
Setelah melakukan pemeriksaan ulang terhadap luka yang ada di kaki Bara, lalu menebus obat dan akhirnya keduanya pulang dari rumah sakit. Baru saja selangkah keluar dari rumah sakit, Bara langsung berulah, kakinya masih saja stay di pintu gedung rumah sakit tersebut, bahkan Ira hampir saja sampai di parkiran mobil sana, Bara masih berdiam diri dengan pandangan yang tertuju pada Ira yang kini sibuk mencari keberadaannya.
"Nggak mau pulang atau gimana? Kakak buru-buru, harus ke kantor ntar jam sebelas ada rapat penting!" Jelas Ira sambil kembali mendatangi Bara.
"Ayo kita temui dokter lain!" Tegas Bara.
"Bisa nggak sih sekali aja kamu nggak berulah. Sekali ini aja, kakak mohon." Pinta Ira sambil melirik pada jam tangannya yang sudah menunjuki jam 10.30 dan itu artinya waktu tersisa yang ia miliki hanya 30 menit lagi.
"Aku nggak bisa percaya dengan omongan dokter tadi? Masa iya, cuka gara-gara beberapa jahitan ini lantas aku tidak boleh main bola selama tiga bulan kedapan, aneh kan?" Jelas Bara yang tidak bisa terima putusan sang dokter.
"Okay, fine, kita temui dokter lain, tapi nanti siang, bisa kan?"
"Sekarang!"
"Bara..."
"Aku maunya sekarang, kalau kak Ira nggak bisa ya udah aku sendiri aja!" Jelas Bara dan kembali melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
"Benar-benar!" Gumam Ira yang tidak lagi tahan dengan kelakuan Bara.
"Udah pulang gih sana, aku bisa sendiri! Sejak awal aku juga nggak pernah minta bantuan kak Ira" Cetus Bara dan terus melangkah masuk.
"Huuuuff!" Ujar Ira pelan dengan membuang nafas kasar.
Ira segera berlari mengejar Bara, lalu tanpa sepatah kata pun Ira langsung berdiri dihadapan Bara, sejenak menatap wajah bingung Bara, lalu secepat kilat Ira berbalik membelakangi Bara di menit berikutnya tangan Ira dengan sigap menarik tubuh Bara ke punggungnya lalu menggendongnya keluar dari rumah sakit tersebut.
"Kak Ira gila! Turunkan aku, jangan buat aku malu!" Tegas Bara saat mendapati tatapan orang terhadap dirinya.
"Diam, atau kakak akan membuat mu lebih malu lagi!" Tegas Ira dan semakin mempercepat langkahnya menuju mobil.
Setelah meletakkan tubuh Bara di jok mobil, lalu memasangkan sabuk pengaman, kini mata elang milik Ira langsung beraksi.
"Diam, jangan bicara apapun, apa lagi bergerak!" Tegas Ira dan langsung menutup pintu mobil.
Ira segera masuk dan langsung menjalankan mobilnya menuju kantor. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam dalam seribu bahasa, Ira yang fokus nyetir dan Bara yang sibuk dengan ponselnya. Saat mobil Ira memasuki parkiran kantor, perlahan membuat Bara melirik kesekeliling. Tanpa perintah, Bara langsung keluar dari mobil, bahka sebelum Ira keluar.
"Mau kemana?" Tanya Ira.
"Terserah aku! Toh aku jalan pakek kaki aku sendiri bukan punggung kak Ira!" Tegas Bara yang terus berjalan keluar dari area kantor.
Ira mencoba menyusul namun langkahnya terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Bara, lalu seseorang keluar dari mobil tersebut dan langsung menghampiri Bara.
"Kamu bolos?" Tanya Bara pada gadis yang masih mengenakan seragam SMA tersebut, siapa lagi kalau bukan Ratu.
"Bukankah kamu yang suruh? Buruan gih masuk!" Jelas Ratu setelah membukakan pintu untu Bara.
__ADS_1
"Ayo cari makan, aku lapar!" Jelas Bara yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Siap, let's go!" Seru Ratu dan segera masuk ke mobil lalu bergegas pergi.
"Setidaknya dia kelihatan lebih nyaman bersama Ratu." Ujar Ira pelan dan lekas memasuki kantor.
_________________
"Ayo kita makan malam bareng, udah lama banget loh kita nggak nongkrong bareng-bareng!" Jelas Dimas sambil berjalan di samping Ira.
"Ayolah Ra, hmmmm? Re, kamu juga ikut kan?" Tanya Bayu.
"Aku ya terserah sama Ira aja, kalau dia ikot ya ayyok!" Jelas Resi.
"Ra please! Aku kangen banget sama tongkrongan kita berempat!" Jelas Dimas.
"Besok aja gimana?" Tawar Ira.
"Nggak asik ah!" Cetus Bayu.
