Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Penyemangat Bara.


__ADS_3

Samudra semakin mendekat, tangannya perlahan menyentuh bahu Ira, perlakuan Samudra sontak membuat Ira langsung berdiri tegak, lalu memandang tajam kearah Samudra. Samudra pun ikut berdiri, lalu kembali ingin menyentuh Ira.


"Jangan deket sama aku!" Tegas Ira lalu melangkah mundur menghindari Samudra.


"Ira, tolong datang kembali pada ku?" Pinta Samudra.


"Sam, sejak awal aku sama sekali tidak pernah datang pada mu!" Tegas Ira.


"Ira, aku mencintai mu, aku sangat menyayangimu, bukan Bara, dia bukanlah yang terbaik untuk mu!" Jelas Samudra dan langsung memeluk paksa tubuh Ira.


"Jangan bangunkan sisi iblis yang sudah aku tidurkan sejak lama dalam tubuh ku ini!" Jelas Ira.


"Ra, jangan minta aku untuk membenci diri mu, aku tidak akan pernah mampu melakukannya." Jelas Samudra yang masih bertahan memeluk Ira.


"Apa aku pernah memintamu untuk melakukan itu? aku hanya meminta mu berhenti menyakiti suami aku, jangan lagi ganggu Bara, dan juga, tolong jangan lagi dekati aku seperti ini!" Jelas Ira lalu menarik kasar tubuhnya dari pelukan Samudra.


"Jika aku melakukan semua permintaan mu itu, lalu apa yang bisa kamu berikan untuk ku?" tanya Samudra dengan nada yang terdengar begitu serius.


"Apapun itu, akan aku berikan segalanya." Jawab Ira pasti.


"Termasuk kehormatan mu?" Tanya Samudra dengan senyuman bak iblis yang seakan sedang memaksa mangsa untuk menyetujui ajakannya.


"Aku tunggu kamu malam ini di kamar ku, datanglah! maka aku tidak akan lagi pernah mengusik suami mu itu sedikit pun." Lanjut Samudra lalu beranjak keluar dari ruangan itu.


Ira masih mematung di tempat semula untuk beberapa saat ia terlihat sedang berfikir keras dengan akal sehat dan hatinya yang sedang kacau balau. Tangan Samudra yang menyentuh gagang pintu langsung ditarik oleh Ira.


"Aku akan datang! tunggu aku jam sebelas nanti malam!" Tegas Ira dan langsung pergi meninggalkan Samudra begitu saja.


"Semudah itu? harusnya aku melakukan ini sejak dulu! ternyata nama bocah itu bekerja efektif." Ungkap Samudra dengan senyuman puas penuh kemenangan.


__________


"Leher mu akan patah atau mungkin kamu akan menjadi jerapah kalau terus celingak-celinguk begitu!" Jelas Rival saat mendapati Bara yang terus saja menoleh kearah kursi penonton.


Saat ini pertandingan bahkan sudah memasuki babak kedua itu artinya hanya tersisa satu babak lagi dan Ira belum juga muncul. Semua anggota tim terlihat sedang beristirahat sejenak sebelum nantinya babak ketiga yaitu babak penentuan dimulai, sejauh ini tim lawan unggul dengan skor 2:0, karena tim Bara sama sekali belum mencetak gol.


"Bar, apa yang sedang kamu pikirkan? kenapa sejak tadi kamu selalu gagal mencetak gol?" Tanya Gibran yang mulai khawatir.

__ADS_1


"Apa karena Ratu? dia nggak bisa datang kerena ada pertemuan keluar yang harus dia hadiri!" Jelas Alwin.


"Atau aku harus telpon Ratu untuk kesini sekarang juga?" Tanya Gibran.


"Ini bukan soal Ratu!" Jelas Rival.


"Apa Hanin? aku akan memintanya untuk segera datang!" Jelas Gibran yang langsung berlari ke kursi untuk mengambil ponselnya.


"Bar, aku akan coba hubungi kakak. Tenanglah dulu, semuanya akan baik-baik saja!" Jelas Rival yang segera mengambil ponselnya.


Bara masih terduduk memelas di pojok lapangan, perlahan Faisal datang lalu duduk di samping Bara, ia juga mengikuti tatapan Bara kearah pintu masuk sana.


"Siapa pun yang sedang kamu tunggu, bapak harap kamu tetap tidak akan mengecewakan tim mu." Jelas Faisal.


"Hmmmmm"


"Bertanding lah seolah semesta sedang menyemangati mu, bapak tau kamu bisa melakukannya dengan baik. Bapak percaya dengan kemampuan dan juga tanggung jawab mu, Bar." Jelas Faisal.


"Hanin akan segera datang!" Jelas Gibran yang baru saja kembali pada Bara.


"Ratu otw!" Seru Alwin dengan senyuman sumringah.


