.
"Awwww, sakit sayang!" Protes Gibran.
"Sayang?" Tanya Ira, Riva dan Bara hampir bersamaan dengan pandangan yang langsung mengintimidasi Gibran.
"Slowww aja kali, setelah kapal Kak Re dan Rival berlayar maka kapal GiRa alias Gibran Ratu juga bakal langsung lepas dermaga." Jelas Rival.
"Gilaaaa! Mantap bentul!" Cetus Bara sambil menepuk-nepuk bahu Gibran.
"Emang elo doang yang bisa jadi suami, kita juga bisa kali!" Tegas Gibran.
"Kalian ini..." Ujar Ira dengan senyuman.
"Ayo foto!" Ajak Alea.
"Ayo buruan atur formasi!" Jelas Resi yang baru saja ikut bergabung dengan para pasukan turbo yang baru aja lulus SMA tersebut.
"Syukur deh kamu muncul kalau nggak, aku bakal berasa kayak emak-emak yang lagi jagain bocah SMA." Cetus Ira yang sejak tadi memperhatikan yang lainnya yang memang semuanya adalah anak SMA kecuali dirinya.
__ADS_1
"Emak-emak dari mana coba kak, kak Ira bahkan terlihat lebih muda dari kami semua!" Jelas Safia.
"Jelas dong, lihat betapa dahsyatnya pesona sang pawang! diakan istri aku! Lelaki tampan bersertifikat pula!" Jelas Bara penuh rasa percaya diri.
"Ciiih! Buruan kita foto, bentar lagi bakal di usir dari sini..." Jelas Gibran yang bahkan langsung menarik Ratu ke sampingnya.
Di sisi Bara ada Gibran lalu Ratu dan paling ujung ada Safia, sedangkan di sebelah Ira diisi oleh Rival lalu Resi dan terakhir Safia, disaat Mereka sudah siap dengan gaya andalan mereka masing-masing, tiba-tiba saja seseorang malah meghentikan aksi sang fotografer yang sedang bersiap untuk mengambil foto.
"Tunggu! Apa aku boleh ikutan?" Tanya Samudra yang sontak membuat yang lainnya menatap kearah Bara.
"Naiklah!" Jawab Bara memberi izin.
Jawaban Bara langsung membuat Samudra segera melangkah naik lalu bergabung disamping Alea.
"Waaah, ada yang kurang, kayaknya satu orang lagi deh, biar formasinya keren!" Usul sang fotografer.
"Mas, Dimas!" Panggil Resi yang bahkan langsung melambaikan tangannya kearah Dimas yang sedang asyik menikmati hidangan yang ada.
Panggilan Resi membuat Dimas menoleh kearah mereka, lalu mengernyitkan dahi seolah meminta kepastian.
"Buruan sini, kita foto bareng!" Ajak Resi.
"Okay!" Jawab Dimas yang bergegas bergabung lalu mengambil posisi disebelahnya Safia.
"Cakep! Senyum, tahan, 1, 2, 3..." Ujar yang fotografer dan langsung mengabadikan foto tersebut.
"Ayo gaya selanjutnya!" Jelas sang fotografer memberi aba-aba dan langsung saja dieksekusi oleh mereka yang memang berlatarbelakang gila foto.
"Sam...!" Panggil Dewi.
"Ayo sini! Ini sesi foto keluarga loh!" Jelas Dewi.
"Ayo gabung!" Ajak Bima.
"Aku..." Ujar Samudra.
"Abang Sam juga keluarga, jadi kenapa pergi? Apa aku bukan lagi adiknya abang?" Tanya Bara yang sontak membuat Samudra kaget.
"Akan kurang jika abang nggak ikutan, sana gih!" Saran Alea pelan dan langsung meninggalkan Samudra.
"Ayo Sam!" Ajak Luna yang bahkan langsung menjemput Samudra lalu membawanya ikut untuk berfoto bersama.
"Sini!" Ajak Dewi yang menarik Samudra untuk berdiri disamping Bara.
"Perfek!" Seru sang fotografer saat formasi indah telah terbentuk.
"Senyumlah, ini hari bahagia aku! Jika abang senyum maka akan aku pertimbangkan!" Jelas Bara setengah berbisik pada Samudra.
"Pertimbangankan? Apa?" Tanya Samudra kaget yang bahkan sontak menatap wajah Bara.
__ADS_1
"Alea." Jawab Bara tenang lalu tangannya menyentuh wajah Samudra lalu memandunya untuk menghadap kearah kamera.
"Bakal perang dunia kayaknya!" Ujar Ira pelan seolah sedang berbisik pada sang adik yang berada disampingnya.
"Tenang aja, kami udah nemuin alat terampuh untuk menjinakkan abang Sam saat ini!" Jelas Rival dengan memamerkan senyumannya dan foto terakhirpun diambil oleh sang fotografer.
Tapat disaat Ira memasang wajah terheran-heran, Rival dan Bara dengan ***** wajah senyuman puas penuh makna serta Samudra yang terlihat jelas begitu kaget, lalu kedua orang tua mempelai yang memamerkan senyuman bahagia.
_________
"Dimas" Ujar Dimas dengan mengulurkan tangannya kearah Safia.
"Safia!" Ujar Safia ragu namun tetap saja mengulurkan tangannya kearah Dimas.
"Teman sekolahnya Bara?" Tanya Dimas lagi.
"Iya." Jawab Safia masih sibuk mengambil makanan.
"Aku temannya Sam!" Jelas Dimas yang terus mengikuti langkah Safia.
"Aaah iya!" Jawab Safia sekenanya.
"Gibran, Ratu...!" Panggil Safia yang segera bergabung dengan kedua sahabatnya. Yah, tepatnya dia melarikan diri dari Dimas.
"Cieeee, langsung ditinggal, waaah belum juga mulai langsung berakhir!" Cetus Resi dengan tawa khas mengejek teman kerjanya tersebut.
"Bantuin kek, ini malah di katawain, dasar kawan nggak guna, mentang-mentang bentar lagi go duo!" Jelas Dimas kesal.
"Go duo?" Tanya Resi nggak paham.
"Nggak lagi single!" Cetus Samudra menjelaskan.
"Hay, pak Sam!" Ujar Resi canggung.
"Panggil Sam aja, ini bukan kantor!" Jelas Samudra lalu meneguk air yang sejak tadi berada di gelas yang berada ditangan kanannya.
"Hmmm, Sam...!" Ujar Resi lalu meneguk jus yang berada diatas meja tepat di sampingnya.
"Nyari bocah tadi?" Tanya Dimas setelah memperhatikan Samudra yang sejak tadi sibuk melirk kesana-sini.
"Kalian suka sama cewek di gank Bara?" Tanya Resi.
"Nggak!" Bantah keduanya bersamaan bahkan dengan suara penuh tekanan namun wajah yang merah merona.
"Dasar bapak-bapak!" Cetus Resi dan lekas pergi begitu saja.
"Udah ah, aku mau cari bunda dulu, nikmati pestarnya." Ujar Samudra dan langsung melarikan diri.
"Nyari bunda, alesan, bilang aja mau nyari maksa, dasar!" Gumam Dimas lalu kembali menikmati makanannya.
__ADS_1
...🦋🦋🦋🦋🦋...