"Hmmmmm, kan ini masih jam empat, sekarang aja kita langsung cus gimana? Ntar sebelum magrib langsung bubar, kamu bisa kan Ra!" Jelas Resi yang paham bahwa tidak mungkin Ira bisa keluar malam dengan keadaannya saat ini.
"Cuman sejam doang, kurang! Sampe jam sembilan aja, ayo lah Ra, Re..." Ajak Dimas.
"Sampe sebelum magrib, ayo buruan!" Jelas Ira yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Buruan, ntar telat loh!" Seru Resi yang juga berlari ke mobilnya.
"Sejam pun jadilah, dari pada tidak sama sekali!" Ujar Dimas kecewa namun tetap mengikuti teman-temannya.
__________________
Ira yang baru sampai rumah tepat saat azan magrib berkumandang, membuat dirinya buru-buru masuk ke dalam rumah, ia berlari menaiki tangga dan segera menuju kamar Bara, namun langkah Ira langsung terhenti saat sebuah suara menyebut namannya.
"Ira..." Panggil Samudra yang baru aja keluar dari kamarnya.
"Hmmmm, Sam!" Ujar Ira dengan sedikit membenarkan kerudungnya.
"Kenapa? Apa Bara bikin ulah lagi? Sampai kamu harus pulang magrib gini?"
"Ahhhh, aku telat karena tadi jalan sama Resi, Dimas dan Bayu, bukan karena Bara." Jelas Ira.
"Ohhhh!" Ujar Samudra.
"Loh non Ira kok sendirian? Tuan muda Bara mana?" Tanya Siti yang memang datang untuk melihat Bara.
__ADS_1
"Bukannya Bara udah pulang dari tadi siang?" Tanya Ira.
"Nggak! Tuan muda Bara tidak pulang ke rumah semenjak pergi tadi pagi sama non Ira." Jelas Siti.
"Selalu saja!" Cerus Samudra dan lekas pergi begitu saja.
"Apa papa dan bunda tau?" Tanya Ira.
"Kebetulan tuan dan nyonya juga belum pulang dari tadi pagi! Katanya malam ini ada acara makan malam diluar." Jelas Siti.
"Ya udah, ntar siap sholat magrib biar Ira yang cari Bara." Jelas Ira.
"Baik non!" Jawab Siti lalu kembali turun ke bawah.
Ira segera masuk dan lekas mandi, sholat magrib, lalu langsung mencoba untuk menghubungi Bara, namun ponselnya mati, nomor Bara tidak aktif. Ira beralih menghubungi nomor Rival.
"Nyariin Bara, dia disini, di rumah kita!" Jawab Rival dari seberang bahkan sebelum Ira bertanya.
"Huuuuf! Tenang Ra , tenang!" Ujar Ira mencoba menahan emosi.
Ira langsung meraih koncil mobilnya dan lekas keluar dari kamar.
"Bi Siti, kalau papa dan bunda pulang, tolong bilang kalau aku dan Bara nginap di rumah mama, aku permisi bi!" Jelas Ira setelah menghampiri Siti di dapur.
"Baik non, tapi....?"
"Kenapa bi?"
"Non mau pergi dengan memakai mukenah?"
"Ahhhh, aku lupa, ya udah nggak apa-apa, aku pamit bi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam, hati-hati non!" Pesan Siti.
Ira segera berlari ke mobil dan langsung tancap gas menuju rumah orang tuanya. Ira keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Ira, kenapa lari-lari bagini? Ada apa?" Tanya Luna yang saat itu memang sedang menonton televisi diruang keluarga.
"Bara mana ma?" Tanya Ira.
"Di kamar."
"Aku ke kamar dulu ma..." Jelas Ira dan segera berlari menuju kamarnya.
Betapa terkejutnya Ira setelah ia membuka pintu kamar miliknya, dan dia langsung disambut oleh keadaan kamar yang cukup hancur lebur. Baju Bara yang berceceran di sofa, lalu bekas bungkusan snack yang tergeletak di sepanjang lantai kamar, belum lagi kaleng kopi dan susu yang berjejer diatas meja kerjanya, musik yang di putar dengan suara yang cukup membuat gendang telinga berteriak, lalu keadaan kasur yang berantakan dengan bantal yang terlembar kesana-kemari, serta di ujung kasur kanan ada tubuh Bara yang berbaring dengan gitar yang masih terpasang di bahunya sedangkan di ujung kiri kasur ada Rival yang tertidur dengan menggenggam erat ponsel di tangan kanannya serta tangan kiri yang memeluk guling.
__ADS_1
"Waaaaaah, apa aku salah alamat? Ini kamar aku atau kapal pecah?" Gumam Ira dengan tubuh yang melemah seketika setelah melihat gempa bumi yang memporak porandakan seisi kamarnya.
🦋🦋🦋🦋🦋