Dengan senyuman kecut Bara bangkit dan lekas bergabung ke tengah lapangan, dan babak penentuan pun telah di mulai. semua anggota tim telah bersiap dan pertandingan panas pun di mulai. menit demi menit terus berlalu, tim Bara terus berusaha semaksimal mungkin. Berkali-kali Bara menyianyiakan operan bola dari teman-temannya, lagi-lagi bolanya melesat.


Sejenak berhenti berlari, membiarkan para lawan menggiring bola sesuka hati mereka, matanya seketika tertuju kearah pintu masuk, sosok seorang gadis perlahan terlihat berlarian memasuki stadion. Yah, yang datang adalah Ratu, dengan senyuman ia melambaikan tangan kearah Bara.


"Semangat, kita akan menang!" Teriak Ratu.


Bara tersenyum, namun sesaat kemudian bayangan seseorang kembali muncul, sosok gadis mungil perlahan mengambil tempat di kursi penonton, senyumannya merekah kearah Bara yang masih saja menatap hampa kearah pintu utama. Kehadiran Hanin dan juga Ratu membuat Bara kembali tertunduk kecewa, karena orang yang diharapkan tak kunjung juga datang. Bara hendak kembali berlari namun fokusnya teralih dengan gadis berjilbab ungu yang baru saja masuk ke stadion. Mata keduanya beradu,saling menatap dalam diam dari kejauhan, seketika membuat Bara tersenyum puas dan bergegas kembali beraksi.


"Aku akan membuktikan sama kakak kalau aku bisa menjadi suami yang bisa kakak banggakan!" Ungkap Bara pada dirinya sendiri.


Pertandingan terus berlangsung, sesaat semangat Bara mulai membara, Alwin kembali menggiring bola padanya bersamaan dengan mengedipkan matanya pada Bara.


"Ratu hati mu telah datang, aku harap kamu tidak mengecewakannya!" Ujar Alwin.


Dan benar saja, tendangan Bara sukses mengubah angka nol menjadi skor 1 di papan sana.

__ADS_1


"Bara, kamu keren!" Jelas Dani dengan senyuman puas karena akhirnya singa mereka kembali terbangun.


Pertandingan kembali berlangsung, lawan pun semakin gesit, mereka bahkan menyusun strategi untuk menghadang Bara, namun strategi mereka begitu mudah dibaca oleh Bara, dengan santai Bara tersenyum pada Gibran lalu dengan memasang wajah sogong kakinya dengan gesit mengekspor bola pada Gibran dan hanya butuh seper sekian detik saja mereka kembali mencetak gol.


"Yessssss" Gumam Faisal yang tampak begitu bangga dengan kerja tim mereka.


"Semangat!" Ujar Bara dengan memamerkan deretan gigi putihnya pada Tomi sang kapten lawan.


"Kamu!" Gumam Tomi kesel.


"Iya ini aku!" Bara.


"Aku mencintai mu Bar!" Teriak Alwin.


"Yah, aku juga mencintai diri aku sendiri."Seru Bara yang sukses membuat temannya tertawa renyah.


"Apa ini artinya dia mulai bucin sama kakak, baguslah!" Ujar Rival senang.


Mereka kembali beraksi, pertandingan semakin ketat, dan pada menit-menit terakhir Bara kembali membobol gawang lawan dan pertandingan berakhir dengan skor 2:3, itu artinya tim Bara menang. Lapangan di penuhi dengan sorak kemenangan, mereka merayakan kemenangan dengan berpelukan satu sama lain tidak sampai disitu, mereka juga menyanyikan lagu kebanggaan sekolah mereka.


"Yeeeeee, kita menang!" Seru Ratu girang.


"Mereka benar-benar hebat!" Ungkap Hanin.


"Ayo kak, kita rayakan kemenangan mereka? kamu juga Hanin, ayo ikut!" Ajak Ratu.


"Maaf banget, kakak nggak bisa ikut, kalian aja yang pergi. Ya udah kakak harus pergi sekarang, bye." Ujar Ira yang bahkan langsung bangkit dari tempat duduknya dan lekas pergi.


"Kak Ira pergi, sana gih temui dia!" Bisik  Rival pada Bara saat menyadari kepergian Ira.


"Aku duluan!" Jelas Bara dan langsung pergi.


"Bar, mau kemana?" Tanya Gibran.


"Aku akan segera kembali!" Seru Bara lalu menghilang begitu saja.


Bara terus berlari mencari sosok sang istri. Tanpa permisi, tangan Bara menarik tangan Ira lalu menyeretnya kesebuah lorong yang baru saja mereka lintasi. Secepat kilat Bara langsung memeluk erat tubuh Ira.

__ADS_1


"Penyemangat ku!" Ujar Bara.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2